Candradimuka Capra

dikirimkan dalam rangka writing competition Bio Vision Inspiring Teacher 2012 dan qadarullah file ternyata error tanpa setahu saya sehingga tidak terbaca. So, tetap dengan semangat berbagi, tulisan tersebut saya upload di blog agar teman-teman tetap dapat menikmati tulisan ini. Semangaaat!

Ibarat menatah granit, mendidik anak sampai ia berusia lima belas tahun sungguh luar biasa sulit – namun, hasilnya akan terpatri seumur hidup,

Jika masa itu terabaikan, maka kita ibarat melukis di atas air.. mudah

— namun hasilnya akan begitu saja pudar oleh sedikit percikan

 

 

Jenengmu ana[1]?” tanya Tunik di sampingku.

Ngko sik, durung ketemu[2]” jawabku sambil memanjangkan leher di tegah kerumuman kecil wajah-wajah penasaran di depan papan pengumuman. Mencoba mendesak maju sambil memincingkan mata. ”Namamu ada, Nik?” Aku balas bertanya.

Ana! Ana! Jenengku ana!” seruku bahkan sebelum Tunik sempat menjawab pertanyaanku. Ada! Namaku ada! Mencoba mendesak mundur sambil melebarkan mata. Dan tertawa bersama.

Kami, aku dan Tunik, lolos dalam pemilihan Capra, sebuah tim dengan gengsi tinggi di SMP[3] kami waktu itu. Bersama tiga puluh delapan orang terpilih lainnya, kami akan ditempa mati-matian untuk mendapatkan dua puluh orang super-terpilih yang otomatis akan masuk ke dalam jajaran superstar di sekolah.

Tunggu, jangan bayangkan ini adalah ajang adu bakat atau keren-kerenan a la selebriti. Hohoho, salah besar jika engkau membayangkan seperti itu, Nak. Sesungguhnya, ini adalah tentang kebodohan kolektif sekelompok anak SMP yang merelakan diri antri di kawah candradimuka[4] yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidup. Kebodohan atau keluguan ya? Entahlah, aku sendiri ketika itu tidak paham benar mengapa aku senang sekali bisa lolos dan resmi bergabung dengan tim Capra.

 

 

 

 

Capra adalah istilah keren yang biasa kami gunakan untuk menyebut murid kelas 2 yang masuk tim Calon Pramuka Kader. Ya, di SMP kami, ada sistem kaderisasi unik dalam ekstra kurikuler Pramuka. Ekstra kurikuler alias ekskul Pramuka itu sendiri merupakan ekskul wajib bagi murid kelas 1, lebih wajib bagi murid kelas 2 yang terpilih sebagai Capra, dan lebih-lebih wajib lagi bagi murid kelas 3 yang terpilih menjadi Kader. Suka tidak suka, kami harus tunduk dalam jadwal wajib hadir setiap hari Jum’at siang sampai menjelang maghrib. Paham bukan, mengapa aku tadi menyebut kebodohan kolektif sekelompok anak SMP yang merelakan diri antri di kawah candradimuka yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidup?

Yup, benar sekali! Mana ada murid SMP waras yang rela memilih lari berpanas-panas di bawah terik matahari mengelilingi lapangan basket setiap Jum’at siang, setelah sebelumnya wajib bergotong royong mendirikan sebuah tiang bendera dari tetongkat dan tali-temali yang kokoh benar?

Sayangnya, kami tak selalu beruntung, Nak. Beberapa kali tetap juga terjadi insiden tiang bendera ambruk saat upacara,sehingga kami harus memikul tambahan ”pemanasan”, tak peduli kecerobohan ada di oknum Capra yang mana.

Belum lagi aksessori ”memalukan” yang wajib Capra kenakan sejak dari rumah sampai kembali lagi ke rumah: kliningan! Klining.. klining.. klining.. begitulah backsound dari kaki dan tongkat kami berbunyi mengiringi derap lari kami setiap Jum’at siang.

Seragam kamipun dituntut tampil sempurna meskipun tak lagi baru. Seragam Pramuka tanpa ada satubun emblem yang tertinggal, topi Pramuka dengan bros lambang Pramuka terpasang rapi di kepala, kaos kaki hitam, tongkat dengan dicat merah atas bawah tepat 20 sentimeter, dan sepatu hitam mengkilat – meskipun untuk soal sepatu biasanya kami cuma sempat mengelapnya kuat-kuat dengan kain basah atau menyikatnya dengan sikat gigi bekas yang dibasahi air.

Aku tidak tahu kapan ide kaderisasi semacam ini mulai dipraktekkan secara resmi di SMP-ku. Yang jelas, ketika Budhe[5]-mu duduk di bangku SMP ini – lima tahun sebelum aku – istilah Capra-Kader sudah ada. Konsepnya sederhana, transfer nilai-nilai kepemimpinan dengan praktek langsung. Teknisnya? Luar biasa melelahkan, Nak!

Diawali dengan pengumuman tertulis di papan tulis hitam sebelah aula sekolah. Bagi yang namanya tersebut di bawah ini, silakan mengikuti tes Capra pada tanggal sekian jam sekian di depan ruang Pramuka. Aku tidak tahu bagaimana nama-nama tersebut bisa muncul secara ajaib di sana, namun kupikir, nama-nama tersebut adalah hasil pengamatan para Kader dan guru pembina selama satu tahun kami mengikuti ekskul wajib bernama Pramuka di kelas 1. Tak dipungkiri, pada tahap ini rasa iri perlahan akan menyelusup di dada murid yang namanya tidak tersebut di sana sementara ia menganggap dirinya sangat layak untuk masuk dalam kualifiikasi babak pertama seleksi Capra. Mungkin karena ia memiliki perasaan itulah, justru ia tidak terpilih ya? Entahlah..

Hasil seleksi tahap pertama akan menghasilkan dua puluh orang Capra kelas 2 yang akan menjadi prototipe seorang Pramuka, pemimpin, kakak, dan anak buah yang baik bagi para murid kelas 1. Semangat, karakter, dan kualitas Capra sebagai Pramuka sekaligus murid benar-benar disorot luar dalam oleh seluruh isi sekolah. Tak peduli para Capra harus lari berpeluh-peluh, basah kuyup kehujanan – Capra hanya diijinkan memakai jas hujan ketika musim hujan, sehingga kebanyakan kami lebih  memilih hujan-hujan daripada memakai jas hujan yang membuat bentuk kami makin aneh dipandang, dan bangun pagi-pagi buta untuk mengejar persiapan pelajaran Sabtu pagi.

Setahun digembleng di Capra, akan dilakukan seleksi lagi untuk mendapatkan sepuluh orang yang berhak menyandang gelar Tim Kader Pramuka. Tim Kader memiliki wewenang mengelola seluruh kegiatan Pramuka di SMP kami – tentu dengan berkonsultasi dengan pembina, dimana hal itu membuat mereka yang terpilih menjadi Tim Kader terlihat begitu besaaaar di mata adik-adik kelasnya. Belum lagi topi hitam dengan nama julukan kebesaran yang tertulis dengan benang emas di sisi kepala. Sungguh Kader benar-benar bikin keder!

 

PRIT.. PRIIIIIT… PRIT.. PRIIIIIT..!!!

Ohlala, peluit kode panggilan Capra sudah melengking. Membuat kami lari tunggang langgang menuju lapangan parkir. Terlebih saat kami tahu bahwa yang meniup adalah pembina Pramuka kami yang sangar: Pak Budi ”Breng”! Kami memacu derap kami lebih cepat agar segera tiba di tempat.

”Krokot[6] satu, SIAP!” Rima sebagai ketua regu Capra putri sudah berseru dan mengambil sikap sempurna.

”Krokot dua, SIAP!” Cynthia langsung menyambar di sebelahnya.

”Codot[7] satu, SIAP!!” Icuk sang ketua regu Capra putra tak kalah lantang setelah berderap.

”Krokot tiga, SIAP!” Ricka hadir.

”Codot dua, SIAP!” Yusuf berseru.

“Codot tiga, SIAP!” susah payah Aan mencoba menelan permen pengganti makan siang yang dikulumnya sambil lari dan berdiri tegap bermimik serius.

Jadwal sekolah kami termasuk ketat, Nak. Mulai belajar pagi tepat pukul tujuh dan pukul setengah tujuh bagi lima puluh murid kelas tiga yang masuk peringkat teratas di sekolah. Selesai belajar pukul satu siang di luar hari Jum’at dan pukul sebelas siang untuk hari Jum’at. Sepekan ada enam hari belajar dan ada jadwal piket kelas sepekan sekali bagi setiap murid. Petugas piket ini harus datang sebelum pukul tujuh pagi untuk menyapu lantai kelas, mempersiapkan kapur tulis, mengambil jurnal belajar harian dari ruang guru, dan mengepel lantai kelas. Semuanya harus dilakukan bersama tim piket yang terdiri dari 4-5 teman sekelas.

Petugas piket kelas juga harus pulang paling akhir karena bertanggung jawab menaikkan seluruh kursi ke atas meja, menyapu lantainya, dan mengepelnya sampai bersih benar agar bebas dari omelan petugas piket hari berikutnya. Jadi, Capra yang mendapat jatah piket kelas harus pintar pontang-panting agar terhindar dari keterlambatan apel siang.

Ditambah lagi, jika kelas 2 mendapat giliran sholat Jum’at berjamaah di masjid sekolah, kami harus buru-buru benar karena kami barui bisa sampai rumah paling cepat pukul setengah dua dan pukul setengah tiga kami sudah harus berbaris rapi di tengah lapangan parkir sekolah. Terkadang kami tidak sempat makan siang agar bisa datang tepat waktu karena hukuman bagi yang terlambat lebih menyebalkan dibanding kelaparan: push up atau lari keliling lapangan.

Melelahkan memang. Setelah aktivitas belajar di kelas dari pukul tujuh pagi sampai pukul setengah dua siang, kegiatan capra wajib dituntaskan sampai sekitar pukul setengah enam sore. Praktis kami sampai rumah sudah sekitar pukul enam dan harus mengerahkan sisa energi untuk mempersiapkan pelajaran untuk kelas di hari Sabtu. Mengerjakan tugas, menyalin catatan, belum lagi jika ada ulangan materi pelajaran. Padat!

Lantas, apa kebanggaan kami hingga rela antri mendaftar dan berpayah-payah mengikuti satu per satu tes Capra yang terkadang memberikan soal ajaib untuk ukuran anak akhir kelas satu SMP? Sedikit kuceritakan padamu, Nak, salah satu soal yang kujawab dengan mata terbelalak adalah: Apakah kepanjangan dari UFO? Jarang sekali ada yang menanyakan soal UFO di kertas ujian dan — jujur saja — aku baru menemukannya di soal ujian Capra. Syukurlah, aku dapat menjawab dengan baik: Unidentified Flying Object. Tak pernah rugi rasanya jika punya hobi membaca buku bergizi.

Ya, apa sebenarnya break event point yang kami dapat? Lelah iya, kulit menghitam karena terbakar matahari, jelas iya. Prestasi belajar naik turun, humm.. sesekali iya. Dimarahi orang tua karena pulang mendekati adzan isya dengan badan lunglai dan perut kelaparan, sudah biasa. Dipandang sinis anak-anak SMP lain saat klinang-klining berlari dari sejak turun bus kota sampai gerbang sekolah agar tidak terlambat apel siang, sudah cemilan kami. Itu sajakah?

Rupanya tidak. Resminya, salah satu hak istimewa Capra adalah adanya peluang menjadi delegasi kota kecil kami dalam Jambore Nasional di Bumi Perkemahan Cibubur yang terkenal itu. Tentu saja, menjadi utusan resmi ke Jambore menuntut kami menjalani serangkaian ujian yang lebih mematikan dibanding ujian Capra. Bonusnya, Capra memiliki akses negosiasi kepada guru-guru ”galak” yang lebih besar dibanding murid lain. Sama besar dengan para pengurus OSIS. Meskipun tak selalu berakhir baik – karena seringkali kami juga yang salah, kliningan kami saat itu terasa… ,kereen!

 

”Hal terpenting untuk ditanamkan kuat-kuat pada seorang anak adalah apa yang disebutk-a-r-a-k-t-e-r,” kalimat yang kudengar dari pembicara seminar parenting kali inilah yang melayangkan kenanganku ke masa SMP-ku. Mau tak mau, aku teringat akan tim Capra-ku yang luar biasa itu. Dan aku teringat padamu, Nak. Tiba-tiba aku ingin membagikan cerita SMP dulu kepadamu.

Ya, semua candradimuka itu adalah tentang karakter, Nak. Sebuah pahatan tak ternilai yang diukir oleh para guru dan kakak kami di dalam granit diri kami. Disipilin, percaya diri, tanggung jawab, supel, setia kawan, team work, dan berani berkata serta melakukan yang benar.

Memang benar, ibarat menatah granit, Pak Budi ”Breng” dan kakak-kakak Kader Pramuka benar-benar menampa kami dengan keras. Asal engkau tahu saja, Nak, hal itu pun dilakukan oleh guru-guru yang lain di SMP kami. Sungguh!

Tahukah engkau bahwa guru sejarah kami yang paling kami kenang adalah beliau yang mewajibkan tanpa kompromi kelas sudah dipel bersih mengkilat tepat sebelum beliau memasuki kelas? Tidak akan pernah ada sampah walaupun seulas debu sekalipun. Belum lagi soal membuat catatan dengan garis tepi tepat dua sentimeter, buku tersampul rapi dengan motif seragam untuk seluruh isi kelas, dan ulangan harian dengan kertas ulangan yang hanya dikeluarkan oleh koperasi sekolah? Ya, ini adalah tentang Bu Gik yang bahkan ketukan langkah sepatunya saja sanggup membungkam berisik anak terbandel di kelas. Ini adalah kenangan tentang disiplin dan team work.

Pernahkah engkau menjumpai guru matematika seperti Pak Rahman, Nak? Jangka kayunya yang super besar pasti pernah mendarat di buku setiap murid, menyisakan lubang besar yang tembus sampai halaman belakang. Entah karena kami tidak menuntaskan pekerjaan rumah atau karena kami menggunakan tip ex untuk menghapus jawaban yang salah. Tidak ada kompromi. Ini adalah tentang tanggung jawab dan melakukan hal yang benar, Nak.

Tunggu, Nak! Kenangan tentang SMP-ku tidak melulu ”mengerikan” seperti itu. Memang SMP-ku terkenal seantero kota dengan disiplin dan kualitasnya yang membanggakan, namun engkau pasti tertawa jika kubilang SMP-ku tidak mengerikan.

Serius lho, masih ada kenangan manis kok dengan Bu Rini. Guru matematika yang banyak dari kami lebih suka memperhatikan beliau menerangkan dengan tegas tapi penuh senyum daripada memperhatikan isi pelajaran itu sendiri. Sayangnya, ketika ulangan berlangsung, jangan dikira kami bisa berleha-leha karena soal yang diberikan tidak pernah membuat kami tersenyum. Mau tak mau kami haris berkutat dengan soal masing-masing karena Bu Rini hanya akan duduk di meja guru dan membaca Qur’an, seolah menyampaikan dengan isyarat bahwa beliau mungkin tidak melihat kami berbuat curang, tapi Sang Maha Melihat akan memberikan ganjaran untuk setiap kecurangan. Jika tidak sekarang, pasti nanti ganjaran itu akan datang. Ya, ini soal kejujuran dan harga diri, Nak.

Dan.. Pak Budi Breng? Sudah pasti kami akan menyebutnya dalam setiap reuni. Meskipun ada beberapa guru bernama Budi di sekolah kami, nama Budi selalu identik dengan Budi Breng dan Pramuka yang disiplin. Julukan Breng adalah kependekan dariBrengos alias kumis karena beliau memang selalu mempertahankan kumisnya sebagaitrade mark, bahkan sampai sekarang, Nak.

Sejujurnya, aku benar-benar merasakan kebenaran kata-kata Irwan Rinaldi[8] yang beliau sampaikan dalam seminar siang itu. Mendidik anak sampai ia berusia lima belas tahun sungguh luar biasa sulit – namun, hasilnya akan terpatri seumur hidup. Kalimat itu jugalah yang sering Grandpa sampaikan di sela diskusi kami. Dan pendidikan terpenting adalah tentang pendidikan karakter, karakter, dan sekali lagi karakter.

Betapa karakter memang sepenting itu, Nak. Salah satu yang kuingat benar dari Capra adalah kewajiban menyerukan kata mutiara di sela aktivitas Jum’at sore kami. Satu capra, satu kata mutiara yang sama selama menjadi capra.

”Krokot TUJUH, kata mutiara!” telingaku berjengit mendengar namaku dipanggil. Ya, di tim Capra namaku adalah Krokot Tujuh. Segera saja kutinggalkan pasak tiang bendera dan mengambil sikap sempurna.

”Pantang menyerah! Selesai!” seruku mantap.

Tanpa aku sadari, pantang menyerah merasuk dalam bawah sadarku selama bertahun-tahun. Pantang menyerahlah yang muncul dalam kesadaran di saat-saat sulit perjalanan hidupku. Saat menyelesaikan skripsi, misalnya. Atau saat tuntutan kerja di kantor sungguh membuat aku ingin segera hengkang saat itu juga. Bahkan, saat kontraksi akan melahirkan dirimupun, pantang menyerah terngiang-ngiang di kepalaku. Pantang menyerah karena di setiap kesulitan pasti ada kemudahan.

Masihkah engkau membaca, Nak?

Aku sungguh beruntung memiliki Grandpa dan Grandma yang sangat memperhatikan kualitas pendidikan anak-anaknya. Beruntung karena mereka mengarahkanku sehingga dapat memasuki SMP dengan kawah candradimuka sebergolak itu. Sungguh kenangan masa SMP itu sangat membekas dalam ingatanku. Bertemu dengan guru-guru yang memiliki karakter kuat dalam mendidik dan menanamkan nilai-nilai kedisiplinan, kejujuran, tanggung jawab, kerja sama, dan persahabatan.

Kami ingin engkau merasakan tempaan itu kelak, Nak. Bahkan jika engkau tahu, sedari engkau bayi merahpun, kami mulai menempamu. Kami memutuskan memberikan ASI – Air Susu Ibu – eksklusif sampai tepat enam bulan, meski banyak masukan sesepuh untuk memberikan makanan pendamping saat engkau empat atau lima bulan. Dan ingatkah engkau tentang makanan pendamping ASI pertamamu? Ya, ubi Cilembu panggang. Saat orang lain memulainya dengan bubur encer, kami memutuskan memberikan makanan padat yang dapat engkau genggam sendiri dan engkau jelajahi tekstur maupun rasanya[9]. Dan kami sungguh bersyukur atas keputusan itu karena kemandirian dan keterampilanmu berkembang pesat dibanding teman sebayamu.

Semua itu kami lakukan bukan karena kami tega hati kepadamu, Nak. Semoga engkau memahami bahwa candradimuka akan membentuk karaktermu. Karakter yang tak lekang waktu dan semoga membantumu melintasi jaman yang kian tak tentu. Semoga kamipun diberikan kemudahan untuk memilih candradimuka ”Capra” yang terbaik untukmu. Aamiin.

 

Kita tidak selalu bisa membangun masa depan untuk generasi muda. Tapi kita bisa membangun generasi muda untuk masa depan.

(Franklin D. Roosevelt, Presiden Amerika Serikat 4 periode – [1932 – 1945])

 

 

 

 

 

Salatiga, 22 Mei 2012

Teruntuk: Grandpa, grandma, guru-guru formal dan non-formalku,

serta teman-teman Capra 1997: kalian semua HEBAT! J


[1] Jenengmu ana: namamu ada – bahasa Jawa ngoko (kasar) yang hanya boleh digunakan untuk Nak sebaya yang sudah sangat akrab satu sama lain.

[2] Ngko (asal kata: mengkosik (asal kata: dhisik), durung ketemu: nanti dulu, belum ketemu – bahasa Jawa ngoko

[3] Sekolah Menengah Pertama. Sekarang disebut SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama).

[4] Istilah candradimuka di ambil dari kisah pewayangan yang merupakan tempat berupa kawah dimana para tokoh pewayangan mendapat pusaka dan kesaktian setelah dimasukkan kawah tersebut. Kisah yang terkenal adalah Gatotkaca yang di masukkan ke kawah bersama pusaka-pusaka sakti sehingga menjadi wayang super hero.

[5] Budhe = ibu gedhe, kakak perempuan dari orang tua kita.

[6] Krokot: nama daerah dari Portulaca,  genus tanaman dari suku Portulacaceae. Terdapat sekitar 40-100 spesies yang ditemukan di daerah tropis dan daerah bermusim empat. Salah satu spesies yaitu Portulaca oleracea dikenal sebagai tanaman yang dapat dimakan. Bentuknya yang sederhana tapi kaya manfaat menginspirasi kakak-kakak Kader untuk menyematkan nama Krokot untuk tim Capra putri kami. Informasi dari cariobat.blogspot.com,  krokot bisa digunakan untuk membantu pengobatan bisul, kencing darah, demam, sakit kuning, disentri, radang kulit, dan radang akut usus buntu J

 

[7] Codot: nama umum bagi jenis-jenis kelelawar pemakan buah. Codot, bersama dengan kalongnyappaniki dan sebangsanya membentuk suku Pteropodidae, subordoMegachiroptera (kelelawar besar). Codot berperan penting sebagai pemencar biji tetumbuhan, terutama di hutan hujan tropika. Kelelawar ini hanya memakan daging buah yang dikunyah-kunyah untuk diambil cairannya, sementara serabut buah dan bijinya dibuang. Codot biasanya tidak memakan buah di pohonnya, melainkan dibawanya ke pohon lain atau tenggeran yang lain yang dianggap aman dan memakannya di situ. Kelelawar nektarivor diketahui pula bertindak sebagai penyerbuk (polinator) bunga-bunga yang dikunjunginya. Humm.. mungkin ini salah satu alasan penggunaan nama Codot untuk tim Capra putra ya? J

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Codot

[8] Irwan Rinaldi: Konselor di Yayasan Kita dan Buah Hati dan seabrek aktivitas lain. Misinya adalah  membantu para ayah pekerja dalam mengasuh dan mendidik anak-anak mereka demi perbaikan taraf kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan dengan berbagi kisah tentang keayahan. Kota kecil saya beruntung bisa menghadirkan beliau dalam seminar parenting awal Mei 2012 lalu. Saya lebih beruntung karena bisa menghadirinya J

[9] Metode pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) ini  disebut Baby Led Weaning (BLW). Konsepnya adalah memberikan kepercayaan penuh kepada bayi tentang apa yang ia makan dengan menghidangkan makanan dalam bentuk aslinya – bukannya bubur seperti kebanyakan orang. Bayi akan belajar tentang keterampilan makan seperti menggigit dengan gusi, mengunyah, dan menelan sedini mungkin. Lebih jauh lagi, bayi belajar tentang kepercayaan diri, dan juga pengendalian diri – karena bayi bebas menentukan porsi makannya. Info lengkap bisa diakses di http://babyledweaning-indonesia.blogspot.com/

JUN 24, ’12 11:10 PM
UNTUK SEMUANYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s