Mari Rapi-Rapi!

Tak sengaja berkunjung ke tulisan mbak rika dan menemukan sesuatu yang menarik di sana. Curhatnya tentang rumah yang selalu berantakan dan harapan-harapannya. Tak hanya itu, mbak rika juga menuliskan nasehat-nasehat yang ia dapat untuk mewujudkan harapannya. Nasehat yang coba ia terapkan, bersama suaminya, tentu.

Tulisan mbak rika mengingatkan saya pada sebuah kisah yang dialami seorang karib saya. Betapa ia sangat bersedih menghadapi kakak-kakaknya yang sangat tidak peduli dengan kerapian dan kebersihan rumah  tempat mereka tinggal. Dan ia tak habis mengerti ketika pada akhirnya, sang suami mengambil sikap tak peduli.

Sekali, dua kali, berkali-kali ia sendiri mengerjakan tugas merapikan rumah, juga untuk keberantakan-keberantakan yang tidak ia lakukan. Juga mengurus kebun dan seabrek pekerjaan rumah tangga lainnya. Namun jika penatnya mencapai ubun2, terkadang ia sampai tak habis mengerti dengan sikap suaminya yang tak mau membantu, kecuali sebatas wilayah pribadi mereka.

Seringkali ia mengeluhkan keengganan suaminya dan suaminya menjawab,” Rumah ini adalah rumah kita bersama. Bukankah seharusnya kita semua yang merawatnya, membersihkannya, dan bersama-sama meniupkan ruh kehidupan di dalamnya? Alangkah baiknya jika semua merasa memiliki dan saling membantu menata rumah. Bertanggung jawab atas kerapian barang masing-masing. Berterima kasih atas pemberian orang lain. Bukannya menganggap diri paling berkuasa dan berjasa, hanya karena telah memberikan uang terbanyak.”

Ia paham atas pertimbangan suaminya. Dan sesungguhnya, ia pun merasa bahwa suaminya telah sangat berbaik hati mengijinkannya tetap merawat rumah itu. Padahal ia tahu, suaminya bisa saja melarangnya karena suaminya tak menyukai. Sikap tak bergeming si suami telah menunjukkan secara jelas bahwa si suami tidak menyukai tinggal di tempat itu lebih lama lagi.

Jadi, kembali ke curhat mbak rika, selama sense of belonging atau rasa memiliki rumah itu tidak ditumbuhkan dan tumbuh, maka urusan kerapian rumah hanyalah metode menumpuk stress semata. Racun yang mematikan secara perlahan. Karenanya, mari kita bertanggung jawab atas barang2 kita, bertoleransi kepada kawan2 serumah kita, dan menebar energi positif dalam setiap gerak langkah kita.

Semangat! 

MAR 10, ’10 12:52 AM
UNTUK SEMUANYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s