Saat si Kecil Menggigit

Sebenarnya, tulisan berikut saya rencanakan untuk blog tamanpenyejukmata, namun apa daya, saya lupa sama sekali dengan password-nya. Dududuuuh.. sepertinya saya harus menggali-gali tumpukan email untuk mendapatkan email konfirmasi pembuatan blog yang sudah berbulan-bulan lalu itu. 
 
Saya ingin berbagi tentang episode gigi Hanif. Sebuah episode yang sempat membuat saya menangis berderai-derai berkali-kali *agak lebay *. Dan karenanya saya ingin mencatat benar untuk menjadi pelajaran di kemudian hari. 
 
Hanif suka menggigit saat menyusu! Itulah temanya 
 
November 2011, Hanif bergigi enam. Empat di atas dan dua di bawah. Eh, enam setengah lebih tepatnya. Ada setengah biji gigi yang nampaknya ingin ikut diabsen di rahang atas. Tapi ia, si gigi setengah ini, masih malu-malu saja bahkan sampai saat ini.
 
Entah bagaimana awalnya, Hanif mulai memasukkan acara menggigit dalam aktivitas menyusu ke ibunya. Mulanya pelan saja dan ibunya mengerenyit tidak suka. Hari berikutnya, makin asyik dia, dan ibunya mulai mengaduh. Hari-hari berkikutnya, Hanif tidak lagi sekadar menggigit, tapi juga menarik kuat sumber mimiknya. Dengan giginya yang enam itu. Eh, enam setengah. Dan ibunya mulai berkeringat dingin. 
 
Tidak bisa membiarkan keasyikan Hanif begitu saja, saya mulai googling dan mencari solusi. Ada yang menyarankan mendekap erat bayi saat ia mulai menggigit karena logikanya ia akan sulit bernafas sehingga membuka gigitannya. Ketika saya praktekkan, Hanif justru makin keras menggigit 
 
Googling lagi. Ada yang menyarankan untuk berekspresi tidak senang saat bayi menggigit. Logikanya, bayi adalah pembelajar ulung yang menerapkan Hukum Newton ke -3 (lhoh? ), yaitu aksi reaksi. Ia akan beraksi berdasarkan reaksi kita. Jika kita bereaksi tidak suka terhadap gigitannya, aksi yang ia berikan adalah tidak lagi melakukannya. Ketika saya praktekkan, yang terjadi adalah Hanif tertawa girang melihat reaksi saya dan mengulangi gigitannya lain kali. Walah.. 
 
Googling lagi. Ada yang menyarankan untuk menyelipkan jari kelingking ke mulut bayi saat ia mulai menggigit. Ketika saya praktekkan, saya selalu kalah cepat dengan gigitan Hanif. Apalagi saat saya terkantuk-kantuk menyusui, maka dapat dipastikan Hanif akan menggigit dengan sukses. Menyusui jadi terasa begitu menakutkan  
 
Syukurlah suami saya begitu pengertian terhadap derai-derai istrinya. Ia selalu memberi pompaan semangat agar saya bersabar dengan gigitan Hanif sambil terus mencari solusi. Paling tidak, saya tidak merasa sendiri ber-trauma dengan kegiatan menyusui, meskipun kenyataannya suami saya memang jauh di mata.

Hypnoparenting akhirnya kami giatkan lebih lagi. Terutama saat Hanif menjelang terlelap dan matanya mulai berat. Memilih kata-kata positif dan berdoa agar kata-kata itu tertancap di bawah sadarnya lekat-lekat.

 
“Ade, kalau mimik pelan-pelan ya.. dihisap, ibu disayang,” diulang dan diulang. Selama berhari-hari saat mengantar Hanif tidur. Tidur pagi, siang, dan malam. Memeluknya hangat dan mengakhirinya dengan ciuman lembut di pipi, hidung, dan keningnya yang selalu wangi. 
 
Maha suci Allah dan segala puji untukNya, Hanif mulai jarang menggigit saat usianya 13 bulan! Bahkan sekarang sudah jaraaaaang sekali. Alhamdulillah.  

Salut saya kepada semua ibu yang memutuskan mengasuh dan menyusui sendiri anaknya sampai tuntas benar dan tiba waktunya disapih membuncah tinggi. Betapa mereka rela menahan sakit dan menahan diri untuk tidak memarahi, mencubit, atau menghukum bayi mereka saat si bayi asyik menyusu dan menggigit. Gigitan yang sakitnya terasa sampai di ubun-ubun, menegakkan bulu kuduk, dan membuat berkeringat dingin. Alhamdulillah, gigitan Hanif membuat saya sampai pada pemikiran tersebut dengan kesadaran dan empati penuh sehingga sekali lagi saya mendapati bahwa full time momm benar-benar sungguh pekerjaan mulia dan wajib dimuliakan 
 
Oiya, selain soal keasyikan tersendiri, saya mengamati bahwa Hanif (dulu) cenderung menggigit untuk memberi tanda bahwa sumber minumnya telah habis terminum dan menginginkan sumber yang baru. Untuk ibunya, hal ini berarti sudah waktunya isi baterai alias m-a-k-a-n 
NOV 13, ’11 11:32 AM
UNTUK SEMUANYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s