Mas Apes di Pom Bensin

Kembali soal Pom Bensin. Bukan, bukan soal saya mengikuti kontes Pertamina — yang bertema Kerja Keras adalah Energi Kita — namun soal keprihatinan saya melihat keegoisan sebagian kalangan.

Nah, begini ceritanya..

Saya adalah pengguna setia angkutan kota. Saya sudah sering menceritakannya. Dan dalam perjalanan menggunakan angkutan kota itu, saya senang sekali mengamati pernak pernik pemandangan. Ah, nampaknya saya juga sudah sering menceritakannya. Mohon maaf, mohon maaf.. 

Tiga orang pemuda, dengan tas ransel besar seperti yang sering dipakai para pendaki gunung dan backpackers, ikut menaiki angkot jurusan parung bingung-pondok labu bersama saya. Penampilan mereka jauh dari rapi. Rambut gondrong, tangan bergelang-gelang, kuping bertindik, wajah dan pakaian lusuh.

Sejauh ini, tidak terlalu masalah untuk saya. Toh mereka tidak mengganggu privasi saya sebagai sesama pengguna angkutan umum. Paling tidak, sampai salah satu dari mereka menyalakan rokok. Dan salah seorang temannya menyusul.

Otomatis, saya langsung membuka jendela. Saya masih ingin menikmati privasi saya atas udara bersih di fasilitas umum ini. Saya tidak mau cepat mati karena status perokok pasif hasil karya dua orang “pecinta alam” itu. Dan saya masih diam.

Angkot pun menggelinding landai menuju Cinere. Satu per satu penumpang turun. Hingga tinggallah saya, seorang ibu, dan tiga orang pemuda itu. Dan pak sopir, tentu saja. Pak sopir yang tidak merokok, hebatnya.

Pak sopir membelokkan angkot ke pom bensin meruyung. Salah seorang perokok spontan mematikan rokoknya tepat ketika angkot masuk gerbang pom bensin. Perokok yang satu tetap asyik menikmati rokoknya.

Lekat mata saya memandang rokok di tangannya. Memandang tajam si empunya rokok dan menunggu. Dia tetap tak bergeming. Dan angkot makin mendekati selang pengisian BBM.

Saya gerah.

“Mas, boleh rokoknya minta dimatikan?” tegur saya enteng. Dan menatap tajam matanya.

Sesaat kaget terlihat di wajahnya. Hanya sesaat. Langsung berganti dengan pandangan menantang. Emoh mematikan rokoknya. Sayangnya, pandangan tidak mempan buat saya. Saya tetap menatap tajam matanya.

Dia menengok ke kanan, menatap kawannya yang (setahunya) tadi juga merokok. Kawannya hany atersenyum kecut, seolah berkata, “Rokok gue udah gue matiin tadi.”

Dia menengok ke kiri, menatap ibu penumpang yang pasti mendengar teguran saya. Mencari dukungan, untuk terus merokok. Si ibu memandang wajah polos dan tanpa ekspresi, seolah berkata, “Ibu mah nggak ikut-ikutan, kang.”

Dan dia kembali menatap saya, yang sayangnya juga masih tajam menatapnya. Akhirnya, ia menginjak rokoknya dan padamlah bara itu. Saya tersenyum simpul, berterima kasih. Dalam hati, saya bersyukur, si mas masih diberikan kelembutan hati untuk mau menerima nasihat.

Sungguh, merokok dalam pom bensin sangat berbahaya. Betapapun si perokok sudah 150% yakin bahwa rokoknya aman terkendali. Siapa yang tahu? Janganlah bermain api, kita tidak tahu kapan si api akan beranjak liar dan membakar kita. Dan mungkin tak hanya kita, orang-orang di sekeliling kita pun bisa jadi turut menuai getah dari mengepulnya asap rokok. Rokok adalah sumber api, dalam arti sebenarnya dan kiasan. Jauhi, jauhi, jauhi..

Himbauan sudah disampaikan oleh Pertamina. Himbauan yang terpampang megah dan besar. Dengan huruf kapital. DILARANG MEROKOK. Namun, slogan Kerja Keras adalah Energi Kita nampaknya teruji di sini. Sejauh mana para kru Pertamina juga konsisten menerapkan larangan merokok untuk para pengunjungnya, dan yang terpenting, untuk dirinya sendiri.

Selama ini, aturan tersebut masih longgar, terutama untuk pengunjung pom bensin yang masuk dalam kategori kendaraan umum. Saya beberapa kali mendapati, penumpang atau sopir hanya menyembunyikan rokoknya ketika kendaraan masuk pom bensin. Entah di asbak mobil, laci dashboard, atau ditutupi alas kaki. Sama sekali tidak dipadamkan. Dan petugas pom bensin, entah karena kesibukannya melayani atau memang kura-kura dalam perahu eh pura-pura tidak tahu, tidak menegur.

Apes sekali perokok di angkot yang tidak mematikan rokoknya ketika angkot masuk pom bensin plus dia seangkot dengan saya. Mas itu salah satu korban saya 

Menegur langsung di muka umum bukanlah kebiasaan saya. Saya sungguh tidak suka melakukannya. Hanya membuat si pelaku mengambil sikap menantang untuk mempertahankan harga dirinya (contoh: mas-mas itu) atau langsung patuh dan menstempel saya sebagai orang nyinyir dan wajib dihindari ketika ketemu di pangkalan angkot. Sama-sama tidak menguntungkan. 

Ayolah, kita bersama-sama membuka mata dan logika. Menelaah besarnya bahaya merokok dari berbagai sisi. Agar pajangan megah bertuliskan DILARANG MEROKOK pun tak sekadar pajangan di pom bensin. Agar kebakaran pom bensin tak lagi terulang. Agar angka kematian karena kanker paru tak terus bertambah. Agar kerja keras dan energi kita tidak terbuang sia-sia. Kerja Keras adalah Energi Kita. Jangan disia-siakan.

JAN 5, ’10 1:31 AM
UNTUK SEMUANYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s