Sekeping Mandiri: Mendaki Sendiri

Acara berkunjung dan berjumpa pembeli selalu menyisakan cerita tersendiri. Bagi saya dan Hanif (23 bulan), teman setia setiap perjalanan saya. Begitu pun hari ini.

Menjadwalkan acara berkunjung selalu saya lakukan setidaknya dua hari sebelunya karena saya ingin Hanif turut menikmati perjalanan yang akan kami lakukan nantinya. “Adik, insya Allah hari Kamis kita mau antar kaos kaki,” begitu saya mengawalinya. “Kaos kaki?” wajah mungilnya meminta konfirmasi.

“Iya, kita mengantar kaos kaki ke adik bayi,” jelas saya.

“Adik bayi!” lebar Hanif tersenyum. Ia memahami apa yang saya katakan.

“Betul, kita nanti lewat sawaaah, lihat sungai, lihat gunung, dan naik BIS!” saya menggambarkan dengan penuh ekspresi dan berbagai intonasi untuk memancing antusiasme Hanif. Pastinya, Hanif selalu suka naik bis. Bis gedhe, katanya.

Jadilah, pada hari Kamis kami mengantar barang ke beberapa tujuan dengan kendaraan umum. Bagi orang lain, mungkin kurang efektif dari segi waktu dan biaya. Tapi bagi saya, kendaraan umum ibarat kelas berjalan yang tidak pernah membosankan. Hanif belajar pertama kali tentang lampu lalu lintas dan warna merah-kuning-hijau pada usia sekitar 12 bulan. Sejak itu, ia selalu menanti-nanti dengan tak sabar kapan lampu lalu lintas berikutnya akan terlewati. BAhkan, bulan-bulan terakhir ini ia sudah mulai hafal di mana lokasi lampu lalu lintas terdekat. Subhanallah.

Dengan kendaraan umum juga, Hanif belajar tentang berbagai hal. Mengenali detail angkot, jenis-jenis kendaraan di jalan raya, etika naik angkot, tata cara transaksi sederhana, dan banyak pengalaman menyenangkan lain yang hanya bisa diperoleh dengan merasakan langsung sensasi naik angkot, bis, colt, dan minibus. Halah, sensasi.. *hihihi*

Rupanya, Hanif juga sepakat dengan ibunya. Ia selalu bersemangat jika saya berdiskusi tentang jadwal mengantar barang bersama Hanif. Ia selalu siap terlebih dahulu dibanding ibunya. MEngambil sepatu sendiri dari rak sepatu, minta diambilkan topi bepergiannya (karena disimpan di rak tinggi, Hanif belum bisa menjangkau), dan ribut meminta ibunya siap-siap. Heboh!

Dan Kamis ini, Hanif memberikan cerita tentang sebuah semangat pantang menyerah seorang anak usia 23 bulan yang begitu mengesankan untuk saya. Saat turun dari colt di pinggir sawah menuju Tegalwaton, jalan panjang sekitar 1 kilometer mendaki bukit telah menanti kami. Jalan setapak yang diapit bentangan sawah dan melintasi sebuah sungai irigasi selebar 3 meter. Sebuah sajian petualangan yang sempurna untuk Hanif. Ia selalu suka sawah dan alam terbuka. Sama seperti ibu bapaknya. Hehe

Sepuluh meter pertama, Hanif menunjukkan tanda-tanda minta gendong. Ego kanaknya mulai muncul. Tanpa mengubah nada suara, saya tawarkan pilihan: adik Hanif mau digendong dengan selendang atau jalan kaki? Saya tahu, Hanif tidak pernah suka digendong dengan selendang. Seperti bayi, katanya. Hihihi.. sudah merasa anak besar benar dia.

Dan memang, Hanif memilih: jalan kaki aja. Sambil asyik memetik bunga rumput dan menyerahkannya ke tangan ibunya. Sengaja saya berjalan sekitar 5 langkah di muka Hanif sehingga saat ia menyerahkan bunga rumput, ia akan maju dengan sendirinya tanpa harus saya minta segera berjalan. Benarlah, perlahan tapi pasti ia berjalan di belakang saya. Menikmati perjalanan, sama seperti saya. Sesekali ia berjongkok dan mengamati bunga rumput yang akan ia petik. Tentu saja, ceriwisnya tak ketinggalan. “Buiken! Bunga! Adik ambil!”

Ya, ya, ya.. tanpa terasa kami hampir sampai di tanjakan menuju bukit Tegalwaton. Matahari tengah hari tak menyurutkan langkah Hanif mengikuti saya dari belakang. Sesekali kami berpapasan dengan penduduk setempat yang melintas. Nyaris semua akan terheran-heran melihat Hanif berjalan sendiri dengan riang dalam siang yang hampir terik. Sungguh, jalan setapak ini memang tidak pendek dan mudah. Namun saya ingin mencoba melatih daya juang Hanif. Dengan kemasan yang tetap menyenangkan, tentu.

Jujur, saya juga merasakan khawatir jika Hanif terlalu lelah. Namun semangatnya menyangkal kekhawatiran saya itu. Saat saya menawarkan, “adik Hanif mau minum air putih sekarang atau nanti?”, dengan mantap ia menjawab”Nanti aja”.

“Oke, kalau adik haus, bilang ibu ya,” pesan saya. Hanif pun kembali asyik memetik bunga dan terus melangkah ke depan.

Duhai pejuang sejati, tak cukupkah Hanif memberi pelajaran berharga tentang arti perjuangan? Saat tantangan dihadapi dengan riang dan senyum terkembang, tak ada lagi kata menyerah terlintas. Bahkan untuk batita usia 23 bulan seperti Hanif.

Allahu akbar! Hanif berhasil jalan kaki sendiri sampai masjid al Barokah Tegalwaton tanpa sedikitpun minta gendong ibunya. Segera saya memberinya air minum begitu kami sampai di ruang guru. Ceguk.. ceguk.. ceguk.. lahap minumnya tak menutupi fakta bahwa ia memang sangat haus, namun Hanif sama sekali tidak mengeluh atau ribut. Ia hanya cooling down dengan berjalan pelan ke sana ke mari. Sesekali ia minta dipangku ibunya. Dan, subhanallah, saya sungguh bangga dengan pejuang kecil saya ini.

Malu rasanya jika saya menampakkan wajah lelah di hadapannya, sementara senyum manis Hanif selalu bersemangat menaklukkan aneka tantangan baru. Semoga engkau selalu bersemangat dan tangguh dalam perjalanan hidupmu, ya, Nak.. *kiss*

Kotak Kecil Mimi

Kotak itu ada di atas etalase ruang tamu. Saya belum sempat melirik pengirimnya karena baru pulang dari Jakarta. Berhari-hari kemudian, kotak itu terlupakan. Sampai saat saya beres-beres barang dagangan dan bertemu lagi dengan kotak itu. Dari Mimi, kawan sekolah saya dulu sekaligus pelanggan toko online saya. Agak heran saya membukanya karena seingat saya ia berkata akan mengembalikan CD Petunjuk Pemijatan Bayi via ekspedisi. Heran, karena kotak itu begitu besar untuk sekeping CD.

Ternyata ada kejutan kecil di dalamnya. Hadiah tak disangka untuk Hanif serta secarik surat yang membuat ingatan saya melayang pada pertemuan kami setahun lalu…

***
Umurnya sebaya dengan saya. Dan ia baru saja melahirkan anak pertamanya. Serupa dengan saya, suaminyapun harus tinggal di luar kota. Tanpa diminta ada empati tersendiri  bagi ibu baru yang terpaksa harus berjauhan dengan suami dan berjuang memahami bahasa bayi di hari-hari pertamanya. Itulah pertemuan saya yang pertama dengan Mimi semenjak saya lulus SMU sekitar sepuluh tahun yang lalu.
Dan Mimi langsung menangis saat melihatku duduk di ruang tamunya. Aku langsung paham perasaan terdalamnya, tanpa ia berkata apa-apa. Mata lelahnya telah menceritakan semuanya. Seorang ibu muda, masih belum pulih benar dari kelelahan setelah melahirkan, harus bergadang mengatasi ritme tidur bayi yang terbawa alam kandungan, air susu yang tak kunjung keluar sesuai harapan, dan suami yang tinggal di luar kota. Sungguh bukan suatu masa transisi yang mudah, tapi harus dijalani dengan rela.

Kunjungan itu berlanjut ke kunjungan berikutnya. Saya tidak tahu obat yang lebih manjur selain perasaan bahagia ada kawan seperjalanan. Meski saya tidak tahu apakah Mimi merasa bahagia dengan kunjungan saya — mengingat Hanif juga ingin membahagiakan Mimi dengan caranya sendiri (baca: berceloteh dengan bahasa bayinya) — perlahan senyum itu mulai bersemai di wajah mungilnya. Sekadar bercerita tentang pengalaman mengatasi bergadang di hari-hari pertama kelahiran bayi, mensiasati bayi yang bingung puting saat menyusu ibunya, dan obrolan-obrolan ringan tentang masa-masa sekolah kami dulu. Sungguh, rasanya kami begitu akrab, padahal saat sekolah dulu kami hanya saling tahu saja. Mungkin inilah yang disebut keajaiban waktu.

***

Terima kasih sudah menemani perjuangan ASI dan hari-hari pertama Ziya…

Secarik kertas di kotak itu membuat saya begitu terharu. Betapa sebuah kunjungan dapat memberi arti yang begitu dalam, bahkan saat saya sendiripun nyaris tak menyadarinya. Hingga kejutan kotak kecil Mimi dikirim ke rumah saya. Semoga engkau selalu Allah beri kemudahan, Mimi.. Uhibbuki fillah.. I love you ‘coz Allah *peluk*

100 Langkah Untuk Tidak Miskin

100 Langkah 100 Langkah Inibuku.com

 Apakah anda telah memiliki pekerjaan tetap? Apakah anda telah hidup cukup nyaman? Masihkah anda masih merasa harus menjaga gaya hidup? Jika ketiga pertanyaan tersebut anda jawab dengan “ya”, maka buku terbaru Ligwina Hananto ini sepertinya harus masuk dalam daftar bacaan anda. Mengapa? 

 

glowupmagazine.com – Testimoni Pimpinan Redaksi RCTI, Arief Suditomo, akan buku Untuk Indonesia Yang Kuat: 100 Langkah Untuk Tidak Miskin mungkin akan menjadi bocoran jawaban atas pertanyaan anda. ”Anda berpikir masa depan keuangan anda baik-baik saja? Apa yang akan terjadi 10 tahun, 20 tahun ke depan? Atau saat anda tidak lagi produktif? Sudahkah anda melakukan hal yang benar terhadap diri sendiri dan orang lain? Ligwina memberikan jawabannya dengan jernih, jujur, dan provokatif.”

 

Ligwina Hananto, seorang Independent Financial Planner yang juga CEO dari QM Financial (www.qmfinancial.com). Anda dapat mengenalnya lebih jauh melalui acara yang ia pandu di  87,6 Hard Rock FM pada program Financial Clinic atau program Financial Survival di 90,4 Cosmopolitan FM. Bagi Ligwina, buku ini merupakan sebuah langkah konkretnya dalam memajukan perekonomian Indonesia. Tentang bagaimana membuat Indonesia menjadi kuat, dan cara yang tepat menurut Ligwina adalah dengan memiliki golongan menengah yang kuat.

 

Siapa dan apakah golongan menengah tersebut? Tidak lain adalah mereka yang memiliki pekerjaan tetap, hidup cukup nyaman, tapi masih harus berusaha untuk menjaga gaya hidupnya. Is that you?

 

Buku ini terdiri dari enam bagian dengan selembar list berisi 100 langkah rencana aksi keuangan untuk menjadi tidak miskin. Rencana aksi tersebut menurut Ligwina tak harus dilakukan secara berurutan agar dapat digunakan sebagai acuan bahwa kita benar-benar bertindak dan bukannya NATO (No Action Talk Only).

 

Ligwina menulis buku setebal 238 halaman ini dengan gaya bertutur yang santai, tajam, mudah dimengerti dan menghibur. Selain dilengkapi dengan ilustrasi yang memperkaya isi, buku ini juga didesain secara khusus agar pembaca dapat benar-benar menikmati buku ini dari awal sampai akhir.

 

Belanja? Kenapa tidak? Fiuh, betapa leganya saya ketika membaca buku ini. Saya suka sekali cara Ligwina mengajak kita hidup nyaman, bebas utang, tanpa harus sengsara. Masuk akal, sederhana, dan – percaya atau tidak – menyenangkan. Buku ini wajib dibaca! — Fira Basuki, Penulis dan Pemimpin Redaksi Cosmopolitan Indonesia

 

Judul Untuk Indonesia Yang Kuat: 100 Langkah Untuk Tidak Miskin

PenulisLigwina Hananto

Penerbit Literati-Books

Terbit Februari 2011

Kategori Inspirasional

Tebal 238 halaman

Harga Rp 72.000 (toko), Rp 54.000 (bukabuku.com)

(inibuku.com)

Dimuat di glowupmagazine.com    Monday, 21 February 2011 19:17

Eden in the East

Eden in the East Eden in the East kafebuku.com

Bayangkanlah wilayah ASEAN hari ini. Ada Indonesia, semenanjung Malaysia, dan Laut China Selatan. Bagaimana jika Laut China Selatan kering tanpa air? Itulah Benua Sundaland.

 

Eden In The East adalah sebuah buku yang ditulis Stephen Oppenheimer, seorang peneliti dari Oxford, Inggris. Eden In The East sendiri berisi tentang keyakinan Oppenheimer bahwa di Indonesia dan sekitarnya pernah menjadi sebuah benua sebagai tempat peradabaan manusia di penghujung Zaman Es. Dalam bukunya Stephen menyebutnya sebagai Sundaland.

 

Eden In The East mendasarkan kesimpulannya kepada penelitian yang dilakukan selama puluhan tahun. Doktor ahli genetik dengan struktur DNA manusia tersebut melakukan riset struktur DNA manusia sejak manusia modern ada selama ribuan tahun yang lalu hingga saat ini. Guru Besar dari Oxford University ini menguasai filosofi pendekatan dasar yang digunakan disiplin keilmuan kedokteran, geologi, linguistik, antropologi, arkeologi, linguistik, dan folklore.

 

Temuan tersebut memperkuat buku lain yang telah muncul sebelumnya Atlantis, The Lost Contiennt Finally Found karya Profesor Arysio Santos dengan sejumlah argumentasi ilmiah yang juga melakukan pendekatan dari berbagai disiplin ilmu. Baik Arysio Santos maupun Stephen Oppenheimer, memperlihatkan dengan jelas bagaimana sebuah pendekatan multidisiplin sangat penting digunakan untuk merekontruksi sebuah missing link yang hilang dalam sejarah peradaban manusia modern.

 

Buku menakjubkan ini secara radikal mengubah pandangan kita sebelumnya tentang prasejarah. Tahukah anda bahwa orang-orang Polinesia tidak datang dari Cina, akan tetapi dari pulau-pulau Asia Tenggara? Tahukah anda, mula-mula penanaman beras yang sangat pokok bagi masyarakat tidak berada di Cina atau India, tapi di Semenanjung Malaya pada 9.000 tahun lalu? Dan, Anda pasti akan tercengang setelah mengetahui bahwa berbagai suku di Indonesia Timur adalah pemegang kunci siklus-siklus bagi agama-agama Barat yang tertua.

 

Judul Eden In The East , Benua yang Tenggelam di Asia Tenggara

Penulis Stephen Oppenheimer

Penerbit PT.UFUK PUBLISHING HOUSE

Bulan Terbit Oktober 2010

Kategori Sejarah Indonesia

Tebal 860 halaman

Harga Rp 224.900 (toko), Rp 179.920 (bukukita.com)

(palasarionline/warungbebas)

Dimuat di glowupmagazine.com     Friday, 18 February 2011 18:54

 

ELIANA (Serial Anak-Anak Mamak)

Maksud wawak, pernahkah kau memerhatikan, bukankah Mamak kau orang terakhir yang bergabung di meja makan? Bukankah mamak kau orang terakhir yang menyendok sisa gulai atau sayur? Bukankah mamak kau yang kehabisan makanan di piring? Bukankah mamak yang terakhir kali tidur? Baru tidur setelah memastikan kalian semua telah tidur? Bukankah mamak yang terakhir kali beranjak istirahat? Setelah kalian semua istirahat? Bukankah mamak kau selalu yang terakhir dalam setiap urusan.”

 

Dan mamak kau juga yang selalu pertama dalam urusan lainnya. Dia yang yang pertama bangun, dia yang pertama membereskan rumah, dia yang pertama kali mencuci, mengelap, mengepel, dia yang pertama kali ada saat kalian terluka, menangis, sakit. Dia yang pertama kali memastikan kalian baik-baik saja. Mamak kau yang selalu pertama dalam urusan itu, Eli. Tidak pernahkah kau memperhatikannya?”

 

Adalah Eliana, anak kelas 4 SD yang keras kepala dan pemberani. Anak sulung mamak ini sering bertanya-tanya pada dirinya, sayangkah mamak kepadanya? Eliana merasa selalu disuruh-suruh oleh mamak untuk masak, mencuci, mengepel, membangunkan Amelia, Burlian, Pukat, menjadi jam weker bagi mereka, bahkan menjadi mandor pengawas. Eliana merasa iri dengan adik-adiknya.

 

Di sisi lain, bersama tiga rekannya, Eliana membentuk geng ”empat buntal.” Berempat mereka kompak, bahu-membahu melewati hari-hari seru, kejadian suka-duka, pantang menyerah. Bahkan, melawan kerakusan di kampung kecil dengan sabuk sungai, dikelilingi hutan, dan dibentengi bukit-bukit hijau yang ia tinggali.

 

Dengan segala masalah pendidikan, lingkungan, dan pemerintahan yang dituang dalam buku Eliana ini, tidak lantas membuat plot cerita menjadi berat. Tere Liye berhasil menyampaikan kritikannya tanpa melupakan fokus dan tokoh utama dari cerita, yaitu tentang sosok Eliana. Konflik keluarga pun menjadi salah satu dilema dalam diri Eliana, ketika dia mulai mempertanyakan kasih sayang mamak dan statusnya sebagai anak sulung.

 

Eliana adalah buku ke-4 dari Serial Anak-anak Mamak, setelah Burlian (buku ke-2), Pukat (buku ke-3), dan Amelia (buku ke-1). Sekali lagi, Tere Liye berhasil menyajikan bacaan bermutu yang menggugah untuk memahami kasih-sayang keluarga, kesederhanaan, serta keteguhan tekad berbuat baik dengan bahasa yang sangat menyentuh.

 

Judul Eliana (Serial Anak-Anak Mamak)

Penulis Tere Liye

Penerbit Republika

Kategori Fiksi Remaja

Tebal 519 halaman

Harga Rp 60.000 (toko), Rp 51.000 (bukukita.com), Rp. 48.000 (palasarionline.com)

Dimuat di glowupmagazine.com     Wednesday, 16 February 2011 17:57

Habibie & Ainun

Habibie & Ainun Habibie & Ainun goodreads.com

glowupmagazine.com – Habibie masih ingat betul kapan ia pertama kali jatuh cinta kepada Ainun.  Saat itu, 7 Maret 1962, Habibie sedang silaturahim ke rumah keluarga Besari, ayah Ainun, yang terletak di jalan Rangga Malela, Bandung, pada malam takbir. Pandangan mata malam itulah yang akhirnya mengantarkan keduanya pada kisah-kisah romantisme hari berikutnya, sampai akhirnya menikah 3 bulan kemudian.

 

“Bagi saya pribadi, hikmah menulis buku ini telah menjadi terapi untuk
mengobati kerinduan, rasa tiba-tiba kehilangan oleh seorang yang selama 48 tahun 10 hari berada dalam kehidupan saya,” kata Presiden ke-3 RI itu dalam pengantar bukunya.

 

Namun demikian, buku yang diterbitkan The Habibie Center ini, tidak melulu berbicara soal romantisme percintaan. Habibie menulis, istrinya itu juga selalu mendampingi dan mendukung pekerjaannya sebegai menteri. Bahkan saat ia menghadapi masa-masa krisis pada reformasi Mei 1998 dan menjabat Presiden ke-3 RI selama 17 bulan.

 

Terdiri dari 37 bab yang kaya hikmah tentang kehidupan dari sudut pandang sang professor. Gaya ceritanya sederhana sehingga Glowers akan ingin terus dan terus menyaksikan keseharian Habibie dan Ainun di belakang layar pentas nasional. Layaknya sebuah novel, Habibie mampu menyajikan sebuah alur cerita unik dan menawan sehingga begitu lekat di mata para pembaca. Tengok saja kisah perjuangan Habibie muda saat mengungkapkan perasaan cintanya kepada Ainun, cerita di balik pendirian Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), di balik layar pemunculan dan terbang perdana pesawat buatan anak bangsa N250 Gatotkoco, suasana duka kepergian sang istri tercinta, serta beragam kisah lainnya yang rugi jika terlewatkan. 

 

”48 tahun 10 hari, Allah Engkau telah menitipi cinta abadi yang menjadikan kami  manunggal. Manunggal yang dipatri oleh cinta yang murni, suci, sempurna dan abadi” (Habibie & Ainun, halaman 296)

 

Judul Buku  Habibie & Ainun

Penulis        Bacharuddin Jusuf Habibie

Penerbit    PT The Habibie Center Mandiri

Genre  Biografi

Tebal xii + 323 Halaman

Resolusi  14 cm x21 cm

Harga   Rp. 80.000,- (toko),  Rp. 67.200 (bukukita.com)

Dimuat di glowupmagazine.com     Monday, 14 February 2011 20:42

Jajan Es Potong, Yuk!

Es Potong Es Potong therealmeinabowloflife.blogspot.com

 

Perjumpaan kembali itu terasa menggairahkan. Serta merta saya berhenti melaju dan menghampiri seorang bapak setengah baya yang sedang mendorong gerobak sederhana berinstrumen lonceng kecil bersuara nyaring. Tulisan di gerobak itulah yang seolah menyihir saya untuk seketika menepi. Es Potong.

 

Ya, Es Potong adalah salah satu jajanan jadoel yang memiliki sensasi rasa tak terlupakan. Rasa gurih santannya berpadu dengan manisnya gula pasir plus butir-butir beras ketan hitam beku, menyatu dalam selongsong panjang bungkus plastik bening. Ada juga pilihan rasa coklat, frambus, durian, atau melon.

 

Kenapa disebut Es Potong? Tak lain dan tak bukan adalah karena longsongan panjang itu harus dipotong-potong dulu dan ditusuk dengan lidi untuk dapat dinikmati. Slrrrupp … dinginnya seolah menyegarkan siang yang terik, gurihnya memanjakan lidah, dan wangi aroma buah melengkapi sensasi nikmat sepotong Es Potong. Humm.. yummy..

 

Sebungkus utuh Es Potong, kurang lebih sepanjang 50 cm dan berdiameter 2-3 cm, dijual Rp 5.000 saja. Nah, jika Glowers ingin yang versi potong, harga tiap potong yang panjangnya sekitar 10 cm berkisar antara Rp 1.000 sampai Rp 2.000. Harga tersebut menjadi terasa sangat murah jika mengingat mulai langkanya jajanan  pelepas dahaga ini di jaman sekarang.

 

Penasaran dengan Es Potong? Lets hunt, Glowers!

Dimuat di glowupmagazine.com     Monday, 14 February 2011 17:54

Masih Ingat Lupus?

Lupus Lupus

glowupmagazine.com – Jambul ala personel Duran Duran, JohnTaylor, permen karet yang engga pernah absen, plus ulah yang tengilnya minta ampun pasti langsung membuat anda teringat akan tokoh kondang rekaan Hilman Hariwijaya. Siapa lagi kalau bukan Lupus?

 

Novel Lupus pertama diterbitkan pada tahun 1986 berjudul Lupus I: Tangkaplah Daku Kau Kujitak. Walaupun judulnya adalah plesetan dari film Kejarlah Daku Kau Kutangkap, ceritanya tak berhubungan. Buku ini pun laris manis pada era 80-an akhir sampai awal 90-an, malah sempat menjadi trend setter anak-anak dan remaja Indonesia kala itu. Jangan ngaku gaul kalau belum update cerita Lupus terbaru.

 

Teman-teman dan kenalan Lupus pun jadi ikut beken lewat serial buku, sinetron, dan bahkan film layar lebar yang mengusung cerita Lupus. Siapa yang tak kenal Gusur yang doyan makan? Atau  Boim si rambut keriting? Masih ingat Lulu, adik Lupus yang hobi ngatain rambut Lupus seperti sarang burung? Dan, apa yang anda ingat kalau disebut sejumlah nama seperti Pepno, Happy, Prudence, Iko-iko, Uwi, dan Mami?

Dimuat di glowupmagazine.com     Tuesday, 15 February 2011 14:50

Pager: Sang Gadget Jadul

Pager Pager bagi-bagi-info.co.cc

Tidiit.. Tidiit.. pagerku berbunyi! Tidiit.. Tidiit.. Begitu bunyinya!

 

Generasi ABG tahun 90-an tentu tidak asing dengan lagu rap Sweet Martabak itu. Begitu menterengnya sebuah pager, sampai-sampai duo rapper asal Pekanbaru itu jadi kondang karenanya. Memang kala itu pager merupakan gadget paling keren. Handphone masih merupakan teknologi yang sangat mahal, itu pun dengan ukuran handphone yang “segede gaban.” Jadilah pager sebagai alat telekomunikasi praktis yang paling realistis.

 

Pager yang dimaksud adalah alat telekomunikasi pribadi untuk menyampaikan dan menerima pesan pendek. Pager merupakan radio panggil numerik satu arah dan hanya dapat menerima pesan yang terdiri dari beberapa digit saja. Terbatas, memang. Tapi tetap paling keren di zamannya.

 

Radio panggil ini pertama kali diciptakan oleh Multitone Electronic pada tahun 1956 di Rumah Sakit St.Thomas, London, oleh dokter-dokter yang sedang bertugas dalam kondisi darurat. Sejak itu, pager berkembang pesat. Jutaan pesan dikirimkan kepada orang-orang yang membutuhkan informasi yang cepat.

 

Bagaimana dengan sekarang? Kalau ada di antara anda yang masih menyimpan pager dan bisa digunakan, maka: ”Selamat! Sebuah benda purbakala bersejarah ada di tangan anda!”

Dimuat di glowupmagazine.com Thursday, 24 February 2011 14:17

Ranah 3 Warna

R3W R3W gramediashop.com

 

 Masih berkisah tentang Alif, urang awak yang nyantri di Pondok Madani demi menuruti nasehat bundo-nya (baca di Negeri 5 Menara – N5M). Alif yang baru saja lulus dari Pondok Madani bertekad mempelajari teknologi-nya Prof. BJ Habibie dengan masuk perguruan tinggi negeri di kota Bandung. Terlebih, sahabat sekaligus rival-nya sedari kecil, Randai, telah terlebih dahulu lulus UMPTN dan menjadi mahasiswa ITB. Ia pun berniat meminjam buku bekas teman-temannya dahulu agar bisa menguasai pelajaran-pelajaran yang akan diujikan. Semangatnya menggebu-gebu saat itu. Namun, satu pertanyaan dari Randai sempat menciutkan semangatnya.“Kan tidak ada ijazah SMA?”

 

Pertanyaan itu memang membuat peluang masuk PTN mengecil, tapi itu tak membuat Alif patah arang. Malah ia menjadi tertantang untuk membuktikan bahwa lulusan pesantren—yang tak mempunyai ijazah—bisa masuk universitas negeri. Ia akan buktikan ke semua orang bahwa segala tantangan berat akan bisa dihadapi dengan sungguh-sungguh dan usaha keras. Man jadda wajada.

 

Baru saja Alif dapat menembus UMPTN dan tersenyum, kenyataan hidup satu demi satu menguji kesungguhannya. Kuliah yang keteteran, minimnya uang saku di rantau orang, dan berbagai cobaan yang seolah tak ada henti. Di titik inilah, mantra kedua dari Pondok Madani menguji ketangguhan Alif. Man Shabara Zhafira, siapa yang bersabar akan beruntung.

 

Sekali lagi, Ahmad Fuadi berhasil menyihir pembaca dengan kelincahannya mengolah kata. Ramuan cerita pada buku keduanya ini tetap sarat hikmah yang tak nampak menggurui. Terjalin kuat dengan Man Shabara Zhafira sebagai benang merahnya.  Cantik, mengharukan, dan inspiratif. Ranah 3 Warna (R3W) sedikit berbeda dengan N5M karena kental dengan sisipan pantun Melayu. Jati diri sang penulis sebagai orang Melayu jelas terbaca dalam bab demi bab R3W.

 

Lantas, bagaimana dengan para shohibul menara? Siapa pula Raisa? Mengapa sampai muncul Obelix, orang Indian, Michael Jordan dan Kesatria Berpantun ? Just be patient and read this book, Glowers! Kisah pembangun jiwa yang bertutur bahwa mimpi, cita-cita, dan idealisme adalah sesuatu yang wajib diperjuangkan mati-matian meskipun bertabur berbagai ujian. Recommended!

 

“….tanpa sabar, rasanya tidak mungkin aku bisa berkelana melintas Bandung, Amman, dan Saint-Raymond (Kanada); tiga ranah berbeda warna….” (R3W, hal. 466)

 

Judul    Ranah 3 Warna

Penulis  Ahmad Fuadi

Penerbit   Gramedia Pustaka Utama (GPU)

Terbit  23 Januari 2011

Halaman  488

Harga   Rp 65.000 (toko)   Rp 55.250 (gramediashop.com) Rp 40.000 (kaskus.us)

Dimuat di glowupmagazine.com     Sunday, 13 February 2011 18:27