Sekeping Mandiri: Mendaki Sendiri

Acara berkunjung dan berjumpa pembeli selalu menyisakan cerita tersendiri. Bagi saya dan Hanif (23 bulan), teman setia setiap perjalanan saya. Begitu pun hari ini.

Menjadwalkan acara berkunjung selalu saya lakukan setidaknya dua hari sebelunya karena saya ingin Hanif turut menikmati perjalanan yang akan kami lakukan nantinya. “Adik, insya Allah hari Kamis kita mau antar kaos kaki,” begitu saya mengawalinya. “Kaos kaki?” wajah mungilnya meminta konfirmasi.

“Iya, kita mengantar kaos kaki ke adik bayi,” jelas saya.

“Adik bayi!” lebar Hanif tersenyum. Ia memahami apa yang saya katakan.

“Betul, kita nanti lewat sawaaah, lihat sungai, lihat gunung, dan naik BIS!” saya menggambarkan dengan penuh ekspresi dan berbagai intonasi untuk memancing antusiasme Hanif. Pastinya, Hanif selalu suka naik bis. Bis gedhe, katanya.

Jadilah, pada hari Kamis kami mengantar barang ke beberapa tujuan dengan kendaraan umum. Bagi orang lain, mungkin kurang efektif dari segi waktu dan biaya. Tapi bagi saya, kendaraan umum ibarat kelas berjalan yang tidak pernah membosankan. Hanif belajar pertama kali tentang lampu lalu lintas dan warna merah-kuning-hijau pada usia sekitar 12 bulan. Sejak itu, ia selalu menanti-nanti dengan tak sabar kapan lampu lalu lintas berikutnya akan terlewati. BAhkan, bulan-bulan terakhir ini ia sudah mulai hafal di mana lokasi lampu lalu lintas terdekat. Subhanallah.

Dengan kendaraan umum juga, Hanif belajar tentang berbagai hal. Mengenali detail angkot, jenis-jenis kendaraan di jalan raya, etika naik angkot, tata cara transaksi sederhana, dan banyak pengalaman menyenangkan lain yang hanya bisa diperoleh dengan merasakan langsung sensasi naik angkot, bis, colt, dan minibus. Halah, sensasi.. *hihihi*

Rupanya, Hanif juga sepakat dengan ibunya. Ia selalu bersemangat jika saya berdiskusi tentang jadwal mengantar barang bersama Hanif. Ia selalu siap terlebih dahulu dibanding ibunya. MEngambil sepatu sendiri dari rak sepatu, minta diambilkan topi bepergiannya (karena disimpan di rak tinggi, Hanif belum bisa menjangkau), dan ribut meminta ibunya siap-siap. Heboh!

Dan Kamis ini, Hanif memberikan cerita tentang sebuah semangat pantang menyerah seorang anak usia 23 bulan yang begitu mengesankan untuk saya. Saat turun dari colt di pinggir sawah menuju Tegalwaton, jalan panjang sekitar 1 kilometer mendaki bukit telah menanti kami. Jalan setapak yang diapit bentangan sawah dan melintasi sebuah sungai irigasi selebar 3 meter. Sebuah sajian petualangan yang sempurna untuk Hanif. Ia selalu suka sawah dan alam terbuka. Sama seperti ibu bapaknya. Hehe

Sepuluh meter pertama, Hanif menunjukkan tanda-tanda minta gendong. Ego kanaknya mulai muncul. Tanpa mengubah nada suara, saya tawarkan pilihan: adik Hanif mau digendong dengan selendang atau jalan kaki? Saya tahu, Hanif tidak pernah suka digendong dengan selendang. Seperti bayi, katanya. Hihihi.. sudah merasa anak besar benar dia.

Dan memang, Hanif memilih: jalan kaki aja. Sambil asyik memetik bunga rumput dan menyerahkannya ke tangan ibunya. Sengaja saya berjalan sekitar 5 langkah di muka Hanif sehingga saat ia menyerahkan bunga rumput, ia akan maju dengan sendirinya tanpa harus saya minta segera berjalan. Benarlah, perlahan tapi pasti ia berjalan di belakang saya. Menikmati perjalanan, sama seperti saya. Sesekali ia berjongkok dan mengamati bunga rumput yang akan ia petik. Tentu saja, ceriwisnya tak ketinggalan. “Buiken! Bunga! Adik ambil!”

Ya, ya, ya.. tanpa terasa kami hampir sampai di tanjakan menuju bukit Tegalwaton. Matahari tengah hari tak menyurutkan langkah Hanif mengikuti saya dari belakang. Sesekali kami berpapasan dengan penduduk setempat yang melintas. Nyaris semua akan terheran-heran melihat Hanif berjalan sendiri dengan riang dalam siang yang hampir terik. Sungguh, jalan setapak ini memang tidak pendek dan mudah. Namun saya ingin mencoba melatih daya juang Hanif. Dengan kemasan yang tetap menyenangkan, tentu.

Jujur, saya juga merasakan khawatir jika Hanif terlalu lelah. Namun semangatnya menyangkal kekhawatiran saya itu. Saat saya menawarkan, “adik Hanif mau minum air putih sekarang atau nanti?”, dengan mantap ia menjawab”Nanti aja”.

“Oke, kalau adik haus, bilang ibu ya,” pesan saya. Hanif pun kembali asyik memetik bunga dan terus melangkah ke depan.

Duhai pejuang sejati, tak cukupkah Hanif memberi pelajaran berharga tentang arti perjuangan? Saat tantangan dihadapi dengan riang dan senyum terkembang, tak ada lagi kata menyerah terlintas. Bahkan untuk batita usia 23 bulan seperti Hanif.

Allahu akbar! Hanif berhasil jalan kaki sendiri sampai masjid al Barokah Tegalwaton tanpa sedikitpun minta gendong ibunya. Segera saya memberinya air minum begitu kami sampai di ruang guru. Ceguk.. ceguk.. ceguk.. lahap minumnya tak menutupi fakta bahwa ia memang sangat haus, namun Hanif sama sekali tidak mengeluh atau ribut. Ia hanya cooling down dengan berjalan pelan ke sana ke mari. Sesekali ia minta dipangku ibunya. Dan, subhanallah, saya sungguh bangga dengan pejuang kecil saya ini.

Malu rasanya jika saya menampakkan wajah lelah di hadapannya, sementara senyum manis Hanif selalu bersemangat menaklukkan aneka tantangan baru. Semoga engkau selalu bersemangat dan tangguh dalam perjalanan hidupmu, ya, Nak.. *kiss*

9 thoughts on “Sekeping Mandiri: Mendaki Sendiri

      • idem kok, bu.. aku juga mengharuskan diri tetap menulis di akhir hari atau pagi buta. hihihi.. selama kita semangat dan berusaha pasti bisa!

        Salam juga dari hanif, tante ratna.. kemarin hanif lewat smp 2 lhoo.. sudah banyak berubah ya? smp 1 juga. jadi pangling banget ^_^

  1. Ping-balik: Secuil Pemaknaan (dan Resolusi) | ..::menulislah::..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s