Menyapih dengan Cinta: Bukan Menyapih Biasa

Saya sedang senang menulis tentang Hanif. Rasanya inspirasai yang dia hadirkan dalam keseharian saya tak pernah ada habisnya. Lewat celotehnya, lewat gerakannya, dan lewat adanya Hanif melengkapi perjalanan hidup saya. Subhanallah..

Kali ini, saya akan berbagi tentang penyapihan Hanif. Ya, sekarang Hanif tepat 2 tahun dan sudah waktunya ia disapih. Alih-alih menyapih dengan aneka resep tradisional, saya memilih untuk mengajarkan Hanif menyapih dirinya sendiri. Saat cerita ini saya sampaikan kepada senior-senior saya dalam hal punya momongan (baca: ibu-ibu yang usianya lebih sepuh dari saya, para eyang, dan teman-temannya), tak jarang saya mendapati ekspresi heran dan pertanyaan, “Memang bisa?”

Alhamdulillah, saya lagi-lagi wajib merasa bersyukur karena hidup di jaman internet dan sekali lagi Hanif menjadi cucu Eyang Gugel. Informasi tentang menyapih diri sendiri bukan lagi hal sulit untuk dicari. Artinya, konsep menyapih diri sendiri bukanlah konsep yang baru di dunia parenting. Istilah kerennya adalah “Weaning with Love” alias menyapih dengan cinta. Mau disingkat WwL atau MdC? Hihihi.. gak penting yah *XD*

Kembali ke cerita Hanif. Kami memutuskan menggunakan metode ini jauh hari sebelum usia Hanif 2 tahun. Tepatnya saat Hanif mulai menginjak usia enam bulan. WwL memang bukan metode instan dan membutuhkan kesabaran luar biasa. Kami memulainya dengan jurus yang paling handal dalam setiap kesempatan: Komunikasi.

Ya, sejak Hanif dinyatakan lulus ASI eksklusif, kami mulai mengkomunikasikan tahap lanjutan yang akan ia hadapi kelak di usianya yang dua tahun.

“Hanif, usia dua tahun nanti, minum bobo (istilah Hanif untuk acara menyusu) berhenti ya. Minum bobo disimpan”

Kata-kata itu kami ulaaaang terus dan terus setiap ada kesempatan baik. Kesempatan baik yang kami pelajari adalah saat Hanif rileks di sela-sela acara mainnya, saat Hanif mengantuk menjelang tidur, dan saat Hanif mengumpulkan kesadaran sebangunnya ia dari tidur. Sedikit banyak, kami memang menggunakan hypnoparenting dengan memanfaatkan fluktuasi gelombang otak. Dan kami juga mengajarkan tentang komunikasi dua arah, baik verbal maupun nonverbal, kepada Hanif, bahkan sejak ia bayi merah keluar dari rumah sakit bersalin.

Hasilnya? Komunikasi Hanif luar biasa ekspresif dan komunikatif sebelum ia berusia 18 bulan, alhamdulillah. Termasuk soal “doktrin” minum bobo berhenti ini. Saat usia Hanif 12 bulan, doktrin minum bobo makin kami kuatkan dengan menambah keterangan, “Sekarang usia adik Hanif satu tahun.” Kami berharap, bawah sadar Hanif akan mempersiapkan diri dan muncul kesadaran dalam memori Hanif tentang usianya sekarang dan seberapa lama waktu yang dia punya untuk mendapatkan jatah mimik bobonya.

Respon yang Hanif berikan alhamdulillah selalu positif sesuai dengan umurnya. Saat ia belum setahun, responnya adalah memandang lekat mata saya seolah sedang menancapkan kata-kata hipnosis itu ke dalam benaknya. Saat ia berusia setahun, ia mulai mengeluarkan suara jawaban seperti “eh” atau “ehehe”. Benar-benar saya melihat betapa seorang bayi adalah pembelajar yang gigih dan siap menyerap apapun yang ia dapat dengan lahap. Begitupun dengan Hanif.

Usia Hanif 15 bulan, “kalimat sakti” penyapihan menjadi lebih panjang dibanding dengan start awalnya,”Hanif, usia adik sekarang 15 bulan. Usia dua tahun nanti, minum bobo berhenti ya. Minum bobo disimpan. Minum bobo ditutup.” Kalimat itu kami gunakan untuk menegaskan bakal ditutupnya akses Hanif ke minum bobo saat usianya dua tahun kelak. Frekuensi yang kami pilihpun semakin sering. Ulang, ulang, dan ulang terus.

Kalimat sakti itu makin panjang saat Hanif berusia 18 bulan. “Hanif, usia adik sekarang 18 bulan. Usia dua tahun nanti, minum bobo berhenti ya. Minum bobo disimpan. Minum bobo ditutup. Adik dua tahun bulan November insya Allah.” Hanif pun memberi respon positif saat kami tanya tentang kapan mimik bobo berhenti dan ditutup. Ia sudah bisa menjawab dua (tahun) dan No-embee (November). Alhamdulillah.

Kuatkan lagi dan lagi. Hanif pun masuk ke usia 20 bulan. Di usia ini, Hanif mulai saya kenalkan konsep pembatasan ruangan. Jika selama ini Hanif boleh minum bobo di manapun, on demand, mulai usia 20 bulan saya mulai menambahkan “doktrin” baru, yaitu,” Adik Hanif, minum bobo sekarang di kamar atas saja ya. Adik Hanif sudah besar. Malu.” Sehari dua hari, saya masih harus mengulang kata-kata tersebut saat Hanif minta minum bobo. ALhamdulillah hari ketiga, ia sudah tahu bahwa tempatnya minum bobo hanya boleh di kamar atas. Otomatis ia akan mengajak ke atas saat ingin minum bobo.

Pada usia ini, Hanif juga mulai kami kuatkan tentang adanya alternatif minuman pengganti ASI. “Kalau Hanif haus, minum air putih dari gelas ya. HAnif juga boleh minum susu sapi atau jus.” Hanifpun mulai jarang minta minum bobo saat siang hari dan lebih memilih minum dari gelas.

Mendekati usia 24 bulan alias 2 tahun, internalisasi stop minum bobo makin gencar. Kami meminta semua anggota keluarga untuk berpartisipasi mendoktrin Hanif dengan template kalimat yang sudah kami contohkan. Hal ini penting agar Hanif mendapatkan sebuah konsistensi pola pengasuhan dari siapapun di rumah kami. Kami juga menambahkan kalimat,”Minum bobo pahit. Adik berhenti minum bobo.”

Tak jarang, semenjak doktrin pahit ini kami munculkan, Hanif akan berhenti minum bobo dengan sendirinya dan berkata, “Minum bobo pahit.” HAnifpun enggan melanjutkan acara minum bobonya.

Sebulan sebelum 2 tahun, Hanif mulai merasakan kebutuhan untuk makin banyak minum selain ASI. Tak heran jika tengah malam ia akan terjaga dan minta minum air putih dari gelas. Tak sembarang gelas, ia ingin air putih yang dituang di gelas yang ada di lantai bawah rumah dan ia ingin digendong turun ke bawah. Saat saya menyiapkan gelas di kamar agar tak perlu wira-wiri naik turun tengah malam sambil menggendong Hanif yang hampir 13 kilo, Hanif menolak mentah-mentah.

Sesaat setelah turun dan minum, ia akan minta digendong selama beberapa saat dan tertidur dalam gendongan. Rupanya, ia sedang mencari pengalihan a la Hanif untuk mengatasi keinginannya untuk minum bobo.

Dan hari ini, Hanif tepat dua tahun. Ia sudah mau menerima pelukan saat ia ingin minum bobo. Dan setelah ia bersandari di dada ibunya, ia akan kembali bermain sambil berceloteh. Bagaimana dengan keinginan minum bobonya saat tidur? Masih! Hehehe.. Adakah praktisi WwL yang berkenan membagi jurus jitu untuk soal yang satu ini? Saya tunggu yaaa…

2 thoughts on “Menyapih dengan Cinta: Bukan Menyapih Biasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s