Wisata Bernama Perpustakaan Kota

Gedung baru perpustakaan kota Salatiga adalah salah satu tujuan wisata edukasi yang layak direkomendasikan. Berlokasi di Jalan Adi Sucipto, bersebelahan dengan kantor Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga, dan berada di jantung lokasi edukasi salatiga. Bagaimana tidak? SD, SMP, dan SMU banyak yang berada di sekitar lokasi itu. Belum lagi perkantoran dan pusat pemerintahan Salatiga. Strategis.

Gedung berlantai 3 itu dibangun dengan bentuk unik. Kayak masjid, kata Hanif. Ada halaman parkir luas dan air mancur — yang sesekali dinyalakan — sebagai tambahan daya tarik untuk anak-anak usia balita. Hanif adalah salah satu anak yang sangat terpikat dengan situs ini. Jadilah, dua hari sekali kami mengunjungi perpustakaan. Sambil pinjam buku, tentu.

Hanif belajar tentang aturan main berkunjung ke perpustakaan. Lebih memilih menaiki lantai dua lewat jalan miring untuk pengunjung berkebutuhan khusus, Hanif belajar mendaki di jalan curam tersebut. Agal terlalu curam sebenarnya. Apalagi jika diperuntukkan kepada pengunjung berkebutuhan khusus. Tapi Hanif tidak kenal istilah curam. Yang ada adalah senang. Hahaha

gedung

Masuk ke gedung utama, Hanif akan memilih loker berkunci yang masih kosong. Meski semua loker awalnya berkunci, beberapa loker sudah kehilangan kunci dan bahkan pegangannya copot. Haduh.

“Bu Niken, ini.. kosong!!”  jika tangan mungilnya sampai, maka ia akan membuka tas ransel Stawberry-nya  dan berbaik hati meletakkannya ke dalam loker. Topinya tak ketinggalan.

“Oke,” saya akan mengikuti jejaknya.

“Dikunci, Bu Niken!” Hanif mengingatkan. Alhamdulillah Hanif mulai paham bahwa adanya loker berkunci itu bukannya tanpa tujuan. Ia tak terpengaruh dengan banyaknya loker berisi barang yang dibiarkan penggunanya terbuka tanpa dikunci.

“Oke,” saya akan mengikuti instruksinya.

“Kuncinya masuk ke dompet, Bu Niken!” (sekali lagi) saya akan mengikuti petunjuknya. Hehe

Beres dari urusan loker, kami akan “check-in” di meja pengembalian buku. Jika pun tidak ada buku yang kami kembalikan, kami akan masuk ke bagian menarik berikutnya: pintu putar.

pintu (1)

Pintu putar perpustakaan yang disebut turnstile ini merupakan tahapan seru untuk Hanif. Ia akan asyik mendengar bunyi klik dan menikmati putarannya tiap kali ia melewatinya. Terkadang bahkan ia suka iseng keluar masuk pintu itu dan menikmati sensasinya. Hihihi

Tak berlama-lama dengan pintu putar, kami akan naik ke lantai dua yang di sepanjang tangganya dihiasi foto-foto Salatiga tempo doeloe. Yang jadi favoritnya Hanif adalah foto andong yang berderet-deret di depan bioskop lama Salatiga. Sebenarnya, ia fokus ke gambar andong alias kereta kudanya sih.. Tak peduli itu settingnya Salatiga jaman sekarang atau tempo doeloe. Hehehe. Tapi, saya tidak mau melewatkan kesempatan begitu saja. Momen Hanif mengagumi gambar kuda itu saya gunakan untuk menceritakan sejarah Salatiga berdasarkan keterangan foto yang ada. Sambil menyelam minum air. Hehe

Lantai dua penuh berisi buku. Saya akan membebaskan Hanif hinggap di rak manapun yang ia suka. Terkadang bahkan ia duduk manis di meja komputer tempat mencari koleksi secara cepat. What a me timeeee. Saya pun tersenyum lebar setiap kali di perpustakaan.

Gambar diolah dengan cropmom.com dan Photoshop (nikentfalimah.wordpress.com)

Setelah puas di lantai dua, Hanif pun belajar tata cara meminjam buku. Antri sudah pasti. Saat ada pengunjung yang menyerobot antrian, Hanif seringkali bilang dengan suara mungilnya,”Antli dulu!”. Memang perpustakaan ini belum dilengkapi jalur antrian yang pasti akan sangat berguna jika sedang ramai. Namun, tetap saja, karakter tertib mengantri memang harus dimiliki oleh setiap pengunjung dengan atau tanpa jalur antrian.

Adegan scanning barcode buku dan pengecapan tanggal kembali di kartu buku juga merupakan adegan menarik untuk Hanif. Biasanya, ia akan minta didudukkan di meja sebelah komputer peminjaman dan mengamati proses buku pinjamannya. Tinggi badannya belum cukup tinggi untuk berdiri mengamati. Hee.

Beres dengan aturan main peminjaman, kami akan kembali ke loker tas dan Hanif akan mencari angka yang sama dengan kunci yang ia pegang. Seru sekali melihat Hanif mengurutkan dan mencari bentuk yang sama dengan angka di kunci. Sejauh ini ia sering berhasil menemukan yang sama. Alhamdulillah.

Adegan turun lewat jalan miring dan melihat air mancur pun diputar kembali.

***

Beruntungnya kami tinggal di Salatiga. Kota kecil yang selalu memberi banyak cerita. Rupanya, perpustakaanpun sangat menyenangkan menjadi tujuan wisata. Dan semoga perlahan menumbuhkan bibit-bibit muda yang semangat bergelora mencintai membaca. Aamiin

3 thoughts on “Wisata Bernama Perpustakaan Kota

  1. sudah berkeinginan untuk mengunjunginya, tapi belum kesampaian. kemarin pas ada bazaar, kami datang terlambat, sudah mau penutupan hehehehe salam buat si kecil hanief😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s