Kunjungan untuk Selamanya

Gambar“Niken, kamu sudah sampai mana?” suara lincah dan renyah itu terdengar dari handphone jadul saya.

“Sebentar, Mbak.. Saya masih di angkot terakhir. Ditunggu yaa.. Sebentar lagi insya Allah sampai,” saya mencoba terdengar tenang. Padahal, sungguh, saya baru sekali ini naik turun bis dan angkot sendirian dari Bogor ke Bekasi dengan berbekal sms patokan-patokan yang ia berikan. Dagdigdug? Tentu saja!

***

Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 2005, hampir 8 tahun lalu. Ya, ternyata hampir delapan tahun berlalu sejak saya mengenalnya melalui email yang diteruskan Nonadita di milis teman-teman kuliah. Email itu bertutur tentang seorang Hesti Nurmawati yang kerap dipanggil dengan Titi – saya kemudian memanggilnya Mbak Hesti atau Mbak Titi. Jika saya tidak salah ingat, email itu bertajuk “Teman untuk Titi”.

Tak muluk-muluk isi email itu. Mengajak kami yang membacanya untuk sekadar berkirim sms kepada Mbak Titi yang sangat bersemangat dan bercita-cita besar dengan segala keterbatasan fisiknya. Mbak Titi merupakan penderita radang sendi selama bertahun-tahun. Kronis.

Bayangkanlah saat sendi kakimu begitu kaku dan sulit untuk sekadar digerakkan. Apalagi berjalan dan berlari. Bayangkanlah saat jemari tanganmu membeku seperti batu hingga untuk memegang sendokpun engkau harus menahan iri pada seorang balita. Bayangkanlah saat gigimu merapuh bagai kayu dimakan rayap yang begitu tersentuh sedikit saja akan tanggal atau patah. Seperti itulah kehidupan Mbak Hesti semenjak ia menjadi korban kecelakaan saat ia SMU. Ironis.

Saya memutuskan untuk berjumpa dengan Mbak Hesti. Tak lama setelah saya sendiri menuntaskan operasi dan terapi tumor. Saya tidak tahu apakah di masa mendatang saya masih diberi kesempatan untuk bertatap muka dengannya. Kesadaran itu serta merta muncul selepas saya merasakan sakit yang mungkin tak seberapa dibanding sakitnya Mbak Hesti. Saya hanya ingin melakukan sebanyak mungkin hal baik selagi saya diberi kesempatan untuk itu.

Menjelang hari perjumpaan itu, ada saja “pesan” yang sepertinya khusus diantar untuk saya. Tentang keutamaan menengok orang sakit,tentang keutamaan mengunjungi saudara, tentang keutamaan berbagi, dan tentang keutamaan  orang sakit. Sampai saat ini saya ingat benar tentang itu semua. Rasanya saya menjadi berdebar-debar dengan sosok Mbak Hesti. Saya merasa akan bertemu dengan orang yang luar biasa.

Benarlah, saya memang menjumpai orang yang luar biasa. Luar biasa luar dalam, bahkan.

Nafas saya nyaris tersentak saat melihatnya pertama kali. Sosok bertangan kaki kurus – karena hampir tidak memungkinkan untuk aktivitas fisik – mencoba duduk bersandarkan bantal di tempat tidur. Berkaca mata tebal, bergigi nyaris ompong.

Kaki saya mendadak gemetaran saat melangkahkan kaki mendekatinya. Menyentuh lembut  tangannya yang kaku terulur mengajak bersalaman. Mendekati wajah berkerudung yang tersenyum riang menyambutku hangat. Orang ini sungguh memiliki aura positif yang luar biasa kuat.

Pandangan mata saya tiba-tiba mengabur saat memandangi Mbak Hesti. Inilah Mbak Hesti, Kawan. Mbak Hesti yang sering berbagi dengan saya lewat sms atau telepon. Suara renyah dan riang itu miliknya. Pandangan-pandangan kehidupan yang selalu positif itu juga miliknya. Tawa lepas itu juga miliknya. Apa yang ada di hadapan mata saya membuat saya harus membenamkan kesadaran bahwa ia lebih dari apa yang terlihat oleh kedua  mata ini.

Tenyata, apa yang saya bayangkan meleset jauh. Ia lebih hebat dari pesan-pesan positif yang ia sampaikan lewat sms selama ini. Ia jauh lebih tegar dari suara renyah a la penyiar radio yang selalu ia perdengarkan sejauh ini. Dan ia jauh lebih sakit dari yang saya pahami selama ini.

Hari-hari Mbak Hesti nyaris seluruhnya ada di tempat tidur. Makan, minum, sholat, membaca buku, sms, telepon, menulis (sedapat-dapatnya), melihat televisi, dan mengasuh keponakan-keponakan yang dititipkan kepadanya. Untuk sekadar menulis smspun Mbak Hesti harus berjuang keras memijit tuts demi tuts keypad dengan tangannya yang senantiasa terkepal. Berpindah tempat ke kamar mandi pun ia harus dibantu oleh keponakannya, Icha. Maka nikmat manakah yang hendak engkau dustakan, wahai diriku?

***

Wajah Mbak Hesti terlihat bahagia sekali. Ceritanya tak putus-putus tentang masa kecilnya, cita-citanya, teman-temannya, dan semua yang ia rasakan. Ia bertutur tentang kenangannya saat menajdi penyiar radio di Tegal. Ia juga bertutur tentang berbagai wartawan berbagai media yang silih berganti memintanya berkisah tentang sakitnya – dan hikmah sakitnya. Ia juga bertutur tentang berbagai undangan talk show yang membicarakan sakitnya. Juga tentang pensiun dini yang harus diambilnya dengan penuh kesadaran di usia yang belum ada 25 tahun. Tentang keluarga besarnya yang menitipkan anak-anak justru kepadanya padahal ia sudah menyadarkan mereka akan keterbatasannya. Mimpinya menulis buku, mimpinya mengantar Icha menjadi “orang”, dan mimipinya tentang bahagia yang sesungguhnya.

Terselip rasa malu, apakah kunjungan saya  ini terlalu berlebihan hingga ia sebahagia itu? Oleh-oleh yang saya bawapun sangat seadanya. Buku pegangan saya saat sakit. Berjudul “Berbahagialah Wahai Orang Sakit” karya Dr. Muhammad ar Rukban dan Dr. Said bin Ali bin Wahf al Qathani. Terus terang saya sempat bingung dengan apa yang akan saya bawa, namun sekali lagi “pesan” itu datang dengan mengarahkan pandangan mata pada koleksi buku yang menemani hari-hari saya saat sakit.

Jika engkau mengira saya sedang menghibur Mbak Hesti dengan kunjungan saya itu, engkau salah besar, Kawan. Justru sayalah yang sejatinya sedang mereguk banyak kekuatan dari Mbak Hesti.  Berat sekali menyebut sosok tegar berusia 36 tahun yang menolak berbagai bantuan biaya berobat dengan dalih lebih banyak yang lebih berhak daripada dirinya itu sebagai sosok penyandang disabilitas.

Bangga sekali saat ia bertutur selayaknya saya ini sahabat karib yang telah ia kenal benar sejak bertahun-tahun silam. Padahal, sungguh, kami hanya saling rajin bertegur sapa lewat sms, berbagi energi positif, dan baru bertatap muka sekali itu di rumah petak mungilnya di Bekasi. Kunjungan itu seperti sebuah pintu masuk ke sebuah dimensi kekekalan sebuah jalinan persahabatan. Kunjungan untuk selamanya!

Ya, kunjungan itu benar-benar menorehkan kenangan seumur hidup bagi saya – dan mungkin Mbak Hesti juga. Sampai saat ini, kami masih sering bertukar kabar. Saat saya akan menikahpun, ia yang saya beri tahu pertama kalinya. Entah, saya merasakan kelekatan yang unik soal pertemanan dengan Mbak Hesti. Tidak, tidak, saya tidak akan menyebutnya penyandang disabilitas. Mbak Hesti adalah salah satu sahabat sekaligus guru bagi saya. Sebenar-benarnya sahabat, sebenar-benarnya guru.

Hingga hari ini, sudah dua puluh lima tahun Mbak Hesti berkarib dengan berbagai obat-obatan untuk meredakan nyeri sendinya, ngilu giginya, dentaman denyut jantungnya yang tiba-tiba nyaris tak terdeteksi, tekanan darahnya yang rendah, dan segala macam ini itu yang tak sanggup saya membayangkan bagaimana rasanya. Apalagi biayanya. DUA PULUH LIMA TAHUN, Kawan. Bukankah Mbak Hesti adalah sosok yang luar biasa tangguh?

Limpahilah ia dengan doa, Kawan. Agar ia dimudahkan mendapatkan samudera kesabaran dan keikhlasan. Agar setiap untaian doa kebaikan darinya melejit ke Arasy dengan mudah.

Limpahilah ia dengan doa, Kawan. Agar ia selalu menggenggam erat janji Allah. Dia tidak akan pernah membebani hambaNya melebihi kemampuan mereka. Doakan kebaikan untuknya selalu, Kawan.

Teruntuk seorang sahabat hebat: Hesti Nurmawati.

Salatiga, 26 Desember 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s