Tak Sekadar Menjumput Saat Operasi Semut

 

We are not dealing with garbage,we are dealing with lifestyle

~Makalah Prof Enri Damanhuri (Institut Teknologi Bandung)
dalam Focus Group Discussion (FGD)  Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian,
 Jakarta 22 Juni 2009

 

Agustus 2015. Geram rasanya melihat sampah bertebaran di Salatiga Expo September 2015 lalu. Kunjungan edukasi bersama anak-anak yang terimaji menyenangkan, terusik dengan kenyataan akan tebaran sampah, terutama di dengan stand makanan. Padahal, tempat sampah di Lapangan Pancasila juga tak sedikit. Tapi entah kenapa, sampah yang ada di luar tempat sampah, lebih tak sedikit.

 

Mirisnya, sampah-sampah itu adalah hasil karya banyak orang yang tak pandang bulu usia, seragam, maupun asalnya. Berapa kali saja kami mendapati pengunjung yang enteeeng sekali membuang sampah kemasan (makanan, terutama) tak jauh dari ia berdiri, tak jauh dari ia duduk. Ada juga sih yang pelan-pelan, sembunyi-sembunyi, sungkan-sungkan. Tapi intinya sama, membuang sampah bukan di tempat sampah.

 

September 2015. Lebih baik menyalakan lilin, daripada merutuki kegelapan. Prinsip itu adalah salah satu yang saya pegang teguh. Begitupun soal sampah bertebaran yang bagi saya begitu mengganggu pandangan mata. Yang jadi kabar baik, saya tak sendirian merasakannya. Maka, tercetuslah ide tentang Operasi Semut.

 

Apa itu Operasi Semut?

 

Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang selalu muncul saat kami menyebut istilah itu. Dan memang tidak berlebihan karena sulit membayangkan hubungan kata operasi dan semut bukan? Haha.

 

Bukan, kami bukan mengoperasi semut. Kami justru seolah menjadi semut yang beroperasi. Ya, operasi semut berfilosofi pada gotong royong bangsa semut dalam menyelesaikan tantangan kehidupan mereka. Kami ingin terjun langsung menunjukkan bahwa sampah harusnya terletak di tempat sampah. Bukan di jalanan, di selokan, bukan pula di sela-sela taman. Setidaknya, kami ingin menunjukkan kepada anak-anak kami sendiri tentang salah satu kebaikan paling sederhana yang sangat mungkin ia lakukan sejak usia dini.
1

Sejak usia berapa bisa mengajak anak untuk Operasi Semut? Jawabannya adalah sejak anak bisa diajak keluar dari rumahnya.

 

Anak-anak adalah konsentrasi kami. Anak-anak yang diamanahkan kepada kami untuk kami didik dengan sepenuh hati. Dan kami percaya, tak ada pendidikan yang paling mengena selain teladan dari kami sendiri. Itulah mengapa, dalam Operasi Semut tiap Jum’at pagi pasti ada saja anak-anak yang menyertai kami. Dan itulah mengapa, Operasi Semut tak sekadar gerakan memungut sampah. Ada jiwa-jiwa pembelajar berupa anak-anak kami yang mengamati setiap gerak gerik kami — orang tuanya — dan menyalinnya tanpa cela dalam keseharian kanak-kanak mereka.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Bola salju mulai meluncur bi idznillah. Setiap pekan kami mencoba konsisten melakukan Operasi Semut di alun-alun kota Salatiga. Kami menyebut diri dengan istilah Pasukan Semut. Kami berkeliling lapangan yang menjadi jantung kota Salatiga ini sambil membawa kantong kresek besar, mulai memunguti sampah yang bertebaran, diikuti anak-anak kami yang dengan ria mengikuti gerakan kami sambil berlarian.Lupakan dulu soal mengurangi produksi sampah dengan meminimalkan penggunaan plastik. Membuang sampah pada tempatnyalah yang masih menjadi prioritas gerakan Operasi Semut sampai saat ini.

 

Sesi “menyemut” sekitar satu jam ini diawali dengan yel-yel khas Pasukan Semut dan diakhiri dengan menimbang perolehan sampah hari itu, diskusi ringan seputar persampahan dan lingkungan sambil menikmati bekal penganan yang kami bawa sendiri, dan tentu saja yel-yel Pasukan Semut. Meskipun kadang kami yang tua-tua ini menebalkan muka untuk percaya diri mengumandangkan yel-yel Operasi Semut, bisa dipastikan anak-anaklah yang paling bersemangat dalam sesi yel-yel ini. Haha.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Apakah relawan Operasi Semut banyak?

 

Alhamdulillah, tidak. Haha. Tak jarang hanya seorang diri ralawan kami beroperasi semut sambil menggendong si bungsu. Bisa jadi karena di tahun pertama Operasi Semut ini kami memilih hari Jumat untuk beroperasi.Namun, baik sendirian maupun berbanyak teman, kami mencoba terus bergerak karena ada anak-anak kami yang tak membutuhkan orang lain untuk dijadikan teladan, selain diri kami sendiri.

 

Soal hari Jumat ini, pertimbangan edukasi ke anak-anak sekolah maupun staf berbagai instansi yang menggunakan Lapangan Pancasila sebagai arena olah raga di Jumat pagi menjadi alasannya. Sedikit-sedikit, kami ingin mengkampanyekan buang sampah di tempat sampah dengan kami melakukannya langsung bersama anak-anak di depan para pengguna Lapangan Pancasila. Rasa heran mereka — yang pasti muncul saat melihat ibu-ibu tanpa tampilan pemulung bersama anak kecil yang berlarian memunguti segala macam sampah anorganik — adalah pintu masuk kami untuk memberikan sedikit edukasi.

 

Dengan sangat hormat, kami memang bukan pemulung. Satu dua pemulung yang berpapasan saat kami Operasi Semut juga memandang penuh ekspresi, “Wah, saingan baru nih.. tapi kok tampilannya beda sama gue?” Kurang lebih begitulah arti mimik muka mereka yang coba kami terjemahkan. Belakangan, mereka justru menganggap kami rekan kerja karena kami tidak mengancam eksistensi mereka. Satu hal yang pasti, Operasi Semut justru mengajarkan kami semakin mengapresiasi profesi pemulung yang ternyata jauh lebih mulia karena ia rela dipandang hina dengan mengambil sampah daripada profesi lain yang terlihat mulia tapi membuang sampah sembarangan. Itu yang kami tekankan pula kepada anak-anak kami saat menyemut bersama.
16

Selalu ada hal baru yang menarik kami jumpai saat Operasi Semut

 

Akhir Agustus 2016. Pengalaman tahun pertama menjalani Operasi Semut menjadi pijakan kami di tahun kedua untuk melibatkan lebih banyak relawan dengan digesernya Operasi Semut ke hari Sabtu pagi mulai September 2016. Kami memandang Operasi Semut sudah selayaknya menjadi alternatif kegiatan akhir pekan keluarga yang memiliki fungsi ganda, yaitu rekreasi dan edukasi.
17

Para relawan Operasi Semut dan skema ide terbentuknya Operasi Semut

 

Operasi Semut pada dasarnya adalah sebentuk lilin yang coba kami nyalakan di tengah gelapnya keacuhan masyarakat tentang menempatkan sampah di tempat sampah. Kami tidak menyebut Operasi Semut sebagai inovasi daerah Salatiga karena sebenarnya siapapun sangat bisa melakukannya. Sangat bisa. Siapapun sangat bisa menyalakan lilin ini dan menjaga apinya tetap berpendar dari hari ke hari. Ini terbukti dengan antusiasme netizen Salatiga yang mendukung Operasi Semut saat kami mencoba teratur bertutur tentang Operasi Semut di grup nongkrongnya warga Salatiga di Facebook. Tinggal soal komitmenlah yang akan menjadikan lilin yang dimiliki setiap orang ini akan menyala atau tidak. Pasukan Semut memilih untuk menyalakan dan menjaga pendarnya sampai saat ini.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Dukungan dari luar kota Salatiga juga turut membesarkan semangat kami untuk terus menyemut meski jumlah relawan pasang surut. Kabar kawan yang bercerita bahwa satu dua kota di luar Salatiga mulai bergerak menyemut pun membuat kami yakin bahwa masih buanyak sekali yang peduli bahwa gaya hidup membuang sampah pada tempatnya sangat bisa untuk dibudayakan sejak dini dengan kemasan yang lebih menyenangkan. Maka sungguh tepat kutipan yang dicatat benar oleh Prof. Enri. Kita tidak sedang berurusan dengan sampah (semata), kita berurusan dengan gaya hidup orang banyak. Setidaknya, semoga Operasi Semut bisa menjadi secercah lilin harapan untuk Indonesia yang lebih baik. Aamiin.

Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahkuhttps://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku
Iklan

Gravida Syndrome #27

Ia mulai menggodaku.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba ia merasuki kesadaranku.

Membelai lembut, menjalari tiap senti isi kepalaku.

Aku mulai mendengus..

Susah payah melenyapkan pesonanya dari imajinasiku…

 

“Ibu Tiara…” penggilan dari pengeras suara itu membuatku otomatis bergerak ke meja perawat.

Aku langsung berdiri di penimbang badan digital di dekat pintu penyekat. 62 kilogram. Oke, bagus. Berat badanku sudah naik  lima kilogram dibanding pertama kali aku kemari. Aku lalu bergeser ke kursi di dekatnya. Alat pengukur tekanan darah sudah tersedia. Aku duduk dan menanti perawat mulai mengukur tekanan darahku.

Rumah sakit ini ramai benar hari ini. Ah, aku lupa. Ini hari Sabtu. Tentu banyak yang lebih memilih hari ini karena mungkin di hari yang lain mereka bekerja dari pagi sampai petang. Memilih ke sini sepulang dari kantor tentu terasa lebih melelahkan karena bisa dipastikan sampai di rumah lebih malam dari biasanya. Dan itu artinya rutinitas di rumah akan bergeser secara domino. Sama sepertiku.

Namaku Tiara. Tahun ini umurku 26 tahun. Hari ini adalah kunjunganku kemari yang kesekian. Sebentar, kubuka dulu buku catatanku. Ah ya.. ini adalah kunjunganku yang ke tujuh. Aku mulai hafal sudut-sudut rumah sakit ini. Aku mulai paham alur perjalanan pasien dari masuk sampai pulang. Dan aku mulai akrab dengan bau rumah sakit ini.

“Ibu, tensinya tinggi sekali…” suara perawat menegurku.

Eh? Aku memasang muka terkejut.

“Iya, Bu.. tensi ibu 140/90,” ia menegaskan.

Deg. Aku membeku seketika.

“Lalu bagaimana, sus?”  Entah mengapa aku otomatis meminta pendapat perawat yang kupanggil suster itu.

“Ibu periksa saja dulu dengan dokter ya. Nanti dicek lagi setelah periksa,” profesional sekali ia menjawab pertanyaanku. Baiklah. Aku menurut dan beringsut kembali ke kursi tunggu pasien. Hatiku kacau.

**

 Namaku Tiara. Tahun ini umurku 26 tahun. Kali ini adalah kehamilanku yang pertama. Biasanya, suamiku menemaniku mengikuti anti natal care – ANC – ke rumah sakit ini. Tapi kali ini, aku datang sendiri. Ia mendapat jadwal piket yang tak bisa ditinggalkan. Dan ternyata, sekacau ini hatiku bertemu kenyataan. Sindrom kehamilan nomor dua puluh lima: ANC tanpa ditemani suami. Gravida Syndrome #25.

Tekanan darahku setinggi itu. 140/90 mmHg.

Ini adalah kondisi yang berbahaya dalam kehamilan. Berbahaya untuk ibu hamil maupun kehamilan itu sendiri. Aku tahu benar itu. Buku panduan kehamilan pemberian suamiku gamblang memaparkan segala rupa tentangnya. Pertumbuhan janin terhambat, prematur, absupsio placenta alias plasenta lepas dari dinding rahim sebelum masanya, preeklampsia alias janin keracunan, dan sederet akibat tekanan darah tinggi saat hamil berputar-putar di kepalaku.

Dan sekarang aku mengalaminya, saat aku ANC sendiri saja. Sungguh, hatiku sangat kacau.

Aku masuk ruang praktek dengan hati sekacau itu. Syukurlah, dokter Fifi menyapaku seramah biasanya. Tentu air mata yang siap membuncah dan hidung yang memerah sudah menjelaskan banyak hal baginya. Pasiennya sedang kacau.

**

Ruang Staf Administrasi Akademik Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. 14.00 WIB.

Pekerjaan rutin sudah menipis. Angin siang berhembus sepoi-sepoi dari jendela loket yang berbatasan langsung dengan koridor Gedung Rektorat. Penyejuk udara tidak pernah berlaku untuk posisi di depan koridor yang mulai lengang ini. Angin Cendela menjadi satu-satunya penyejuk udara yang harus diterima dengan lapang dada.

Beranjak ke pekerjaan ekstra yang bakalan menguras konsentrasi. Si kecil dalam perut sesekali menggeliat lembut, ikut merasakan suasana siang yang terlalu tenang ini. Aku menekuri meja kerja dan setumpuk berkas yang menjadi bahanku menyusun buku panduan. Sesekali terdengar suara staf Tata Usaha bercakap-cakap menjeda siang. Tak ada yang istimewa sebenarnya. Semua bekerja dengan gaya masing-masing.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba ia merasuki kesadaranku.

Membelai lembut, menjalari tiap senti isi kepalaku.

Aku mulai mendengus..

Susah payah melenyapkan pesonanya dari imajinasiku…

Bau ini…

Si kecil dalam perutku rupanya merasakan pula hadirnya. Ia menendang beberapa kali, memberi tahuku. Aku mendengus beberapa kali. Mencoba mengusir godaannya dan memusatkan konsentrasi. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Semakin aku mendengus, semakin ia dalam merasuki kesadaranku.

Aku mendesah. Menyerah dan memilih menyandarkan punggung ke kursi putarku. Bau ini nikmat sekali. Sulit benar aku mengabaikannya. Pekat, hangat, dan ligat. Bau kopi yang diseduh. Sindrom kehamilan nomor dua puluh tujuh akhirnya datang juga. Gravida Syndrome #27: ngidam minum kopi.

Aku bukan penganut ngidam. Maksudku, ngidam yang sampai lebay bajay tidak masuk akal dan cenderung terkesan dibuat-buat. Pernah dengar ibu hamil ngidam buah mangga muda yang sama sekali tidak sedang musim? Atau ibu hamil yang ngidam sate Madura jam dua dini hari? Bukan, aku bukan ibu hamil seperti itu. Bahkan, sampai kehamilanku yang masuk trimester akhir ini, aku tidak mengalami kepingin yang aneh-aneh seperti itu. Aku patut bersyukur karena dengan posisi suamiku di luar kota, ngidam aneh-aneh justru membuatku mati kutu sendiri bukan?

Tapi sindrom nomor dua puluh tujuh ini berbeda. Pesonanya sulit untuk kutepis begitu saja. Gemulai aromanya menggelitik syaraf-syaraf pengecapku. Aku mau merasainya. Sungguh, aku sangat ingin merasainya…

Mataku menjelajah mencari tahu sumber bau itu. Dan rupanya tak jauh dari meja kerjaku. Mbak Fiel sedang menyeduh kopi kesukaannya. Kopi ABC Susu yang memang jadi favorit orang seruangan. Perpaduan kopi, gula, dan krimernya menurutku paling nendang di kelasnya. Serasa melayang, aku menyambanginya.

“Mbak Fiel, icip kopinya dong…” aku merayu.

“Eh Tiara kan lagi hamil.. nggak boleh yaa,” berjengit Mbak Fiel melihatku.

“Aih, bolehlah… sedikiiiit saja,” sempurna aku terbius keharuman kopi itu.

Mbak Fiel tertawa, “Tiara lupa ya sama tekanan darah?”

Aku mendengus. Kali ini bukan karena mengusir bau kopi, tapi mengusir kenangan ANC dengan tekanan darah 140/90 mmHg yang mengacaukan hatiku tempo hari. Memang sih, kopi bisa menyumbang peran menaikkan tekanan darah lewat kafeinnya. Tapi, bukannya aku Cuma merayu icip sedikit saja?

“Mbak Fiel, aku kan Cuma minta icip sesendok saja,” godaan kopi itu sungguh luar biasa merasukiku. Baunya yang khas telah sempurna lekat dalam memoriku. Pantang berkopi selama hamil telah melipatgandakan efek belaian bau kopi siang itu.

“Tiara, hamil lho…” tawa Mbak Fiel terdengar makin menggodaku untuk menaklukkan kopi itu.

“Gak apa, Mbak Fiel..

Mbak Fiel nggak tahu ya? Kopi bisa menjaga stamina ibu hamil macam aku. Menambah energi lho..”

Mbak Fiel mulai mengangkat alisnya.

“Belum lagi, kopi bisa meningkatkan konsentrasi juga,” aku buru-buru menambahkan. “Terus membantu menjaga mood biar tetap bagus. Bisa juga buat menormalkan gula darah ibu hamil. Bahkan justru menormalkan tekanan darah juga, Mbak.”

“Walah… Tiara ini bisa aja,” Mbak Fiel makin tertawa mendengar cerocosku.

“Eh beneran, Mbak Fiel..” aku menandaskan. Demi sesendok kopi itu, aku tak peduli kalau perjuanganku terlihat lebay. “Ini hasil penelitian lho, Mbak..Fakta.. Fakta ilmiah!”

“Hahaha.. penelitian dari mana?” Mbak Fiel masih teguh menolak rayuan sendokku. Satu dua kepala di ruangan mulai melongok ingin tahu keributan kecil perkara kopi ini.

“Sini, sini.. aku kasih lihat sumbernya!” Aku menyeret Mbak Fiel ke komputernya. Kubuka mesin pencari dan kuketikkan kata kunci: penelitian ibu hamil dan kopi. Ha, Mbak Fiel pasti tak berkutik. Aku menyeringai puas.

Dalam hitungan sepersekian detik, mesin pencari membeberkan judul-judul terkait penelitian kopi dan ibu hamil. Tak hanya puluhan.. RATUSAN! Kusorongkan monitor ke Mbak Fiel. Sendok kecilku menari-nari di cangkir kopinya. Hidungku mengendus-endus.

Cepat Mbak Fiel membaca salah satu judul teratas dan dia tertawa makin keras. “Tiaraaa… ini kan nggak ilmiah. Semuanya Cuma bilang penelitian, penelitian, penelitian. Penelitian siapa? Kapan? Di mana? Nggak ada tuh kepastian info ini valid,” belum menyerah rupanya ia.

“Nih, coba Tiara yang baca sekarang deh,” ganti Mbak Fiel menyorongkan monitor padaku. “Ini baru ilmiah, “ tegasnya.

Rupanya ia memakai jurus yang sama untuk menggagalkan invasi sendokku ke cangkirnya. Jurus mesin pencari.

Saat hamil, banyak ibu yang selektif dalam makanan dan minuman yang dikonsumsi. Namun, bagi ibu hamil pecinta kopi, tak perlu khawatir mengonsumsinya karena tak akan memengaruih IQ anak seperti diungkapkan dalam studi terbaru. Namun perlu diingat, jumlah yang diperkenankan maksimal dua cangkir per hari. 

Dalam studi yang dilakukan ilmuwan Ohio State University College of Medicine, tidak ditemukan kecerdasanan intelektual anak yang lahir dari ibu yang konsumsi kopi saat hamil turun seperti dikutip dari laman Live Science, Selasa (24/11/2015).

Tidak ada bukti bahwa konsumsi kafein selama kehamilan berdampak negatif pada kecerdasan intelektual maupun perilaku saat anak berusia 4-7 tahun seperti ditulis peneliti dalam studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Epidemiology.

“Secara keseluruhan, kami menemukan ibu hamil yang konsusmi kopi secara moderat yakni maksimal dua cangkir kopi setiap hari tidak berdampak pada kecerdasan intelektual anak,” terang asisten profesor pediatrik yang juga salah satu peneliti studi ini, Sarah Keim.

Ini bukan studi pertama yang menunjukkan konsumsi kopi secara moderat aman untuk dikonsumsi. Sebelumnya, di tahun 2012 menemukan konsumsi kafein saat hamil tidak memiliki hubungan dengan kebiasaan anak terbangun di malam hari.

Lalu, menurut American College of Obstetricians and Gynecologists, konsumsi kafein kurang dari 200mg per hari, atau sekitar satu atau dua cangkir kopi per hari aman selama kehamilan. Namun, efek konsumsi kafein dalam jumlah lebih besar belum ditemukan dengan jelas.[1]

Antara senang dan bingung, aku memandang Mbak Fiel yang tersenyum lebar.

“Jadi?” aku meminta keputusan.

“Sesendok?” ia balik bertanya.

Aku mengangguk-angguk bersemangat. Sendokku ikut mengangguk-angguk. Si kecil di perutku ikut menendang-nendang.

“Tentulah boleeeh,” puas sekali Mbak Fiel mengerjaiku.

**

Namaku Tiara. Tahun ini umurku 26 tahun. Kali ini adalah kehamilanku yang pertama. Kami ingin menikmati setiap detiknya. Maka terciptalah Gravida Syndrome. Sindrom kehamilan a la kami. Ini adalah kisahnya yang ke-27.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[1] http://health.liputan6.com/read/2372577/ibu-hamil-ternyata-boleh-minum-kopi

 

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

Nice Home Work #8

Pasir waktu matrikulasi tinggal tersisa sedikit. Hari ini sudah masuk ke tugas ke -8. Entah jika di depan ada tugas 9.1 sampai 9.10. Hahaha

Kali ini temanya tentang.. agent of change. Jadi ingat jaman kuliah. Mahasiswa adalah agent of change. Dan ternyata saat jadi mahasiswa matrikulasi kali ini, muncul juga tema itu. Mahasiswa adalah agent of change. Hahaha *lagi

BUNDA sebagai AGEN PERUBAHAN

Bunda, kalau sudah menemukan passion (ketertarikan minat ) ada di ranah mana, mulailah lihat isu sosial di sekitar anda, maka belajar untuk membuat solusi terbaik di keluarga dan masyarakat.

Rumus yang kita pakai :
PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE

Social venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan.

Sehingga bunda bisa membuat perubahan di masyarakat diawali dari rasa emphaty, membuat sebuah usaha yang berkelanjutan diawali dengan menemukan passion dan menjadi orang yang merdeka menentukan nasib hidupnya sendiri.

Hal ini akan membuat kita bisa meneyelesaikan permasalahan sosial di sekitar kita dengan kemampuan enterpreneur yang kita miliki. Sehingga untuk melakukan perubahan tidak perlu menunggu dana dari luar, tapi cukup tekad kuat dari dalam.

Maaf ya banyak tertawa, sedang dapat bonus waktu karena bisa mengerjakan tugas di sela para bocil main air. Tapi mohon dimaafkan kalau ngetiknya juga wussss :p

Untuk menjawab NHW#8 ini saya akan mengangkat salah satu proyek sosial saya yang saya lakukan bersama teman-teman yang terhitung langka. Apakah itu? Mari menyimak aplikasi rumus tersebut dalam gambar berikut:

nhw 8.1

Mengapa operasi semut merupakan simpulan dari kolom-kolom di sebelah kirinya? Begini ceritanya…Mengutip dari informasi yang sudah saya sampaikan di facebook.

Berawal dari keprihatinan atas ringannya tangan2 terpelajar utk membuang sampah sembarangan saat Salatiga Expo 2015. Berlanjut dari keinginan mengajak si kecil untuk belajar peduli dengan sampah sejak dini. Bersambut dukungan dari kawan2 dari berbagai kalangan. Jadilah Operasi Semut.

Belajar pada semangat kerja sama bangsa semut, yang dengan bergotong royong menaklukkan tantangan besar kehidupan mereka. Berterima kasih atas inspirasi Kakek Hakimi Sarlan Rasyid.

Menulis masuk ke dalam isian tabel karena kekuatan tulisan untuk memperluas ide sosial ini saya rasakan memang menakjubkan bi idznillah. Setidaknya makin banyak yang tahu soal keberadaan operasi semut ini dengan perantara tulisan yang dibuat di sela-sela aktivitas membersamai ananda.

Ide ini juga bisa berdampak pada kehidupan rumah tangga dengan cara yang tidak biasa. Siapa yang tak terharu melihat ananda tertib membuang sampah di tempatnya tanpa diminta? Siapa yang tak meleleh melihat ide kreativitas bermunculan dari sesuatu yang awalnya tergolong sampah? Dan masih buanyaaaak lagi, maasya allah.. Maka, menurut pendek pendapat saya, ide ini berkorelasi dengan tugas-tugas NHW sebelumnya yang sudah saya paparkan.

Soal jumlah peserta, itu lain waktulah saya coba ceritakan. Insya allah.