Gravida Syndrome #27

Ia mulai menggodaku.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba ia merasuki kesadaranku.

Membelai lembut, menjalari tiap senti isi kepalaku.

Aku mulai mendengus..

Susah payah melenyapkan pesonanya dari imajinasiku…

 

“Ibu Tiara…” penggilan dari pengeras suara itu membuatku otomatis bergerak ke meja perawat.

Aku langsung berdiri di penimbang badan digital di dekat pintu penyekat. 62 kilogram. Oke, bagus. Berat badanku sudah naik  lima kilogram dibanding pertama kali aku kemari. Aku lalu bergeser ke kursi di dekatnya. Alat pengukur tekanan darah sudah tersedia. Aku duduk dan menanti perawat mulai mengukur tekanan darahku.

Rumah sakit ini ramai benar hari ini. Ah, aku lupa. Ini hari Sabtu. Tentu banyak yang lebih memilih hari ini karena mungkin di hari yang lain mereka bekerja dari pagi sampai petang. Memilih ke sini sepulang dari kantor tentu terasa lebih melelahkan karena bisa dipastikan sampai di rumah lebih malam dari biasanya. Dan itu artinya rutinitas di rumah akan bergeser secara domino. Sama sepertiku.

Namaku Tiara. Tahun ini umurku 26 tahun. Hari ini adalah kunjunganku kemari yang kesekian. Sebentar, kubuka dulu buku catatanku. Ah ya.. ini adalah kunjunganku yang ke tujuh. Aku mulai hafal sudut-sudut rumah sakit ini. Aku mulai paham alur perjalanan pasien dari masuk sampai pulang. Dan aku mulai akrab dengan bau rumah sakit ini.

“Ibu, tensinya tinggi sekali…” suara perawat menegurku.

Eh? Aku memasang muka terkejut.

“Iya, Bu.. tensi ibu 140/90,” ia menegaskan.

Deg. Aku membeku seketika.

“Lalu bagaimana, sus?”  Entah mengapa aku otomatis meminta pendapat perawat yang kupanggil suster itu.

“Ibu periksa saja dulu dengan dokter ya. Nanti dicek lagi setelah periksa,” profesional sekali ia menjawab pertanyaanku. Baiklah. Aku menurut dan beringsut kembali ke kursi tunggu pasien. Hatiku kacau.

**

 Namaku Tiara. Tahun ini umurku 26 tahun. Kali ini adalah kehamilanku yang pertama. Biasanya, suamiku menemaniku mengikuti anti natal care – ANC – ke rumah sakit ini. Tapi kali ini, aku datang sendiri. Ia mendapat jadwal piket yang tak bisa ditinggalkan. Dan ternyata, sekacau ini hatiku bertemu kenyataan. Sindrom kehamilan nomor dua puluh lima: ANC tanpa ditemani suami. Gravida Syndrome #25.

Tekanan darahku setinggi itu. 140/90 mmHg.

Ini adalah kondisi yang berbahaya dalam kehamilan. Berbahaya untuk ibu hamil maupun kehamilan itu sendiri. Aku tahu benar itu. Buku panduan kehamilan pemberian suamiku gamblang memaparkan segala rupa tentangnya. Pertumbuhan janin terhambat, prematur, absupsio placenta alias plasenta lepas dari dinding rahim sebelum masanya, preeklampsia alias janin keracunan, dan sederet akibat tekanan darah tinggi saat hamil berputar-putar di kepalaku.

Dan sekarang aku mengalaminya, saat aku ANC sendiri saja. Sungguh, hatiku sangat kacau.

Aku masuk ruang praktek dengan hati sekacau itu. Syukurlah, dokter Fifi menyapaku seramah biasanya. Tentu air mata yang siap membuncah dan hidung yang memerah sudah menjelaskan banyak hal baginya. Pasiennya sedang kacau.

**

Ruang Staf Administrasi Akademik Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. 14.00 WIB.

Pekerjaan rutin sudah menipis. Angin siang berhembus sepoi-sepoi dari jendela loket yang berbatasan langsung dengan koridor Gedung Rektorat. Penyejuk udara tidak pernah berlaku untuk posisi di depan koridor yang mulai lengang ini. Angin Cendela menjadi satu-satunya penyejuk udara yang harus diterima dengan lapang dada.

Beranjak ke pekerjaan ekstra yang bakalan menguras konsentrasi. Si kecil dalam perut sesekali menggeliat lembut, ikut merasakan suasana siang yang terlalu tenang ini. Aku menekuri meja kerja dan setumpuk berkas yang menjadi bahanku menyusun buku panduan. Sesekali terdengar suara staf Tata Usaha bercakap-cakap menjeda siang. Tak ada yang istimewa sebenarnya. Semua bekerja dengan gaya masing-masing.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba ia merasuki kesadaranku.

Membelai lembut, menjalari tiap senti isi kepalaku.

Aku mulai mendengus..

Susah payah melenyapkan pesonanya dari imajinasiku…

Bau ini…

Si kecil dalam perutku rupanya merasakan pula hadirnya. Ia menendang beberapa kali, memberi tahuku. Aku mendengus beberapa kali. Mencoba mengusir godaannya dan memusatkan konsentrasi. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Semakin aku mendengus, semakin ia dalam merasuki kesadaranku.

Aku mendesah. Menyerah dan memilih menyandarkan punggung ke kursi putarku. Bau ini nikmat sekali. Sulit benar aku mengabaikannya. Pekat, hangat, dan ligat. Bau kopi yang diseduh. Sindrom kehamilan nomor dua puluh tujuh akhirnya datang juga. Gravida Syndrome #27: ngidam minum kopi.

Aku bukan penganut ngidam. Maksudku, ngidam yang sampai lebay bajay tidak masuk akal dan cenderung terkesan dibuat-buat. Pernah dengar ibu hamil ngidam buah mangga muda yang sama sekali tidak sedang musim? Atau ibu hamil yang ngidam sate Madura jam dua dini hari? Bukan, aku bukan ibu hamil seperti itu. Bahkan, sampai kehamilanku yang masuk trimester akhir ini, aku tidak mengalami kepingin yang aneh-aneh seperti itu. Aku patut bersyukur karena dengan posisi suamiku di luar kota, ngidam aneh-aneh justru membuatku mati kutu sendiri bukan?

Tapi sindrom nomor dua puluh tujuh ini berbeda. Pesonanya sulit untuk kutepis begitu saja. Gemulai aromanya menggelitik syaraf-syaraf pengecapku. Aku mau merasainya. Sungguh, aku sangat ingin merasainya…

Mataku menjelajah mencari tahu sumber bau itu. Dan rupanya tak jauh dari meja kerjaku. Mbak Fiel sedang menyeduh kopi kesukaannya. Kopi ABC Susu yang memang jadi favorit orang seruangan. Perpaduan kopi, gula, dan krimernya menurutku paling nendang di kelasnya. Serasa melayang, aku menyambanginya.

“Mbak Fiel, icip kopinya dong…” aku merayu.

“Eh Tiara kan lagi hamil.. nggak boleh yaa,” berjengit Mbak Fiel melihatku.

“Aih, bolehlah… sedikiiiit saja,” sempurna aku terbius keharuman kopi itu.

Mbak Fiel tertawa, “Tiara lupa ya sama tekanan darah?”

Aku mendengus. Kali ini bukan karena mengusir bau kopi, tapi mengusir kenangan ANC dengan tekanan darah 140/90 mmHg yang mengacaukan hatiku tempo hari. Memang sih, kopi bisa menyumbang peran menaikkan tekanan darah lewat kafeinnya. Tapi, bukannya aku Cuma merayu icip sedikit saja?

“Mbak Fiel, aku kan Cuma minta icip sesendok saja,” godaan kopi itu sungguh luar biasa merasukiku. Baunya yang khas telah sempurna lekat dalam memoriku. Pantang berkopi selama hamil telah melipatgandakan efek belaian bau kopi siang itu.

“Tiara, hamil lho…” tawa Mbak Fiel terdengar makin menggodaku untuk menaklukkan kopi itu.

“Gak apa, Mbak Fiel..

Mbak Fiel nggak tahu ya? Kopi bisa menjaga stamina ibu hamil macam aku. Menambah energi lho..”

Mbak Fiel mulai mengangkat alisnya.

“Belum lagi, kopi bisa meningkatkan konsentrasi juga,” aku buru-buru menambahkan. “Terus membantu menjaga mood biar tetap bagus. Bisa juga buat menormalkan gula darah ibu hamil. Bahkan justru menormalkan tekanan darah juga, Mbak.”

“Walah… Tiara ini bisa aja,” Mbak Fiel makin tertawa mendengar cerocosku.

“Eh beneran, Mbak Fiel..” aku menandaskan. Demi sesendok kopi itu, aku tak peduli kalau perjuanganku terlihat lebay. “Ini hasil penelitian lho, Mbak..Fakta.. Fakta ilmiah!”

“Hahaha.. penelitian dari mana?” Mbak Fiel masih teguh menolak rayuan sendokku. Satu dua kepala di ruangan mulai melongok ingin tahu keributan kecil perkara kopi ini.

“Sini, sini.. aku kasih lihat sumbernya!” Aku menyeret Mbak Fiel ke komputernya. Kubuka mesin pencari dan kuketikkan kata kunci: penelitian ibu hamil dan kopi. Ha, Mbak Fiel pasti tak berkutik. Aku menyeringai puas.

Dalam hitungan sepersekian detik, mesin pencari membeberkan judul-judul terkait penelitian kopi dan ibu hamil. Tak hanya puluhan.. RATUSAN! Kusorongkan monitor ke Mbak Fiel. Sendok kecilku menari-nari di cangkir kopinya. Hidungku mengendus-endus.

Cepat Mbak Fiel membaca salah satu judul teratas dan dia tertawa makin keras. “Tiaraaa… ini kan nggak ilmiah. Semuanya Cuma bilang penelitian, penelitian, penelitian. Penelitian siapa? Kapan? Di mana? Nggak ada tuh kepastian info ini valid,” belum menyerah rupanya ia.

“Nih, coba Tiara yang baca sekarang deh,” ganti Mbak Fiel menyorongkan monitor padaku. “Ini baru ilmiah, “ tegasnya.

Rupanya ia memakai jurus yang sama untuk menggagalkan invasi sendokku ke cangkirnya. Jurus mesin pencari.

Saat hamil, banyak ibu yang selektif dalam makanan dan minuman yang dikonsumsi. Namun, bagi ibu hamil pecinta kopi, tak perlu khawatir mengonsumsinya karena tak akan memengaruih IQ anak seperti diungkapkan dalam studi terbaru. Namun perlu diingat, jumlah yang diperkenankan maksimal dua cangkir per hari. 

Dalam studi yang dilakukan ilmuwan Ohio State University College of Medicine, tidak ditemukan kecerdasanan intelektual anak yang lahir dari ibu yang konsumsi kopi saat hamil turun seperti dikutip dari laman Live Science, Selasa (24/11/2015).

Tidak ada bukti bahwa konsumsi kafein selama kehamilan berdampak negatif pada kecerdasan intelektual maupun perilaku saat anak berusia 4-7 tahun seperti ditulis peneliti dalam studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Epidemiology.

“Secara keseluruhan, kami menemukan ibu hamil yang konsusmi kopi secara moderat yakni maksimal dua cangkir kopi setiap hari tidak berdampak pada kecerdasan intelektual anak,” terang asisten profesor pediatrik yang juga salah satu peneliti studi ini, Sarah Keim.

Ini bukan studi pertama yang menunjukkan konsumsi kopi secara moderat aman untuk dikonsumsi. Sebelumnya, di tahun 2012 menemukan konsumsi kafein saat hamil tidak memiliki hubungan dengan kebiasaan anak terbangun di malam hari.

Lalu, menurut American College of Obstetricians and Gynecologists, konsumsi kafein kurang dari 200mg per hari, atau sekitar satu atau dua cangkir kopi per hari aman selama kehamilan. Namun, efek konsumsi kafein dalam jumlah lebih besar belum ditemukan dengan jelas.[1]

Antara senang dan bingung, aku memandang Mbak Fiel yang tersenyum lebar.

“Jadi?” aku meminta keputusan.

“Sesendok?” ia balik bertanya.

Aku mengangguk-angguk bersemangat. Sendokku ikut mengangguk-angguk. Si kecil di perutku ikut menendang-nendang.

“Tentulah boleeeh,” puas sekali Mbak Fiel mengerjaiku.

**

Namaku Tiara. Tahun ini umurku 26 tahun. Kali ini adalah kehamilanku yang pertama. Kami ingin menikmati setiap detiknya. Maka terciptalah Gravida Syndrome. Sindrom kehamilan a la kami. Ini adalah kisahnya yang ke-27.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[1] http://health.liputan6.com/read/2372577/ibu-hamil-ternyata-boleh-minum-kopi

 

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

Iklan

Pendiam

Ada gak ya yang mengamati tren blog ini? Bukan soal jumlah postingannya, tapi soal gaya bahasa tulisannya. Hehe.. survey yang absurd.

Bermetamorforsis menjadi pendiam dan menepi ke pinggir.
Ada banyak peristiwa pemaknaan yang terjadi.
Mungkin pernah tertulis, life begun at thirty.

Sepertinya satu dawasawarsa lalu pernah terjadi.
Perlu waktu untuk bisa kembali.
Tapi insya allah pasti akan terjadi
Episode perjalanan yang seperti ini

***
Biarkanlah hari-hari berbuat semaunya
Berlapang dada-lah kala takdir menimpa

Jangan berkeluh-kesah atas musibah di malam hari
Tiada musibah yang kekal di muka bumi
Jadilah laki-laki tegar dalam menghadapi tragedi
Berlakulah pema’af selalu menepati janji

(Imam Syafi’i)

Nice Home Work #7

Melanjutkan sesi matrikulasi yang terjeda hari raya. Sampailah di sesi ketujuh yang masih terkait dengan sesi-sesi sebelumnya.

[NHW#7] MISI HIDUP DAN PRODUKTIVITAS

Bunda, setelah di materi NHW#7 kita belajar tentang bagaimana pentingnya menemukan misi hidup untuk menunjang produktivitas keluarga. Maka saat ini kita akan lebih menggali bagaimana menerapkannya secara teknis sbb :
a. Ambil salah satu dari ranah aktivitas yang sudah teman-teman tulis di kuadran SUKA dan BISA (lihat NHW#6)
b. Setelah ketemu satu hal, jawablah pertanyaan “BE DO HAVE” di bawah ini :
1. Kita ingin menjadi apa ? (BE)
2. Kita ingin melakukan apa ? (DO)
3. Kita ingin memiliki apa? (HAVE)

c. Perhatikan 3 aspek dimensi waktu di bawah ini dan isilah:
1. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)
2.Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahunke depan ( strategic plan)
3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun ( new year resolution)

Mulailah dengan PERUBAHAN, karena pilihannya hanya satu BERUBAH atau KALAH

Berdasarkan kuadran aktivitas di sesi 6 kemarin, saya memilih aktivitas menulis sebagai jawaban poin a pada sesi tujuh ini. Tetap selaras dengan resolusi tahun 2016 yang saya tuangkan di buku Bunda Produktif (J&J, 2015) bahwa saya akan kembali ke dunia tulis menulis berdasarkan pendek pengalaman di berbagai bidang yang saya arungi selama ini (DO).

Aktivitas menulis ini merupakan salah satu simpulan atas resolusi berikutnya berupa simplifying my life yang saya sampaikan di sesi ketiga dulu (BE). Adapun yang ingin saya miliki adalah tagline blog saya sejak dulu. Keep on writing and you’ll find a paradise (HAVE). Insya allah hanya selurus dan sesederhana itulah ^_^

Pertanyaan poin c saya jawab di sesi ketiga dulu alhamdulillah. Dalam 5-10 tahun ke depan adalah konsisten menerbitkan karya-karya, dari buku ke buku. Adapun tahun ini, satu buku terbit menjadi target saya. Semoga dimudahkan untuk berbagi, terus istiqomah, dan meninggalkan sekeping manfaat untuk ummat. Aamiin.

***

# Tolong Bawa Aku Ke Syurga.

Ketika mengunjungi seorang teman yang sedang kritis sakitnya, dia menggenggam erat tanganku, lalu menarik ke mukanya, dan membisikkan sesuatu…

Dalam airmata berlinang dan ucapan yang ter-bata² dia berkata, *”Bila kamu tidak melihat aku di syurga, tolong tanya kepada Allah di mana aku, tolonglah aku ketika itu…”*

Dia langsung terisak menangis, lalu aku memeluknya dan meletakkan mukaku di bahunya. Aku pun berbisik, *”Insyaa Allah, insyaa Allah, aku juga mohon kepadamu jika kamu juga tidak melihatku di surga…”*
Kami pun menangis bersama, entah berapa lama…

Ketika saya meninggalkan Rumah Sakit, saya terkenang akan pesan beliau…
Sebenarnya pesan itu pernah disampaikan oleh seorang ulama besar, Ibnu Jauzi, yang berkata pada sahabatnya sambil menangis:

*”Jika kamu tidak menemui aku di syurga bersama kamu, maka tolonglah tanya kepada Allah tentang aku: ‘Wahai Rabb kami, si fulan sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau, maka masukkanlah dia bersama kami di syurga.”*

Ibnu Jauzi berpesan begitu bersandar pada sebuah hadits:

_”Apabila penghuni syurga telah masuk ke dalam syurga lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu di dunia, maka mereka pun bertanya kepada Allah: ‘Ya Rabb! kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia shalat bersama kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami…'”Maka Allah berfirman, “Pergilah ke neraka, lalu keluarkanlah sahabat-sahabatmu yang di hatinya ada iman, walau hanya sebesar zarrah.”(Ibnu Mubarak dalam kitab Az Zuhd)_

Wahai sahabat²ku…

Di dalam bersahabat, pilih lah mereka yang bisa membantu kita, bukan hanya ikatan di dunia, tetapi juga hingga akhirat.

Carilah sahabat² yang senantiasa berbuat amal sholeh, yang shalat berjamaah, berpuasa dan sentiasa berpesan agar meningkatkan keimanan, serta berjuang untuk menegakkan agama Islam.

Carilah teman yang mengajak ke majelis ilmu, mengajak berbuat kebaikan, bersama untuk kerja kebajikan, serta selalu berpesan dengan kebenaran.

Teman yang dicari karena urusan niaga, pekerjaan, atau teman nonton bola, teman memancing, teman bershopping, teman FB untuk bercerita hal politik, teman whatsapp untuk menceritakan hal dunia, akan berpisah pada garis kematian dan masing² hanya akan membawa diri sendiri.

Tetapi teman yang bertakwa, akan mencari kita untuk bersama ke syurga…

Simaklah diri, apakah ada teman yang seperti ini dalam kehidupan kita, atau mungkin yang ada lebih buruk dari kita…

Ayo… berubah sekarang, kurangi waktu dengan teman yang hanya condong pada dunia, carilah teman yang membawa kita bersama ke syurga, karena kita tidak bisa mengharapkan pahala ibadah kita saja untuk masuk syurganya Allah Jalla wa ‘Alaa.

Perbanyak lah ikhtiar, semoga satu darinya akan tersangkut, dan membawa kita ke pintu syurga…

Al-Hasan Al-Bashri berkata:
_”Perbanyak lah sahabat-sahabat mukminmu, karena mereka memiliki syafa’at pada hari kiamat.”_

Pejamkan mata, berfikir lah… siapa kiranya di antara sahabat² kita yang akan mencari dan mengajak kita ber-sama² ke syurga??

Jika tidak, mulai lah hari ini mencari teman ke syurga sebagai suatu MISI pribadi.

~Ustadz Abdullah Zaen, MA via Ustadz Ahmad Zainuddin di WAG JAMU GENDONG (Jagongan Muslimah Gen Do Ndonga)

Nice Home Work #6

1. Ketahuilah tipe kekuatan diri (strenght typology) teman-teman, dengan cara sbb :
🔹masuk ke http://www.temubakat.com
🔹isi nama lengkap anda, dan isi nama organisasi :Ibu Profesional
🔹jawab Questioner yang ada disana, setelah itu download hasilnya
🔹belajarlah membaca hasil dan Lampirkan hasil ST30 (Strenght Typology) di Nice Homework #6

b. Buatlah kuadran aktivitas anda, boleh lebih dari 1 aktivitas di setiap kuadran
Kuadran 1 : Aktivitas yang anda SUKA dan anda BISA
Kuadran 2 : Aktivitas yang anda SUKA tetapi andaTIDAK BISA
Kuadran 3 : Aktivitas yang anda TIDAK SUKA tetapi anda BISA
Kuadran 4: Aktivitas yang anda TIDAK SUKA dan anda TIDAK BISA

typology

Berjejaring dan berinteraksi dengan banyak orang menjadi potensi kekuatan yang disarankan untuk dikembangkan. Kepedulian yang tinggi juga berpotensi untuk menjadi kekuatan. Aktivitas yang berkaitan dengan hati dan pelayanan di bidang pendidikan sepertinya cocok sekali untuk melejitkan kekuatan.

Adapun posisi sebagai pucuk pimpinan sebenarnya malah tidak cocok karena sangat tidak enjoy untuk dilakukan. Harus berjejaring dengan orang yang memilki kekuatan di bidang ini jika ingin melakukan proyek bersama.

kuadran aktivitas

Demikianlah..

Nice Home Work #5

Kali ini saya akan bertutur tentang seseorang yang karib dalam keseharian saya. Mengambilnya sebagai subyek penelitian tentang mengenali gaya belajarnya. Sebut saja namanya Bunda. Ia masih muda dan berputra dua.

Bunda senang sekali membaca, memecahkan masalah, bercerita, dan menterjemahkan. Namun jangan tanya soal menghafalkan, bunda pelupa berat jika tidak menuliskan hafalannya. Dan soal berpidato, bunda bisa tapi tidak terlalu suka.

Bunda suka sekali menulis dan terbiasa meringkas. Kesukaan Bunda adalah menulis tentang anak-anak dan keluarga. Menggali informasi tentang kesukaannya sangat Bunda nikmati. Menulis merupakan pertapaan tersendiri untuk Bunda sehingga ia sangat menyukai ketenangan dalam menulis. Jika Bunda sudah masuk waktu bertapanya, maka Bunda akan belajar apapun dengan cepat. Sejak dulu Bunda begitu.

Saat ini, Bunda makin tertarik dengan dunia anak-anak dan keluarga. Satu-satunya yang berebut waktu dengan waktu belajar bunda adalah waktu untuk membersamai anak-anak dan keluarga. Namun Bunda tetap bersemangat menambah jam terbangnya bersama anak-anak dan berkolaborasi dengan berbagai pihak yang memiliki panggilan hati sama. Tak ada kejujuran cinta yang lebih jujur daripada cinta anak-anak. Itulah yang menghangatkan hari-hari Bunda untuk terus bersemangat belajar dan belajar lebih banyak lagi bersama mereka.
***
Bunda ini adalah tipikal yang haus tantangan. Ia belajar dengan sangat antusias saat ada sesuatu yang menurutnya menantang. Entah menantang rasa ingin tahunya, menantang kepeduliannya, atau menantang berbagai aspek dalam pemikirannya. Kepalanya serasa tak pernah berhenti terasah jika ia tidak belajar bagaimana caranya mengendalikan kehausannya akan ilmu. Itulah Bunda yang saya kenal.

 

 

Cinta

Entah berapa kali dikatakan, ini masih tentang hal yang sama. Bahwa menulis itu salah satu obat. Ia juga salah satu cara. Untuk memetakan isi kepala, menyusun logika, menuangkan rasa, dan pada akhirnya mempertahankan kewarasan penulisnya.

Entah berapa kali dikatakan, ini masih tentang hal yang sama. Bahwa menulis itu tak ada rumusnya. Tulis saja apa isi kepala, jam terbang akan berbicara. Mana yang picisan, kampungan, elegan, ataupun yang sastrawan.

Entah berapa kali dikatakan, ini masih tentang hal yang sama. Bahwa menulis itu akan ditanya. Apa manfaatnya, kebenarannya, dan lain lainnya. Sama seperti amanah lainnya.

Entah berapa kali dikatakan, ini masih tentang hal yang sama.

Ini tentangmu, tentang kita.
Ini tentangnya, tentang rasa.

Ini tentang cinta.

‪#‎ODOPfor99days‬
‪#‎day6‬

Kumpul Seru: Berkumpul Mendulang Ilmu

Beberapa kali inbox masuk ke saya berisi tentang pertanyaan tentang ide kegiatan untuk mengisi acara di komunitas. Kesempatan bergabung dengan komunitas kreatif di Salatiga membuat saya terbiasa dengan paparan kegiatan kreatif yang ternyata sadar tidak sadar menginspirasi saya. Jazakumullah khoiron.

Entah karena saya kerajinan cerita di medsos atau faktor yang lain, ujungnya adalah masuknya beberapa inbox yang bertanya tentang ide kegiatan maupun seluk beluk mengadakan kegiatan. Jadi, kali ini saya akan berbagi tentang  ide-ide kegiatan kelompok yang selama ini kami lakukan.

Seminar. Kegiatan ini lebih bersifat resmi dan in door, sehingga kadang membosankan untuk anak-anak. Skalanya juga biasanya besar dalam artian melibatkan banyak elemen untuk mengadakannya. Perlu modal networking yang serius sebagai modal utamanya. Alhamdulillah pernah mengadakan seminar parenting yang disambut antusias oleh para target peserta. Silakan mampir ke sini untuk ceritanya.

Saresehan. Merupakan versi santai dari seminar. Bisa lesehan sambil berbagi dan anak-anak klinteran di sekitar kita. Bisa dilakukan in door maupun out door. Komunitas ibu yang saya ikuti seringkali mengadakan acara model begini. ALhamdulillah beberapa sempat saya tuliskan di sini. Hehe

Kelas keterampilan alias workshop. Dilakukan dengan bersama-sama datang ke praktisi ilmu terapan tertentu (memasak, crafting, seni, dsb) dan praktek bareng di lokasi tersebut. Lebih ekonomis karena panitia biasanya hanya mengkoordinir transportasi, biaya bahan (jika ada) dan cindera mata untuk narasumber. Artinya, kerepotan menyiapkan alat-alat praktek bisa diminimalisir. Bisa diatur workshop untuk anak-anak atau untuk orang tua dengan memilih narasumber yang tepat. Contoh workshop yang pernah saya koordinir ada di sini dan di sini.

Play day. Main bareng. Panitia menyiapkan aneka alat permainan dan dilengkapi dengan petunjuk permainannya. Peserta tinggal datang dan main sepuasnya. Alhamdulillah kemarin sempat ikut Family Play Day seperti yang saya ceritakan di sini.

Mbolang bareng. Pergi bersama ke lokasi edutainment seperti museum, situs bersejarah,  dan lain-lainnya untuk belajar sepuasnya di lokasi.

Buanyak sekali ide yang bisa digali untuk membuat kegiatan bersama. Terlebih lagi, gugling atau bergabung ke komunitas kreatif akan membantu memberikan leih banyak ide untuk dapat menjadi inspirasi. Semoga bermanfaat yaa!

Setahun Lewat

Wew, ternyata saya hampir setahun tidak memperbarui isi blog ini. Ke mana aja, buuu? T.T
***

Oktober – November 2013 lalu ternyata saya kembali diberi amanah untuk  membidani buku. Masih dari komunitas Institut Ibu Profesional, kali ini saya membantu teman-teman mewujudkan buku “Bunda Sayang: 12 Ilmu Dasar Mendidik Anak”. Kumpulan materi kuliah dan juga pengalaman para bunda yang berjuang menerapkan ilmu yang didadpat di kuliah rutin Institut Ibu Profesional. Cerita tentang dapur buku tersebut saya bagikan di sini.

November 2013 lalu saya dan teman-teman juga mulai merintis usaha penitipan anak berbasis ilmu dari ibu profesional dengan bekerja sama dengan takmir masjid margosari. Sebagai rintisan, kami buka sepekan sekali sebagai  jembatan para ibu yang ingin mengikuti kuliah rutin pagi Institut Ibu Profesional. Alhamdulillah, langsung saja kami mendapat customer rutin tiap pekan termasuk Hanif sendiri. Hehe.

Bulan tersebut juga ternyata merupakan awal saya hamil anak kedua alhamdulillah 🙂

Baca lebih lanjut

Nyicil Piknik ke Perancis

Au clair de la lune
Mon ami Pierrot
Prête-moi ta plume
Pour écrire un mot
Ma chandelle est morte
Je n’ai plus de feu
Ouvre-moi ta porte
Pour l’amour de Dieu*

Rasanya, lidah saya yang terpatah-patah saat berjuang menyanyikan lagu nina bobo a la Perancis itu masih terus terbawa sampai rumah. Hiks. Sedihnyaa… >.<

***

Kunjungan 15 sukarelawan pemuda-pemudi Perancis di kuliah Institut Ibu Profesional Salatiga sore tadi benar-benar membuat gemuruh Padepokan Margosari-nya Bu Septi. Meskipun secara umur, mereka jauuuh lebih muda daripada kami (para ibu-ibu dan calon ibu ini), secara postur tubuh, mereka jauuuh lebih menjulang tinggi. Jadilah ruang kuliah di lantai 2 segera penuh sesak dan kekurangan oksigen untuk kami semua.

Baca lebih lanjut

The Apprentice Hadir di Salatiga (Bag. 1)

Adakah yang ingat kalau saya pernah menulis tentang serunya reality show The Apprentice di Metro TV sekitar tahun 2004 dulu? Bagi yang lupa atau belum pernah membaca, silakan meluncur ke sini ya.

Qadarullah, saya terbawa ke sebuah proyek yang mirip-mirip dengan the Apprentice saat saya tinggal di Salatiga sekarang ini. Berawal dari kenaikan kelas kami ke level Bunda Produktif di Institut Ibu Profesional setelah secara akselerasi yang tidak disengaja dari level Bunda Sayang dan Bunda Cekatan, tantangan ketiga yang diberikan kepada kami membuat saya merasa bergabung dalam The Apprentice mini. Bagaimana bisa?

Baiklah, saya akan flash back sedikit tentang bagaimana saya tiba di tantangan ketiga. Tantangan pertama dalam kuliah Bunda Produktif adalah menemukan bakat dan minat diri kita masing-masing. Bukankah tak sedikit dari kita yang sampai setua ini masih suka bingung saat ditanya tentang bakat dan minat kita yang sesungguhnya? Untuk menjadi produktif, pemetaan ini penting sekali agar konsep produktivitas yang kita jalankan nantinya benar-benar datang dari hati. Merujuk ke alat temu bakat yang ditemukan oleh Abah Rama, kami mulai “bertapa” dan menelusuri minat terbesar kami.

Untuk saya, menelusuri bakat ini adalah pertapaan besar karena kami dibatasi memilih paling banyak 6 aktivitas yang paling “gue banget” dan 6 aktivitas yang “bukan gue banget”. Gue banget di sini adalah lebih ke arah kesukaan kita benget, sampai-sampai kita sellau enjoy melakukannya tanpa pandang bulu, waktu, maupun doku #eh?

Nah, kenapa pertapaan besar? Karena tenyata membatasi ke 6 aktivitas saja sungguh sangat sulit. Sebagian besar adalah aktivitas yang saya sukai. Jadi, saya mendapati lebih dari 6 aktivitas.

Tidak boleh!

Jadilah saya bertapa lagi untuk memutuskan 6 aktivitas yang gue banget dan bukan gue banget itu. Omong punya omong, rupanya saya mengalami Sindrom Anak Rangking Satu. Hampir semuanya bisa, hampir semuanya suka, hingga kesulitan memutuskan apa yang paling disuka. Aw, aw, aw…

After all, tantangan pertama berhasil saya lalui. Alhamdulillah. Penasaran? Karena saya belum bisa melampirkan PDF ke posting blog, saya tulis saja ya. Potensi kekuatan saya adalah:

1. AMB – AMBASSADOR
2. CAR – CARETAKER
3. COM – COMMUNICATOR
4. EDU – EDUCATOR
5. JOU – JOURNALIST
6. SER – SERVER

Saya memang menyukai domestic activities terutama dalam hal pengasuhan dan pendidikan. Kombinasinya adalah menulis, dimana saya bisa menuliskan pengalaman-pengalaman saya dalam hal tersebut dan membagikannya ke orang lain. Lewat blog ini, misalnya.

Sedangkan potensi kelemahan saya adalah justru:

1. CMD – COMMANDER
2. OPE – OPERATOR
3. PRO – PRODUCER
4. SEL – SELLER
5. TRE – TREASURY

Bukannya saya tidak bisa melakukan 5 aktivitas di atas. Tapi saya “sariawan berat” kalau harus melakukannya dalam waktu lama. Sekali lagi, saya merasa keputusan untuk resign dari pekerjaan kantor yang sedang promosi dan naik daun adalah keputusan yang tepat. Alhamdulillah.

Apakah hasil itu sudah pasti? Tentu tidak, bisa jadi saya akan berubah. Itulah mengapa uji ini perlu dilakukan secara berkala untuk makin memahami diri kita, insya allah.

Tantangan kedua Bunda Produktif adalah mencari inspirasi sukses. Bagaimana ceritanya? Ikuti di tulisan selanjutnya, insya allah ^_^