Tak Sekadar Menjumput Saat Operasi Semut

 

We are not dealing with garbage,we are dealing with lifestyle

~Makalah Prof Enri Damanhuri (Institut Teknologi Bandung)
dalam Focus Group Discussion (FGD)  Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian,
 Jakarta 22 Juni 2009

 

Agustus 2015. Geram rasanya melihat sampah bertebaran di Salatiga Expo September 2015 lalu. Kunjungan edukasi bersama anak-anak yang terimaji menyenangkan, terusik dengan kenyataan akan tebaran sampah, terutama di dengan stand makanan. Padahal, tempat sampah di Lapangan Pancasila juga tak sedikit. Tapi entah kenapa, sampah yang ada di luar tempat sampah, lebih tak sedikit.

 

Mirisnya, sampah-sampah itu adalah hasil karya banyak orang yang tak pandang bulu usia, seragam, maupun asalnya. Berapa kali saja kami mendapati pengunjung yang enteeeng sekali membuang sampah kemasan (makanan, terutama) tak jauh dari ia berdiri, tak jauh dari ia duduk. Ada juga sih yang pelan-pelan, sembunyi-sembunyi, sungkan-sungkan. Tapi intinya sama, membuang sampah bukan di tempat sampah.

 

September 2015. Lebih baik menyalakan lilin, daripada merutuki kegelapan. Prinsip itu adalah salah satu yang saya pegang teguh. Begitupun soal sampah bertebaran yang bagi saya begitu mengganggu pandangan mata. Yang jadi kabar baik, saya tak sendirian merasakannya. Maka, tercetuslah ide tentang Operasi Semut.

 

Apa itu Operasi Semut?

 

Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang selalu muncul saat kami menyebut istilah itu. Dan memang tidak berlebihan karena sulit membayangkan hubungan kata operasi dan semut bukan? Haha.

 

Bukan, kami bukan mengoperasi semut. Kami justru seolah menjadi semut yang beroperasi. Ya, operasi semut berfilosofi pada gotong royong bangsa semut dalam menyelesaikan tantangan kehidupan mereka. Kami ingin terjun langsung menunjukkan bahwa sampah harusnya terletak di tempat sampah. Bukan di jalanan, di selokan, bukan pula di sela-sela taman. Setidaknya, kami ingin menunjukkan kepada anak-anak kami sendiri tentang salah satu kebaikan paling sederhana yang sangat mungkin ia lakukan sejak usia dini.
1

Sejak usia berapa bisa mengajak anak untuk Operasi Semut? Jawabannya adalah sejak anak bisa diajak keluar dari rumahnya.

 

Anak-anak adalah konsentrasi kami. Anak-anak yang diamanahkan kepada kami untuk kami didik dengan sepenuh hati. Dan kami percaya, tak ada pendidikan yang paling mengena selain teladan dari kami sendiri. Itulah mengapa, dalam Operasi Semut tiap Jum’at pagi pasti ada saja anak-anak yang menyertai kami. Dan itulah mengapa, Operasi Semut tak sekadar gerakan memungut sampah. Ada jiwa-jiwa pembelajar berupa anak-anak kami yang mengamati setiap gerak gerik kami — orang tuanya — dan menyalinnya tanpa cela dalam keseharian kanak-kanak mereka.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Bola salju mulai meluncur bi idznillah. Setiap pekan kami mencoba konsisten melakukan Operasi Semut di alun-alun kota Salatiga. Kami menyebut diri dengan istilah Pasukan Semut. Kami berkeliling lapangan yang menjadi jantung kota Salatiga ini sambil membawa kantong kresek besar, mulai memunguti sampah yang bertebaran, diikuti anak-anak kami yang dengan ria mengikuti gerakan kami sambil berlarian.Lupakan dulu soal mengurangi produksi sampah dengan meminimalkan penggunaan plastik. Membuang sampah pada tempatnyalah yang masih menjadi prioritas gerakan Operasi Semut sampai saat ini.

 

Sesi “menyemut” sekitar satu jam ini diawali dengan yel-yel khas Pasukan Semut dan diakhiri dengan menimbang perolehan sampah hari itu, diskusi ringan seputar persampahan dan lingkungan sambil menikmati bekal penganan yang kami bawa sendiri, dan tentu saja yel-yel Pasukan Semut. Meskipun kadang kami yang tua-tua ini menebalkan muka untuk percaya diri mengumandangkan yel-yel Operasi Semut, bisa dipastikan anak-anaklah yang paling bersemangat dalam sesi yel-yel ini. Haha.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Apakah relawan Operasi Semut banyak?

 

Alhamdulillah, tidak. Haha. Tak jarang hanya seorang diri ralawan kami beroperasi semut sambil menggendong si bungsu. Bisa jadi karena di tahun pertama Operasi Semut ini kami memilih hari Jumat untuk beroperasi.Namun, baik sendirian maupun berbanyak teman, kami mencoba terus bergerak karena ada anak-anak kami yang tak membutuhkan orang lain untuk dijadikan teladan, selain diri kami sendiri.

 

Soal hari Jumat ini, pertimbangan edukasi ke anak-anak sekolah maupun staf berbagai instansi yang menggunakan Lapangan Pancasila sebagai arena olah raga di Jumat pagi menjadi alasannya. Sedikit-sedikit, kami ingin mengkampanyekan buang sampah di tempat sampah dengan kami melakukannya langsung bersama anak-anak di depan para pengguna Lapangan Pancasila. Rasa heran mereka — yang pasti muncul saat melihat ibu-ibu tanpa tampilan pemulung bersama anak kecil yang berlarian memunguti segala macam sampah anorganik — adalah pintu masuk kami untuk memberikan sedikit edukasi.

 

Dengan sangat hormat, kami memang bukan pemulung. Satu dua pemulung yang berpapasan saat kami Operasi Semut juga memandang penuh ekspresi, “Wah, saingan baru nih.. tapi kok tampilannya beda sama gue?” Kurang lebih begitulah arti mimik muka mereka yang coba kami terjemahkan. Belakangan, mereka justru menganggap kami rekan kerja karena kami tidak mengancam eksistensi mereka. Satu hal yang pasti, Operasi Semut justru mengajarkan kami semakin mengapresiasi profesi pemulung yang ternyata jauh lebih mulia karena ia rela dipandang hina dengan mengambil sampah daripada profesi lain yang terlihat mulia tapi membuang sampah sembarangan. Itu yang kami tekankan pula kepada anak-anak kami saat menyemut bersama.
16

Selalu ada hal baru yang menarik kami jumpai saat Operasi Semut

 

Akhir Agustus 2016. Pengalaman tahun pertama menjalani Operasi Semut menjadi pijakan kami di tahun kedua untuk melibatkan lebih banyak relawan dengan digesernya Operasi Semut ke hari Sabtu pagi mulai September 2016. Kami memandang Operasi Semut sudah selayaknya menjadi alternatif kegiatan akhir pekan keluarga yang memiliki fungsi ganda, yaitu rekreasi dan edukasi.
17

Para relawan Operasi Semut dan skema ide terbentuknya Operasi Semut

 

Operasi Semut pada dasarnya adalah sebentuk lilin yang coba kami nyalakan di tengah gelapnya keacuhan masyarakat tentang menempatkan sampah di tempat sampah. Kami tidak menyebut Operasi Semut sebagai inovasi daerah Salatiga karena sebenarnya siapapun sangat bisa melakukannya. Sangat bisa. Siapapun sangat bisa menyalakan lilin ini dan menjaga apinya tetap berpendar dari hari ke hari. Ini terbukti dengan antusiasme netizen Salatiga yang mendukung Operasi Semut saat kami mencoba teratur bertutur tentang Operasi Semut di grup nongkrongnya warga Salatiga di Facebook. Tinggal soal komitmenlah yang akan menjadikan lilin yang dimiliki setiap orang ini akan menyala atau tidak. Pasukan Semut memilih untuk menyalakan dan menjaga pendarnya sampai saat ini.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Dukungan dari luar kota Salatiga juga turut membesarkan semangat kami untuk terus menyemut meski jumlah relawan pasang surut. Kabar kawan yang bercerita bahwa satu dua kota di luar Salatiga mulai bergerak menyemut pun membuat kami yakin bahwa masih buanyak sekali yang peduli bahwa gaya hidup membuang sampah pada tempatnya sangat bisa untuk dibudayakan sejak dini dengan kemasan yang lebih menyenangkan. Maka sungguh tepat kutipan yang dicatat benar oleh Prof. Enri. Kita tidak sedang berurusan dengan sampah (semata), kita berurusan dengan gaya hidup orang banyak. Setidaknya, semoga Operasi Semut bisa menjadi secercah lilin harapan untuk Indonesia yang lebih baik. Aamiin.

Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahkuhttps://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s