Saat Taat Dihujat

Setting : huru-hara
***
Dia   : Tolong ambilkan tas nda.
Saya : (diam dan mengambil tasnya)
(meletakkan perlahan di meja)
***
Setting : huru-hara belum berakhir
***
Dia   : Tolong ambilkan baju-baju nda
Saya : (diam dan mengambil baju-bajunya)
(meletakkan perlahan di meja)
***
Setting: masih huru-hara
***
Dia   : Tolong ambilkan stetoskop nda
Saya : (diam dan mengambil stetoskopnya)
(setengah kesal, menghentakkan di meja)
Dia   : (mamandang kaget dan heran)
(saya langsung menyesal sangat)
Tolong ambilkan plastik untuk sepatu
Saya : (diam dan mengambil plastik yang ia minta)
(meletakkan perlahan di meja)
***
Setting : huru-hara belum selesai

***
Sungguh pandangan kagetnya tidak akan pernah saya lupakan. Tidak ada kata-kata terucap, apalagi kemarahan. Hanya kaget dan heran. Bahwa saya telah setengah tidak ikhlas memenuhi permintaannya. Gara-gara ada huru-hara.

Sungguh saya sangat menyesal. Dan bertekad tidak akan mengulanginya. Alhamdulillah ia sungguh pemaaf dan segera memberi kesempatan kedua, dengan meminta diambilkan plastik. Alhamdulillah Dia membukakan hati saya dan menyadarkan perbuatan saya, dengan bersegera memenuhi permintaannya. Agar mendapat ridhanya. Ridha yang mengantarkan pahala kepada saya, surga atau neraka saya.

Sunguh semua ini tidak ada apa-apanya dengan yang dialami Ummu Sulaim, semoga Allah meridhainya…

Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa seorang anak dari Abu Thalhah sakit. Ketika Abu Thalhah keluar, anak itu meninggal. Ketika Abu Thalhah kembali, dia bertanya, “Bagaimana anakku?” Ummu Sulaim menjawab, “Ia dalam kondisi sangat tenang,” seraya menghidangkan makan malam kepadanya, dan dia pun makan. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Ummu Sulaim berkata, “Jangan beritahukan kepada Abu Thalhah tentang kematian anaknya.” Kemudian ia melakukan tugasnya sebagai isteri kepada suaminya, lalu suaminya berhubungan intim dengannya. Ketika akhir malam, ia berkata kepada suaminya, “Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu bila keluarga si fulan meminjam suatu pinjaman, lalu memanfaatkannya, kemudian ketika pinjaman itu diminta, mereka tidak suka?” Ia menjawab, “Mereka tidak adil.” Ummu Sulaim berkata, “Sesungguhnya anakmu, fulan, adalah pinjaman dari Allah dan Dia telah mengambilnya.” Abu Thalhah beristirja’ (mengucapkan: Innaa lillaahi wa innaaa ilaih raaji’uun) dan memuji Allah seraya mengatakan, “Demi Allah, aku tidak membiarkanmu mengalahkanku dalam kesabaran.” Pada pagi harinya, dia datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala beliau melihatnya, beliau bersabda, “Semoga Allah memberkahi kalian berdua di malam hari kalian.” [1]

Semoga saya selalu ingat kisah tersebut dan dilimpahi kesabaran untuk selalu taat kepadanya, dalam menaati perintah Allah dan Rasulullah. Amiin…

***

[1] Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5470) kitab al-‘Aqiiqah, Muslim (no. 2144), kitab Fadhaa-ilush Shahaabah, Ahmad (no. 11617)

FEB 16, ’10 1:05 AM
UNTUK SEMUANYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s