Pecahan Lama: 25

Kapan terakhir Anda memegang uang logam 25 rupiah? Dan berapa keping uang logam 25 rupiah yang Anda pegang? 

Saat ini, uang logam pecahan 25 rupiah memang sangat jarang dijumpai. Padahal jika kita cermat, masih bertebaran barang yang dijual dengan menggunakan angka 25 rupiah atau kelipatan ganjilnya (75, 125, dst). Dan yang menggunakan harga tersebut juga bukan sekadar toko biasa. Tengoklah supermarket atau paling tidak minimarket yang menjamur di kota-kota besar Indonesia. Banyak bukan yang menggunakan harga yang aneh? Dari yang diakhirii dengan angka 25 sampai angka yang tidak ada nominal mata uangnya. Aneh.. 

***
Saya tinggal di daerah kampus yang hiruk pikuk dengan toko, toserba, minimarket, dan (jika berjalan agak jauh sedikit) supermarket. Saya mengamati, ada beberapa tipe tempat perbelanjaan dalam menyikapi harga jual yang aneh itu. Bolehkah saya menyebut nama toko di sini? Nanti termasuk mencemarkan nama baik nggak ya? 

Ah, saya pilih memakai inisial sajalah. Silakan menebak-nebak sendirilah siapa yang saya maksud 

Swalayan A.
Swalayan ini merupakan satu-satunya swalayan yang mengklaim tidak menjual rokok dalam etalasenya. Memang, mencari rokok di swalayan ini sama saja membuang energi karena tidak akan ketemu. Nah, swalayan ini memasang pengumuman di kasir terkait pecahan 25. Intinya, para pembeli diharapkan mengikhlaskan kembalian yang tidak tersedia uang pecahannya untuk disumbangkan ke Dompet Dhuafa. 

Swalayan C
Pelayanan swalayan ini nggak seceria namanya. Beberapa kali kejadian, uang kembalian yang mengandung pecahan 25 tidak kembali kepada pembeli. “Maaf, tidak ada kembalian,” katanya. 

Swalayan X

“Ini kembalinya, Mbak”, kata kasir sambil menyorongkan kembalian. Dan kening saya berkerut memandang kembalian yang berasa aneh. “Mbak, saya nggak beli permen,” kata saya.

“Euh.. Maaf, tidak ada kembaliannya. Permen saja ya?” jawab kasir setengah salah tingkah. “Enggak, saya nggak beli permen. Buat mbak aja permennya,” kata saya setengah keki. 

Swalayan Hehe

Saya salut dengan swalayan yang satu ini. Swalayan ini menyediakan kepingan receh 25 rupiah dan menggunakannya sebagai uang kembalian. Saya sampai terheran-heran melihat kepingan 25 rupiah di sela-sela uang kembalian yang saya terima. Bahkan ada juga uang receh 50 rupiah kadang-kadang. 

***

Saya bukan orang yang mendalami atau bergerak dalam bidang pemasaran. Namun, memang harga yang tidak bulat merupakan strategi penjual untuk menyentuh sensitivitas konsumen dalam hal harga. Ketika persaingan harga antarpenjual berjalan ketat, selisih 1 rupiah dipandang sangat berarti untuk memperebutkan hati konsumen. Paling gampang dilihat adalah pada perilaku belanja ibu rumah tangga yang sangat irit mendekati pelit 

Namun perang harga bukan merupakan justifikasi untuk mengurangi hak konsumen dalam memperoleh uang kembalian, sekecil apapun nilainya. Terang-terangan tidak memberikan kembalian yang tidak memiliki bentuk uangnya adalah korupsi terstruktur. Tak usahlah kita heboh dengan korupsi besar2an karena nyatanya dalam keseharian, (mungkin) kita turut mempraktekkan.

Menggantikan uang kembalian dengan permen adalah bentuk pelecehan mata uang. Sejak kapan mata uang Indonesia berubah jadi permen? 

Mengharapkan keikhlasan pembeli untuk menyumbangkan uang kembalian yang menjadi haknya juga bukan merupakan solusi. Pembeli tidak memiliki pilihan lain dalam hal ini. Apa iya, jika pembeli menolak menyumbangkan kembaliannya, si kasir akan menyerahkan kembalian yang seharusnya? Memang jarang sekali pembeli menolak untuk menyumbang, namun mungkin bukan karena memang ingin menyumbang, lebih karena tidak mau ambil pusing dengan hal tersebut.

***

Alangkah baiknya, jika penjual tidak (berniat) memiliki recehan 25 atau 50 rupiah atau memang mata uang Indonesia tidak menyediakan pecahan 1 rupiah, harga didesain dengan angka yang pas. Artinya, tidak mengandung angka 25, 50, atau 1 (dan kelipatannya) rupiah. Lebih realistis.

Jika memang masih berniat mempertahankan harga yang aneh-aneh itu, sebaiknya sarana pendukung — dalam hal ini mata uang — juga tersedia di kasir. Toh uang 25 atau 50 rupiah belum ditarik dari peredaran, masih sah berlaku sebagai mata uang Indonesia.

Hmm.. bisa jadi swalayan-swalayan yang berlaku begitu hanya yang saya jumpai. Namun bisa juadi juga berlaku untuk seluruh gerai swalayan tersebut. Wallahu a’lam.

Ada pepatah bijak, sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Dalam hal korupsi pepatah itu berlaku, demikian juga dalam hal pemberantasannya. Jadi, “sedikit” mana yang kita pilih sebagai bentuk kontribusi? 

FEB 18, ’10 2:58 AM
UNTUK SEMUANYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s