Menyicil Meraih Mimpi: Mengurus Paspor di Kantor Imigrasi

Beberapa waktu lalu saya bertekad kuat untuk segera memiliki paspor sendiri. Alasan terbesarnya adalah menyicil mewujudkan mimpi. Terlalu banyak mimpi saya yang terkait dengan luar negeri, dan saya yakin senjata pertama yang harus saya miliki adalah paspor.

Suami saya yang telah lebih dahulu mengurus paspor sudah memberikan kisi-kisi langkah yang harus saya lakukan. Bedanya, suami saya mengurusnya di kantor imigrasi Jakarta, sedangkan saya sekarang harus mengurusnya di kantor imigrasi Semarang. Meskipun prosedur operasional standart dirjen imigrasi secara aturan adalah sama. Saat itu kami belum tahu apakah pelaksanaannya bakalan sama atau tidak. Pesan suami saya adalah: siapkan mental untuk keadaan yang mungkin berbeda dengan apa yang ia dapatkan di Jakarta. Oke, pesan itulah yang sekarang juga saya pesankan ke teman-teman yang akan mengurus paspor di wilayah masing-masing. Hehe

Kami menyarankan menggunakan fasilitas pembuatan paspor online dari dirjen imigrasi untuk mempermudah aplikasi paspor. Sebelum mendaftar paspor online, scan dulu dokumen yang diperlukan, yaitu: KTP, Akte Kelahiran, dan Kartu Keluarga.  Sebenarnya ada beberapa pilihan dokumen, teman-teman bisa  melihatnya di website imigrasi langsung. Isi form Pra-Pengajuan Paspor sesuai permintaan dan ikuti prosesnya sampai teman-teman mendapatkan kode pengajuan yang bisa dicetak sebagai bukti pengajuan.

Setelah edisi online beres, sesuai jadwal yang disampaikan via online, saya datang ke Semarang dengan membawa dokumen asli dari dokumen yang telah di-scan. Sebagai cadangan, saya juga membawa ijazah asli dan buku nikah asli. Dan uang, tentu saja. Soal perjalanan menuju kantor imigrasi insya Allah saya tuliskan dalam tulisan terpisah ya.

Sesampai di imigrasi, dengan langkah dimantap-mantapkan (biar tidak kelihatan bingung. Hehe), saya melangkah ke klinik imigrasi di bagian samping kantor imigrasi. Saya tidak tahu mengapa ditempatkan di samping kantor seolah-olah pengajuan paspor ini adalah sesuatu yang sedikit peminatnya. Keheranan saya semakin besar saat masuk ke dalam klinik dan melihat deretan antrian dan lalu lalang orang yang mengurus paspor sudah sedemian banyak di jam 9 pagi.

Jujur, pertama kali saya masuk ke klinik imigrasi Semarang, saya bingung dengan alur pengunjung. Ke mana saya pertama kali datang? Tidak ada petugas pemandu yang menyambut kita di pintu masuk. Yang menyambut saya adalah antrian di meja pertama yang terdekat dengan pintu masuk.  Jurus berani bertanya ke petugas di salah satu loket akhirnya saya luncurkan.

Ternyata, berikut urutan langkah pemohon jika inginmembuat paspor baru. Dari petugas yang baik itu juga saya tahu persyaratan memfoto copy semua dokumen yang saya bawa sekaligus membeli formulir surat penyataan belum pernah membuat paspor di koperasi. Nah, di mana koperasinya?

Oiya, soal fotocopy ini, ternyata wajib dalam ukuran kertas A4. Jika ada dokumen yang kita copy dengan kertas selain ukuran A4, maka pasti akan diminta mengkopi ulang di koperasi.

Setelah urusan copy mengkopy ini selesai, saya diminta antri (lagi!) di meja dekat pintu masuk untuk mengambil map imigrasi dan formulir pengajuan paspor sambil mendapatkan nomor antrian. Oiya, informasi tentang pengajuan via online yang sudan saya lakukan harus disampaikan di meja ini agar verifikasi di meja selanjutnya langsung loncat ke tahap berikutnya.

Setelah menerima formulir, map, dan nomor antrian, saya diminta duduk dan menunggu dipanggil sambil mengisi formulir-formulir dan identitas pada map. Sebenarnya saya agak heran karena diminta mengisi form pengajuan persis formulir online. Jadi, berdasar pengalaman saya, perbedaan pengajuan online dan offline hanya pada langkah scan dokumen dan waktu tunggu pada kedatangan di kantor imigrasi yang lebih pendek dibanding pemohon offline.

Omong-omong soal pengisian formulir, tenyata wajib dengan pulpen hitam lho.  Ringkasnya, hal-hal yang harus dipersiapkan untuk lancar jaya di kantor imigrasi Semarang adalah:

  1. Dokumen asli (KTP, akta kelahiran, dan kartu keluarga)
  2. Copy dokumen point nomor 1 dalam kertas A4 (1 kali)
  3. Materai 6000 (1 buah)
  4. Pulpen hitam
  5. Uang transport plus uang paspor Rp. 255.000,-
  6. Pakaian bebas rapi (bukan kaos)

Setelah verifikasi berkas beres, lanjut ke pembayaran sebesar Rp. 255.000,- dan lanjut ke pemotretan (halah, bahasanya) dan wawancara.  Jilbab tetap dapat digunakan apa adanya alhamdulillah. Wawancara juga singkat saja terkait dengan negara tujuan dan alasan keberangkatan. Sedikit-sedikit ada pertanyaan tentang pendidikan dan pekerjaan. Alhamdulillah lancar.

Selesai wawancara, saya sudah diperbolehkan pulang untuk dapat mengambil paspor 4 hari kerja ke depan dengan membawa bukti pembayaran. Pengambilan dapat dilakukan di loket terdekat dengan pintu masuk yang (ternyata) ada tulisan kecil: PENGAMBILAN PASPOR di sudut loket. Jika tidak tajam benar penglihatan kita, tak terbacalah tulisan itu. Hihihihi.

paspor

Alhamdulillah,sekali lagi saya bersyukur bahwa pengalaman membantu proses verifikasi mahasiswa Pascasarjana IPB beberapa tahun yang lalu sedikit banyak memberikan pengalaman kepada saya tentang proses verifikasi yang mengalir dan mempermudah customer. Melihat proses verifikasi pengajuan paspor di kantor imigrasi Semarang ini agak menguji kesabaran dan keaktifan kita untuk tidak segan bertanya. Semoga ada perbaikan yang signifikan di pengajuan paspor saya yang berikutnya. Mau bikin lagi, ceritanya. Hehehe

3 thoughts on “Menyicil Meraih Mimpi: Mengurus Paspor di Kantor Imigrasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s