Berbagi Hari bersama Ayah Irwan Rinaldi (Bag. Akhir)

Jika kita mau merenung sejenak dan jujur pada diri sendiri, maka siapapun kita akan menyadari bahwa berapapun usia sesorang, kebutuhan yang melekat pada dirinya selalu terdiri dari dua hal. Kebutuhan jasmani dan rohani, kebutuhan fisik dan psikis, kebutuhan raga dan jiwa. Berapapun usia seseorang, kebutuhannya tak pernah terlepas dari dua hal tersebut.

Jika kita yang sudah menjadi orang tua ataupun menjadi manusia dewasa saja terus membutuhkan kedua aspek tersebut, bagaimana dengan anak-anak? Tentu, tuntutan akan kebutuhan hal tersebut jika diperhatikan justru semakin besar dan tidak bisa tidak harus dipenuhi.  Anak-anak sesungguhnya ibarat benih yang mulai bertunas tumbuh sedikit demi sedikit yang membutuhkan siraman air, pupuk , kehangatan matahari, curahan sayang, dan berbagai bekal  yang akan mengokohkan perjalannya menjadi pohon yang kokoh lagi rindang kelak.

Sayangnya, berdalih dengan banyaknya kesibukan profesi orang tua dan bertameng dengan banyaknya materi yang dihasilkan dari kesibukan tersebut, terkadang orang tua memilih melimpahi anak dengan fasilitas dan membeli ini itu untuk anak. Padahal, ada satu hal yang sangat dibutuhkan anak namun tidak pernah bisa terbeli dengan berapapun besarnya uang yang dimiliki orang tua. Ia adalah waktu.

Jurus untuk Ayah Sibuk dipilih sebagai tema sharing Kuliah Umum Ibu Profesional Salatiga pada 12 Mei 2013 lalu dengan hal-hal di atas sebagai salah satu pertimbangan. Bahwa sesibuk apapun kita, tetaplah kita adalah orang tua yang pasti ingin menjadi orangtua keren di mata anak-anak kita. Orangtua yang ingin menjadi orang pertama yang anak-anak tuju saat mereka ingin berdiskusi.  Namun terkadang, kesibukan profesi orang tua – apapun dalihnya – membuat anak “harus terima” menghabiskan waktu bersama pengasuh yang bukan orang tuanya. Dan dari merekalah anak merekam hal-hal yang seharusnya diajarkan oleh orang tuanya.

Lantas, mengapa ayah? Bukankah selama ini pengasuhan identik dengan kaum ibu?

Ternyata, studi-studi yang diselami oleh Sahabat Ayah maupun para pemerhati parenting menunjukkan bahwa karakter unggul yang ditanamkan oleh ayah, memiliki daya lekat yang luar biasa dahsyat dibandingkan dengan ibu. Kebersamaan anak-ayah yang unik dan khas, rupanya merupakan kelebihan para ayah yang masih jarang disadari. Karena itu, pembekalan ayah terkait dengan ilmu-ilmu menjadi ayah keren – professional – menjadi penting untuk dipelajari bagi siapapun yang akan atau sudah mendapat predikat “ayah”.

Ayah Irwan Rinaldi yang menjadi narasumber utama kulih umum kali ini membagikan jurus-jurus untuk tetap dekat dengan ayah, meskipun ayah memiliki aktivitas super padat di luar rumah atau bahkan harus terpisah beberapa waktu dengan keluarganya. Berikut ini di antaranya:

Ayah yang sibuk sepanjang hari seharusnya meluangkan waktu paling tidak di pagi hari untuk menjalin kedekatan dan menanamkan karakter kepada anak.

Usahakan sudah memiliki kesepakatan dengan anak tentang metode bangun pagi keesokan harinya. Anak usia 0-8 tahun, suka sekali dengan acara “dibangunkan”. Berbeda dengan anak usia 9 tahun ke atas yang lebih suka dengan acara “membangunkan”. Acara sarapan bersama juga merupakan sarana menjalin kedekatan anak dengan ayah, sehingga saying sekali jika dilewatkan. Kehadiran ayah secara fisik dan psikis yang memberikan waktu sepenuhnya  akan merupakan suntikan energi tersendiri bagi anak untuk mengawali hari-harinya.

Ayah harus hadir secara fisik dan psikologis.

Tak jarang yang terjadi adalah kehadiran ayah hanya sekadar fisiknya saja karena pikiran entah ke mana dan aktivitas yang menyertai pendampingan anak tidaklah nyambung. Ambillah contoh, berapa banyak dari kita yang secara lisan menanyakan “Ayah sayang deh sama kakak,” tapi mata dan tangan erat menekuri gadget ataupun surat kabar.

Jika kita sayang, maka datangi anak, peluk anak dengan erat, dan katakan, “Ayah sayang deh sama kakak.” Itu baru sayang yang sebenarnya. Anak akan menangkap pesan yang ayah sampaikan.

Ayah yang harus berjauhan dengan keluarganya karena tuntutan tugas harus memaksimalkan kehadirannya secara psikologis.

Siapkan foto ayah dan gunakan  untuk mendampingi aktivitas membangunkan anak. Sampaikan dengan ekspresif bahwa ayah telah ikut hadir membangunkan anak. Bisa juga menggunakan memo kecil (mocil) yang dibuat ayah sejumlah hari perginya dan dibacakan satu mocil per bangun tidur. Teknologi internet juga bisa  menjadi sarana menumbuhkan kedekatan ayah dengan anak melalui fasilitas video chat, email, dan lainnya.

Ayah dan ibu haruslah memiliki kesepakatan paradigma pengasuhan.

Ini anakku, ini anakmu, ini anak kita. 0-5 tahun usia pernikahan merupakan masa-masa penguatan ikatan, dimana prinsip “aku adalah pakaianmu dan engkau adalah pakaianku” harus dipegang teguh agar kesamaan paradigm itu bisa dicapai. Mengasuh anak memerlukan ayah dan ibu yang seiring sejalan dalam visi dan misi sehingga anak mendapatkan gambaran yang utuh tentang karakter-karakter unggul yang dicontohkan langsung oleh orang tuanya.

***

Peran ayah dan orang tua pada pembentukan karakter anak usia 0-10 tahun adalah mengkonkretkan, visualkan pengarahan-pengarahan yang kita berikan. Dan penelitian menunjukkan bahwa bahasa tubuh memiliki kemampuan menyampaikan pesan lebih dahsyat daripada bahasa lisan. Dengan kehalusan perasaannya, anak dapat menangkap makna bahasa tubuh orang tuanya lho, meskipun ia masih bayi atau belum mampu berkata-kata.

Setelah memvisualkan pengarahan, maka kita haruslah menumbuhkan kebiasaan pada anak dengan memberikan pujian atas perilakunya yang sesuai dengan perilaku positif yang ia tunjukkan. Jadi, alih-alih bertanya, “Berapa nilai matematikamu hari ini?” atau “Rangking berapa kamu di kelas?” orang tua yang paham benar penanaman karakter pada anak seharusnya bertanya, “Sudahkah engkau membantu temanmu hari ini?” atau “Bagaimana sholatmu hari ini, Nak?”

Langkah-langkah di atas tentu saja tidak boleh semata berhenti pada tataran pertanyaan rutin. Orang tua haruslah memberikan keteladanan yang selaras dengan pertanyaan-pertanyaan harapan itu. Bagaimana bisa anak akan senang membantu jika orang tuanya sama sekali tidak pernah memberikan contoh  bagaimana membantu itu seharusnya.

Di situlah pentingnya kemampuan mendongeng dan bercerita kepada anak. Karakter-karakter mulia akan menancap dengan kuat ketika disampaikan dengan cara yang menarik dan ekspresif. Sekali lagi, aktivitas di pagi hari dan menjelang tidur memiliki peran penting dalam sesi dongeng-mendongen ini. Salah satu momen yang dicontohkan Ayah Irwan adalah saat sarapan pagi.

Bapak (B)     : Nak, nak.. stop.. stop!!

Anak (A)      : Ada apa, bapak?

B     : Stop, hentikan dulu makanmu, Nak!

A     : Kenapa, bapak?

B     : Bapak baru ingat, di dekat kantor Bapak, ada kakek-kakek yang suka mencari sampah.

A     : Kenapa mencari sampah, pak?

B     : Untuk dijual lagi dan uangnya untuk beli makanan, nak.

A     :  (terdiam)

B     : Nah, bagaimana kalau separuh makanan kakak dan bapak dibungkus untuk diberikan ke kakek itu?

Terlihat, si bapak telah mencontohkan bagaimana berbagi dilakukan. Penyampaian yang penuh ekspresi dan didukung dengan intonasi yang menarik akan membuat anak memusatkan perhatian pada apa yang disampaikan.

Ayah Irwan Rinaldi pada Kuliah Umum Institut Ibu Profesional Salatiga ini juga berbaik hati membagikan buku saku  secara Cuma-Cuma kepada para ayah yang hadir. Buku saku yang berjudul “Yang Harus Ayah Sibuk Lakukan di Pagi, Siang, dan Malam Hari” dan “10 Kiat Ayah Siapkan Anak Prasekolah Berpuasa” langsung ludes  dalam sekejap.

Alhamdulillah, terima kasih banyak, Ayah Irwan! Terima kasih untuk dek Za yang berbaik hati mengirim foto bukunya. Jazakumullah khoiron!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s