Tak Sekadar Bermain (Bag. 3)

Saat ini saya ingin berlari. Berlari kencang. Melepas semua gelegak yang bergemuruh di dada. Saya ingin berlari kencang. Dan tersengal-sengal.

Sama ketika saya bermain betengan. Permainan kanak-kanak yang selalu membuat saya tersengal-sengal. Berlari lepas. Mengincar pasukan lawan, untuk ditangkap dan ditawan. Dan kembali ke kelas dengan baju lusuh berbau peluh. Namun, tertawa lepas. Atau malah bersungut-sungut karena permainan yang dianggap curang 

Yup, betengan memang permainan kental dengan adegan berlari-lari. Dua kelompok pemain berlagak sebagai pasukan dua kerajaan yang saling memperebutkan benteng lawan. Benteng biasanya berupa dua tiang berhadapan yang terpisah sekitar 4 meter atau lebih. Kelompok yang terlebih dulu menyentuh benteng lawan, merekalah yang menang. Sangat sederhana.

Sejak permainan disepakati dimulai, setiap pemain berlomba-lomba menawan sebanyak mungkin pemain lawan. Tawanan akan dipajang berentet-rentet di sebelah benteng sang penawan. Kawan-kawannya akan mencuri-curi kesempatan untuk membebaskannya dengan menyentuh tangannya yang panjang terentang. Klaim kecurangan sering terjadi di sini. Tawanan mengaku telah dibebaskan kawannya, namun pandangan penjaga benteng tidak membuktikannya. Berdebatlah para pemain. Diajukanlah saksi dari kedua belah pihak. Musyawarah (baca: perdebatan) adat pun dimulai 

Pada akhirnya, permainan ini tak sekadar sebuah adu lari dan ketangkasan. Ada strategi di sini. Strategi menaklukkan benteng secepat mungkin. Ada kerja sama tim alamiah di sini. Pembagian tugas, siapa penjaga benteng, pengawas tawanan, penyerang benteng, dan pembebas tawanan. Kerja sama tim yang alami, karena semua pemain secara otomatis saling menggantikan, tanpa banyak kata. Dipersatukan oleh satu misi: mempertahankan benteng dan merebut benteng lawan.

Musyawarah (baca: perdebatan) adat pun tanpa disadari telah mengajarkan suatu dasar manajemen konflik pada anak-anak. Betapa masalah harus diselesaikan dengan mendiskusikannya bersama pihak-pihak yang terlibat, keharusan menjadi saksi yang jujur, dan kebesaran hati dari setiap pihak untuk menerima keputusan bersama.

Sungguh indah permainan ini.. 

FEB 4, ’10 11:58 PM
UNTUK SEMUANYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s