Weaning with Love: Bukan Menyapih Biasa (bag. 2)

Kekaguman besar yang masih saya pertahankan adalah soal keberhasilan banyak teman saya untuk menyapih dengan cinta (weaning with love) saat putra putri mereka berusia sekitar dua tahun. Saya merasakan benar tantangan yang besar untuk itu.

Hanif sekarang mendekati usia 28 bulan dan masih ASI. Wajar bukan jika saya terkagum-kagum dengan mereka yang berhasil menyapih tanpa adegan berurai air mata, sakit panas, payudara bengkak, dan sebagainya?

Proses penyapihan Hanif sendiri bukannya tidak ada kemajuan. Banyak sekali kemajuannya. Hanif mulai paham rasa malu untuk meminta ASi di tempat umum. Ia pasti minta disembunyikan di balik kerudung besar ibunya. Atau, ia juga mulai bisa mengalihkan rasa ingin ASI-nya dengan aktivitas lain sampai batas waktu lebih dari satu jam. Dongeng terbukti sangat manjur berguna sebagai pengalih yang cukup lama untuk keinginan ASI Hanif. Dan yang paling penting menurut saya adalah sampai sekarang Hanif selamat dari dot.

Ya, sejak bayi memang Hanif tidak saya perkenalkan dengan dot. Aktivitas nge-dot sama sekali tidak ada dalam kamusnya. Dan Hanif juga tidak menunjukkan tanda-tanda keinginan untuk nge-dot meskipun ia melihat banyak teman sebayanya yang tak terpisahkan dengan dot.

Dalam soal menyapih ini, saya juga sama sekali tidak terpikir untuk menggunakan dot sebagai pengalih keinginan ASI Hanif. Saya yakin dengan sangat bahwa menggunakan dot sebagai pengganti ASI merupakan langkah mundur yang sejatinya hanya menunda proses penyapihan itu sendiri. Terlepas dari dampak negative dot yang sudah banyak disampaikan oleh pakar peneliti anak, bagi saya dot sama sekali bukan solusi keren.

Jadi, kembali ke menyapih dengan cinta, akhirnya saya meralat kekaguman saya kepada teman-teman yang mengklaim sukses menyapih dengan cinta tapi jelas-jelas memberikan dot sebagai gantinya. Biarlah saya teguh menggunakan cara persuasive ke Hanif yang mungkin dinilai lambat bagi sebagian orang dan tidak manjur, asalkan penyapihan yang saya peroleh nantinya benar-benar sempurna. Menyapih adalah melepas ketergantungan atas apapun. Itulah definisi yang akhirnya saya rumuskan. Dan coba saya jalankan dengan penuh kesabaran. Semoga dimudahkan.

One thought on “Weaning with Love: Bukan Menyapih Biasa (bag. 2)

  1. Ping-balik: Sukses Menyapih dengan Cinta: Bukan Menyapih Biasa (Bag. Akhir) | ..::menulislah::..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s