Ojek Jadul, Tanpa Kebul

Sabtu lalu, saya berkesempatan tersesat di Jakarta 

Wew.. begitulah. Tidak membanggakan, sebenarnya. Dari Jakarta Pusat sampai Jakarta Utara. Tapi, selalu ada cerita di balik cerita. Hehe

***
Ketersesatan itu telah mengantar saya untuk pertama kalinya melintasi Ancol. Suami saya tertawa panjang mendengar kepolosan saya bercerita: Saya baru sekali ini lewat Ancol. Saya juga ikut tertawa. Biarlah, saya sudah senang karena tahu Ancol itu di mana 

Memang, saya akhirnya memutuskan untuk menikmati ketersesatan itu dibandingkan turun di tengah jalan dan berbalik arah. Bukan apa-apa, turun di tengah jalan juga tidak menguntungkan karena daerah tersebut termasuk sepi, meskipun saat itu masih siang. Belum lagi sliwar-sliwernya truk kontainer. Mengerikan.. 

Di ujung ketersesatan saya, saya memilih pulang ke Bogor dengan bus patas AC, yang kebetulan sudah saya tahu kualitasnya. Bertolak dari terminal Tanjung Priuk, saya mengakhiri ketersesatan saya. Dari situlah, saya menemukan salah satu keunikan Jakarta…

***
Bis patas AC yang saya naiki sedang berhenti di perempatan SLTP 30 Koja, Jakarta Utara. Di bawah lampu merah, ada sebuah sepeda yang mengundang senyum saya. Sepeda onta yang terlihat mengkilat dan terawat. Dengan payung panjang terlipat di tengah sepeda. Tak lupa air minum di sebotol bekas air mineral. Sadel penumpangpun diberi bantalan dari busa yang rapi dibungkus kulit jok.

Sepeda itu menurut saya bukan sekadar sepeda biasa. Si pemilik terlihat sangat bangga akan sepedanya. Buktinya, ada tulisan: Excecutive Class di penutup rantainya  Suatu kepercayaan diri yang tinggi dari sang pemilik.

Saya juga sempat berpikir, si pemilik berani juga ya memarkir sepedanya di bawah lampu merah begitu. Nampaknya dia sedang menunggu sesuatu, atau malah melepas lelah? Tapi kok aneh ya, melepas lelah di bawah lampu merah? 

Tiba-tiba, seorang anak muda mendekatinya. Seorang anak muda dengan celana jeans, tas ransel, dan potongan rambut cepak jabrik a la anak sekarang. Dan, sang pemilik sepeda dengan riang menyambutnya. Bercakap sebentar, dan naiklah si anak muda di sadel boncengan.

Olala.. rupanya itu sepeda ojek toh..

Masih ada ya di Jakarta? Ojek sepeda onta yang benar-benar jadoel. Ojek sepeda yang bertenaga kayuhan kaki sang pemilik. Ojek sepeda yang bebas polusi, bebas emisi, dan tanpa bahan bakar minyak alias tanpa kebulan asap. Ojek yang benar-benar aseli Jakarta! Kok nggak pernah kedengaran ya? 

Seumur-umur saya jalan-jalan di Jakarta Selatan, Timur, Barat, dan Pusat, saya baru menjumpainya di Jakarta Utara. Dan itu pun karena saya tersesat! Subhanallah.. 

DEC 16, ’09 4:17 AM
UNTUK SEMUANYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s