Bang “Munir”, Andai Setiap Orang Sepertimu

Hujan rintik-rintik cukup rapat. Saya berdiri tak jauh dari warteg “Cahaya” yang lagi ditongkrongi orang gila tanpa celana (kasian banget itu orang gila yak.. *dan wartegnya, tentu*). Berdiri dalam hujan yang tampaknya bakalan masih lama redanya.  Angkot menuju Parung masih saja terlihat ngetem. Saya memilih berdiri agar dapat langsung menyambar angkot pertama yang anti-ngetem.

Dan syukurlah, sebuah angkot terlihat mendekat, tanpa menunjukkan tanda-tanda akan ngetem. Lebih bersyukur lagi, ternyata bangku depan masih kosong. Posisi ideal untuk 45 menit ke depan. Cepat, saya masuk , duduk, mencari posisi nyaman, dan mengunci pintu.

Tiba-tiba, “Hei, kamu, anak kecil! Mau ke pulang ke mana? Ayo naik, buruan!” Ternyata si sopir angkot berteriak ke seorang anak yang berdiri merapat tembok, sedang celingak-celinguk sambil memegangi ranselnya yang tampak berat. Diteriaki begitu, antara kaget, takut, dan patuh, si anak segera masuk ke angkot yang setengah kosong.

“Saya, kalo liat anak kecil begitu, langsung aja tak (saya – red) suruh naik, Bu” kata si sopir dengan aksen jawa yang samar-samar. “ Kasihan kalo kehujanan terus sakit, “ lanjutnya. “Soal dia bisa bayar atau nggak, itu belakangan.”

Subhanallah.. salut banget deh ke si sopir. Hari gini, sopir angkot pula.. Sudah bukan rahasia lagi, kalau para sopir angkot selalu dikejar setoran tiap harinya. Tak heran jika para penumpang lantas diperlakukan kurang manusiawi dengan format kursi 3-4-6 yang sudah tentu sangat membatasi ruang (bergerak maupun bernafas) penumpang.  Plus bonus ngetem yang tak terprediksi durasinya, demi memenuhi kuota 3-4-6 isi mobil. Seribu atau dua ribu, pasti sangat berarti buat setorannya.

Yang ini, beda..! *kek iklan aja =D*

Pun ketika angkotnya mendekati MTs Parung yang kebetulan sedang bubaran sekolah. Riuh rendah anak-anak tak berkurang ketika segerombolan besar anak-anak diseberangkan oleh dua orang satpam sekolah. Diiringi peluit panjang dan tangan direntangkan, dua satpam itu menghentikan lalu lintas kendaraan di tempat penyeberangan jalan.

Sopir angkot yang saya naiki pun patuh mengurangi kecepatan dan berhenti sambil menawarkan angkotnya ke anak-anak itu. Tiba-tiba, sebuah motor nyelonong dari kiri dan terus saja melaju, mengabaikan tanda dari sang satpam.

“Gila tu, motor! Nggak tau aturan!” Sopir angkot saya emosi. “Disuruh berenti ya berenti dong! Nyalip dari kiri pula! Kayak nggak pernah sekolah aja!” Bertaburan serapahnya ke penunggang motor tadi.

“Bener, Bang,” kataku member dukungan, plus dihinggapi salut dua jempol kepada sang sopir angkot.

Coba saja semua pengemudi kendaraan umum seperti dia, maka image kedaraan umum = blingsatan  secara perlahan pasti akan hilang. Coba saja semua pengguna jalan tertib seperti dia, maka kecelakaan maupun kemacetan pasti dapat diminimalisir. Insya Allah.

*

Lalu lintas Pasar Parung padat merayap. Alhamdulillah tidak sampai macet total seperti umumnya hari Jum’at sore. Angkot yang saya naiki pun melenggang pasti ke pertigaan tempat dia biasa putar balik.

“Woi, Nir!” seru seorang sopir angkot yang ngetem di pojokan warteg Pasar Parung.

“Wooi!” balas si abang sopir angkot yang saya naiki dengan tawa lebar. Munir? Pikir saya sambil sekilas melirik si abang.

Agak kaget, saya dapati dia memang agak mirip Munir, aktivis HAM yang kematiannya menghebohkan dunia hukum Indonesia! “Orang sini kalau manggil saya Munir, Bu. Katanya saya mirip sama Munir. Hehehe,” katanya enteng.

“Mirip juga sih..” jawab saya. Dan kami pun tertawa bersama.

// Oiya, di tengah cuaca dingin karena hujan yang awet turun dari langit, si abang Munir ini sama sekali tidak menyulut rokok seperti perilaku sopir angkot kebanyakan lho! Makin salut deh.. Semoga tetap konsisten ya, Bang. Insya Allah dengan demikian akan dimudahkan rizkinya. Amiin.

NOV 16, ’09 12:11 AM
UNTUK SEMUANYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s