Sukses Menyapih dengan Cinta: Bukan Menyapih Biasa (Bag. Akhir)

Tak habis-habisnya rasa syukur terpanjat saat hari ini datang pada akhirnya. Hari dimana Hanif (31 bulan) dan ibunya akhirnya berhasil menaklukkan tantangan terbesar delapan bulan terakhir. Menyapih Hanif. Hari ini, 13 Juli 2013 bertepatan dengan 4 Ramadhan 1434 H.

Penyapihan Hanif adalah sebuah proses panjang, bahkan sejak Hanif berusia 12 bulan. Terlebih, kami memilih metode yang masih belum umum di masyarakat, yaitu metode menyapih dengan cinta (weaning with love). Bahkan, blog ini sampai perlu menulis 2 episode saat menceritakan perjalanan penyapihan Hanif (baca: Menyapih dengan Cinta: Bukan Menyapih Biasa). Sekarang, ini adalah episode ketiga yang semoga menjadi episode penutupnya.

Lepas usia 24 bulan dan ritual minum ASI sebelum tidur masih belum bisa ditinggalkan. Itulah kami. Berbeda dengan keadaan saat siang hari, dimana keinginan Hanif untuk menyusu sudah sangat jauh berkurang. Kami berhasil menggantikan ASI dengan air putih, tawaran makanan ringan buatan sendiri yang jauh lebih menarik, atau aktivitas lain yang mengalihkan keinginan Hanif untuk menyusu, alhamdulillah.

Kondisi malam hari menjelang tidur adalah tantangan tersendiri karena rupanya Hanif masih belum paham subsitusi kenyamanan menyusu dengan bentuk kenyamanan yang lain. Segala rupa substitusi tetap saja berakhir dengan mimik bobok (istilah Hanif untuk menyusu). Plan A dicoret.

Bagaimana dengan dongeng? Hohoho, Hanif jauh lebih tahan melek dibanding para pendongengnya. Bahkan, dengan riang ia akan membangunkan para pendongengnya jika kami tepar terlebih dahulu atau pura-pura tepar untuk membuatnya lupa menyusu. Kembalilah kami mendongeng, dan kembali kami berakhir tertidur oleh dongeng kami sendiri, sementara Hanif tetap segar bugar. Akhirnya, jurus mimik bobok yang menang. Plan B dicoret.

Titik terang mulai muncul saat Hanif (30 bulan) merasakan euforia sukses toilet training dengan metode papan bintang (baca: Tips Toilet Training Bersama Papan Bintang: Seru!.).  Semangatnya mengumpulkan bintang untuk dapat ditukar dengan hadiah keren membuat kami (saya dan Hanif) bersepakat memberi 20 bintang jika Hanif berhenti mimik bobok plus menukarkan 20 bintang itu dengan boneka kelinci (kesukaan Hanif) yang bersaaaar. Hanif mulai mempertanyakan konsekuensi aktivitas mimik boboknya. “Kalau mimik bobok kenapa, Bu Niken?” Bagus!

Tapiiiii, rupanya pemahaman Hanif masih belum merasuk sampai alam bawah sadarnya. Kondisi super mengantuk masih mengalahkan pengetahuannya tentang konsekuensi mimik bobok. Yang ada justru Hanif menggumam di sela ngantuknya, “Ndak dapat boneka ndak apa-apa, Bu Niken. Adek mau mimik bobok saja.” Doeeeenggg! Plan C dicoret.

Semangat, terus sempurnakan metode! Alhamdulillah kemampuan komunikasi, negosiasi, dan logika sederhana Hanif sudah sangat bagus. Penyempurnaan atas plan C membuahkan Plan D yang menambahkan substitusi pencipta rasa nyaman yang semoga dipahami oleh Hanif dengan baik.

Ibu (I)    : Adek Hanif, nanti kalau pengen bobok, dipeluk ibu ya.

Hanif (H): Mimik bobok, Bu Niken..

I               : Adek Hanif belajar berhenti mimik bobok ya.. Nanti bisa dapat bintang 20! Mau ditukar hadiah apa?

H             : (mulai tertarik dengan konsep dipeluk = 20 bintang = hadiah ini) boneka kelinci gedeee

I               : Boleh!

Sejauh ini lancar. Rupanya, efeknya jauh lebih besar dari yang saya perkirakan. Saya merasakan, Hanif mulai paham bahwa ia harus bisa tidur tanpa menyusu. Namun, saya merasakan pula, Hanif masih bingung tentang “bagaimana caranya tidur tanpa menyusu”. Jadilah ia masih melek sampai dengan larut malam (jam 22-23 malam) sambil bermain ini itu dan tidak menyusu, tapi juga tidak pula tidur. Haduh. Plan D harus disempurnakan.

Oiya, omong-omong, kami sama sekali tidak menggunakan metode jalan-jalan naik motor atau naik mobil sebelum tidur karena sebagaimana metode pemberian dot, metode itu hanyalah penciptaan bom waktu bagi kami sendiri. Metode yang menimbulkan ketergantungan dan masalah baru di kemudian hari, yang katanya lebih sulit dipisahkan dari anak. Tidak, kami tidak menggunakan metode itu, meskipun terkesan lebih mudah dan tidak serepot kami berjuang sekarang ini.

Kembali ke plan D.

Saya mencoba mengajarkan Hanif untuk merasakan nyaman saat dipeluk. Saya usap-usap punggungnya, saya cium lembut keningnya, meski pada awalnya Hanif bagaikan cacing kepanasan saat aktivitas peluk memeluk ini saya ajarkan. Hehehe.

Jadi, ketika jam menunjukkan pukul 23 dan Hanif masih belum bisa menidurkan dirinya sendiri, kami memutuskan waktunya turun tangan membantunya tidur.

Ibu (I)                    : MAs Hanif, sudah waktunya bobo. Sudah jam sebelas malam lho.

Hanif (H)              : Belum ngantuk, Bu Niken (padahal matanya sudah sayuuu sekali)

I                               : Belum ngantuk ya? Mas Hanif mau dipeluk? (sambil membentangkan tangan)

H                             : (berpikir sejenak dan biasanya Hanif tak lama kemudian menjawab) Mau!

Beberapa hari pertama, saya hairus mensiasati pelukan ini dengan gendongan dan ayunan ringan agar Hanif merasakan nyaman. Sambil menggendong saya lantunkan lirih doa akan tidur, ayat kursy, surat al ikhlas 3x, surat al falaq 3x, dan surat an naas 3x. Alhamdulillah, Hanif bisa berangkat tidur malam tanpa menyusu.

Saat malam hari Hanif terbangun sebentar, saya gendong sebentar sambil saya usap-usap punggungnya dan iapun tertidur kembali.

Mempertahankan prestasi Hanif dalam hal penyapihan ini memang agak membuat saya bergadang selama beberapa hari, tapi alhamdulillah hasilnya jauh lebih besar dari biaya yang saya keluakan. Hehehe.

Saya sungguh bersyukur, metode yang kami lakukan ini juga tanpa saya sadari menyiapkan fisik saya sendiri untuk menghentikan produksi air susu secara bertahap, seiring dengan kemandirian Hanif tidur tanpa ASI. Saya tidak merasakan demam, pembengkakan, ataupun gangguan hormonal yang seringkali diberitakan menyertai proses penyapihan anak. Alhamdulillah.

Oiya, omong-omong, metode hadiah jika Hanif sukses menyapih dirinya sendiri ini benar-benar harus ditepati lho. Setelah sebelumnya Hanif akan meminta hadiah kelinci yang besarrrrr jika ia berhasil berhenti menyusu, ternyata setelah ia berhasil, ia justru merevisinya menjadi boneka hiu yang giginya lajem-lajem (tajam-tajam).

hiu

Daaannn… ternyata mencari boneka HIU di Salatiga ini ceritanya lebih panjang lagi Insya Allah saya ceritakan di tulisan berikutnya yaa… ^_^

4 thoughts on “Sukses Menyapih dengan Cinta: Bukan Menyapih Biasa (Bag. Akhir)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s