Saat Hanif Sakit: Berbagi Cerita tentang Minum Obat

Bismillah..
 
18 Februari lalu, Hanif tepat 15 bulan. Dan Hanif sakit, qadarullah. Sebenarnya sudah sejak beberapa hari sebelumnya sih, mungkin akumulasi perjalanan panjang ke Bandung-Depok-Jakarta-Semarang plus kondisi lingkungan yang sedang kurang kondusif juga turut berperan menurunkan daya tahan tubuh mungil Hanif. Dan ibunya juga 
 
Bersabar sajalah, kata suami saya. Pasti semua ada hikmahnya. 
 
Nyatanya, memang benar ada banyak hikmah yang (mau tak mau) saya pelajari saat Hanif sakit. Pertama, Hanif jadi tahu apa itu ingus  Hanif belajar menggunakan tisu sendiri untuk mengusap ingus. 
 
Kedua, Hanif juga belajar mendengus dan mengeluarkan ingusnya sendiri.Saya menyebutkan hidung dan ingus, Hanif akan mendengus dan ingusnya akan dia keluarkan. Saya tinggal mengusap dan membersihkannya. Jujur saja, saya masih belum sampai hati untuk menghirup ingus dari hidung mungilnya seperti yang dianjurkan grandma. Kesannya kok gimanaaa gituu.. 
 
Ketiga, saya belajar membuat ramuan herbal untuk membantu melegakan pernafasan Hanif yang tersumbat ingus saat tidur. Ramuan yang terdiri dari cengkeh, jahe, garam, dan serai. Direbus dalam air sepanci sampai mendidih benar dan diletakkan di kamar saat Hanif tidur malam. Alhamdulillah, nafas Hanif jadi lebih ringan dan tidurnya lebih pulas.
 
Ramuan ini tentu saja saya dapat dari Google dan sekali lagi menobatkan Hanif sebagai cucu Eyang Google. Ini dia link-nya  
 
Keempat, Hanif belajar minum obat. Tentu saja, saya juga belajar memberikan obat ke Hanif. 
 
*** 
 
Memberikan obat untuk si kecil bukan perkara mudah. Terlebih jika si kecil belum bisa berkata-kata atau kosa katanya belum lengkap benar. Bukan tidak mungkin, acara minum obat menjadi horor nomor satu buat si kecil dan terbawa sampai ia dewasa. Tentu, kita tidak ingin itu terjadi, bukan?
 
Sakitnya Hanif ini membuat saya belajar bagaimana memberikan obat dengan meminimalkan penolakan dan sebisa mungkin menjadikan acara minum obat sebagai sesuatu yang menyenangkan. Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah, hal ini bisa kami lakukan pada hari ketiga Hanif harus minum obat resep dokter anak.
 
Awalnya, saya menggunakan metode memangku Hanif saat minum obat dan memegang keningnya untuk membuka mulutnya. Saya menolak saran Grandpa untuk memencet hidung Hanif agar mulutnya terbuka. Saya membayangkan, hal ini justru akan membuat Hanif tidak suka dan (mungkin) trauma dengan acara minum obat.
 
Metode pangku dan pegang kening tidak berhasil mulus karena Hanif belajar bahwa posisi itu akan berakhir dengan minum obat yang (ketika saya rasakan memang) pahit, meskipun sudah saya campur madu. Memang anak adalah pembalajar yang luar biasa 
 
Akhirnya, kami menggunakan metode komunikasi dan apresiasi. Kami jelaskan ke Hanif, jenis-jenis obat yang harus dia minum dan kenapa dia harus minum obat itu. 
 
“Hanif, ini obat pilek insya allah, habis ini diminum yaa,” selalu gunakan kata insya allah, karena bagaimanapun yang menyembuhkan penyakit adalah Allah. Obat hanyalah sarana ihtiar kita sebagai manusia. So, acara minum obat juga bisa menjadi salah satu cara mengajarkan tauhid kepada si kecil insya allah 
 
“Hanif minum obat pilek ini karena sedang pilek,” saya berekspresi menghirup ingus dan Hanif tertawa. Saya ikut tertawa. “Hanif minum obat batuk ini karena sedang batuk,” saya ber-uhuk-uhuk dan Hanif tertawa. Saya ikut tertawa.
 
“Yuk, kita minum obat,” saya memperlihatkan tahap-tahap mempersiapkan obat ke Hanif dan Hanif asyik memperhatikan. 
 
“Buka bungkus obatnya yaa.. Sreeek.. Tuang.. Campur air.. Aduk.. Nah, siap deh,” saya memperlihatkan obat yang sudah siap minum ke Hanif. Jangan lupa, siapkan segelas air putih untuk menghilangkan pahit nanti. 
 
“Bismillah,” saya menyuapkan obat dan cepat-cepat mengulurkan air di gelas sebelum Hanif sempat merasakan pahitnya obat. Kemudian kami akan bertepuk tangan bersama sampai Hanif tertawa lebar. Oiya, suapan obat mungkin tidak sekali suap langsung habis. Hal itu tidaklah mengapa karena selama acara menyenangkan, Hanif akan senang-senang saja menerima berapa kali suapan sekalipun. 
 
Setiap kali Hanif menunjukkan partisipasi dalam acara minum obatnya ini, kami selalu bertepuk tangan bersama. Akan lebih seru jika ada anggota keluarga lain yang juga memberi tepuk tangan sebagai bentuk apresiasi atas prestasi Hanif. Bisa dipastikan, Hanif akan minta diberi obat lagi dan lagi. Sambil tertawa lebar, tentu 
 
*** 
 
Alhamdulillah. Semoga Hanif lekas sembuh ya, Nak. Dan semoga tulisan ini bermanfaat  
FEB 24, ’12 11:13 AM
UNTUK SEMUANYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s