My Earth Hour, Hows Yours?

Pet! 
Lampu tiba-tiba padam. Ruangan sontak gulita. Demikian juga komplek rumah. Gelap.
 
Sunyi.
 
Cling!
Ide tiba-tiba hinggap. Pikiran sontak benderang. Demikian juga adrenalin. Menderu-deru. 
 
Ya, mati lampu beberapa hari lalu menyampaikan ide untuk Earth Hour 2011 yang ingin saya ikuti. Tidak lagi sekadar mematikan lampu serumah sebagaimana Earth Hour yang telah saya ikuti dua tahun terakhir ini. Saya ingin sesuatu yang lebih besar. Lebih luas.
 
Earth Hour pertama kali dilakukan di Sydney, Australia, pada tahun 2007, hasil kerja sama WWF dan The Sydney Morning Herald. Kampanye anti-perubahan iklim ini diikuti oleh 2 juta orang penduduk Sydney yang mematikan lampu mereka selama satu jam. Pada tahun 2008, lebih dari 50 juta orang di seluruh dunia mengambil bagian dalam kegiatan ini. Secara fantastis Earth Hour 2009 diikuti oleh 1 milyar orang di 4.088 kota di 88 negara di dunia. Angka tersebut terus membesar di tahun 2010 dan lebih dari 1 milyar orang dari 125 negara di seluruh dunia mengikuti Earth Hour 2010.
 
Pertama kali mendengar kampanye ini, saya tergelitik. Wow, betapa luar biasanya efek sebuah langkah yang terlihat kecil – mematikan lampu selama 1 jam – jika dilakukan secara kolektif apalagi sampai skala global. Angka-angka megawatt itu seperti sebuah people power dalam upaya penghematan energi listrik yang jungkir balik dikampanyekan PLN. Sekali lagi, betapa hal kecil bagi kita dapat memberi arti yang sangat besar bagi orang lain (baca: Walau Sebiji Atom). Karenanya, tanpa ragu saya kerajinan menjadi juru kampanye Earth Hour dadakan plus gratisan di rumah dan kantor dua tahun terakhir ini 
 
Kali ini, saya ingin melakukan sesuatu yang lebih besar dengan terinspirasi insiden mati lampu malam itu. Langkah pertama saya adalah membuka website resmi PLN dan mengetikkan ”Earth Hour” dalam kolom pencarian yang disediakan di halaman muka situs tersebut. Hasilnya: NIHIL. Bagus!
 
Langkah kedua adalah berburu alamat e-mail yang langsung berjibun saya dapat. Bingo! 
 
Langkah ketiga adalah mengolah data e-mail yang berjibun itu dalam format excel sehingga nantinya saya tidak perlu mengetikkan satu demi satu ke dalam kolom tujuan e-mail saya.
 
Ya, saya merencanakan mengirim e-mail ke sebanyak mungkin saudara-saudara PLN – bahkan kalau mungkin termasuk Dirut PLN, sayangnya saya hanya berhasil mendapat alamat e-mail saudara selevel direksi, setingkat di bawah Dirut – untuk mengajak berpartisipasi dalam Earth Hour 2011, baik sebagai individu maupun instansi. Dalam bayangan saya, alangkah indahnya jika momen Earth Hour ini PLN jadikan sebagai salah satu media sosialisasi terorganisir dalam rangka hemat listrik. Dan rencana itu saya jalankan.
 
Haha..terkesan agak nekat, mungkin. Siapalah saya, seorang outsider yang overdosis semangat menulis dan berbagi. Namun buat saya, intinya lebih kepada berlomba-lomba dalam kebaikan. Soal hasilnya bagaimana, nothing to lose, wallahu a’lam – hanya Allah yang tahu.
 
Semangat itupun yang membuat saya menelurkan tulisan ini, mengirim e-mail ajakan partisipasi Earth Hour 2011 di milis-milis ataupun forum diskusi yang saya ikuti, dan bahkan membuat status di akun Facebook saya. Sekali lagi, soal hasilnya bagaimana, nothing to lose buat saya. Saya hanya menyebar benih semangat yang tak seberapa, memeliharanya, dan saya serahkan keputusan dapat dituai atau tidaknya kepada Sang Pemilik Kehidupan.
 
Oiya, melakukan kampanye peduli lingkungan sebenarnya bisa dilakukan siapapun. Tidak usahlah berpikir heboh dengan rencana menggalang massa untuk gerakan sosial ini itu. Mulai sajalah dari hal-hal kecil di sekitar kita. Sekadar berbagi, berikut ini daftar perilaku ramah lingkungan yang saya coba untuk terus konsisten.
  • Membuang sampah pada tempatnya. Ingat, banjir langganan Jakarta salah satu penyebabnya adalah perilaku tidak terpelajar penginjak tanah Jakarta yang berupa membuang sampah sembarangan. Mau mobil keren, dandan cantik cakep, kalau punya permen terus bungkusnya dibuang dari jendela mobil membuat orang-orang seperti ini sangat jauh kualitasnya dibanding para pemulung sampah yang berjalan kaki memanggul karung goni. 
  • Menyimpan kardus bekas untuk dapat digunakan sewaktu-waktu. Paling tidak, kardus karton bekas dapat digunakan untuk alas tempat tidur dan kardus kue bekas dapat digunakan lagi mengemas kue hantaran atau oleh-oleh. 
  • Mematikan lampu jika tidak digunakan, 
  • Memakai kertas bolak-balik atau kalau bisa cukup edisi softcopy-nya saja. Keluarga kami bahkan sampai menyetop langganan surat kabar dan beralih ke e-paper demi mengurangi tumpukan koran bekas yang menggunung di akhir tahun.
  • Sebisa mungkin memanfaatkan barang bekas dalam berbagai keperluan. Misalnya saja, saya memilih memakai styrofoam bekas untuk membuat mainan Hanif, anak saya (baca: Utak Atik Mainan Bayi).
  • Menghemat pemakaian air – bahkan kalau bisa air bilasan cucian dipakai lagi untuk menyiram tanaman. 
  • Jika musim buah, kami menanam biji-bijian buah sehingga alih-alih menjadi sampah, biji itu dapat berubah menjadi pohon yang menebar banyak manfaat, meski sekadar sebagai tempat hinggap seekor burung gereja (baca: Musim Buah, Musim Bertanam)
Nah, bagaimana dengan teman-teman? 

 MAR 26, ’11 8:07 AM
UNTUK SEMUANYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s