Nano-Nano Salatiga Kota Kuno

Salatiga. Kota kecil di kaki Gun
ung Merbabu ini rupanya turut menggeliat dalam pusaran jaman. Tidak pulang selama kurang lebih setahun telah cukup membuat mata saya terus terbuka ketika menyusuri jalan-jalannya. 
 
Tengoklah sepanjang jalan raya Blotongan yang ketika lepas maghrib dulu telah sepi dan nyaris gulita. Rumah makan aneka kuliner sekarang telah berderet terang benderang. Sate Kambing Muda bukan lagi satu-satunya jagoan kuliner di sini. Sudah ada Soto Rumput, Sop Kepala Kakap, dan teman-temannya meramaikan salah satu desa terluar Salatiga ini. Belum lagi dengan adanya Jalan Lingkar Selatan yang luas lapang di dekat batas kotanya.
 
Melintas di jalan utama kota Salatiga, Jl. Jenderal Sudirman, membuat saya sadar bahwa ruas jalan ini sudah berubah menjadi satu arah. Kemacetan jalan ini sedikit banyak sudah berkurang dibanding dulu, meskipun kita dibuat berkeliling separuh kota Salatiga untuk bisa pulang ke arah sebaliknya. Haha.
 
Sebagai orang yang tumbuh besar di Salatiga, saya merasa nano-nano menyikapi kota pensiunan ini. Geliatnya menunjukkan bahwa ia dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana kota-kota lainnya. Dan Salatiga berhak untuk itu. Sangat berhak, malah, kalau tidak mau menjadi kota mati. 
 
Pertanyaannya adalah, ke mana arah tumbuh dan berkembangnya? Inilah yang membuat saya merasa nano-nano. Mengapa? Karena saya khawatir jika kota kenangan ini terus menggeliat dan menggerus keping-keping kenangan saya, dan pasti juga teman-teman saya, akan kota ini. Menggerus kekhasannya yang menentramkan kami hingga ingin pulang dan selalu pulang.
 
Mungkin, bagi orang yang berkarakter aktif dinamis dan menghabiskan hari-harinya di Salatiga, ada keinginan untuk menjadikan Salatiga mengejar kota besar macam Semarang atau bahkan Jakarta. Tak heran, jika  kemudian adopsi modernitas kota besar kemudian banyak terjadi di Salatiga. Gedung pencakar langit, mall, cafe, kendaraan bermotor, bahkan pola perilaku. Tidak ingin tertinggal dari para perantau yang ketika pulang turut membawa oleh-oleh akulturasi yang mereka alami di kota besar.
 
Sementara para perantau yang sesungguhnya telah penat dengan hiruk pikuk kota besar, sungguh ingin mendapati kota kuno ini sebagaimana saat ia mereka tinggalkan. Yang tenang, yang menentramkan, dan yang asri. Namun, ketika atas nama pembangunan mengikuti tuntutan jaman kemacetan, konsumerisme, dan materialisme sudah menjadi hal biasa di kota sejarah ini, salahkan jika saya merasa nano-nano?
AN 9, ’11 11:22 PM
UNTUK SEMUANYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s