Tak Sekadar Bermain

Tergelitik dengan note mbak maulia tentang congklak. Spontan ingatan saya melayang pada berbagai permainan tradisional yang, dengan penuh rasa syukur, pernah saya alami dan mainkan bersama saudara maupun kawan-kawan saya.

Congklak. Ada yang menyebutnya “dakon”. Sebuah permainan satu lawan satu dengan media papan panjang berlubang 16. Setiap pemain menguasai menguasai 7 lubang plus 1 gawang. Tiap lubang berisi biji-biji kecik dengan jumlah yang sama. Kecik adalah nama biji sawo yang berwarna hitam mengkilat, namun pada prakteknya, kecik tidak melulu biji sawo. Bisa saja biji sawo buatan alias plastik yang dibentuk seperti biji sawo.


Aturan mainnya sederhana saja. Mendistribu
sikan kecik secara meraya di setiap lubang, kecuali gawang lawan. Kedua pemain akan ping-suit untuk menentukan siapa yang berhak bergerak pertama kali. Yang paling banyak mengumpulkan kecik di gawang, dia menang.

Serunya permainan ini terletak pada dag-dig-dug kita saat mengamati gerakan lawan mendistribusikan keciknya. Soalnya, jika kecik lawan jatuh di lubang kosong  miliknya dan di atas lubang itu ada kumpulan kecik  kita, maka lawan berhak mengambil  seluruh kecik kita di lubang itu.  

Pemain sadari atau tidak, sesungguhnya permainan ini mengajarkan latihan strategi kemenangan, ketelitian menghitung, cara menghadapi orang lain, dan tentu saja sportivitas sekaligus. Sebuah sarana belajar yang menyenangkan.

(bersambung, insya Allah)

Duh Robbana.. kasihanilah kedua orang  tua kami sebagaimana mereka mengasihani kami di waktu kami kecil… 

AN 27, ’10 7:41 AM
UNTUK SEMUANYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s