Cas.. Cis.. Cus.. Bebas Salah Tingkah

Taman Darmaga Hijau, Ahad pagi. Saya sedang menyusuri jalan utamanya, mencari sebuah alamat yang saya dapatkan via telepon. Dari speaker masjid terdengar ceramah tentang Surat Keputusan entah apa yang nampaknya sedang serius dibahas. Dan ternyata, alamat yang saya cari ada di sebelah masjid. Hmm.. satu poin plus.

Saya bertemu tuan rumah yang langsung dengan ramah mengantar saya ke paviliun yang beliau tawarkan. “Monggo.. monggo..” ajaknya spontan. Hmm.. satu poin plus lagi.

Dan sebuah ruangan mungil di bagian samping rumah tersaji di depan saya. Bentuk ruangannya agak unik, segitiga. Segitiga siku-siku. Yah, mungkin karena ada di bagian samping rumah ya? Memanfaatkan kelebihan lahan  yang dimiliki si empunya rumah. Panjang sekitar 3 meter, lebar (atau tinggi segitiga ) sekitar 4 meter. Jadi, sambil mengingat rumus luas segitiga, ruangan itu luasnya adalah 6 meter persegi. Rumus luas segitiga belum berubah kan? Masih alas kali tinggi, dibagi 2 toh? Hehe.. lama banget nggak belajar geometri dasar. Mohon maaf dan koreksi kalau salah yak..

Sambil mendengar presentasi singkat si ibu pemilik rumah, saya melihat-lihat paviliun itu. Mencoba merasakan auranya. Meresapi suasananya. Menilai lingkungannya dan detailnya. Mencoba melihatnya juga dari sudut pandang suami saya. Mohon maklum, namanya juga sedang mencari sarang untuk ditinggali. Apalagi saya tidak akan menempatinya sendiri. Jadilah.. set…set.. berubah.. “jadi” suami saya.. 

Ngobrol punya ngobrol, ternyata si ibu ini asli Solo. Beliau senang sekali ketemu saya yang orang Salatiga, sehingga bertaburanlah diskon-diskon atau fasilitas-fasilitas gratis tambahan yang akan beliau berikan kalau kami jadi mengontrak paviliun itu.  Alhamdulillah..  bahasa Jawa menjadi tiket saya di sini.

Meski demikian, bagaimanapun saya tidak akan menempatinya sendiri. Dan beliau paham ketika saya sampaikan bahwa saya harus diskusi dulu dengan teman sekamar saya. Sangaaat paham.. 

***”

Wah.. Ibu, kok saya jadi matur dalam bahasa Jawa,” kata saya agak salting. Bukannya apa-apa, di Bogor hampir nggak pernah saya melakukan percakapan panjang dengan bahasa Jawa halus. Alasannya? Nggak ada lawan bicara yang nyambung. 

Dan pagi ini, tiba-tiba seorang ibu separuh baya — yang saya datangi rumahnya dalam misi mencari sarang — mengajak saya bicara dalam bahasa Jawa. Blaik.Nggak mungkin kan, saya jawab pakai Jawa ngoko alias kasar? Jadilah saya salting, sibuk menggali kosa kata yang tertimbun di dasar memori saya.

“Lho, boten napa-napa, Jeng,” si Ibu membesarkan hati saya. Tidak apa-apa, katanya. Plus dengan memanggil “Jeng”. Dududuh.. berasa jadi ibu-ibu arisan. Jeng.. Jeng.. Jeng Niken.. Nggak pantes.. Tapi tentu saya hanya bisa tersenyum ketika dipanggil Jeng. Lebih sibuk dengan persiapan kosakata Jawa berikutnya.

“Priyayi-priyayi Ambon ingkang kula tepangi sami iri kaliyan tiyang Jawi lho, Jeng,” lanjut si Ibu semangat. Jeng lagi. Orang-orang Ambon yang beliau kenal pada iri sama orang Jawa.

“Iri kados pundi to,Bu?” sahut saya lancar (kalimat ini tidak terlalu panjang, kamus online di otak saya bisa cepat menerjemahkan). Iri bagaimana, begitu.

“Inggih, tiyang Jawi punika menawi kepanggih tiyang Jawi sanesipun, boten dangu sampun akrab ngobrol-ngobrol ngangge basa Jawi. Padahal kepanggihipun boten temtu wonten Jawi,” jelas si Ibu bangga. Translasi: Orang Jawa kalau ketemu orang Jawa lain, tidak lama sudah akrab ngobrol-ngobrol dengan bahasa Jawa. Padahal ketemunya tidak selalu di Jawa.

“Ooo.. ngoten to, Bu. Sampun otomatis mbok menawi,” komentar saya sambil manggut-manggut. Sudah otomatis, mungkin.

“Pramila, priyayi-priyayi Ambon punika pengin gadhah perkumpulan Ambon ingkang akrab ngangge basa Ambon. Nggih mekaten, kados tiyang Jawi,” si Ibu masih semangat bercerita bahwa orang-orang Ambon (yang beliau kenal) ingin membuat perkumpulan Ambon yang bercakap-cakap dengan bahasa Ambon seperti orang Jawa kalau ketemu orang Jawa. Dan si Ibu mengakhirinya dengan tertawa. Saya ikut tertawa.

***

Bahasa. Harus disadari, bahwa bahasa memegang peranan penting dalam keberhasilan suatu proses komunikasi, pertukaran ide. Dalam istilah ilmu komunikasi, bahasa dapat digolongkan sebagai channel, saluran komunikasi. Saluran yang paling primitif.

Mengapa bahasa menjadi saluran komunikasi?

Flashback ke bangku kuliah, menukil teori komunikasi David K. Berlo (1960), peroses komunikasi mensyaratkan empat komponen dasar. Keempat komponen tersebut adalah adanya pengirim (sender), pesan (message), saluran (channel), dan penerima (receiver). Teorinya terkenal dengan sebutan Teori SMCR. Setiap mahasiswa jurusan ilmu komunikasi pasti mendapat doktrin teori ini di tahun-tahun pertama kuliahnya. 

Nah, konteks saluran yang Pak Berlo kemukakan adalah konteks panca indera. Artinya, mata, telinga, hidung, lidah, kulit, atau gabungan dari semua itu menjadi saluran suatu pesan sampai kepada penerima pesan.

Contohnya, ada dua orang — anggaplah A dan B — sedang berjalan pelan-pelan melewati kebun bisbul (apa itu bisbul, insya Allah akan saya tulis lain waktu) yang sedang ranum berbuah. Tiba-tiba.. bukk.. sebuah bisbul jatuh.

Spontan A dan B bertukar pandang dan bersama-sama mendatangi bisbul matang yang jatuh. A memegang bisbul itu, dan memandang B. B mengangguk dan berkata, “Kita bilang yang punya kebun dulu, yuk!”. Mereka pun bergegas ke rumah pemilik kebun.

Kata-kata yang saya cetak tebal adalah saluran komunikasi yang terpakai dalam proses komunikasi yang saya contohkan di atas. Bahasa terlibat di dalam proses komunikasi tersebut karena si A (sender) melalui pandangan matanya (channel)mengirim pesan “ayo kita bawa buah ini” (message) kepada B (receiver).

Dan B balas mengirimkan pesan ke A melalui anggukan kepala dan perkataannya. Jika B tidak mengangguk pun dan cuma berkata “Kita bilang yang punya kebun dulu, yuk!” kepada A, tentu A juga sudah menangkap pesan yang B kirimkan. B menggunakan alat, saluran, yaitu bahasa yang dipahami oleh A. Proses komunikasi yang mereka lakukan sudah sah. Lengkap.

***

Bahasa daerah. Juga harus disadari bahwa bahasa daerah memegang peranan penting dalam keberhasilan suatu proses komunikasi, pertukaran ide, dengan komunitas pengguna bahasa daerah tersebut. Orang cenderung merasa klik, nyambung dengan lingkungannya, jika ia memiliki ciri-ciri lingkungan tersebut. Demikian juga, suatu komunitas juga cenderung lebih terbuka terhadap orang baru, jika orang baru tersebut menggunakan identitas-identitas khas lingkungan tersebut. Sifat seperti itu sudah sunnatullah menempel pada manusia (*).

Nah, besyukurlah kita karena lahir dan besar di Indonesia yang memiliki aneka suku dan bahasa daerah. Kondisi tersebut memungkinkan kita, para putra daerah, untuk mengenal (dan mungkin menguasai) paling tidak satu lagi bahasa dalam keseharian kita. Kemampuan tersebut, ada baiknya terus kita asah karena kecenderungan kemampuan  berbahasa daerah ke depan adalah seperti tambang emas. Makin hari makin langka. Hee.. agak berlebihan mungkin. Tapi sepertinya tidak terlalu salah.

Mungkin saat ini, kemampuan berbahasa daerah belumlah mendapat tempat yang baik di dunia per-CV-an. Bahasa daerah masih tersisih oleh bahasa-bahasa asing yang untuk mengucapkan sepatah kata dengan benar pun kita harus kursus dengan tarif tertentu. Bahasa daerah belum menjadi poin plus dalam penilaian kapabilitas seseorang.

Hmm.. tapi sekali lagi, ini adalah pendapat subyektif saya. Monggo kalau teman-teman punya penilaian tersendiri. Mungkin saya salah, tapi tak ada salahnya kita terus hidupkan bahasa daerah yang baik dan benar. Paling tidak, kita terhindar dari salah tingkah. Hehe… 

Catatan:
Soal salah tingkah berbahasa Jawa halus ini tidak berlaku untuk orang tua dan mertua lho. Kalau kepada beliau-beliau itu mah wajib lancar. Cuma, tentu saja suasanya lebih santai sehingga saya nggak pakai acara salting. Kalau saya kehilangan kosakata, bisa dengan polos bertanya. Hehe.. *ngeles mode: ON *

(*) Semoga kita selalu berhati-hati dalam bertindak dan selalu mengingat sabdaNabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya) :
“ Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka”

[Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad 2/50 dan 92 dari Ibnu Umar dan isnadnya Hasan. Diriwayatkan oleh Ath-Thahawi dalam Musykil Al Atsar 1/88 dari Hassan bin Athiyah, Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbahan 1/129 dari Anas, meskipun ada pembicaraan padanya, tetapi dengan jalan-jalan tadi, hadits ini derajatnya Shahih, insya Allah]

DEC 6, ’09 12:22 AM
UNTUK SEMUANYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s