Multiply Makin Membuai

Saya sedang jatuh cinta dengan fasilitas e-commerce dari Multiply. Salah satu supplier saya meminta saya melakukan pembayaran barang dengan fasilitas ini untuk setiap transaksi di atas 100 ribu rupiah. Konsep dasarnya adalah penggunaan rekening bersama.

Mungkin ada yang belum paham apa itu rekening bersama. Secara sederhana, rekening bersama adalah rekening pihak ketiga (di luar penjual dan pembeli) yang disepakati sebagai tujuan pembayaran. Jadi saya sebagai pembeli tidak membayar barang yang saya beli langsung ke penjual, namun membayar ke rekening bersama.

Memilih rekening bersama yang terpercaya merupakan tugas pertama yang harus dilakukan oleh pembeli karena jika salah memilih, salah-salah uang yang kita bayarkan tidak pernah sampai ke penjual barang dan pembeli pun tidak pernah menerima barang yang dibeli. Tak cuma rugi dua kali, tapi berkali-kali lipat karena harus mengklarifikasi ke penjual maupun pihak pemilik rekening bersama. Capeee…

Multiply saya rasakan mampu menjadi penyedia rekening bersama  yang terpercaya. Hasil kerja samanya dengan ekspedisi JNE juga menambah rasa manis e-commerce di Multiply. Bukan apa-apa, JNE memberikan subsidi ongkos kirim (ongkir) via JNE Regular sampai 25ribu per alamat jika transaksi dilakukan via e-commerce multiply.

Mantaaaap.. !!! Saya jadi bisa promosi FREE ongkir ke pelanggan dan calon pelanggan Toko Salatiga yang berdomisili di Pulau Jawa dan beberapa kota di luar Jawa. Subsidi tersebut juga berlaku untuk tujuan luar Jawa, sehingga ongkir yang ditanggung pembeli sangat jauh lebih murah dan kecepatan sampai standart JNE. Bayangkan saja, ke Sulawesi ongkirnya cuma 10ribu-an. Manis banget kan?

Eh, kok saya jadi promosi ya? Ah, biar sajalah, toh kami puas dengan pelayanan yang diberikan. Saya, supplier, dan tentu saja customer. Oiya, omong-omong soal kepuasan ini, Multiply juga memberikan angket yang bisa kita isi setelah transaksi selesai diproses. Isinya tentang skala kepuasan kita dan sejauh mana kita akan mempromosikan Multiply sebagai salah satu e-commerce. Tentu selalu saya isi dengan nilai mendekati sempurna. Hehehehe

Melalui e-commerce Multiply ini saya juga belajar tentang transaksi e-commerce via internet banking. Mau tak mau harus belajar, sebenarnya. Itu yang dikatakan supplier saya yang langsung masuk daftar guru saya yang ke-sekian.

Saya menggunakan dua internet banking untuk toko online, Mandiri dan BCA. Ternyata, kedua bank tersebut menggunakan metode yang berbeda untuk transaksi e-commerce. Untuk Mandiri, saya harus standby token dan kartu debit, sedangkan untuk BCA saya hanya perlu menyediakan token. Prosedur yang harus saya lakukan pun sederhana, sehingga transaksi bisa selesai kurang dari 5 menit, asal koneksi internet lancar jaya.

Awalnya, tentu saja saya berguru dulu ke Eyang Gugel. Mempraktekkannya langsung membuat semua petunjuk teknis tersebut jauh lebih mudah. Learning by doing make something new getting easier, but we have to learning first. Saya selalu menekankan prinsip tersebut dalam diri saya. Betapa saya harus memahami ilmunya dulu baru saya bergerak ^_^

Jadi, selamat datang di era Multiply! ^_^

Menyapih dengan Cinta: Bukan Menyapih Biasa

Saya sedang senang menulis tentang Hanif. Rasanya inspirasai yang dia hadirkan dalam keseharian saya tak pernah ada habisnya. Lewat celotehnya, lewat gerakannya, dan lewat adanya Hanif melengkapi perjalanan hidup saya. Subhanallah..

Kali ini, saya akan berbagi tentang penyapihan Hanif. Ya, sekarang Hanif tepat 2 tahun dan sudah waktunya ia disapih. Alih-alih menyapih dengan aneka resep tradisional, saya memilih untuk mengajarkan Hanif menyapih dirinya sendiri. Saat cerita ini saya sampaikan kepada senior-senior saya dalam hal punya momongan (baca: ibu-ibu yang usianya lebih sepuh dari saya, para eyang, dan teman-temannya), tak jarang saya mendapati ekspresi heran dan pertanyaan, “Memang bisa?”

Alhamdulillah, saya lagi-lagi wajib merasa bersyukur karena hidup di jaman internet dan sekali lagi Hanif menjadi cucu Eyang Gugel. Informasi tentang menyapih diri sendiri bukan lagi hal sulit untuk dicari. Artinya, konsep menyapih diri sendiri bukanlah konsep yang baru di dunia parenting. Istilah kerennya adalah “Weaning with Love” alias menyapih dengan cinta. Mau disingkat WwL atau MdC? Hihihi.. gak penting yah *XD*

Kembali ke cerita Hanif. Kami memutuskan menggunakan metode ini jauh hari sebelum usia Hanif 2 tahun. Tepatnya saat Hanif mulai menginjak usia enam bulan. WwL memang bukan metode instan dan membutuhkan kesabaran luar biasa. Kami memulainya dengan jurus yang paling handal dalam setiap kesempatan: Komunikasi.

Ya, sejak Hanif dinyatakan lulus ASI eksklusif, kami mulai mengkomunikasikan tahap lanjutan yang akan ia hadapi kelak di usianya yang dua tahun.

“Hanif, usia dua tahun nanti, minum bobo (istilah Hanif untuk acara menyusu) berhenti ya. Minum bobo disimpan”

Kata-kata itu kami ulaaaang terus dan terus setiap ada kesempatan baik. Kesempatan baik yang kami pelajari adalah saat Hanif rileks di sela-sela acara mainnya, saat Hanif mengantuk menjelang tidur, dan saat Hanif mengumpulkan kesadaran sebangunnya ia dari tidur. Sedikit banyak, kami memang menggunakan hypnoparenting dengan memanfaatkan fluktuasi gelombang otak. Dan kami juga mengajarkan tentang komunikasi dua arah, baik verbal maupun nonverbal, kepada Hanif, bahkan sejak ia bayi merah keluar dari rumah sakit bersalin.

Hasilnya? Komunikasi Hanif luar biasa ekspresif dan komunikatif sebelum ia berusia 18 bulan, alhamdulillah. Termasuk soal “doktrin” minum bobo berhenti ini. Saat usia Hanif 12 bulan, doktrin minum bobo makin kami kuatkan dengan menambah keterangan, “Sekarang usia adik Hanif satu tahun.” Kami berharap, bawah sadar Hanif akan mempersiapkan diri dan muncul kesadaran dalam memori Hanif tentang usianya sekarang dan seberapa lama waktu yang dia punya untuk mendapatkan jatah mimik bobonya.

Respon yang Hanif berikan alhamdulillah selalu positif sesuai dengan umurnya. Saat ia belum setahun, responnya adalah memandang lekat mata saya seolah sedang menancapkan kata-kata hipnosis itu ke dalam benaknya. Saat ia berusia setahun, ia mulai mengeluarkan suara jawaban seperti “eh” atau “ehehe”. Benar-benar saya melihat betapa seorang bayi adalah pembelajar yang gigih dan siap menyerap apapun yang ia dapat dengan lahap. Begitupun dengan Hanif.

Usia Hanif 15 bulan, “kalimat sakti” penyapihan menjadi lebih panjang dibanding dengan start awalnya,”Hanif, usia adik sekarang 15 bulan. Usia dua tahun nanti, minum bobo berhenti ya. Minum bobo disimpan. Minum bobo ditutup.” Kalimat itu kami gunakan untuk menegaskan bakal ditutupnya akses Hanif ke minum bobo saat usianya dua tahun kelak. Frekuensi yang kami pilihpun semakin sering. Ulang, ulang, dan ulang terus.

Kalimat sakti itu makin panjang saat Hanif berusia 18 bulan. “Hanif, usia adik sekarang 18 bulan. Usia dua tahun nanti, minum bobo berhenti ya. Minum bobo disimpan. Minum bobo ditutup. Adik dua tahun bulan November insya Allah.” Hanif pun memberi respon positif saat kami tanya tentang kapan mimik bobo berhenti dan ditutup. Ia sudah bisa menjawab dua (tahun) dan No-embee (November). Alhamdulillah.

Kuatkan lagi dan lagi. Hanif pun masuk ke usia 20 bulan. Di usia ini, Hanif mulai saya kenalkan konsep pembatasan ruangan. Jika selama ini Hanif boleh minum bobo di manapun, on demand, mulai usia 20 bulan saya mulai menambahkan “doktrin” baru, yaitu,” Adik Hanif, minum bobo sekarang di kamar atas saja ya. Adik Hanif sudah besar. Malu.” Sehari dua hari, saya masih harus mengulang kata-kata tersebut saat Hanif minta minum bobo. ALhamdulillah hari ketiga, ia sudah tahu bahwa tempatnya minum bobo hanya boleh di kamar atas. Otomatis ia akan mengajak ke atas saat ingin minum bobo.

Pada usia ini, Hanif juga mulai kami kuatkan tentang adanya alternatif minuman pengganti ASI. “Kalau Hanif haus, minum air putih dari gelas ya. HAnif juga boleh minum susu sapi atau jus.” Hanifpun mulai jarang minta minum bobo saat siang hari dan lebih memilih minum dari gelas.

Mendekati usia 24 bulan alias 2 tahun, internalisasi stop minum bobo makin gencar. Kami meminta semua anggota keluarga untuk berpartisipasi mendoktrin Hanif dengan template kalimat yang sudah kami contohkan. Hal ini penting agar Hanif mendapatkan sebuah konsistensi pola pengasuhan dari siapapun di rumah kami. Kami juga menambahkan kalimat,”Minum bobo pahit. Adik berhenti minum bobo.”

Tak jarang, semenjak doktrin pahit ini kami munculkan, Hanif akan berhenti minum bobo dengan sendirinya dan berkata, “Minum bobo pahit.” HAnifpun enggan melanjutkan acara minum bobonya.

Sebulan sebelum 2 tahun, Hanif mulai merasakan kebutuhan untuk makin banyak minum selain ASI. Tak heran jika tengah malam ia akan terjaga dan minta minum air putih dari gelas. Tak sembarang gelas, ia ingin air putih yang dituang di gelas yang ada di lantai bawah rumah dan ia ingin digendong turun ke bawah. Saat saya menyiapkan gelas di kamar agar tak perlu wira-wiri naik turun tengah malam sambil menggendong Hanif yang hampir 13 kilo, Hanif menolak mentah-mentah.

Sesaat setelah turun dan minum, ia akan minta digendong selama beberapa saat dan tertidur dalam gendongan. Rupanya, ia sedang mencari pengalihan a la Hanif untuk mengatasi keinginannya untuk minum bobo.

Dan hari ini, Hanif tepat dua tahun. Ia sudah mau menerima pelukan saat ia ingin minum bobo. Dan setelah ia bersandari di dada ibunya, ia akan kembali bermain sambil berceloteh. Bagaimana dengan keinginan minum bobonya saat tidur? Masih! Hehehe.. Adakah praktisi WwL yang berkenan membagi jurus jitu untuk soal yang satu ini? Saya tunggu yaaa…

Life is Never Flat

Pernah mengikuti pertunjukan The Apprentice? Ya, reality show yang sempat meroket di salah satu televisi swasta itu merupakan salah satu acara televisi yang selalu kami tunggu di sela waktu belajar kami dulu. Dulu, sekitar tahun 2004 atau 2005, karena sekarang sudah tidak ada.

Reality show ini merupakan proyek milyuder Donald Trump dalam mencari “pegawai magang” untuk salah satu anak perusahaannya. Bagi para eksekutif muda, menjadi pegawai Donald Trump merupakan salah satu rejeki nomplok yang layak diperjuangkan dengan sepenuh hati. Siapa sih yang nggak kenal Donald Trump?

 Tahun 2004, Trump menjadi produser eksekutif dan pembawa acara di NBC acara realitas, The Apprentice, yang mana keduanya merupakan persaingan grup manajemen kelas atas. Kontestan ada yang dipecat atau terminasi dari permainan. Pemenang dari permainan ini akan dikontrak selama 1 tahun di perusahaan Trump dengan gaji 250 ribu dollar. Untuk satu tahun pertama, Trump mendapat bayaran sebesar 50.000 dollar per episode, namun karena acara tersebut sukses, ia kemudian dibayar 3 juta dollar per episode, dan ini menjadi orang pertelevisian dengan bayaran tertinggi. Pada tahun 2007 Trump mendapat penghargaan atas program The Apprentice dengan menerima sebuah bintang di Hollywood Walk of Fame (Wikipedia)

Tak heran, jika yang mendaftar sebagai peserta acara ini berderet-deret. Dan mereka bukanlah orang-orang yang hanya bermodalkan tampang keren atau uang banyak. Mereka adalah kaum intelek yang haus tantangan. Inilah mengapa kami selalu menantikan acara ini.

Ya, dalam acara ini kami belajar bagaimana menaklukkan sebuah tantangan besar dalam waktu yang terbatas. Misalkan tentang bagaimana mendapatkan angka penjualan tertinggi dari sebuah produk tertentu dalam waktu kurang dari 24 jam. Atau di lain waktu, tantangannya adalah mengadakan sebuah acara spesial bagi para penghuni panti asuhan. Semua tantangan harus dapat diselesaikan dengan perencanaan, pengorganisasian, tindakan, dan kontrol yang efektif. Seru banget!

Kami melihat dengan nyata bagaimana kekuatan network, negosiasi, kerja cerdas, dan komunikasi yang baik bekerja menaklukkan berbagai tantangan. Bagi saya, hal itu sangat menginspirasi dan rupanya tertanam dalam alam bawah sadar saya. Saya jadi sangat menyukai tantangan. Life is never flat!

Memilih resign dan menjadi full time momm makin mendukung rasa haus tantangan yang saya miliki. Betapa hidup yang sesungguhnya justru dimulai saat saya meninggalkan zona nyaman orang gajian yang kerja nggak kerja pun bakal digaji. Zona nyaman yang mengkotakkan saya dalam komunitas yang homogen dan rentan dengan energi negatif. Dan zona nyaman yang dengan sepenuh hati saya syukuri telah saya tinggalkan saat ini. Meskipun demikian, saya selalu bersyukur karena pernah mencicipi zona nyaman tersebut relatif lama. Banyak ilmu yang tidak akan saya dapatkan jika saya tidak pernah menadi pegawai kantoran. Jadi, memang segala sesuatu tercipta tanpa ada yang sia-sia. Tapi saat saya ditanya soal bahagia, saya lebih memilih kehidupan saya saat ini.

Ya, kehidupan saya saat ini memungkinkan saya bertemu dengan lebih banyak orang dan tantangan yang beragam. Tentang bagaimana menghadapi sikap sinis masyarakat terhadap lulusan universitas ternama yang memilih menjadi ibu rumah tangga. Tentang berdamai dengan diri sendiri saat keinginan sangat jauh melampaui kemampuan yang dimiliki. Tentang perjalanan bertemu kawan-kawan seperjuangan. Dan tentang-tentang yang lain. Just keep on moving and you’ll find a thing.. ^_^