Musim Buah, Musim Bertanam

Senin siang, di kantor. Keranjang pekerjaan sudah bersih. Daftar pekerjaan tambahan sudah terselesaikan rapih. Hmm.. ngapain lagi ya? 

Mari berbagi cerita — dan ide, mungkin.

Akhir-akhir ini, hobi menanam saya kambuh di akhir pekan. Terutama menanam buah-buahan. Usut punya usut, seingat saya penyebab kambuhnya adalahbanyaknya buah mangga yang dikirim ibu mertua saya. Mangga manalagi yang besar dan manis, hasil panen di halaman rumah. Sungguh mangga ini besar sekali. Sebuah mangga bisa seberat 1 kilo! Hmm.. dan saya selalu suka mangga ini, karena dulu suami saya ternyata menggunakan buah ini untuk mendekati bapak ibu saya. Bahasa mangga, katanya..

Humm.. kembali ke soal hobi menanam. Mau tak mau, banyaknya mangga membuat biji mangga pun menjadi banyak. Mengingat ini mangga yang benar-benar enak — dalam arti sebenarnya maupun kiasan — saya merasa sayang jika bijinya dibuang begitu saja. Mulailah saya mengumpulkannya. Dan perlahan menanamnya di akhir pekan.

Tanpa saya sadari, mengumpulkan biji buah berkembang menjadi kebiasaan. Sayang rasanya jika biji buah yang enak hanya berakhir di tempat sampah dan membusuk bersama sampah. Hanya itu awalnya.

Sekarang, saya berpikir (agak) lebih panjang dari sekadar “dibuang sayang”. Saya membayangkan jika biji-bijian itu tumbuh dan besar, maka halaman rumah kami akan semakin hijau. Burung-burung maupun kupu-kupu akan semakin banyak yang singgah ke rumah kami. Dan tentu saja, kami akan lebih sering mendengar kicauan burung yang beraneka jenis. Sesuatu yang makin langka kami peroleh di belantara beton Jakarta. Tidakkah kita wajib bermimpi tentang Jabotabek yang hijau dan sejuk? Hehehe.. saya ingin itu dimulai dari rumah kami. Tidakkah teman-teman memimpikan hal yang sama?

Dan saya terus menanam dengan perlahan. Biji demi biji yang kami kumpulkan. Biji mangga manalagi, durian palembang, sirsak, dan sawo kecik. Tak ada polybag, plastik kresek bekas pun jadi. Tak ada pot, kaleng bekas biskuit pun oke. Nano-nano.. 

Barang-barang di sekeliling kita bisa dimanfaatkan kok. Asalkan ada kemauan, tentu. Adakah ide dari teman-teman untuk memanfaatkan biji-biji buah yang sekarang sedang musim? Atau tips-tips bertanam yang murah meriah? Bolehlah dibagikan di sini.. 

Begitulah cerita saya siang ini, tentang sebuah keasyikan tersendiri dalam menanam sesuatu. Tentang membangun sebuah mimpi, yang ingin saya bagikan ke teman-teman di sini. Dan juga ke teman-teman yang tak terhingga di luar dunia kecil saya.

Hijau itu warna penduduk surga*, maka bukankah luar biasa jika kita bersama-sama menanam pohon sehingga kita akan menciptakan suasana surga di dunia? Yuk.. yuk.. kita mulai menanam! 

*“Mereka itulah yang memperoleh surga ‘Adn, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah sebaik-baik pahala dan tempat istirahat yang indah.” <QS al Kahfi: 31>

NOV 30, ’09 4:29 AM
UNTUK SEMUANYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s