Guru: Digugu Lan Ditiru

Cilandak Town Square, Ahad sore. Dua orang perempuan (selanjutnya saya tulis mbak A dan mbak B, ya.. ) menghentikan angkot D-02 yang kunaiki. Dengan riang mereka masuk angkot dan melanjutkan obrolan tentang keseharian mereka. Tak lupa, sesekali yogurt dingin mereka seruput dari gelas masing-masing. “Asem bangeet,” terdengar mbak A berkomentar tentang minuman mereka. Mbak B mengangguk setuju, sambil menyeruput pelan-pelan yogurt-asam-nya.

Obrolan mereka terus mengalir dengan riang. Khas wanita karir yang belum berkeluarga. Maksud saya, obrolan mereka ya seputar pekerjaan di kantor, teman-teman kantor, orang-orang yang menurut mereka menarik, dan barang-barang bagus. Hmm.. saya sama sekali tidak bermaksud mencuri dengar obrolan mereka. Namun, mohon maaf, karena mereka ngobrol dengan suara bebas merdeka di kendaraan umum yang notabene fasilitas umum, maka mau tak mau obrolan mereka masuk juga ke kuping saya.

Dari situlah, saya menangkap bahwa nampaknya mereka adalah guru di sekolah swasta terpadu di Jakarta. Dan nampaknya mereka bangga dengan profesinya. Mereka riang bercerita tentang murid-muridnya. Saya ikut tersenyum dikulum. Sampai saat itu tiba.

“Yogurt-nya asem banget. Gw udah kenyang,” celetuk mbak B setengah merengut. Dan.. oh lala.. mbak B membuang gelas yogurt-nya ke bawah jok penumpang!

Spontan saya melirik tajam ke mbak B dan memandanginya lekat. No, no, no…! Jangan buang sampah sembarangan, Bu Guru! 

Nampaknya, pandangan tajam saya sempat mengusik nuraninya. Perlahan, kakinya menggeser-geser gelas plastik di bawah jok. Mencoba menutupinya dengan kaki. Dan memasang wajah polos. Hohoho.. pembohongan publik kecil-kecilan. Ck.. ck.. ck.. sedih..

***
Guru. Orang Jawa bilang, diguGu lan ditiRu. Didengarkan dan dicontoh. Sebuah konsekuensi profesi yang tidak enteng. Tentu saja, tidak hanya guru yang memiliki konsekuensi profesi. Setiap profesi yang ada di dunia pasti memiliki konsekuensi profesi yang merupakan suatu idealisme.

Kembali ke guru. Guru adalah pihak pertama di luar keluarga inti yang diberi wewenang oleh masyarakat dalam memberikan pengajaran, pendidikan watak, dan pembentukan kepribadian seseorang. Tak sedikit orang tua yang rela membayar mahal biaya pendidikan anaknya demi mendapatkan pendidikan yang berkualitas maksimal. Kompas pernah menulis:

Memang, sekolah negeri SD dan SMP di Jakarta telah digratiskan. Namun, siswa masih menanggung biaya beli seragam, buku tulis, dan sebagian buku pelajaran. Belum lagi biaya untuk kegiatan ekstra kurikuler.

Safitri (37), warga Larangan, Kota Tangerang, mengatakan, biaya pendaftaran dan SPP sekarang memang tidak ada. Akan tetapi, pihak sekolah menjual buku pelajaran yang wajib dibeli setiap siswa. Belum lagi, orangtua harus menyediakan baju baru.

”Kalau ditotal-total, bisa mencapai sekitar Rp 450.000,” kata Safitri, orangtua murid yang sekolah di SD di Larangan.

Nita (29), warga Ciledug, Kota Tangerang, yang anaknya masuk sekolah kelas I SD negeri di Ciledug mengatakan, telah mengeluarkan anggaran Rp 250.000 hanya untuk membeli buku tulis dan seragam. ”Saya masih harus membeli buku pelajaran kelas satu lagi,” papar Nita, buruh cuci harian.

Sebagai perbandingan, biaya sekolah dasar swasta di Kota Tangerang membebankan biaya pendaftaran untuk anak yang naik kelas sebesar Rp 850.00 per siswa. Sementara untuk anak yang naik dari TK A ke TK B harus membayar sebesar Rp 1,9 juta per anak. Dana pengeluaran itu belum termasuk biaya buku pelajaran dan buku tulis yang wajib dibeli di sekolah.

Dan, kembali lagi ke guru. Wajar jika kemudian orang tua berharap, guru yang terbaiklah yang membimbing anaknya. Guru yang tak hanya pandai berkata-kata, namun juga konsisten dengan kata-katanya. Guru yang tak hanya menjadikan “guru” sebagai profesi, namun juga pilihan hidup yang dijunjung dengan moralitas. Guru yang guru. Digugu lan ditiru.

***

Saat mendapati kejadian di angkot tersebut, saya membayangkan diri saya sebagai salah seorang muridnya. Atau berharap salah seorang muridnya ada di angkot yang sama dengan kami. Saya membayangkan, murid itu akan bertanya cerdas, “Bu Guru, kalau ibu saja membuang sampah sembarangan, mengapa Ibu menyuruh kami membuang sampah di tempatnya?”

NOV 23, ’09 9:37 PM
UNTUK SEMUANYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s