Woro-Woro: Bintaro

Akhirnya saya tahu namanya pagi ini! Setelah sekian kali melihat di taman rektorat IPB tanpa pernah menengok apalagi menghampiri. 

Ternyata namanya Cerbera manghas alias bintaro. Rupanya, kawasan Bintaro di Jakarta Selatan terinspirasi dari pohon ini. Sayangnya, pohon ini kalah jauh terkenal dibanding kawasan Bintaro. Padahal pohonnya bagus lho! Pohon rindang dengan daun serta bunga mirip pohon kamboja.

Bintaro memang cantik sebagai pohon perindang. Daunnya yang rimbun dan bunyanya yang cerah. Belum lagi buahnya yang bulat sebesar alpukat, sungguh menggoda untuk dipetik. Namun, faktanya, buah bintaro sangat beracun!

Buah bintaro berbentuk bulat dan berwarna hijau pucat dan ketika tua akan berwarna merah. Merupakan buah drupa (buah biji) yang terdiri dari tiga lapisan yaitu epikarp atau eksokarpmesokarp (lapisan tengah berupa serat seperti sabut kelapa), dan endokarp ( biji yang dilapisi kulit biji atau testa). Walapun berbentuk indah namun buah Bintaro mengandung zat yang bersifat racun terhadap manusia.(kulit bagian terluar buah),

Dinamakan Cerbera pada nama latinnya adalah karena bijinya dan semua bagian pohonnya mengandung racun yang disebut cerberin. Racun ini dapat menghambat saluran ion kalsium di dalam otot jantung manusia, sehingga mengganggu detak jantung dan dapat menyebabkan kematian. Bahkan asap dari pembakaran kayunya dapat menyebabkan keracunan.

Walaupun beracun, bijinya mengandung minyak yang cukup banyak (54,33%) dan berpotensi digunakan sebagai bahan baku biodiesel dengan melalui proses hidrolisis, ekstrasi dan destilasi. Penelitian lain yang dilakukan oleh seorang siswa SMU di Tangerang (Mei, 2009) menunjukkan bahwa kandungan minyak biji bintaro bisa mencapai 64%.

Mengutip abstrak hasil penelitian Adrian Wahyu Dewanto, sang peneliti muda tersebut, biji bintaro yang telah melalui proses pengeringan dan pengepresan akan diperoleh minyak mentah yang disebut crude cerbera oil (CCO). Ampas hasil proses pengepresan biji bintaro dapat dibuat briket bahan bakar dan dapat dibuat kompos untuk pupuk tanaman, sehingga dalam pengembangan sumber energi biji Bintaro tidak menghasilkan sampah (zero waste). 

Hmm.. menarik, ya? Satu lagi bukti bahwa pada setiap hal itu memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Hal itu justru menunjukkan kesempurnaan penciptaan itu sendiri, semuanya seimbang.

Senangnya bisa mengenal bintaro. Bintaro yang sesungguhnya. 

Sumber: sektorazalea, wargahijau

FEB 24, ’10 10:18 PM
UNTUK SEMUANYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s