Tak Sekadar Bermain (Bag. 2)

Sekali lagi  tentang permainan tradisional yang, buat saya, selalu melahirkan kerinduan dan rasa syukur. Rindu akan kemeriahan permainan kanak-kanak dan syukur akan kesempatan memainkannya dulu.

Sekarang saya ingin menulis tentang Engklek. Ada juga yang menyebutnya Sondah Mandah atau juga Ingkling. Engklek dalam bahasa Jawa berarti melompat dengan satu kaki. Sondah Mandah (ada juga yang menyebutnya Sunda Manda), menurut info yang saya dapat dari blog permainan anak tradisional, pernah disebut berasal dari bahasa Belanda, zondaq maandag. Meski baru hipotesis, apakah ada teman-teman yang tahu arti kata tersebut?   Istilah terakhir, ingkling, saya temukan di web apakabar, dan saya belum berhasil menemukan asal kata maupun artinya. Ada yang bisa membantu? 

Terlepas dari istilah dan nama beken permainan ini, mari kita sepakat menyebut salah satu nama saja untuk kelangsungan persamaan persepsi tentang permainan yang saya tulis ini. Engklek? Sondah Mandah? Ingkling? Saya pilih Engklek 

Engklek adalah permainan luar ruangan karena kita membutuhkan ruang untuk melukis pola bidang permainan. Bidang permainan biasanya berupa 8 petak  yang disusun dengan khas, plus 1 sawah berbentuk setengah lingkaran di ujung dua petak terakhir.

Jika engklek dilakukan di halaman tanah, maka pola dibuat dengan menekankan batu di tanah hingga tercipta bidang permainan. Bagaimana jika halaman sudah berpaving atau bersemen? Tidak masalah, tinggal mencari batu bata merah dan mulai melukis pola permainan. Sah.

Ketika tinggal di komplek, mungkin halaman rumah tak cukup luas untuk melukis pola engklek. Tetap tidak masalah. Kita masih punya jalan depan rumah untuk dilukis dengan batu bata merah. Atau dengan kapur. Dan ini sering saya jumpai di komplek perumahan saya. Jalan aspal berhias pola engklek. 

Engklek adalah permainan yang seru jika dimainkan lebih dari dua orang. Makin banyak, makin seru. Setiap pemain memiliki batu yang mewakili dirinya dan disebut gacuk atau cuk saja. Bolehlah dari pecahan batu bata, pecahan semen kering, pecahan genting, batu beneran, atau kayu. Suka-suka pemain lah.

Setelah hom-pim-pah-alaiyum-gambreng berkali-kali dan diakhiri dengan ping suit-nya dua pemain terakhir, setiap pemain meletakkan cuk masing-masing di kotak paling bawah (kalau berdasar gambar di atas, ya kotak paling kiri). Setiap pemain bergiliran melompat dengan satu kaki alias engklek tanpa menginjak kotak yang ada cuk miliknya.

Pemain wajib engklek sampai kotak paling ujung dan balik lagi ke titik start. Pada setiap dua kotak yang tersusun horizontal, pemain harus menginjakkan dua kaki bersamaan di kedua kotak tersebut. Tepat sebelum melompati kotak yang ada cukmiliknya untuk kedua kalinya, pemain harus mengambil cuk dengan berdiri di atas satu kaki.

Jadi, jika cuk ada di kotak pertama, kira-kira bunyi langkah kaki pemain yang sedang mendapat giliran beraksi adalah sebagai berikut:

dug… dug.. bruk.. dug.. bruk.. (balik kanan) bruk.. dug.. bruk.. dug.. dug.. (ambil cuk) bruk

Kebayang nggak? 

Jika pada kotak pertama cuk berhasil dilewati dengan sukses sebanyak dua kali, maka pemain berhak melempar cuk ke kotak kedua dan seterusnya. Setelah semua kotak berhasil ditaklukkan, pemain berhak merempar cuk ke sawah. Sukses juga? Sawah itu menambah hartanya. Pemain dengan sawah terbanyak adalah pemenangnya.

Sederhana saja. Tidak ada uang keluar untuk permainan ini. Namun, tentu saja, justru ada banyak pelajaran di dalamnya.

Menggerakkan badan. Permainan yang sehat adalah permainan yang memberikan porsi seimbang pada otak dan fisik. Berlatih strategi, kecermatan, sekaligus membebaskan tubuh bergerak alami. Berlari, meloncat, dan juga tertawa. Sederhana bukan?

Permainan ini juga mengajarkan pemain untuk bersabar menunggu gilirannya beraksi. Banyaknya kesabaran berbanding lurus dengan banyaknya pemain. Makin banyak pemain, makin banyak membutuhkan kesabaran. Namun, anak-anak dengan riang menjalaninya. Diselingi canda tawa dan komentar-komentar jujur tentang permainan lawannya. Tanpa beban.

Memang, harusnya demikianlah adanya. Dalam dunia nyata, keharusan mengantri nyaris tak terelakkan. Bercermin pada engklek, harusnya kita ikhlas menjalaninya. Tertib dan bersabar. Tak malukah kita pada anak-anak yang bermain engklek?

JAN 28, ’10 6:23 AM
UNTUK SEMUANYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s