Oleh-oleh Kopi Darat

Sabtu pekan kemarin saya berkesempatan mengikuti Milist Gathering alias kopi darat dengan kawan-kawan dari dunia maya. Kali ini, acara difasilitasi oleh Reader’s Digest Indonesia (RDI) dan mengambil tempat di Kebun Karinda, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.Kopi darat bukanlah salah satu kegiatan favorit saya. Terlebih jika diadakan di akhir pekan dan suami saya ada di rumah. Tanpa berpikir dua kali, saya akan memilih menemani suami saya berakhir pekan, bukannya mencari acara sendiri. Namun, kali ini ternyata berbeda. Kebetulan suami saya sedang ke luar kota dan setelah meminta ijinnya, beliau mengijinkan saya mengikuti acara tersebut. Dari sisi saya sendiri, ketika tiket acara sudah diperoleh, acara ini membuat saya sangat bersemangat. Meski belum mengalahkan semangat kalau diijinkan mendatangi majelis ilmu syar’i sih.. 
Kenapa saya menanti acara kopi darat ini lebih dari kopi darat yang lain?
Jawabannya adalah karena sampah. Yup. Saya memang selalu tertarik dengan dunia persampahan. Maksud saya, dunia pengelolaan sampah. Terutama sampah rumah tangga yang telah menyumbang sekitar 60% volume sampah di Tempat Pengelolaan Akhir Sampah. Maka, ketika RDI mengadakan kopi darat dengan dibingkis pelatihan mengolah sampah, saya sangat menyesal ketinggalan informasi.

Namun, alhamdulillah, rizqi tak lari ke mana. Ada peserta yang membatalkan pada hari-hari terakhir dan berhasillah saya mendaftar untuk acara tersebut.

Sebagai oleh-oleh, saya ingin membagikan metode pengolahan sampah rumah tangga a la Kebun Karinda. Sederhana saja kok.

Pada prinsipnya, sampah rumah tangga diubah menjadi pupuk kompos padat. Sampah rumah tangga yang dibicarakan di sini adalah sampah organik segar. Plastik dan kertas tentu saja tidak termasuk di dalamnya karena plastik merupakan sampah anorganik dan kertas bukanlah sampah organik segar.

Pembuatan kompos padat sangat sederhana. Sampah organik segar dipotong kecil-kecil dan dipendam selama beberapa bulan dalam kompos yang sudah jadi. Kompos yang sudah jadi ini dapat diistilahkan sebagai bibit karena di dalamnya masih tersimpan mikroba pengurai sampah yang siap digunakan kembali. Secara berkala, kompos dan calon kompos tersebut diaduk agar penguraian sampah berlangsung sempurna.

Metode pengomposan a la Kebun Karinda agak berbeda dengan metode pengomposan yang pernah saya pelajari sebelumnya di salah satu tempat penelitian saya, Kampung Banjarsari. Pengomposan yang digalakkan di Kampung Banjarsari adalah pembuatan kompos cair dengan bahan, tentu saja, sampah rumah tangga organik segar.

Pembuatannya juga sama sederhana. Sampah organik segar dipotong kecil-kecil dan direndam selama beberapa bulan di dalam cairan molase, air cucian beras, dan ramuan effective microorganism (EM). Tempat perendaman ditutup rapat selama proses berlangsung.

Sedikit infomasi, Kampung Banjarsari merupakan kampung percontohan UNESCO Project pada akhir tahun 90-an dan awal 2000. Kampung ini memang relatif asri mengingat posisinya tepat di perempatan padat dan fly over Jl. Fatmawati, Jakarta Selatan.

Kembali ke kompos. Setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan. Kompos padat lebih sederhana bahan-bahannya, namun harus rajin mengaduk secara berkala. Kompos cair lebih sederhana pembuatannya, tanpa harus diaduk-aduk, namun bahan-bahannya (seperti molase dan EM perlu dipersiapkan terlebih dahulu.

***

Dalam acara tersebut, alhamdulillah saya mendapat hadiah buku dari Ibu Djamaludin Suryo atas jawaban saya (yang belepotan ) tentang pertanyaan beliau. Pertanyaannya adalah, “Bolehkah kompos (padat) yang sudah jadi dijemur? Bagaimana jika kompos (padat) tersebut banyak mengandung air?”

Tentu saja, jawabannya adalah tidak boleh. Jika kompos (padat) mengandung kelebihan air, maka solusinya adalah diberi tambahan sekam atau serbuk gergaji. Dan saya mendapatkan buku biografi beliau plus tanda tangannya. 

***
Sampah. Sedari dulu saya penasaran sekali tentang bagaimana meminimalisir sampah rumah tangga. Dalam tulisan saya terdahulu, solusi sementara di rumah saya telah tersedia. Namun, kunjungan ke Kebun Karinda memberi lecutan semangat saya untuk mulai melakukan sesuatu yang lebih pada sampah di rumah. Paling tidak, pengetatan aturan pemilahan sampah harus lebih ditegakkan. 

Bagaimana dengan rumah teman-teman? 

FEB 2, ’10 5:53 AM
UNTUK SEMUANYA

2 thoughts on “Oleh-oleh Kopi Darat

  1. Hallooo, Bunda iseng buka “Kebun Karinda” dapat artikel ini. Terima kasih. Tapi karena Bunda gaptek, cari penulisnya tidak ketemu. Boleh Bunda tahu?
    Dari: Sri Murniati Djamaludin

    • Bundaa, terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Sehat? Saya niken tf alimah, dulu ikut kunjungan ke karinda bareng teman2 milis RDI dan berbagi boneka horta yang bisa tumbuh rumput itu.. Maaf ya, saya jarang hadir di milis sekarang..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s