Macet Tanpa Cerewet: Sambil Mencari Solusi

Pasar Parung, pukul 07.05. Saya sukses menaiki angkot yang langsung tancap gas. Alhamdulillah tidak harus ngetem dan semoga bisa sampai pool bis kampus tepat waktu.

Serombongan murid-murid SMU ikut naik dan menghiasi suasana angkot dengan keceriaan yang segar. Maksud saya, keceriaan yang khas murid-murid SMU yang sederhana dan apa adanya. Penampilan mereka sederhana dengan seragam sekolah mereka, blus dimasukkan ke rok, rambut tersisir rapi plus bagi yang berkerudung, kerudung mereka pun terjulur menutup dada dan dijepit rapi. Atribut anak gaul SMU — make up yang belum waktunya, pernak-pernik asesori perhiasan yang (buat saya) memberi kesan norak, atau sekadar hp keluaran terbaru untuk gaya-gayaan — nyaris tidak terlihat.

Percakapan mereka pun termasuk bermutu. Tidak muluk-muluk, namun berisi. Membahas kemajuan belajar menuju Ujian Nasional, bertukar hafalan rumus untuk pelajaran jam pertama, atau diskusi tentang tips menggunakan program komputer. Ada juga yang dengan polos bercerita tentang ia belum sarapan pagi ini karena bapak ibunya sedang pergi dan ia sungkan mengganggu keluarga engkong-nya sekadar meminta sarapan. Yah, hal-hal sederhana semacam itulah. Bukan soal facebook, tempat nongkrong, model baju terbaru, atau hal-hal yang dianggap anak sekarang sebagai “gaul”.

Belum lama angkot kami berjalan, deretan kendaraan yang diam di tempat telah terlihat mengular. Ya, jalan rusak di pertigaan Arco-Parung telah sedemikian parah menimbulkan kubangan air coklat dengan diameter sekitar enam meter. Kebetulan, di tepi jalan tersebut ada kedai martabak mesir Kubang, sehingga secara berseloroh, salah seorang anak menyeletuk, “Pas bener ya, di depan Martabak Kubang ada kubangan.” Teman-temannya tertawa dan saya ikut tersenyum.

Kemacetan di pertigaan Arco-Parung memang menggila. Bisa sampai 2 kilometer dari dan menuju Pasar Parung. Terlebih pada jam-jam berangkat dan pulang kerja. Entah berapa liter bahan bakar kendaraan yang terbuang percuma karena kemacetan ini. Entah berapa banyak orang yang, meskipun sudah mengantisipasi dengan berangkat lebih pagi, harus terlambat tiba di tempat tujuan. Dan entah, berapa banyak energi positif yang terlepas tanpa sadar karena sebal terjebak macet.

Saya beruntung karena satu angkot dengan murid-murid SMU yang sederhana tadi. Salah satu dari mereka dengan ceria mengusulkan sopir angkot untuk berbalik dan menyusuri jalan alternatif. Syukurlah, daripada diam di tempat tidak ada kemajuan, pilihan mencari jalan tembus memang lebih menyenangkan. Jadilah kami melintasi jalan perkampungan yang masih berbatu-batu. Salah seorang dari mereka berkomentar, ” Kita kayak Bolang ya?” Dan ternyata kawannya yang lain ada yang menimpali, “Iya, tapi Bocah Ilang, bukan Bocah Petualang!” Sontak semuanya tertawa.

Rupanya tak sedikit kendaraan yang berinisiatif melintasi jalan alternatif ini. Beberapa kali kami harus berjalan ekstra hati-hati jika berpapasan dengan kendaraan lain di jalan sempit, juga jika di pinggir jalan berupa cekungan yang dalam. Jalan tembus ini berakhir di samping Boarding School SMA Dwiwarna Parung (sopir angkot dengan percaya diri menyebutnya SMA Budiwarna). 

Beberapa percakapan menarik dalam tiga puluh menit menjadi Bolang — Bocah Ilang — bersama murid-murid SMU ini adalah kekhawatiran mereka menghadapi guru jam pertama yang tidak akan peduli alasan keterlambatan mereka. Tanpa membahas siapa yang layak dipersalahkan, murid-murid SMU itu berupaya mencari solusi mengatasi keterlambatan akibat kemacetan Arco-Parung. Mau tahu solusinya?

“Besok kita berangkat lebih pagi yuk! Tadi kan kita udah berangkat jam 6.15, besok kita berangkat jam setengah enam yuk! Paling telat jam enam kurang.” Subhanallah.. begitu besar semangat juang mereka untuk tidak terlambat ke sekolah. Mereka sama sekali tidak berusaha menyalahkan kondisi, namun dengan senang hati berusaha menerima konsekuensi kondisi tersebut. Berangkat lebih pagi, meskipun tidak akan sempat sarapan.

“Bagaimana jika macetnya sampai waktu UN (Ujian Nasional) nanti? Duh.. ngeri deh kalau telat pas UN..,” ujar salah seorang. Dan ide-ide mengantisipasi keterlambatan pun berloncatan. Ada yang mengusulkan menginap di rumah teman, berangkat pagi-pagi benar, bahkan menginap di sekolah. Saya tersenyum mendengarnya.

Sesungguhnya kemacetan panjang Arco-Parung bukannya tidak dapat diatasi. Berawal dari jalan berlubang kecil yang terabai, hingga melebar makin parah. Berawal dari saluran air yang tertutup sampah dan tanah, hingga air hujan mencari jalannya sendiri. Ibarat pepatah, sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Sedikit masalah tak kunjung diselesaikan, lama-lama masalah bertambah dan menjadi mengerikan. 

Namun, berawal dari komitmen pihak-pihak yang terkait untuk menutup jalan, memperbaiki kerusakan, membangun saluran air yang memadai, menyusun rute alternatif bagi para pengguna jalan selama proses perbaikan, dan membangun kesadaran di dalam diri bahwa efek pembuangan sampah secara sembarangan sungguh sangat luas dan seringkali tidak langsung, jalan Arco-Parung yang bebas kemacetan menyebalkan insya Allah dapat diselesaikan.

Dan saya bersyukur bertemu dengan murid-murid SMU Yadika 7 pada macet kali ini.

Sari tulisan ini: Tidak  mudah menyelesaikan kemacetan Arco-Parung, mungkin. Tapi bukan tidak mungkin. Kita bisa kok berkontribusi dalam solusi tersebut. Mari kita biasakan membuang sampah pada tempatnya. Syukur-syukur kontribusi kita bisa lebih dari itu 

MAR 17, ’10 3:42 AM
UNTUK SEMUANYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s