Tips Memilih Clodi Bagi Ibu Pemburu

Ah, akhirnya saya bergabung juga ke golongan ibu-ibu pemburu clodi. Ya, clodi alias cloth diaper saya rasakan benar-benar menjadi solusi efektif kebutuhan popok untuk Hanif. Dan sepertinya tak ada salahnya jika saya membagi pengalaman berburu clodi hingga menemukan yang paling membuat saya jatuh cinta.

Mengapa clodi? Popok kain tradisional jelas hanya terpakai di hari-hari pertama kelahiran Hanif. Setelah itu, rutinitas mengganti popok kain setiap lima menit sekali plus mencuci seember besar popok kain setiap pagi jelas merupakan aktivitas paling menguji kesabaran. Mencuci, menjemur berderet-deret, dan menyetrika begitu kering. Belum lagi jika malamnya Hanif mengajak bergadang. Huaaah.. Hanif masih suka mengajak bergadang sampai dengan usia 1 bulan. Setelah itu alhamdulillah tidur malamnya sudah panjang dan pulas.

Suatu saat adik ipar saya memperkenalkan popok sekali pakai yang murah meriah. Murah karena harganya paling murah di antara rekan sejenisnya. Meriah karena daya serap dan kenyamanan yang diberikan memang manstab. Hasilnya, cucian menyusut drastis dan kami bisa istirahat lebih tenang.

Tapiiiiii… tempat sampah kami menggunung. Belum lagi jika ada bekas pup. Waaah.. sindiran dosen Ekologi Manusia saya dulu seolah-oleh terngiang-ngiang di telinga saya. Kebanyakan dari kita masih menganut paham NIMBY jika bicara tentang sampah. Not in My Back Yard. Tidak di halaman belakang saya. Terjemah bebasnya adalah, di manapun asalkan jangan di wilayah saya. Jadi, popok sekali pakai benar-benar menohok idealisme saya tentang zero waste yang selama ini saya pegang teguh.

Curhatlah saya kepada Eyang Google. Dan muncullah cloth diaper sebagai saran jitu Eyang Google. Cloth diaper alias clodi. Ya, clodi merupakan ide jenius yang menggabungkan konsep popok kain tradisional dan popok sekali pakai yang praktis. Betul, clodi merupakan popok kain yang bisa dipakai berjam-jam (bahkan semalaman), namun juga bisa dicuci sehingga tidak menimbulkan sampah dan menghemat belanja bulanan.

Jujur, pada awalnya saya buta sekali tentang dunia per-clodi-an. Menentukan clodi yang akan dibeli serasa mencari jarum di tumpukan jerami. Google menumpahkan semua informasi yang ia punya tentang clodi pula. Kata kunci clodi bagus atau recommended hanya membuat saya berkunjung dari satu toko online ke toko online lain. Tentu saja begitu karena setiap penjual mengklaim clodi di etalasenya adalah yang terbaik, terbagus, dan terekomendasikan. Dan sebagai pendatang baru, saya berhasil dibuat bingung. Haha.

Akhirnya, saya mengubah strategi. Saya harus punya kriteria sendiri tentang clodi yang saya inginkan. Kriteria yang paling saya nomor satukan adalah: murah. Hihihi.. bukan apa-apa, melihat harga clodi yang sampai beratus-ratus ribu membuat saya menggingit jari. Masa iya sih, tidak ada clodi bagus yang harganya masuk akal? Pengeluaran untuk baby born sudah berasa menguras tabungan, jika ditambah clodi yang ratusan ribu satu biji, rasanya kok tidak bijaksana.

Kata kunci clodi murah nampaknya belum berhasil optimal karena, tentu saja, setiap penjual mengklaim produknya paling murah. Tidak, tidak, saya harus merevisi kata kunci saya. Saya harus menggunakan fakta. Angka. Dan saya memilih menggunakan kata kunci harga clodi yang menurut saya terjangkau.

Voilaaa.. strategi ini jauh lebih manjur dalam menyusutkan hasil pencarian Google tentang clodi yang saya incar. Dan saya berhasil mendapatkan selusin clodi dengan harga 250 ribu rupiah saja. Saat itu, saya berasa memenangkan olimpiade clodi yang saya ciptakan sendiri. Hihihi

Pepatah Jawa bilang, ”Ana rega, ana rupa.” Ada harga, ada kualitas. Fyuuuh, meskipun clodi murah saya ini berhasil menampung pipis Hanif sampai dengan 3 jam dengan teknologi lampinnya, bahan lapisan dalamnya berasa kurang memuaskan. Bahan lapisan dalam ini adalah bahan yang langsung bersentuhan dengan kulit pantat bayi. Produk ini menggunakan bahan jasbaby yang tidak menyerap air, sehingga jika ada cairan yang tidak terserap oleh lampin, cairan tersebut berpeluang luber ke luar. Ah, sayang sekali…

Saya pun kembali berburu clodi. Berbeda dengan perburuan sebelumnya, saya mulai mengerti apa yang saya cari. Kriteria yang digunakan tetap sama, yaitu murah. Namun, saya mulai bertanya kepada penjual tentang bahan yang digunakan pada clodi. Saya mulai belajar memperhatikan detail setiap merk clodi. Dan hal tersebutlah yang menjadi panduan saya dalam memilih clodi. Saya bagikan yaa..

Harga

Bagi saya, harga yang masuk akal bagi satu set clodi adalah tidak lebih dari 75 ribu rupiah. Mengapa? Berdasar survey saya di Google, harga tersebut adalah harga pertengahan. Tidak terlalu murah, namun juga tidak terlalu mahal. Soal kualitas juga memadai karena kualitas clodi yang ratusan ribu sebenarnya juga terpenuhi di clodi kelas menengah ini. Bedanya hanya soal produk impor atau local. Merk terkenal atau bukan. Yup.. kembali ke soal pengemasan dan image, bukan?

Bahan Inner

Clodi pada umumnya terdiri dari 2 lapis kain. Inner dan outer. Inner merupakan lapisan dalam clodi yang bersentuhan langsung dengan kulit pantat bayi. Pilih bahan inner yang lembut di kulit bayi seperti beludru, misalnya. Atau lebih bagus lagi, kain suede yang memang terkenal lembut, dingin di kulit, dan cepat kering. Inner yang berkualitas akan menghindarkan ruam pada pantat bayi dan bayi akan terjaga kenyamanannyaa.

Bahan Outer

Outer merupakan salah satu kunci dari prinsip antitembus dari clodi. Meski demikian, pilih outer yang tetap berpori sehingga pernafasan kulit bayi pun tetap terjaga. Bahan yang paling bagus sampai saat ini adalah bahan PUL (poly urethane luminate) yang memenuhi kriteria antitembus sekaligus berpori lembut.

Lampin atau insert

Nah, insert atau lampin merupakan kunci terpenting dari clodi. Insert berfungsi sebagai penyerap cairan dan kualitas bahan menentukan seberapa lama clodi bisa dipakai si kecil. Beberapa bahan yang dipakai untuk insert adalah suede, microfiber, dan serat bambu. Menurut saya, yang paling bagus adalah bahan serat bambu. Kenapa? Serat bambu memiliki karakter daya serap sangat tinggi, sehingga meskipun terkesan tipis, daya serapnya mantap habis. Beberapa clodi impor mulai beralih ke serat bambu karena keunggulan serat bambu tersebut. Sebelumnya, bahan yang dianggap paling memiliki daya serap hebat adalah bahan microfiber. Clodi impor sebagian besar menggunakan microfiber untuk penyerapnya. Memang benar, namun microfiber tampilannya lebih tebal dan ketika dicuci keringnya sedikit lebih lama dibanding serat bambu.

Jadi, pilihannya ada di serat bambu atau microfiber. Pilih serat bambu atau microfiber dengan layer atau lapisan paling banyak agar bisa lebih lama dipakai. Ada lho clodi lokal dengan serat bambu sampai 12 layer. Ada juga clodi lokal dengan microfiber hingga 6 layer. Ketika saya menemukan clodi lokal ini, saya berasa menemukan harta karun!

Ukuran

Pilih clodi dengan all in one size. Satu clodi untuk berbagai ukuran bayi. Biasanya, patokan yang digunakan adalah ukuran berat badan bayi. Jadi kita tidak perlu berkali-kali membeli clodi hanya gara-gara berat badan bayi bertambah dan terus bertambah. Cukup satu ukuran clodi sejak Hanif sebulan sampai dua tahun nanti insya Allah. Hemaaat!

Sabuk

Ada clodi dengan sabuk velcro dan ada clodi dengan sabuk snap button. Saya merekomendasikan clodi dengan velcro karena lebih fleksibel menyesuaikan lingkar pinggang bayi. Selain itu, pengalaman saya saat mengganti clodi dengan snap button malam hari (pas Hanif tidur lelap) justru akan mengusik tidurnya karena suara membuka dan mengancingkan snap button terdengar cukup nyaring. Padahal saya sudah pelan-pelan sekali melakukannya lhoo. Berbeda dengan clodi yang menggunakan velcro. Tinggal kreeet.. kreeet..hap.. selesai. Meski Hanif menggeliat-geliat saat diganti clodinya, matanya tetap merem dan bobo pulas.

Itulah kriteria dasar saya memilih clodi. Alhamdulillah saya sudah menemukan clodi yang memenuhi semua kriteria di atas. Sekarang, jika ada clodi dengan harga di bawah clodi Hanif, saya langsung mengecek jawaban atas kriteria-kriteria di atas. Hasilnya? Saya belum menemukan yang setara dengan clodi Hanif namun dengan harga yang lebih murah. Saya makin jatuh cinta dengan clodi Hanif. Hehehehe

Oiya, soal motif clodi, saya tidak terlalu ambil pusing. Bukan apa-apa, bagi saya clodi tetaplah celana dalam yang wajib ditutup lagi dengan celana ¾ atau celana panjang. Sekadar mengajarkan Hanif tentang aurat dan rasa malu.

Perburuan saya pun berakhir sudah…

UN 12, ’11 10:19 AM
UNTUK SEMUANYA

8 thoughts on “Tips Memilih Clodi Bagi Ibu Pemburu

  1. Boleh tau donk merk clodi yg dipake hanif n cara pemesanan nya? Soal nya sy jg lg cari info tentang clodi nih buat calon baby sy yg akan lahir insya ALLAH 2 bln lg. Mksh info nya…

  2. Salam kenal, mb Vironi.. clodi favorit Hanif adalah merk P*mp*m. Bisa dibeli di toko online saya. hihihi.. Silakan mampir ke Fb: “niken tf alimah tokosalatiga” Ada banyak merk di sana, jangan sungkan juga kalau ada yang ingin ditanyakan. Soal ongkos kirim jangan khawatir, insya allah bisa dibicarakan ^_^

  3. Mbak, aku masih bingung nih sama clodi ini meskipun tertarik bgt pake untuk anakku yg HPL nya mei 2014 skrg .. Harus brpa banyak sih kita punya clodi dr new born – 2 tahun? insertnya hrs punya brp juga? thanks bgt ya ..

    • Nggak rugi lho pilih pakai clodi, mb.. Selain hemat, kita juga bisa memantau kesehatan pencernaan si kecil lewat aktivitas ber-clodi ini ^_^

      Berdasar pengalaman saya, stok aman clodi buat newborn biar bisaawet sampai lulus toilet training adalah 12 pcs dan insert 15 pcs. Tapi kalau soal insert ini bisa diakali dengan menggunakan alas ompol atau handuk bekas kok, jadi jumlah stok insert tsb relatif ^_^

      Kalau ada yang mau ditanyakan, bisa sms ke 085640007690 ya, mb. Mohon maaf baru membalas😦

  4. pemakaian popok kain sangat tergantung kebutuhan anak serta selera dan gaya hidup orangtuanya (di dalamnya tentu juga termasuk budget). cara yang paling baik untuk mengetahui apakah sebuah merk atau jenis popok kain sesuai atau tidak adalah dengan mencoba beberapa merk atau tipe terlebih dahulu sebelum berinvestasi dengan beli sekaligus banyak satu merk atau tipe saja. Dan, tentu saja, jangan takut untuk bereksperimen karena setiap anak dan setiap keluarga adalah unik.

    • Betul, mb tina. Tulisan ini mencoba berbagi pengalaman saya berburu clodi dulu. Semacam ekspresi kepuasan tersendiri kalau bisa berbagi pengalaman sendiri. Hehe.

      Seiring waktu ngobrol-ngobrol dengan berbagai customer, saya sepakat dengan mb tina. Memilih clodi itu seperti memilih baju, patokan bagus untuk setiap anak berbeda-beda, meskipun ada juga merk tertentu yang memang dicocoki oleh lebih banyak bayi daripada merk yang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s