Secuil Pemaknaan (dan Resolusi)

Seorang remaja seusia SMP naik ke angkot yang kami naiki. Perempuan, agak bongsor untuk remaja seusianya, berkerudung rapi. Tak lupa bros kain menghias kerudung hijaunya. Ia tak sendiri. Seorang perempuan usia tiga puluhan menemaninya. Perempuan berparas sederhana dan Jawa banget. Coklat tua kulitnya, pendek tubuhnya. Sekilas, tak ada yang istimewa dari mereka.

Hingga si remaja mulai berceloteh.

“Ke..! Ke!” serunya. Nada tinggi dan terpatah-patah.

“Ke rumah, kita mau pulang,” kata si wanita.

“Di.. ! Dii..! Kee!!” balas si remaja.

“Tadi sekolah, sekarang mau pulang ke rumah,” terdengar lagi jawabnya.

Barulah aku sadar bahwa teman seperjalanku kali ini adalah orang-orang istimewa. Seorang remaja dengan kebutuhan khusus dan pengasuhnya. Awalnya saya berpikir sang wanita adalah ibunya karena ia begitu sabar meladeni celoteh dalam bahasa ajaib semacam itu. Tapi nampaknya pikiran saya keliru. Mereka sama sekali tidak mirip. Atau saya memang keliru dua kali. Ah, sudahlah. Bukan itu yang ingin saya ceritakan di sini.

Ya, saya langsung memandang mereka istimewa. Istimewa karena si remaja berkebutuhan khusus ini begitu antusias menceritakan pengalamannya di sekolah. Bahwa ia punya teman bernama Mbak Yanti dan punya guru bernama Pak Yadi. Bahwa Mbak Yanti tadi pergi foto copy. Bahwa mereka akan pulang ke rumah. Semua itu ia sampaikan dalam bahasa ajaibnya yang hanya sepatah dua patah kata. Tapi, ia tampak begitu bahagia. Sesekali ia tertawa riang saat pengasuhnya menjawab ceritanya dengan sama riangnya.  Dan untuk tertawa ini, ia benar-benar tertawa lepas selayaknya remaja normal lainnya. Hati saya meleleh.

Begitupun saat melihat sang pengasuh yang luar biasa sabar menjawab kalimat-kalimat yang dilontarkan si remaja. Sungguh tidak ada kejengkelan atau keterpaksaan terlihat dalam meladeni celoteh seorang remaja berkebutuhan khusus riang ini.  Orang ini sungguh istimewa. Pengasuh yang mungkin tak berpendidikan tinggi namun memiliki segunung kekayaan hati.

Ya, dua tahun belajar menjadi full time mother untuk Hanif membuat saya sedikit banyak paham betapa beratnya mengasuh, mendidik, dan membesarkan seorang anak. Itulah mengapa saya memandang sang pengasuh sebagai sosok istimewa yang begitu telaten menjadi sahabat baik si remaja.  Menyelami hati anak berkebutuhan khusus tentu mengharuskan ia memiliki kesabaran khusus dalam melakoni perannya.

Sekali lagi, acara jalan-jalan mengantar barang dagangan bersama Hanif – dan grandma karena kali ini beliau ingin ikut  – memberikan oleh-oleh berharga bernama makna. Makna yang begitu dalam tentang kesabaran pengasuhan yang harus saya miliki sejengkal lebih panjang. Oleh-oleh yang saya peroleh melalui sekolah kehidupan bernama kendaraan umum, melengkapi kumpulan oleh-oleh saya sebelumnya (baca di sini). Bagaimana dengan jalan-jalan Anda?

2 thoughts on “Secuil Pemaknaan (dan Resolusi)

  1. bagus sekalii masyaAllah…bolehkah ana repost di ummiummi.com? kalau boleh tolong kasih biodata ringkas ya…buat ditaro dibawah tulisan (author…)

    masyaAllah barakallahu fiik.

    • silakan, mbak..

      Niken Tiara Fithri Alimah. Seorang pegawai kantoran yang memilih meninggalkan dunia asisten dosen yang sudah ditekuni sejak 2004 hingga 2008, resign sesaat setelah diangkat sebagai komandan subdivisi paling sibuk di Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor pada tahun 2010, dan beralih profesi menjadi ibu rumah tangga. Istri dr. Hari Nugroho dan ibu dari Hanif Abdurrahman (2 tahun) ini sedang belajar menjadi ibu rumah tangga profesional di Institut Ibu Profesional (www.ibuprofesional.com) sambil menekuni proyek-proyek penulisan bukunya dan menggerakkan Toko Salatiga: Toko Online Utama di Salatiga sebagai mompreneur (http://tokosalatiga.blogspot.com).

      Aktif di Komunitas Popok Kain (Kompoka), Recommended Online Shop, dan https://nikentfalimah.wordpress.com. Tulisan-tulisan yang telah diterbitkan antara lain adalah: Bete Boleh, Tapiii.. (Suara Merdeka), #I Care (Nulisbuku & Kimia Farma), Desa 1000 Cerita (Nulisbuku), Kisah Ramadhan (Nulisbuku), Read to Share (Fimela), Entrepreneur Story (Nulisbuku & Es Teler 77), Bye-Bye Office (MIC Publishing), dan masih banyak lagi. Senang sekali berkorespondensi lewat nikentiara@gmail.com atau Facebook Niken Tf Alimah.

      Wa anti jazakillah khoiron wa barokallahu fiik ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s