Kotak Kecil Mimi

Kotak itu ada di atas etalase ruang tamu. Saya belum sempat melirik pengirimnya karena baru pulang dari Jakarta. Berhari-hari kemudian, kotak itu terlupakan. Sampai saat saya beres-beres barang dagangan dan bertemu lagi dengan kotak itu. Dari Mimi, kawan sekolah saya dulu sekaligus pelanggan toko online saya. Agak heran saya membukanya karena seingat saya ia berkata akan mengembalikan CD Petunjuk Pemijatan Bayi via ekspedisi. Heran, karena kotak itu begitu besar untuk sekeping CD.

Ternyata ada kejutan kecil di dalamnya. Hadiah tak disangka untuk Hanif serta secarik surat yang membuat ingatan saya melayang pada pertemuan kami setahun lalu…

***
Umurnya sebaya dengan saya. Dan ia baru saja melahirkan anak pertamanya. Serupa dengan saya, suaminyapun harus tinggal di luar kota. Tanpa diminta ada empati tersendiri  bagi ibu baru yang terpaksa harus berjauhan dengan suami dan berjuang memahami bahasa bayi di hari-hari pertamanya. Itulah pertemuan saya yang pertama dengan Mimi semenjak saya lulus SMU sekitar sepuluh tahun yang lalu.
Dan Mimi langsung menangis saat melihatku duduk di ruang tamunya. Aku langsung paham perasaan terdalamnya, tanpa ia berkata apa-apa. Mata lelahnya telah menceritakan semuanya. Seorang ibu muda, masih belum pulih benar dari kelelahan setelah melahirkan, harus bergadang mengatasi ritme tidur bayi yang terbawa alam kandungan, air susu yang tak kunjung keluar sesuai harapan, dan suami yang tinggal di luar kota. Sungguh bukan suatu masa transisi yang mudah, tapi harus dijalani dengan rela.

Kunjungan itu berlanjut ke kunjungan berikutnya. Saya tidak tahu obat yang lebih manjur selain perasaan bahagia ada kawan seperjalanan. Meski saya tidak tahu apakah Mimi merasa bahagia dengan kunjungan saya — mengingat Hanif juga ingin membahagiakan Mimi dengan caranya sendiri (baca: berceloteh dengan bahasa bayinya) — perlahan senyum itu mulai bersemai di wajah mungilnya. Sekadar bercerita tentang pengalaman mengatasi bergadang di hari-hari pertama kelahiran bayi, mensiasati bayi yang bingung puting saat menyusu ibunya, dan obrolan-obrolan ringan tentang masa-masa sekolah kami dulu. Sungguh, rasanya kami begitu akrab, padahal saat sekolah dulu kami hanya saling tahu saja. Mungkin inilah yang disebut keajaiban waktu.

***

Terima kasih sudah menemani perjuangan ASI dan hari-hari pertama Ziya…

Secarik kertas di kotak itu membuat saya begitu terharu. Betapa sebuah kunjungan dapat memberi arti yang begitu dalam, bahkan saat saya sendiripun nyaris tak menyadarinya. Hingga kejutan kotak kecil Mimi dikirim ke rumah saya. Semoga engkau selalu Allah beri kemudahan, Mimi.. Uhibbuki fillah.. I love you ‘coz Allah *peluk*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s