Sampah: Amunisi Harus Ditambah

Efek dari pengenalan sungai yang saya lakukan ke Hanif beberapa bulan lalu sungguh luar biasa. Salah satunya adalah kesadaran lingkungan Hanif yang makin tinggi, terutama soal sampah. Oiya, insya Allah cerita tentang sungai akan saya tulis kemudian.

Ya, soal sampah ini membuat saya harus menambah amunisi setiap kali bepergian. Amunisi bernama kantong plastik dan tisu basah. Hehe

h1

Gambar diolah dengan cropmom.com dan Photoshop (nikentfalimah.wordpress.com)

Hanif sangat peka terhadap sampah. Matanya yang awas akan melihat kilauan sampah di setiap sudut perjalanannya. Bungkus permen yang kecil sekalipun. Dan dialog baku a la Hanif pun mulai dimainkan.

“Bu Niken, ada sampah!”

“Mana?”

“Itu! Ayo kita ambil, Bu Niken!” Terkadang saya yang harus mengambil, tapi seringkali Hanif yang riang gembira memunguti sampah yang ia lihat. Seperti menemukan harta karun. Hehe

“Kok buang sampah di jalan ya, Bu Niken?”

“Iya.. Kok buang sampah di jalan ya, Nak?”

“Jalannya kan jadi kotor ya, Bu Niken?”

“Iya, Nak.. Sampah harusnya dibuang ke mana?”

“Tempat sampah!! Mana tempat sampah, Bu Niken?”

“Ayo kita cari!” Kami pun sibuk mengedarkan pandangan di sekitar TKP untuk mencari tempat sampah. Seringkali kami beruntung karena langsung mendapatkannya. Namun jika tidak….

“Bu Niken, tidak ada tempat sampah!”

“Iya, ya.. Kita belum beruntung” Hanif akan menatap saya dengan ekspresi sedih karena tidak berhasil menemukan tempat sampah.

“Bu Niken bawa plastik?” Ia seolah mendapat ide. Padahal kalimat itu adalah hasil pembelajaran sebelumnya saat kami tidak berhasil menemukan tempat sampah dan kebetulan saya sedang membawa plastik. Jadilah saya menawarkan plastik sebagai alternatif tempat sampah untuk temuan Hanif sampai dengan tempat sampah yang sesungguhnya ditemukan. Untunglah, saat kejadian itu Hanif setuju. Nah, di lain kesempatan, ia akan langsung bertanya kepada saya setiap kali kali tidak berhasil menemukan tempat sampah.

“Ah, yaa! Coba Ibu Niken lihat tas ya,” saya memerankan adegan itu dengan baik. Sudah hafal luar kepala soalnya. Hehe. Saya membuka tas dan mengambil kantong plastik yang wajib ada di dalamnya.

“Ini diaaa!!!”

“Waaa.. ayo dimasukkan ke plastik, Bu Niken!”

“Sini.. sini..!” Hanif memasukkan sampah hasil “investigasi”nya dan tersenyum lebar khas Hanif. Lalu ia akan mengacungkan tangannya untuk meminta tissue basah untuk membersihkan tangannya.

Masya Allah.. Baarokallahu fiik, Hanif!

***

Sedikit catatan, saya seringkali malu kepada Hanif kalau bicara soal sampah ini. Saat kami berjalan-jalan, tak jarang kami mendapati orang dewasa, remaja, dan anak-anak yang dengan entengnya membuang sampah di kolong jok angkot, jalan, sungai, atau ke manapun selain tempat sampah. Dan Hanif dengan polosnya akan bertanya, “Kok buang sampah di jalan (atau sungai,atau angkot, atau manapun itu selain tempat sampah), Bu Niken?”

Jika memungkinkan, saya akan melempar pertanyaan tersebut kepada si pelaku buang sampah. Biasanya kami justru mendapati pandangan heran dari mereka, seolah-olah buang sampah di tempat sampah atau menyimpan sejenak sampah sampai ditemukan tempat sampah terdekat adalah hal yang aneh. Hallooo… ke mana saja pelajaran yang didapat di sekolah yang sudah dibayar mahal itu, saudaraku?

Yang saya lakukan kemudian adalah memungut sendiri sampah tersebut dan menyimpannya di kantong plastik amunisi saya. Bukan karena saya berbaik hati kepada si pelaku, tapi lebih karena saya sedang dalam masa mendidik Hanif. Saya malu saat mendapati masyarakat sangat tidak dapat diandalkan sebagai contoh dan pendukung perilaku yang baik, sementara mereka (mungkin) tahu bahwa anak-anak selalu merekam apa yang ia lihat, ia dengar, dan ia rasakan. Termasuk soal sampah.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s