April Festival Part 2: Berbagi di Panti bersama Ustadz Fauzil Adhim

Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah… Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Segala puji bagi Allah atas semua yang telah terjadi.

Gambar

Rasanya tak habis-habisnya syukur terpanjatkan begitu kaki sudah bisa selonjoran di rumah selepas acara “Berbagi di Panti” pada Ahad, 14 April 2013. Rasa syukur bahwa setelah pejuangan panjang itu (baca: April Festival: Cerita di Balik Layar),  semuanya berakhir begitu indah.

Bagaimana  tidak?

Jam tujuh pagi, mbak Widi — yang kami plotkan bertindak sebagai MCacara tersebut —  datang ke rumah saya dan memohon maaf tidak dapat hadir karena putranya – Hanif (4 tahun) – sakit. Switch to plan B.

Jam delapan pagi, Bu Septi – yang kami plotkan memberikan sambutan atas nama Institut Ibu Profesional – mengirim kabar dan memohon maaf karena belum sehat benar setelah sejak Kamis sebelumnya sakit. Switch to plan C. Matur nuwun mbak Epri atas kesediaannya menjadi salah satu solusi pada plan C.

Jam sembilan kurang lima belas, Mbak Dian Pamungkas —  yang kami minta bantuannya untuk menjadi tim pengantar jemput Ustadz Fauzil Adhim – mengirim kabar via sms bahwa rombongan sudah sampai, padahal para undangan (adik-adik panti asuhan, pengurus panti, dan undangan lain) baru muncul satu dua orangsaja. Switch to plan D. Matur nuwun buat teman-teman sukarelawan IIP Salatiga yang sekali lagi menunjukkan kekompakan yang keren banget.

Gambar

Jam sepuluh tepat, Ustaz Fauzil sudah selesai memberikan materi saresehan bertema “Kekuatan Cita-Cita” dan tak lama lagi pasti sampai di penghujung acara, padahal catering untuk makan siang belum ada tanda-tanda kehadirannya. Wew, switch to plan E. Sekali lagi, teman-teman di IIP Salatiga luar biasa kompak dan keren dalam saling membantu mensukseskan acara ini. Banyak jempol buat teman-teman IIP Salatiga!!!

***

Melihat senyum, tawa, dan binar-binar mata asih-adik di panti asuhan saat menerima doorprize, bingkisan, dan antusiasme ketika makan siang bersama sungguh merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri di acara ini. Saya sungguh bersyukur bahwa acara ini mendapat dukungan luar biasa dari teman-teman. Dukungan dari teman-teman di Institut Ibu Profesional Salatiga sangat luar biasa! Mbak Dian Farida Anies dan  Mbak Nunuk yang selalu all out sejak persiapan, Mbak Dewi, Mbak Wido, Mbak Novi, Mbak Mita, Mbak Ria dan Mbak Ula yang sedang hamil, Mbak Epri, dan Mbak Widi: benar-benar tim dream realizer yang HEBAT!

Gambar

Yang mengejutkan adalah dukungan dari teman-teman di luar Institut Ibu Profesional, dari Solo, Jakarta, Bogor, dan Tangerang. Subhanallah.. Sungguh jika Allah telah member jalan, maka jalan yang Ia berikan adalah jalan yang terbaik. Semoga niat baik dan kerja keras semua pihak yang mendukung acara ini mendapatkan balasan kebaikan yang berlimpah yah.

Alhamdulillah, donasi yang terkumpul untuk acara ini total berjumlah Rp. 3.595.000,- ditambah 21 mukena, 120 kotak snack, 100 porsi makan siang, 5 lusin pulpen, 5 lusin pensil, 58 buah paper bag, 80 buah coklat batang, dan 58 buah pensil hias. Dana yang terkumpul sebagian digunakan untuk pembelian bingkisan pembicara, isi bingkisan untuk adik-adik di panti, dan sisanya berupa dana diserahkan kepada pengurus panti untuk dapat digunakan sesuai kebutuhan panti asuhan. Semoga menjadi amal kebaikan bagi para donatur dan sukarelawan. Aamiin.

***

Siapa tak kenal Ustadz Fauzil Adhim? Saat penulis banyak buku best seller tentang Islamic terparenting ini mulai memberikan materi tentang hakikat cita-cita seorang manusia dengan bahasa yang lugas, tegas, dan penuh semangat, hati terasa begitu bergetar.

Cita-cita paling utama dari seorang muslim adalah mendapatkan ridha Allah yang Maha Menguasai segalanya. Saat kita menulis,menulislah dengan mengharap ridha Allah. Semoga buah dari tulisan kita memberi manfaat kepada banyak orang dan makin mendekatkan orang kepada keridhaan Allah. Saat kita belajar,belajarlah  dengan mengharap ridha Allah. Semoga ilmu yang kita dapatkan adalah ilmu-ilmu yang akan member manfaat kepada kehidupan kita dan makin mendekatkan kita kepada keridhaan Allah. Dan banyak lagi. Apapun yang kita lakukan, teruslah meniatkannya untuk mendapat keridhaan Allah.

Gambar

Itu adalah sepenggal untaian pencerahan yang beliau sampaikan pada acara tersebut. Sangat membangkitkan semangat untuk bergerak menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga.

***

Pada event ini, kami mendapat tamu kejutan yang tak disangka, yaitu Mbak Lia dari Malang, Beliau ini sangat ingin belajar tentang kegiatan-kegiatan Institut Ibu Profesional dan rela menempuh perjalanan jauh dari Malang ke Salatiga (transit dulu di Solo) agar dapat menyelenggarakan pula Institut Ibu Profesional di Malang. Padahal beliau ini sudah berpengalaman handle Jarimatika di Malang lho. Jadilah kami saling bertukar pengalaman dan tips trik melakukan ini itu selama acara ramah tamah.

After all, semoga sukses, Mbak Lia. Kami tunggu kabar baik terbarunya yaaa…

Gambar

Daaan.. sampai jumpa di event Institut Ibu Profesional Salatiga lainnya yaaa.. Ma’as salaamaaa! (Good bye a la Hanif. Hehehe)

Iklan

April Festival Part 1: Berkreasi dengan Yoghurt

Yoghurt? Apa itu?

Beberapa dari kita mungkin melontarkan pertanyaan tersebut karena balum akrabnya kita dengan minuman unik yang satu ini. Bahkan, yang pernah mengicipnya pun tak jarang masih mengerenyitkan kening saat yoghurt disebut. Yang terbayang adalah minuman berasa asam dan aneh di lidah.

Eits, tunggu dulu! Yoghurt sebagai salah satu olahan susu tidak melulu asam kok. Mau tahu?

Institut Ibu Profesional Salatiga pada 9 April 2013 lalu mengadakan Field Trip ke home industry yoghurt yang ada di Pulutan – Salatiga. Ibu Rini selaku owner Yoghurt Memory 84 ini dengan ramah membagikan ilmunya tentang aneka kreasi yoghurt yang menepis citra asam dari yoghurt. Bahkan tak tanggung-tanggung, kami disuguh langsung berbagai hidangan berbahan yoghurt seperti risoles rogout saus yoghurt, mendoan yoghurt, tahu petis yoghurt, puding yoghurt, es krim yoghurt, dan yoghurt drink. Wowww, kami serasa berpestaaa!

Gambarl

Ternyata yoghurt itu sendiri menyimpan banyak manfaat lho. Sedikitnya ada sepuluh manfaat yoghurt yang disebutkan Ibu Rini. Fakta menariknya, yoghurt ini aman untuk penderita maag karena asam yang terbentuk pada yoghurt adalah asam laktat yang justru menyembuhkan luka pada dinding lambung penderita maag. Mbak Nikmah yang sedang sakit maag langsung “Cling!” (baca: bersiap memborong yoghurt di sesi belanja. Hihihihi)

Proses pembuatan yoghurt yang dilakukan Ibu Rini awalnya benar-benar berbasis peralatan rumah tangga. Artinya, pembuatan yoghurt bisa dilakukan oleh siapa saja di rumah. Beliau menjelaskan langkah-langkah pembuatan yoghurt dari susu murni sampai menjadi yoghurt siap saji. Tentu saja, untuk mencapai kualitas yoghurt seperti yang Ibu Rini hasilkan saat ini, percobaan demi percobaan tidak lelah dilakukan. Namun, jangan khawatir, usaha Ibu Rini saat ini sudah sanggup menyediakan bibit bakteri Lactobacillus bulgaricus untuk menjadi starter pembuatan yoghurt dari rumah.

Gambar

Fakta menarik dari yoghurt ini adalah tidak adanya hasil sampingan yang terbuang. Meskipun saat finishing yoghurt dilakukan penyaringan dari ampas susu dan kotoran-kotoran yang mungkin masuk selama pembuatan, hasil saringan tersebut masih dapat digunakan sebagai masker wajah yang bermanfaat melembutkan dan melembabkan wajah lho. Siapa mauuu?

Selepas dari ruang tamu untuk menerima penjelasan seputar yoghurt, kami beranjak ke dapur untuk mulai praktek membuat hidangan dari yoghurt. Hidangan yang kami buat adalah puding yoghurt toping whipped cream and chocolate serta es krim yoghurt. Sederhana sekali, namun kesan yang ditampilkan adalah beda. Prinsip dasarnya sama dengan pembuatan puding dan es kripm biasa. Namun jika biasanya yang digunakan adalah susu, maka takaran susu kali ini hanya setengahnya dan digantikan dengan yoghurt plain. Jadi, separuh susu dan separuh yoghurt.

Gambar

Sambil  menunggu puding siap hidang, kami tidak melewatkan menjelajah etalase toko Yoghurt Memory 84 yang penuh dengan yoghurt aneka rasa, es krim aneka rasa, dan risoles. Untung saja stok yang disediakan lebih dari cukup, rupanya tak sedikit dari kami yang langsung muncul insting wirausahanya dan langsung mengambil banyak untuk dijual kembali. Hihihihi.

Field Trip ke home industry yoghurt kali ini diselenggarakan dalam dua sesi, yaitu sesi pagi dan siang. Alhamdulillah, peserta kuliah Institut Ibu Profesional Salatiga kelas sore sangat bersemangat menyambut kesempatan belajar ini karena ada alternatif penyelenggaraan selepas jam kerja. Meskipun sesi siang diguyur hujan lebat, semangat ibu-ibu kelas sore sungguh luar biasa. Mereka tetap berangkat dan semangat! Saluuut!

Gambar

Terima kasih banyak kepada Ibu Rini dari Yoghurt Memory 84 atas sharing ilmunya, mbak Nunuk yang mengawal sesi pagi dan siang, dan seluruh peserta Field Trip Institut Ibu Profesional Salatiga. Sampai jumpa di Filed Trip berikutnya yaaa!

April Festival: Cerita di Balik Layar

April ini kami di Institut Ibu Profesional Salatiga membuat event “April Festival” yang terdiri dari empat event terpisah, yaitu Firld Trip, Saresehan, dan 2 buah lomba online. Latar belakang awalnya adalah untuk variasi agar kegiatan bulanan kami tidak hanya kuliah umum saja. Selama ini, kegiatan bulanan kami memang hanya kuliah umum dan terbaca indikasi kebosanan teman-teman menjadi panitia yang harus bertanggung jawab dan semuanya ingin menjadi peserta yang  tinggal duduk dan menuntut ilmu saja. Wew, belum bisa begitu yah..

Gambar

Jadilah, di awal kepengurusan baru, kami membuat kalender kegiatan setahun, dimana kuliah umum hanya diadakan dua bulan sekali dan di sela-selanya akan diselenggarakan Field Trip. Kami berpikir, sudah waktunya kami mengenal lebih dekat segala potensi Salatiga untuk dapat bersama-sama kami pelajari dalam suasana yang menyenangkan. Belajar dari pengalaman pengurus tahun sebelumnya, Field Trip adalah salah satu event yang cocok.

Tanggal 9 nanti insya Allah kami akan Field Trip ke salah satu home industry yoghurt yang namanya mulai dikenal di Salatiga. Kebetulan, keluarga kami sudah menjadi langganan sejak ia belum seterkenal sekarang. Rupanya, pengalaman sebagai pelanggan yang baik sedikit banyak memuluskan negosiasi yang kami lakukan dengan pemiliknya. Alhamdulillah.  Satu sisi beres dengan cepat.

Gambar

Sisi yang lain adalah menggalang massa. Dengan tarif 10 ribu rupiah per orang, field trip dalam kota ini sebenarnya relatif terjangkau. Terlebih dengan adanya fasilitas transport gratis bagi yang tidak punya kendaraan dan oleh-oleh yang akan didapat peserta berupa 1 cup yoghurt dengan rasa sesuai selera. Sangat terjangkau, bukan?

Namun, jumlah massa alias peserta ternyata belum berbanding lurus dengan semangat kami menghadirkan ilmu baru dalam kemasan field trip. Sampai dengan pekan terakhir pendaftaran, angka calon peserta belum beranjak di kisaran 10 peserta. Padahal kami mengadakannya dalam dua sesi, yaitu pagi dan sore, sebagai fasilitasi kesibukan teman-teman yang mungkin berhalangan jika mengikuti jadwalpagi seperti tahun sebelumnya. Padahal lagi, kami sudah mengumumkannya di setiap event pertemuan, colek-colek via Facebook dan tempel pengumuman.

Akhirnya, jurus terakhir yang kami lakukan adalah gerilya via sms. Kami kirim promosi lewat sms ke setiap nomor teman-teman yang ada di contact list hp. Saya sangat berterima kasih kepada ketua kelas kami, Mbak Tri dan Mbak Ria, serta sekretaris tercinta – Mbak Nunuk– yang mensukseskan gerilya bawah tanah ini. Dan memang berhasil. Angka peserta di hari penutupan pendaftaran melonjak menjadi 32 peserta. Alhamdulillah. Mari menyongsong tanggal mainnya dengan gembira!

Tantangan kedua dan ketiga adalah lomba online, yaitu lomba menulis resensi buku dan lomba memasak bersama keluarga. Mengapresiasi kesuksesan buku pertama Institut Ibu Profesional dan keinginan mengetahui respon pembaca luas terhadap buku yang menjadi best seller penerbit ini, maka kami membuat event ini. Lomba ini masih berlangsung sampai nanti tanggal 21 April insya Allah.

Gambar

Sisi seru lomba resensi ini sejauh ini adalah upaya mencari dewan juri yang paling pas. Akhirnya pilihan jatuh ke Mbak Dian (ketua Ibu Profesional 2012), Mbak Anandita Puspitasari (pemenang Microsoft Bloggership Award 2009), dan Mbak Wida (Ketua Forum Lingkar Pena Salatiga). Alhamdulillah semuanya antusias bergabung, terima kasih banyak. Jadi, kami tunggu karyanya yaa.. (Terima kasih juga buat Mbak Mita yang telaten melayani order buku).

Tentang lomba memasak, landasannya adalah keinginan kami memfasilitasi kedekatan anggota keluarga, terutama di akhir pekan. Dan memasak merupakan salah satu aktivitas yang paling mudah dan akrab dengan keseharian kita. Simple is beauty. Hehehe. Alhamdulillah, berhasil melobi para admin Dapur Aisyah, sebuah komunitas pecinta masak-memasak terbesar di jagat Facebook indonesia. Keren banget kan? Hehehe.. (baca: ditunggu cerita serunya paling lambat 21 April yaaa).

Gambar

Alhamdulillah sponsor untuk lomba online ini juga mengalir dan masih terbuka dengan sangat lebar bagi siapapun yang ingin bergabung sebagai sponsor. Proposal kerja sama sudah siap kok. Hehehe

Tantangan yang paling seru adalah saresehan. Saresehan ini akan diselenggarakan di Panti Asuhan, insya Allah tanggal 14 Maret 2013 nanti. Kami memilih panti asuhan karena kami ingin memberikan warna kepada adik-adik di panti. Spirit adventure. Terlebih tema yang kami ambil adalah “Kekuatan Cita-Cita” yang disampaikan insya Allah oleh pembicara keren, Ustadz M. Faudzil Adhim. Tantangannya sungguh luar biasa!

Gambar

Mendapatkan kontak beliau tidak semudah melobi pembicara-pembicara kami sebelumnya. Setelah terhubung pun, beliau menghendaki pertemuan langsung di Jogja. Hufff… there is NO problem, it just another CHALLENGE. Memompakan pikiran-pikiran itu di kepala dan mengiyakan tantangan itu. Alhamdulillah tak lama kemudian ada undangan seminar di Jogja yang bisa menjadi pulau untuk dilampaui. JAdilah sekali mendayung beberapa pulau terlampaui klop banget dengan situasi ini.

Tapi rupanya, tantangannya belum selesai. Jadwal sowan  yang kami tawarkan belum cocok dengan jadwal beliau dan agenda sowan itu batal karena beliau sedang ada di Makassar. Bersyukur sekali bahwa di sela-sela jadwal beliau yang padat itu, beliau masih berkenan meluangkan waktu dan menjawab sms kami.

Selesai?

Beluuuum!

Sehari sebelum acara kami nanti, Ustadz Faudzil Adhim ternyata mengisi acara di Majalengka – Jawa Barat. Dan karena itu, beliau menghendaki dijemput di Majalengka dan diantar sampai Jogja.

Wow, next challenge! Permintaan itu membutuhkan koordinasi tingkat tinggi untuk kami. Kendaraan mana yang dipakai, siapa yang mendampingi, jadwal keberangkatan, dan tentu saja: biaya perjalanan yang tidak sedikit untuk ukuran kantong komunitas kami. Rasanya pengen menangis! Inikah konsekuensi sebuah mimpi besar? Mimpi memberikan sedikit pencerahan dan pengalaman baru untuk anak-anak di panti asuhan? Huhuhuhu…

Bersyukur sekali suami saya adalah sosok yang sangat positif dan memasok energi positif untuk saya di sela aktivitasnya yang sebenarnya sudah sangat padat. Setelah sesi konsultasi (baca: curhat) yang panjang, setidaknya saya masih bertekad meneruskan event ini. Sudah kadung kepalang tanggung. Hehehe

Akhirnya, mau tak mau saya memutar otak dan membuka-buka daftar kontak yang sekiranya bisa saya ajak bergandengan tangan. Alhamdulillah, ada manajer kota LAZiS di daftar kontak saya. Alhamdulillah ada staf department marketing LAZiS di tetangga saya. Lobi-lobi lagi-lagi. Alhamdulillah happy ending.

Tinggal tantangan terakhir, tantangan yang paling klasik. Biaya. Sampai saat ini kami masih membuka pintu lebar-lebar bagi siapapun yang ingin beramal baik mewujudkan hadirnya pembicara keren ini di hadapan adik-adik panti asuhan. Semoga event ini merupakan salah satu sarana menyantuni anak yatim dari segi softskill mereka dan tentu saja siapapun yang terlibat di dalamnya mendapatkan keutamaan kebaikan menyantuni anak yatim. Aamiin.. mari kita berjuang mensukseskan event ini!

Semangaaat!

Wisata Bernama Perpustakaan Kota

Gedung baru perpustakaan kota Salatiga adalah salah satu tujuan wisata edukasi yang layak direkomendasikan. Berlokasi di Jalan Adi Sucipto, bersebelahan dengan kantor Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga, dan berada di jantung lokasi edukasi salatiga. Bagaimana tidak? SD, SMP, dan SMU banyak yang berada di sekitar lokasi itu. Belum lagi perkantoran dan pusat pemerintahan Salatiga. Strategis.

Gedung berlantai 3 itu dibangun dengan bentuk unik. Kayak masjid, kata Hanif. Ada halaman parkir luas dan air mancur — yang sesekali dinyalakan — sebagai tambahan daya tarik untuk anak-anak usia balita. Hanif adalah salah satu anak yang sangat terpikat dengan situs ini. Jadilah, dua hari sekali kami mengunjungi perpustakaan. Sambil pinjam buku, tentu.

Hanif belajar tentang aturan main berkunjung ke perpustakaan. Lebih memilih menaiki lantai dua lewat jalan miring untuk pengunjung berkebutuhan khusus, Hanif belajar mendaki di jalan curam tersebut. Agal terlalu curam sebenarnya. Apalagi jika diperuntukkan kepada pengunjung berkebutuhan khusus. Tapi Hanif tidak kenal istilah curam. Yang ada adalah senang. Hahaha

gedung

Masuk ke gedung utama, Hanif akan memilih loker berkunci yang masih kosong. Meski semua loker awalnya berkunci, beberapa loker sudah kehilangan kunci dan bahkan pegangannya copot. Haduh.

“Bu Niken, ini.. kosong!!”  jika tangan mungilnya sampai, maka ia akan membuka tas ransel Stawberry-nya  dan berbaik hati meletakkannya ke dalam loker. Topinya tak ketinggalan.

“Oke,” saya akan mengikuti jejaknya.

“Dikunci, Bu Niken!” Hanif mengingatkan. Alhamdulillah Hanif mulai paham bahwa adanya loker berkunci itu bukannya tanpa tujuan. Ia tak terpengaruh dengan banyaknya loker berisi barang yang dibiarkan penggunanya terbuka tanpa dikunci.

“Oke,” saya akan mengikuti instruksinya.

“Kuncinya masuk ke dompet, Bu Niken!” (sekali lagi) saya akan mengikuti petunjuknya. Hehe

Beres dari urusan loker, kami akan “check-in” di meja pengembalian buku. Jika pun tidak ada buku yang kami kembalikan, kami akan masuk ke bagian menarik berikutnya: pintu putar.

pintu (1)

Pintu putar perpustakaan yang disebut turnstile ini merupakan tahapan seru untuk Hanif. Ia akan asyik mendengar bunyi klik dan menikmati putarannya tiap kali ia melewatinya. Terkadang bahkan ia suka iseng keluar masuk pintu itu dan menikmati sensasinya. Hihihi

Tak berlama-lama dengan pintu putar, kami akan naik ke lantai dua yang di sepanjang tangganya dihiasi foto-foto Salatiga tempo doeloe. Yang jadi favoritnya Hanif adalah foto andong yang berderet-deret di depan bioskop lama Salatiga. Sebenarnya, ia fokus ke gambar andong alias kereta kudanya sih.. Tak peduli itu settingnya Salatiga jaman sekarang atau tempo doeloe. Hehehe. Tapi, saya tidak mau melewatkan kesempatan begitu saja. Momen Hanif mengagumi gambar kuda itu saya gunakan untuk menceritakan sejarah Salatiga berdasarkan keterangan foto yang ada. Sambil menyelam minum air. Hehe

Lantai dua penuh berisi buku. Saya akan membebaskan Hanif hinggap di rak manapun yang ia suka. Terkadang bahkan ia duduk manis di meja komputer tempat mencari koleksi secara cepat. What a me timeeee. Saya pun tersenyum lebar setiap kali di perpustakaan.

Gambar diolah dengan cropmom.com dan Photoshop (nikentfalimah.wordpress.com)

Setelah puas di lantai dua, Hanif pun belajar tata cara meminjam buku. Antri sudah pasti. Saat ada pengunjung yang menyerobot antrian, Hanif seringkali bilang dengan suara mungilnya,”Antli dulu!”. Memang perpustakaan ini belum dilengkapi jalur antrian yang pasti akan sangat berguna jika sedang ramai. Namun, tetap saja, karakter tertib mengantri memang harus dimiliki oleh setiap pengunjung dengan atau tanpa jalur antrian.

Adegan scanning barcode buku dan pengecapan tanggal kembali di kartu buku juga merupakan adegan menarik untuk Hanif. Biasanya, ia akan minta didudukkan di meja sebelah komputer peminjaman dan mengamati proses buku pinjamannya. Tinggi badannya belum cukup tinggi untuk berdiri mengamati. Hee.

Beres dengan aturan main peminjaman, kami akan kembali ke loker tas dan Hanif akan mencari angka yang sama dengan kunci yang ia pegang. Seru sekali melihat Hanif mengurutkan dan mencari bentuk yang sama dengan angka di kunci. Sejauh ini ia sering berhasil menemukan yang sama. Alhamdulillah.

Adegan turun lewat jalan miring dan melihat air mancur pun diputar kembali.

***

Beruntungnya kami tinggal di Salatiga. Kota kecil yang selalu memberi banyak cerita. Rupanya, perpustakaanpun sangat menyenangkan menjadi tujuan wisata. Dan semoga perlahan menumbuhkan bibit-bibit muda yang semangat bergelora mencintai membaca. Aamiin

Sampah: Amunisi Harus Ditambah

Efek dari pengenalan sungai yang saya lakukan ke Hanif beberapa bulan lalu sungguh luar biasa. Salah satunya adalah kesadaran lingkungan Hanif yang makin tinggi, terutama soal sampah. Oiya, insya Allah cerita tentang sungai akan saya tulis kemudian.

Ya, soal sampah ini membuat saya harus menambah amunisi setiap kali bepergian. Amunisi bernama kantong plastik dan tisu basah. Hehe

h1

Gambar diolah dengan cropmom.com dan Photoshop (nikentfalimah.wordpress.com)

Hanif sangat peka terhadap sampah. Matanya yang awas akan melihat kilauan sampah di setiap sudut perjalanannya. Bungkus permen yang kecil sekalipun. Dan dialog baku a la Hanif pun mulai dimainkan.

“Bu Niken, ada sampah!”

“Mana?”

“Itu! Ayo kita ambil, Bu Niken!” Terkadang saya yang harus mengambil, tapi seringkali Hanif yang riang gembira memunguti sampah yang ia lihat. Seperti menemukan harta karun. Hehe

“Kok buang sampah di jalan ya, Bu Niken?”

“Iya.. Kok buang sampah di jalan ya, Nak?”

“Jalannya kan jadi kotor ya, Bu Niken?”

“Iya, Nak.. Sampah harusnya dibuang ke mana?”

“Tempat sampah!! Mana tempat sampah, Bu Niken?”

“Ayo kita cari!” Kami pun sibuk mengedarkan pandangan di sekitar TKP untuk mencari tempat sampah. Seringkali kami beruntung karena langsung mendapatkannya. Namun jika tidak….

“Bu Niken, tidak ada tempat sampah!”

“Iya, ya.. Kita belum beruntung” Hanif akan menatap saya dengan ekspresi sedih karena tidak berhasil menemukan tempat sampah.

“Bu Niken bawa plastik?” Ia seolah mendapat ide. Padahal kalimat itu adalah hasil pembelajaran sebelumnya saat kami tidak berhasil menemukan tempat sampah dan kebetulan saya sedang membawa plastik. Jadilah saya menawarkan plastik sebagai alternatif tempat sampah untuk temuan Hanif sampai dengan tempat sampah yang sesungguhnya ditemukan. Untunglah, saat kejadian itu Hanif setuju. Nah, di lain kesempatan, ia akan langsung bertanya kepada saya setiap kali kali tidak berhasil menemukan tempat sampah.

“Ah, yaa! Coba Ibu Niken lihat tas ya,” saya memerankan adegan itu dengan baik. Sudah hafal luar kepala soalnya. Hehe. Saya membuka tas dan mengambil kantong plastik yang wajib ada di dalamnya.

“Ini diaaa!!!”

“Waaa.. ayo dimasukkan ke plastik, Bu Niken!”

“Sini.. sini..!” Hanif memasukkan sampah hasil “investigasi”nya dan tersenyum lebar khas Hanif. Lalu ia akan mengacungkan tangannya untuk meminta tissue basah untuk membersihkan tangannya.

Masya Allah.. Baarokallahu fiik, Hanif!

***

Sedikit catatan, saya seringkali malu kepada Hanif kalau bicara soal sampah ini. Saat kami berjalan-jalan, tak jarang kami mendapati orang dewasa, remaja, dan anak-anak yang dengan entengnya membuang sampah di kolong jok angkot, jalan, sungai, atau ke manapun selain tempat sampah. Dan Hanif dengan polosnya akan bertanya, “Kok buang sampah di jalan (atau sungai,atau angkot, atau manapun itu selain tempat sampah), Bu Niken?”

Jika memungkinkan, saya akan melempar pertanyaan tersebut kepada si pelaku buang sampah. Biasanya kami justru mendapati pandangan heran dari mereka, seolah-olah buang sampah di tempat sampah atau menyimpan sejenak sampah sampai ditemukan tempat sampah terdekat adalah hal yang aneh. Hallooo… ke mana saja pelajaran yang didapat di sekolah yang sudah dibayar mahal itu, saudaraku?

Yang saya lakukan kemudian adalah memungut sendiri sampah tersebut dan menyimpannya di kantong plastik amunisi saya. Bukan karena saya berbaik hati kepada si pelaku, tapi lebih karena saya sedang dalam masa mendidik Hanif. Saya malu saat mendapati masyarakat sangat tidak dapat diandalkan sebagai contoh dan pendukung perilaku yang baik, sementara mereka (mungkin) tahu bahwa anak-anak selalu merekam apa yang ia lihat, ia dengar, dan ia rasakan. Termasuk soal sampah.

 

Cara Pintar Selamatkan Hutan

Efek pertama dari 7to7 Dress Up Contest yang diadakan Institut Ibu Profesional bulan April ini adalah rutinitas saya “dipaksa” kembali ke rutinitas jaman kantoran. Sebelum jam 7 pagi, semua berkas dan agenda hari ini harus sudah siap beserta pernak perniknya. Plus ditambah sebelum Hanif bangun. Hehehe.

Look at the bright side always. Salah satunya adalah saya sempat membaca berita-berita di internet lebih lama. Sampai saya singgah di salah satu situs kehutanan yang digawangi oleh Wimar Witoelar.  SEJUTA hektar hutan di Jambi lenyap dalam 10 tahun. Saya tidak mampu beralih dari berita ini.

Angka itu demikian fantastis. Setidaknya untuk saya. Ditambah foto udara hutan JAmbi yang memang sudah berubah laksana lapangan coklat yang maha luas.

hutan-jambi

Saya langsung terbayang buku ensiklopedi flora fauna hutan yang menjadi kesukaan HAnif saat mengunjungi perpustakaan Salatiga. Gambar-gambar di sana begitu indah. Imajinasi dan aneka nasehat turun-temurun tentang hutan begitu agung.

Saya juga langsung teringat tentang Eliana-nya Tere Liye. Tentang heroisme Eli dan teman-temannya menolak eksploitasi hutan kampungnya. Foto hutan Jambi itu makin menyadarkan saya bahwa novel itu benar-benar berlandaskan keprihatinan mendalam atas hutan Indonesia. Its true.

Hfff… what should we do?

Banyak.

Banyak sekali, bahkan.

Bahkan, kita bisa mulai dari sekarang. Dengan langkah nyata. Kongrit, bukan metafora semata.

Saya teringat dengan popok kain Hanif. Popok kain modern yang dikenal dengan istilah clodi — cloth diaper. Bagi saya, ini adalah langkah nyata yang sangaaaat nyata bagi siapapun yang menyatakan sangat peduli dengan hutan. Dan bumi.

Bayi menggunakan popok adalah hal yang jamak. Namun, jika dicermati, yang menjadi idola orang “jaman sekarang” adalah yang serba praktis dan instan. Termasuk soal popok ini. Jadilah, teknologi popok sekali pakai temuan Marion Donovan dan teman-teman ini menjadi jawaban pintar kebutuhan tersebut.

Tapi, benarkah itu jawaban pintar?

Gambar

Sumber: di sini

Silakan dikalikan dengan harga dan berapa tahun si kecil akan memakai popok sekali pakai. Kita akan mendapatkan angka tentang sepintar apa kita mengelola anggaran belanja bulanan rumah tangga.

Lantas apa hubungannya dengan hutan? Mungkin ada yang akan bertanya demikian. Inilah jawabannya:

GambarSumber: di sini

Fyi, cellulose tissue adalah jaringan selulosa yang notabene hanya ada di tanaman, dalam hal ini pohon. Dan pohon dalam jumlah besar tentu saja bertempat di hutan. Lantas, jika per tahun seorang bayi menggunakan lebih dari 3000 buah popok, bagaimana dengan jutaan bayi di dunia? Bagaimana dengan penggunaan popok sekali pakai sampai dengan para bayi itu lulus toilet training?

Dan, bagaimana dengan jumlah pohon yang harus dipasok untuk industri popok sekali pakai?

Itulah mengapa, kecintaan saya kepada hutan, sungai, gunung, dan geliat kehidupan alami seperti gambaran ensiklopedi flora fauna itu membuat saya berpikir bahwa koleksi popok kain modern Hanif alias clodi menjadi lebih pintar menjawab kebutuhan popok jaman sekarang.