Knowing Safety Walking, Safety Riding, and Safety Driving (and Then, DOING!)

Tantangan siang itu adalah mencari pemateri kuliah rutin Institut Ibu Profesional Salatiga yang menguasai materi “Saferi Walking, Safety Riding, and Safety Driving”. Sebenarnya tantangan ini berlaku untuk siapa saja yang bersemangat tinggi untuk mencari tambahan ilmu terus menerus agar dalam mendidik anak maupun keluarga dapat memberikan informasi yang tepat. Kebetulan, saya paling gatal kalau ada tantangan. Prinsip saya, ketika orang lain bisa menaklukkan tantangan, kenapa saya tidak?

Jadilah, sejak malam saya membuat peta agenda keesokan harinya. Bagaimana agar perjalanan menaklukkan tantangan ini juga jadi momen pembelajaran menyenangkan bagi Hanif (27 bulan). Rencana A saya adalah:

  1. Wawancara ke petugas polisi lalu lintas yang nge-pos di depan komplek dan bertanya prosedur jika ingin meminta penyuluhan tentang tema yang menjadi tantangan.
  2. Mengikuti hasil langkah pertama di atas.

Jika rencana A saya ternyata belum memberikan hasil yang tepat, saya akan pakai plan B, yaitu mengumpulkan materi sendiri. So, lets go!

Alhamdulillah rencana A berjalan dengan  mulus. Polisi lalu lintas yang saya wawancara menyambut baik dan memberikan petunjuk langkah selanjutnya. Berasa main detektif-detektif-an ya? Bahasanya: mencari petunjuk. Hehehe. Mungkin efek kebanyakan baca buku detektif macam Lima Sekawan, STOP, Trio Detektif, dan sebangsanya sewaktu kecil dulu. So, theres no problem, it just another challenge.

Sesuai petunjuk yang saya dapat, maka langkah selanjutnya adalah membuat surat permohonan resmi dan mendatangi pejabat yang berwenang, dalam hal ini Kasatlantas Polres Salatiga.

Oiya, kenapa saya membidik polisi lalu lintas sebagai rencana A? Menurut hemat saya, polisi lalu lintas adalah pemateri yang paling tepat dan kompeten tentang “Safety Walking, Safety Riding, and Safety Driving.” Jika boleh menggunakan istilah pengayom, merekalah yang paling memahami  peraturan-peraturan aman berkendara dan gencar melakukan sosialisasi tentang itu. Dan alhamdulillah pilihan tersebut tepat karena dalam kepolisian lalu lintas, terdapat divisi khusus yang bertugas melakukan sosialisasi peraturan-peraturan dan kebijakan-kebijakan terkait keamanan berkendara di jalan raya.

Kembali ke cerita tentang Kasatlantas. Jadilah siang itu, saya meng-homeschool-kan Hanif di kantor polisi. Mengajak Hanif beramah tamah dengan polisi di meja resepsionis, menyapa setiap polisi yang ia jumpai, mendekatkan Hanif dengan mobil highway patrol yang dihiasi sirine di atapnya, mengajak Hanif melihat bus dan truk yang ringsek karena kecelakaan, dan yang mengajarkan Hanif mengantar surat ke Kasatlantas. Ya, Haniflah yang menyerahkan surat permohonan resmi yang kami ajukan ke Kasatlantas Polres Salatiga langsung. Tentu bukan tanpa maksud. Membentuk anak yang supel bergaul dengan berbagai kalangan haruslah diasah semenjak dini. Belajar menyerahkan sesuatu (dalam hal ini surat) adalah salah satunya.

polisi 1

Alhamdulillah, Hanif sangat menikmati pengalamannya di kantor polisi. Kosa kata dan daya ceritanya semakin bertambah bi idznillah. Dan yang paling heboh adalah setiap kali Hanif melewati kantor Satlantas Polres Salatiga yang berarsitektur gedung Belanda itu. Ia akan sibuk berseru,”Ibu niken! Itu kantor polisi! Adik tadi (baca: kemarin. Hanif belum bisa membedakan tadi, kemarin, dan dulu. Hehe) ke sana!”  Jadilah, setiap kali itu pula penumpang angkot yang kami naiki tersenyum sendiri melihat deklarasi Hanif. Hohohoho.

***

Alhamdulillah, tanggal 29 Maret 2013, materi program Bunda Cekatan “Safety Walking, Safety Riding, and Safety Driving” berhasil diselenggarakan dengan heboh. Apa pasal? Ternyata ada yel-yel juga dalam kampanye keselamatan berlalu lintas. Dan yel-yel itu sama-sama menggunakan kata: Hu Ha!

Kami semua tertawa bersama saat yel-yel itu selesai diperagakan. Pemateri kelas Rabu pagi (jam 09.00) adalah langsung Kasatlantas Polres Salatiga, Ajun Komisaris Muryati yang berkenan meluangkan waktu berbagi ilmu di kuliah rutin Institut Ibu Profesional Salatiga. Pemateri kelas sore (jam 15.30) adalah Bapak Roni (mohon maaf saya lupa jabatannya. Huhuhu).

Prinsip dasar salam aman di jalan raya, terdiri dari 3 tahapan, yaitu saat sebelum berangkat, saat di jalan, dan sesampai di tujuan.  Ada istilah 4 sehat, 5 selamat dalam berlalu lintas: sehat jasmani-rohani, sehat kendaraan, sehat navigasi, sehat budaya, dan dilengkapi dengan berdoa agar menjadi 5 selamat.

Beberapa hal dasar yang perlu diketahui oleh pengguna jalan berdasarkan kuliah Institut Ibu Profesional Salatiga bersama Satlantas Polres Salatiga adalah:

Menggunakan helm itu wajib, dan memilih helm yang lulus SNI (Standart Nasional Indonesia)  itu lebih wajib.

Jika kita memperhatikan suara polwan-polwan di corong speaker lampu lalu lintas Salatiga (misal: di lampu merah pertigaan al Azhar Kauman dan di lampu merah perempatan Pasar Jetis), kita akan mendengar himbauan untuk menggunakan helm ber-SNI . Himbauan tersebut juga berlaku untuk anak-anak usia PAUD yang membonceng kendaraan roda dua.

Helm ber-SNI dicirikan dengan adanya logo SNI di belakang atau samping helm. Penggunaannyapun harus dikancingkan rapat sampai berbunyi “klik”. Penggunaan helm yang benar merupakan langkah nyata kepedulian terhadap keselamatan diri sendiri di jalan raya.

Menjaga jarak aman dan kecepatan aman itu penting.

Ngebut itu keren? Wah, nggak bangeet! Ternyata, untuk di dalam kota, kecepatan maksimal yang diijinkan adalah 40 km/ jam. Kecepatan itu harus dikurangi lagi menjadi 30 km/ jam saat kendaraan melaju di komplek perumahan. Jarak aman dengan kendaraan di depan kita saat di dalam kota saat kita menggunakan kecepatan 40 km/ jam tersebut, seharusnya adalah 22 meter. Wah, saat lalu lintas macet, sepertinya tak banyak yang menggubris aturan ini. Hohoho.

***

riding

Banyak pertanyaan dan diskusi yang kemudian mengalir dalam kuliah keren ini. Hal menarik yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat adalah aturan dasar parkir. Ternyata sama dengan prinsip dasar meletakkan alas kaki saat akan memasuki rumah, memposisikan kendraan untuk diparkir juga seharusnya dalam kondisi ready to use saat kita akan keluar. Jadi, muka kendaraan seharusnya menghadap ke jalan, bukan ke trotoar seperti yang selama ini kita lakukan.

Pertanyaan yang sempat menjadi diskusi panjang adalah tentang tilang dan berita tentang slip biru atau merah.

Banyak informasi yang beredar di dunia maya tentang anjuran memilih surat tilang berwarna biru agar bisa langsung membayar biaya tilang melalui ATM daripada memilih warna merah yang lantas mengharuskan pengendara menghadiri sidang. Benarkah informasi tersebut?

Berdasar klarifikasi yang diberikan pemateri, informasi tersebut mendekati benar. Hanya saja, saat kita memilih surat tilang warna BIRU, kita hanya bisa membayar denda lewat TELLER bank yang ditunjuk, dalam hal ini BRI. Jadi, bukan lewat ATM sebagaimana info yang beredar di dumay alias dunia maya. Kami semua manggut-manggut saat mendengarnya.

Besarnya angka denda tilang itu sendiri pun disampaikan pada kuliah tersebut berdasarkan peraturan resmi yang berlaku saat ini. Saat kita memilih surat tilang warna biru, maka nominal denda adalah flat sesuai peraturan maksimal denda. Saat kita memilih surat tilang warna merah, maka ada kemungkinan kebijakan hakim yang menyebabkan nominal denda mendapat potongan atau justru sebaliknya.  Jadi, penting sekali untuk mengetahui pengetahuan tentang peraturan nominal denda dimana keputusan tentang pilihan surat tilang kembali kepada pengendara kendaraan bermotor yang terkena tilang tersebut. Peraturan tentang nominal denda dapat dilihat di sini.

Mengutip pendapat Thomas, narasumber kelas bahasa Inggris dari Jerman yang mendampingi kuliah rutin setiap Rabu, pada prinsipnya aturan-aturan berlalu lintas di Indonesia tak jauh berbeda dengan yang ada di Jerman. Saat ditanya apakah ada perbedaan, dengan tandas ia menjawab, “ Satu-satunya perbedaan adalah peraturan di Jerman benar-benar diterapkan, sementara di Indonesia tidak.”

Jleb!! XD

Fishing Games: Its Not only Fishing

Fishing. Hanif likes fishing. We intruduced fishing to him when he was 25 months old. We followed the Child Qur’an Learning Centre’s  (known as TPQ) field trip at that time.  One of their  activites on the field trip was fishing competition. Of course, Hanif couldn’t fishing well at that time. But, the fishing activities seemed very interesting for him. So, until now, he likes fishing.

In order to stimulate his consentration skill, we gave him fishing games on te next month. This game rule is catch as many as possible the moving fish using magnetic fishing stick.  The players will also learn about kind of color and basic counting.

There is 24 colorful fishes. There is also three fishing stick and three fish pool so that this game can be used together with friends. So far, this game very useful to make interaction between one child to another child although they never know each other before.  Oiya, this  toy’s price is also cheap for us. Only IDR 29.000 at that time.

ikan

One tips about this toy is: we have to keep the 24 fishes into special box  so that the fish will not go away everywhere when we are not playing it. Oiya, this toy use 2 pieces AA battery as the power supply. So, if we turn on the toy, the pool will be moving around. The fish’s mouth will open and close regularly. The background song will starting on. I still trying to turn off the music without stopping the fishing move. Any idea?

Afterall, how to catch the fishes is the challenge. Exciting toy!

Berbagi Hari bersama Ayah Irwan Rinaldi (Bag. Akhir)

Jika kita mau merenung sejenak dan jujur pada diri sendiri, maka siapapun kita akan menyadari bahwa berapapun usia sesorang, kebutuhan yang melekat pada dirinya selalu terdiri dari dua hal. Kebutuhan jasmani dan rohani, kebutuhan fisik dan psikis, kebutuhan raga dan jiwa. Berapapun usia seseorang, kebutuhannya tak pernah terlepas dari dua hal tersebut.

Jika kita yang sudah menjadi orang tua ataupun menjadi manusia dewasa saja terus membutuhkan kedua aspek tersebut, bagaimana dengan anak-anak? Tentu, tuntutan akan kebutuhan hal tersebut jika diperhatikan justru semakin besar dan tidak bisa tidak harus dipenuhi.  Anak-anak sesungguhnya ibarat benih yang mulai bertunas tumbuh sedikit demi sedikit yang membutuhkan siraman air, pupuk , kehangatan matahari, curahan sayang, dan berbagai bekal  yang akan mengokohkan perjalannya menjadi pohon yang kokoh lagi rindang kelak.

Sayangnya, berdalih dengan banyaknya kesibukan profesi orang tua dan bertameng dengan banyaknya materi yang dihasilkan dari kesibukan tersebut, terkadang orang tua memilih melimpahi anak dengan fasilitas dan membeli ini itu untuk anak. Padahal, ada satu hal yang sangat dibutuhkan anak namun tidak pernah bisa terbeli dengan berapapun besarnya uang yang dimiliki orang tua. Ia adalah waktu.

Jurus untuk Ayah Sibuk dipilih sebagai tema sharing Kuliah Umum Ibu Profesional Salatiga pada 12 Mei 2013 lalu dengan hal-hal di atas sebagai salah satu pertimbangan. Bahwa sesibuk apapun kita, tetaplah kita adalah orang tua yang pasti ingin menjadi orangtua keren di mata anak-anak kita. Orangtua yang ingin menjadi orang pertama yang anak-anak tuju saat mereka ingin berdiskusi.  Namun terkadang, kesibukan profesi orang tua – apapun dalihnya – membuat anak “harus terima” menghabiskan waktu bersama pengasuh yang bukan orang tuanya. Dan dari merekalah anak merekam hal-hal yang seharusnya diajarkan oleh orang tuanya.

Lantas, mengapa ayah? Bukankah selama ini pengasuhan identik dengan kaum ibu?

Ternyata, studi-studi yang diselami oleh Sahabat Ayah maupun para pemerhati parenting menunjukkan bahwa karakter unggul yang ditanamkan oleh ayah, memiliki daya lekat yang luar biasa dahsyat dibandingkan dengan ibu. Kebersamaan anak-ayah yang unik dan khas, rupanya merupakan kelebihan para ayah yang masih jarang disadari. Karena itu, pembekalan ayah terkait dengan ilmu-ilmu menjadi ayah keren – professional – menjadi penting untuk dipelajari bagi siapapun yang akan atau sudah mendapat predikat “ayah”.

Ayah Irwan Rinaldi yang menjadi narasumber utama kulih umum kali ini membagikan jurus-jurus untuk tetap dekat dengan ayah, meskipun ayah memiliki aktivitas super padat di luar rumah atau bahkan harus terpisah beberapa waktu dengan keluarganya. Berikut ini di antaranya:

Ayah yang sibuk sepanjang hari seharusnya meluangkan waktu paling tidak di pagi hari untuk menjalin kedekatan dan menanamkan karakter kepada anak.

Usahakan sudah memiliki kesepakatan dengan anak tentang metode bangun pagi keesokan harinya. Anak usia 0-8 tahun, suka sekali dengan acara “dibangunkan”. Berbeda dengan anak usia 9 tahun ke atas yang lebih suka dengan acara “membangunkan”. Acara sarapan bersama juga merupakan sarana menjalin kedekatan anak dengan ayah, sehingga saying sekali jika dilewatkan. Kehadiran ayah secara fisik dan psikis yang memberikan waktu sepenuhnya  akan merupakan suntikan energi tersendiri bagi anak untuk mengawali hari-harinya.

Ayah harus hadir secara fisik dan psikologis.

Tak jarang yang terjadi adalah kehadiran ayah hanya sekadar fisiknya saja karena pikiran entah ke mana dan aktivitas yang menyertai pendampingan anak tidaklah nyambung. Ambillah contoh, berapa banyak dari kita yang secara lisan menanyakan “Ayah sayang deh sama kakak,” tapi mata dan tangan erat menekuri gadget ataupun surat kabar.

Jika kita sayang, maka datangi anak, peluk anak dengan erat, dan katakan, “Ayah sayang deh sama kakak.” Itu baru sayang yang sebenarnya. Anak akan menangkap pesan yang ayah sampaikan.

Ayah yang harus berjauhan dengan keluarganya karena tuntutan tugas harus memaksimalkan kehadirannya secara psikologis.

Siapkan foto ayah dan gunakan  untuk mendampingi aktivitas membangunkan anak. Sampaikan dengan ekspresif bahwa ayah telah ikut hadir membangunkan anak. Bisa juga menggunakan memo kecil (mocil) yang dibuat ayah sejumlah hari perginya dan dibacakan satu mocil per bangun tidur. Teknologi internet juga bisa  menjadi sarana menumbuhkan kedekatan ayah dengan anak melalui fasilitas video chat, email, dan lainnya.

Ayah dan ibu haruslah memiliki kesepakatan paradigma pengasuhan.

Ini anakku, ini anakmu, ini anak kita. 0-5 tahun usia pernikahan merupakan masa-masa penguatan ikatan, dimana prinsip “aku adalah pakaianmu dan engkau adalah pakaianku” harus dipegang teguh agar kesamaan paradigm itu bisa dicapai. Mengasuh anak memerlukan ayah dan ibu yang seiring sejalan dalam visi dan misi sehingga anak mendapatkan gambaran yang utuh tentang karakter-karakter unggul yang dicontohkan langsung oleh orang tuanya.

***

Peran ayah dan orang tua pada pembentukan karakter anak usia 0-10 tahun adalah mengkonkretkan, visualkan pengarahan-pengarahan yang kita berikan. Dan penelitian menunjukkan bahwa bahasa tubuh memiliki kemampuan menyampaikan pesan lebih dahsyat daripada bahasa lisan. Dengan kehalusan perasaannya, anak dapat menangkap makna bahasa tubuh orang tuanya lho, meskipun ia masih bayi atau belum mampu berkata-kata.

Setelah memvisualkan pengarahan, maka kita haruslah menumbuhkan kebiasaan pada anak dengan memberikan pujian atas perilakunya yang sesuai dengan perilaku positif yang ia tunjukkan. Jadi, alih-alih bertanya, “Berapa nilai matematikamu hari ini?” atau “Rangking berapa kamu di kelas?” orang tua yang paham benar penanaman karakter pada anak seharusnya bertanya, “Sudahkah engkau membantu temanmu hari ini?” atau “Bagaimana sholatmu hari ini, Nak?”

Langkah-langkah di atas tentu saja tidak boleh semata berhenti pada tataran pertanyaan rutin. Orang tua haruslah memberikan keteladanan yang selaras dengan pertanyaan-pertanyaan harapan itu. Bagaimana bisa anak akan senang membantu jika orang tuanya sama sekali tidak pernah memberikan contoh  bagaimana membantu itu seharusnya.

Di situlah pentingnya kemampuan mendongeng dan bercerita kepada anak. Karakter-karakter mulia akan menancap dengan kuat ketika disampaikan dengan cara yang menarik dan ekspresif. Sekali lagi, aktivitas di pagi hari dan menjelang tidur memiliki peran penting dalam sesi dongeng-mendongen ini. Salah satu momen yang dicontohkan Ayah Irwan adalah saat sarapan pagi.

Bapak (B)     : Nak, nak.. stop.. stop!!

Anak (A)      : Ada apa, bapak?

B     : Stop, hentikan dulu makanmu, Nak!

A     : Kenapa, bapak?

B     : Bapak baru ingat, di dekat kantor Bapak, ada kakek-kakek yang suka mencari sampah.

A     : Kenapa mencari sampah, pak?

B     : Untuk dijual lagi dan uangnya untuk beli makanan, nak.

A     :  (terdiam)

B     : Nah, bagaimana kalau separuh makanan kakak dan bapak dibungkus untuk diberikan ke kakek itu?

Terlihat, si bapak telah mencontohkan bagaimana berbagi dilakukan. Penyampaian yang penuh ekspresi dan didukung dengan intonasi yang menarik akan membuat anak memusatkan perhatian pada apa yang disampaikan.

Ayah Irwan Rinaldi pada Kuliah Umum Institut Ibu Profesional Salatiga ini juga berbaik hati membagikan buku saku  secara Cuma-Cuma kepada para ayah yang hadir. Buku saku yang berjudul “Yang Harus Ayah Sibuk Lakukan di Pagi, Siang, dan Malam Hari” dan “10 Kiat Ayah Siapkan Anak Prasekolah Berpuasa” langsung ludes  dalam sekejap.

Alhamdulillah, terima kasih banyak, Ayah Irwan! Terima kasih untuk dek Za yang berbaik hati mengirim foto bukunya. Jazakumullah khoiron!

Fried Chicken Secret

Salah satu makanan favorit Hanif adalah ayam dan segala macam olahannya. Saat Institut Ibu Profesional Salatiga mengadakan workshop membuat ayam goreng crispy, tentu saja saya tidak mau ketinggalan mengamati  proses-proses pembuatannya. Meski disambi momong Hanif, motret, dan membuat catatan singkat, alhamdulillah rahasia membuat ayam goreng crispy bisa saya tangkap dengan cukup baik. Kali ini, saya akan membagikan kepad ateman-teman karena saya yakin, ayam goreng crispy merupakan salah satu lauk favorit keluarga di seluruh dunia. Ibu yang bisa membuatnya pasti akan menjadi makin keren di mata para buah hatinya. Hehehe

Gambar

Ternyata, memang ada rahasia dalam membuat ayam goreng crispy yang renyah dan menggoyang lidah itu lho! Alhamdulillah, Institut Ibu Profesional Salatiga berkesempatan menggelar cooking workshop bertema “Fried Chicken Secret” pada 15 Mei 2013 lalu dengan narasumber Ibu Rini dari Yoghurt Memory 84.

Cooking workshop ini dengan antusias diikuti oleh para ibu, termasuk saya, sehingga peserta terus bertambah hingga hari-H, meskipun pendaftaran telah ditutup pada hari sebelumnya. Total terdiri dari 43 orang ibu dan remaja putri yang terbagi dalam dua sesi, yaitu sesi pagi (jam 09.00 – 11.30 WIB) dan sesi siang (jam 14.00 – 16.30 WIB).

Gambar

Namanya juga workshop, maka acara kami kali ini lebih banyak waktu untuk praktek. Terlebih saat resep dibagikan kepada peserta. Ternyata dari segi bumbu, crispy fried chicken ini relatif sama dengan bumbu ayam goreng yang biasa kita gunakan. Berikut bumbu untuk 1 ekor ayam:

10 butir bawang putih

1 ruas jahe

2 sdt merica

½  biji pala

Garam dan gula pasir secukupnya

Bumbu yang digunakan adalah bebas MSG, sehingga prinsip ibu profesional untuk menghidangkan masakan yang bergizi dan sehat untuk keluarga terus dipegang teguh. Komposisi gula dan garam yang tepat dapat menciptakan cita rasa gurih yang biasanya diberikan oleh MSG.

Untuk adonan crispy, yang digunakan adalah tepung terigu khusus untuk goreng-gorengan, garam dan gula secukupnya, serta lada hitam halus. Kalau lada hitam tidak ada, lada putih alias merica halus pun tidak mengapa.

Alat utama yang digunakan adalah

1 buah baskom besar yang dindingnya agak tinggi

2 buah saringan besar

1 buah baskom berisi air dingin

Wajan dan kompor

 Gambar

Oiya, satu ekor ayam di atas, bisa dipotong menjadi 20 potong kecil siap santap lho. Pemotongan ayam itu sendiri harus diperhatikan karena pemotongan yang salah akan menghasilkan ayam goreng crispy yang berdarah-darah (hohoho.. bahasanya). Tapi benar, pemotongan ayam harus tepat pada sendinya, sehingga tidak ada pembuluh darah yang terpotong. Pembuluh darah yang terpotong akan membuat sisa darah merembes keluar saat digoreng nantinya. Itulah mengapa, terkadang kita mendapati daging ayam yang berwarna hitam selepas digoreng.

Sayat-sayatlah daging ayam yang sudah dipotong-potong kecil, agar saat digoreng nanti bisa masak benar bagian dalamnya. Jika kita tidak menyukai bagian kulitnya, kulit bisa dipisahkan dan bisa diolah tersendiri nantinya.

Terigu yang sudah ditempatkan pada baskom tinggi diberi bumbu dan diaduk dengan tangan hingga tercampur benar. Sesekali icip rasanya untuk mendapatkan kegurihan yang pas. Sambil mempersiapkan tepung ini, rendam ayam dengan bumbu yang sudah dihaluskan (matur nuwun, mb wido atas catatan resep dan masukannya yaa).

Memasukkan ayam yang telah dibumbui ke dalam tepung pun ada rahasianya. Alih-alih ditekan-tekan, cara menempelkan tepungnya adalah dengan dikepyur-kepyur-kan naik turun (apa ya bahasa indonesianya? Hee). Tidak lama-lama, 10 kali naik turun saja.  Lalu, letakkan ke saringan pertama untuk merontokkan tepung yang menempel terlalu banyak. Segera pindahkan ke saringan kedua dan celupkan ke dalam air dingin (suhu ruang) sekitar 10 detik. Tuang lagi ke tepung dan ulang adegan kepyur-kepyur naik turun, lalu masukkan ke saringan pertama untuk dirontokkan kelebihan tepungnya. Goreng dalam minyak yang terendam (deep frying) dan api sedang agar matang sampai ke dalam daging ayamGambar.

***

Tepat sehari setelah workshop, Hanif minta dibuatkan ayam goreng crispy. Hohoho.. yang kemarin hanya melihat sambil potret-potret, mau tak mau harus praktek di dapur sendiri. Alhamdulillah hasilnya sesuai contoh,meskipun bumbu ayam yang digunakan adalah versi saya sendiri karena saya lupa mencatat bumbu di workshop. Heheh.  Untuk bumbu yang saya tulis di atas, sudah bumbu workshop kok. Hehehe. Selamat mencoba!

 Gambar

Berbagi Hari bersama Ayah Irwan Rinaldi

Gambar

Ternyata, pada kebanyakan generasi muda Indonesia yang berusia 23 tahun, perkembangan psikologisnya tak lebih dari anak berusia 11 tahun. Lantas, ke mana selisih usia 10-12 tahun itu pergi?

Kalimat itu membuka materi parenting panjang pada Kuliah Umum Institut Ibu Profesional pagi tadi, 12 Mei 2013. Sebuah pertanyaan yang membuka kesadaran setiap orang tua untuk mengambil posisi waspada. Belum lagi saat narasumber menyebut penelitian yang menyebutkan bahwa 66% remaja usia SMP di kota-kota kabupaten di Indonesia – bukan kota besar ataupun metropolis – terbukti telah melakukan pergaulan bebas dengan teman sebayanya. Angka tersebut dikoreksi menjadi 70% saat sebuah surat kabar terkemuka di Indonesia mengkaji ulang hasil penelitian sebelumnya. Gumam “na’udzubillahi min dzalik” (kami berlindung dari hal tersebut) memenuhi aula School of Life Lebah Putih. Posisi para orang tua sudah bukan lagi waspada, namun berubah menjadi siaga. Siaga Satu, bahkan.

Mengapa?

Usut punya usut, saat para ahli melakukan penelitian lebih jauh tentang akar masalah semua itu, didapat dua masalah besar yang menganga dalam keseharian manusia. Bukanlah kondisi ekonomi, bukanlah kondisi politik, bukanlah kondisi pertahanan keamanan yang menjadikan semua itu bermunculan. Ternyata akar masalah yang sesungguhnya adalah pada pendidikan dan pengasuhan yang tidak terpenuhi dengan semestinya.

Gambar

Saat pendidikan hanya berpatokan pada fasilitas gedung dan sarana prasarana yang lengkap, saat pendidikan tidak diselimuti dengan pengasuhan dari para guru yang memang berdedikasi tinggi memberikan contoh dan paham benar di luar kepala tahapan perkembangan anak berdasar usianya, maka sejatinya seorang anak hanya akan tumbuh fisiknya dan bukan jiwanya. Lebih jauh lagi, sekolah dan guru pada dasarnya adalah perpanjangan tangan kedua orang tua seorang anak. Saat orang tua menyerahkan pendidikan dan pengasuhan semata-mata pada pihak sekolah, maka lubang yang dalam itu sejatinya sedang digali sendiri. Anak punya orang tua, tapi sesungguhnya ia “tidak punya” orang tua.

Saat berbicara orang tua, haruslah terdiri dari ayah dan ibu. Saat berbicara pendidikan dan pengasuhan anak, haruslah terdiri dari ayah dan ibu. Tapiiii, menjadi hal jamak di keseharian kita, pendidikan dan pengasuhan anak seolah hanya ditugaskan kepada ibu. Ayah hanya bertugas mencari nafkah sebanyak mungkin. Padahal, dalam banyak aspek pembentukan karakter anak, seorang anak banyak sekali menyerapnya dari seorang ayah. Secara alamiah, anak memiliki kecondongan yang besar mendekat kepada ayah untuk mempelajari tantangan-tantangan dalam kesehariannya. Sementara, kenyataan seringkali berkata lain.

Contoh paling sederhana, dari 700an ayah yang diteliti oleh Sahabat Ayah – komunitas yang dirintis oleh narasumber – hanya 10 orang yang bisa mendongeng dengan baik kepada anaknya. SEPULUH ayah dari 700 ayah. Padahal, dampak luar biasa aktivitas mendongeng bagi perkembangan karakter anak, terutama pada usia 0-15 tahun, sudah teruji positif dalam berbagai literature parenting. Belum lagi penelitian-penelitian tentang uji keterampilan seorang ayah dalam hal pendidikan dan pengasuhan anak yang lainnya. Kesimpulan besarnya adalah, cita-cita memiliki putra-putri yang berkualitas unggul ternyata belum diiringi dengan keterampilan berkualitas unggul sebagai orang tua. Sebagaimana banyak sekali ibu yang kebingungan menjadi “ibu”, ternyata buanyak sekali ayah yang sama kebingungannya menjadi “ayah”. Itulah yang kemudian menciptakan “anak-anak bingung” dan salah satunya ditandai dengan kesenjangan usia fisik dan usia psikologis. Na’udzubillahi min dzalik.

***Gambar

Rasanya sungguh sangat bersyukur bahwa sekali lagi ketetapan hati memperjuangkan cita-cita memberikan buah yang begitu manis terasa. Kehadiran narasumber Kuliah Umum bulan Mei 2013 Institut Ibu Profesional Salatiga, Ayah Irwan Rinaldi, telah memberikan banyak inspirasi bagi banyak orang yang berjumpa dengannya. Setidaknya, beliau telah berkenan menjadi mentor Komunitas Ayah Profesional yang mulai dirintis oleh Ibu Septi . Juga, tidak sedikit ayah yang hadir pada kuliah umum tersebut terlibat diskusi seru dengan beliau selepas acara dan ingin menindaklanjuti kuliah umum tersebut di komunitas masing-masing. Grow up, grow up, and grow up!

Secara khusus, saya berterima kasih kepada tim sukses acara ini yang sungguh luar biasa. Ibu Yully Purwanti dari Sahabat Ayah yang selalu sabar melayani korespondensi saya. Mbak Dewi dan Pak Darma yang berbaik hati menjemput Ayah Irwan dari bandara A. Yani dan mengantar ke tempat Ayah Irwan bermalam. Bu Septi dan keluarga yang bermurah hati menyediakan tempat bermalam Ayah Irwan dan menjadi moderator webinar 10 Kiat Mengenalkan Fungsi Uang pada Anak bersama Ayah Irwan (materi webinar bisa diunduh di sini: WEBMINAR SALATIGA). Pak Novianto yang berbaik hati mendampingi Ayah Irwan hingga penerbangan ke Jakarta terkejar dengan sukses di sela-sela macetnya jalan raya Solo Semarang. Pak Dadang dari Jarimatika Salatiga yang berbaik hati menjemput Ayah Irwan dari penginapan menuju School of Life Lebah Putih meskipun sedang akan berangkat ke Madiun.

Gambar

Tak lupa, terima kasih juga kepada kakak-kakak di School of Life Lebah Putih Salatiga yang telah menyediakan tempat dan fasilitas pendukung. Dan yang paling keren, tentu saja teman-teman panitia kuliah umum: Mbak Umi (PJ), Mbak Imah (Receptionist), Mbak Zul (MC), Bu Aisyah dan Mbak Ula (Potluck), Mbak Nunuk (Paparazzi), dan Mbak Luluk (Clean Up). Semangat kalian luarrrrr biasa!

Oiya, Kuliah umum kali ini dimeriahkan dengan bazaar juga lho. Ada Habib Edutoys dengan berbagai mainan edukatif dari kreasi flannel. Ada juga Yoghurt Memory 84 dengan yoghurt dan berbagai olahan yoghurt-nya. Sedaaaap!! Terima kasih banyak atas partisipasinya yaa.. Kuliah umum jadi tambah seruuu!!

Gambar