Dek Ikeng dan Ikan Akuarium

Dek Ikeng suka sekali memandang akuarium di teras depan. Akuarium dengan beberapa ikan berwarna oranye, gelembung-gelembung air di dalamnya, batu karang putih tempat ikan bersembunyi. Bagus sekali.

Ikannya ada berapa ya? Dek Ikeng belum bisa menghitung. Dek Ikeng cuma menunjuk-nunjuk ikan satu demi satu. Dan tertawa-tawa sendiri. Asyik sekali.

Akuarium di teras baru beberapa hari dipasang. Bapak meletakkan kotak kaca di atas meja kayu. Bapak juga mengisinya dengan batu-batuan warna-warni, kotak hitam dengan selang, air, dan beberapa tanam-tanaman yang berakar batu. Dek Ikeng tidak tahu kalau batu yang diikatkan Bapak ke tanaman itu berguna untuk memberati tanaman agar tidak mengapung. Buat Dek Ikeng, tanaman itu aneh karena berakar batu.

Dek Ikeng suka berlama-lama menempelkan wajahnya di kaca akuarium yang dingin. Terpesona dengan gemulai ikan di dalamnya. Tak dipedulikannya kaki kesemutan karena lama berjinjit menggapai kaca akuarium. Dek Ikeng menemukan tempat bermain baru. Si Meong pun kalah menarik dibanding ikan-ikan di akuarium. Si Meong jadi sering bermain sendiri dengan tetangganya, Si Hitam.

Suatu hari, Si Emak pulang dari pasar membawa banyak belanjaan. Si Emak tidak mengajak Dek Ikeng, karenanya Dek Ikeng penasaran sekali dengan oleh-oleh yang dibawa Si Emak. Si Emak inilah yang selalu menjaga Dek Ikeng selama Ibu pergi ke kantor. Si Emak juga yang memasak di rumah. Masakan Si Emak selalu enak.

Si Emak menggelar belanjaannya di dapur. Ada sayur mayur (Dek Ikeng belum tahu semua nama sayuran), ada juga tepung, telur, ikan kecil-kecil, minyak goreng, dan juga kue untuk Dek Ikeng. Wah.. Si Emak membawa oleh-oleh kue untuk Dek Ikeng! Kue bulat-bulat berwarna merah muda yang merekah. Baunya wangiii sekali. Masih hangat pula. Dek Ikeng juga belum tahu kalau nama kue itu adalah carabikang. Buat Dek Ikeng, kue ini pasti enaaaak sekali.

Mata Dek Ikeng menangkap ada ikan kecil-kecil di antara belanjaan Si Emak. Ikan kecil-kecil berwarna putih di dalam plastik. Banyak sekali ikannya. Matanya kecil sekali, seperti titik hitam di putih tubuhnya. Kok ikan ini tidak berenang di air? Dek Ikeng bingung.

***
Setiap habis maghrib, Bapak memberi makan ikan di akuarium. Makanan ikan bentuknya bulat-bulat kecil. Warnanya merah muda atau coklat. Dek Ikeng suka sekali melihat ikan-ikan berebutan makanan. Mulut-mulut ikan membuka tutup dengan lahap. Dek Ikeng suka menunjuk-nunjuk ikan yang belum mendapat makan, agar Bapak memberi tambahan makanan untuk ikan itu.

Sore itu, Bapak kaget. Ikan-ikannya tidak ada yang berenang-renang riang di akuarium. Semua ikan mengapung di akuarium. Sepertinya mati. Kenapa ini?

Bapak memeriksa lebih teliti. Dek Ikeng mengamati dengan tertarik. Ada apa ya ikan-ikannya? Tadi siang masih berenang-renang kok.

“Lho?” seru Bapak terkejut.

Ibu dan kakak-kakak Dek Ikeng mengerumuni Bapak penuh rasa ingin tahu.

“Kok banyak ikan teri di sini?” tanya Bapak heran. “Siapa yang memasukkan ke sini?”

Semuanya saling berpandangan heran. Semuanya saling menggeleng.

Tiba-tiba, Dek Ikeng berkata, “Bapak, tadi Si Emak beli ikan kecil-kecil dibungkus plastik. Ikannya kasihan, tidak bisa berenang. Dek Ikeng bantu ikan berenang di akuarium.”

Olala..!!

Bapak, Ibu, dan kakak-kakak tidak jadi marah dan tertawa terbahak-bahak. Malam itu, keluarga Dek Ikeng makan malam dengan lauk ikan akuarium goreng. 

***
Sejak itu, lamaaaaa sekali Bapak tidak memelihara ikan di akuarium. Sampai Dek Ikeng sudah besar dan punya adik yang juga sudah besar. 

FEB 11, ’10 8:29 PM
UNTUK SEMUANYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s