Dunia: Makin Dikejar, Makin Tak Terkejar

Saya percaya itu. Yakin, malah. Itulah mengapa saya merasa harus terus belajar qona’ah dan istiqomah. Belajar terus merasa cukup atas nikmat yang Dia berikan dan terus berjalan di jalan yang Dia ridhai.

Saya tak punya apa-apa untuk dibagi. Karenanya, saya ingin membagikan semangat ini kepada teman-teman di sini. Semangat bahwa sudah selayaknya kita terus belajar qona’ah dan istiqomah.

Pengalaman sehari-hari saya menguatkan keyakinan saya. Membuat saya terus berusaha sampai batas terakhir kemampuan saya kemudian menyerahkan hasilnya pada Sang Pengatur segalanya. Dengan berdo’a dan menjaga agar niat saya tetap lurus Saya tak ingat satu per satu peristiwanya. *Long term memory yang tidak bisa diandalkan.. *

Namun, saya ingat, dulu menjelang menikah, pengeluaran untuk ini itu benar-benar menguras tabungan saya. Padahal pernikahan kami sederhana saja. Meminta kucuran dana dari orang tua, rasanya tak etis lagi dilakukan. Mengingat orang tua pun turut bekerja keras mempersiapkan segala sesuatunya.

Hingga, ada sayembara menulis artikel panjang di sebuah majalah ibukota. Iklannya menunjukkan hadiahnya lumayan. Namun, saya menggelengkan kepala kuat-kuat. Tidak, saya tidak ingin menang dan bersenang-senang dengan hadiahnya. Saya ingin menang dan menggunakan hadiahnya untuk biaya pernikahan kami.

Saya pun mulai menulis. 15 halaman, spasi tunggal, dan ukuran huruf 10. Benar-benar tidak mudah. Alhamdulillah, jaman sekarang sudah ada internet yang memudahkan pencarian bahan. Saya menyelesaikannya dalam sepekan, mengirimnya, dan kesibukan kantor serta persiapan pernikahan membuat saya benar-benar melupakannya.

Alhamdulillah, saya menang sayembara tersebut tepat ketika saya memerlukan biaya yang cukup besar untuk memesan ini itu. Saya tidak akan melupakannya. Benar-benar datang saat tabungan saya sekarat. Alhamdulillah.

***
Di lain waktu, ketika saya benar-benar tidak tahu bagaimana cara membeli makan untuk hari itu, rizki datang tidak terduga. Saya memulai hari itu dengan dua rokaat dhuha, berdo’a memohon kemudahan rizki, dan keyakinan bahwa Allah telah menjamin rizki setiap makhluknya. Saya tidak akan mengambil penyelesaian dengan berhutang. Tidak akan. Dan alhamdulillah, ada saja kejutan manis yang saya peroleh di akhir hari. Alhamdulillah..

***
Cerita sebaliknya banyak pula saya dapatkan. Namun, sekali lagi — karena long term memory saya tidak bisa diandalkan  * mungkin tak banyak yang dapat saya bagikan.
Paling gampang adalah cerita bersama suami saya tercinta.

Sampai sejauh ini, kami masih menjalani rumah tangga jarak jauh. Paling tidak, selama hari kerja. Suami saya di Jakarta, karena profesinya menuntut untuk datang pagi-pagi benar ke rumah sakit serta pulang menjelang malam dilanjutkan dengan berjibaku membereskan tugas-tugas referat de-el-el. Dan saya? Masih diijinkan suami untuk bekerja di Bogor, di sebuah institusi pendidikan pascasarjana dengan jam kerja dan situasi kerja jauh lebih santai daripada bekerja di Jakarta, yang kebetulan sempat juga saya alami sebelum saya menikah.

Suami saya hanya berpesan, baik-baik jaga diri, jangan pulang terlalu malam. Lainnya, dia percaya penuh kepada saya.

Akhir pekan adalah waktu yang kami nantikan bersama. Saatnya pulang ke Depok, rumah bersama yang kami sepakati jadi tempat melewatkan akhir pekan. Dan saya selalu langsung pulang begitu jam kerja selesai.

Nah, suatu kali, pernah saya ingin memberi kejutan untuknya dengan pulang lebih awal dari biasa. Jam baru menunjukkan pukul tiga lewat sedikit. Dan saya sudah kabur pulang ke Depok. Dengan mendapat restu teman-teman kantor dan atasan langsung. 

Saya sampai rumah kurang dari dua jam dan saya langsung memberinya kabar bahwa saya sudah sampai di rumah. Seperti perkiraan saya, dia memang kaget dan senang karena saya pulang awal. Namun, kemudian suami saya memberi kabar kalau ternyata dia pulang malam karena kesibukan di rumah sakit yang agak lebih banyak dari biasa.

Hahaha..

Saya tersadar bahwa meskipun niat saya pulang awal dan menyenangkan suami itu baik, cara saya pulang sebelum jam kerja habis itu salah. Niat baik tidak akan berhasil baik kalau caranya salah. Justru makin jauhlah kita dari tujuan kita. Astaghfirullah..

***

Akan panjang tulisan ini jika saya terus mengingat nikmat-nikmat yang Dia berikan. Tak pernah cukup rasa syukur atas segalanya, bahkan untuk hal-hal yang dalam pandangan manusia seperti saya tidak selalu menyenangkan.

Yang saya lakukan hanya berusaha untuk terus menjadi manusia yang belajar bersyukur dan berbaik sangka kepadaNya. Saya ingin mengajak teman-teman untuk melakukan hal yang sama, bahkan ingin minta diajari hal yang lebih baik daripada itu, jika teman-teman sedang mempelajarinya. Agar saya, kita tidak menjadi hamba yang mengejar dunia. Karena dunia: makin dikejar,  makin tak terkejar…

JAN 6, ’10 1:30 AM
UNTUK SEMUANYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s