Gravida Syndrome #27

Ia mulai menggodaku.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba ia merasuki kesadaranku.

Membelai lembut, menjalari tiap senti isi kepalaku.

Aku mulai mendengus..

Susah payah melenyapkan pesonanya dari imajinasiku…

 

“Ibu Tiara…” penggilan dari pengeras suara itu membuatku otomatis bergerak ke meja perawat.

Aku langsung berdiri di penimbang badan digital di dekat pintu penyekat. 62 kilogram. Oke, bagus. Berat badanku sudah naik  lima kilogram dibanding pertama kali aku kemari. Aku lalu bergeser ke kursi di dekatnya. Alat pengukur tekanan darah sudah tersedia. Aku duduk dan menanti perawat mulai mengukur tekanan darahku.

Rumah sakit ini ramai benar hari ini. Ah, aku lupa. Ini hari Sabtu. Tentu banyak yang lebih memilih hari ini karena mungkin di hari yang lain mereka bekerja dari pagi sampai petang. Memilih ke sini sepulang dari kantor tentu terasa lebih melelahkan karena bisa dipastikan sampai di rumah lebih malam dari biasanya. Dan itu artinya rutinitas di rumah akan bergeser secara domino. Sama sepertiku.

Namaku Tiara. Tahun ini umurku 26 tahun. Hari ini adalah kunjunganku kemari yang kesekian. Sebentar, kubuka dulu buku catatanku. Ah ya.. ini adalah kunjunganku yang ke tujuh. Aku mulai hafal sudut-sudut rumah sakit ini. Aku mulai paham alur perjalanan pasien dari masuk sampai pulang. Dan aku mulai akrab dengan bau rumah sakit ini.

“Ibu, tensinya tinggi sekali…” suara perawat menegurku.

Eh? Aku memasang muka terkejut.

“Iya, Bu.. tensi ibu 140/90,” ia menegaskan.

Deg. Aku membeku seketika.

“Lalu bagaimana, sus?”  Entah mengapa aku otomatis meminta pendapat perawat yang kupanggil suster itu.

“Ibu periksa saja dulu dengan dokter ya. Nanti dicek lagi setelah periksa,” profesional sekali ia menjawab pertanyaanku. Baiklah. Aku menurut dan beringsut kembali ke kursi tunggu pasien. Hatiku kacau.

**

 Namaku Tiara. Tahun ini umurku 26 tahun. Kali ini adalah kehamilanku yang pertama. Biasanya, suamiku menemaniku mengikuti anti natal care – ANC – ke rumah sakit ini. Tapi kali ini, aku datang sendiri. Ia mendapat jadwal piket yang tak bisa ditinggalkan. Dan ternyata, sekacau ini hatiku bertemu kenyataan. Sindrom kehamilan nomor dua puluh lima: ANC tanpa ditemani suami. Gravida Syndrome #25.

Tekanan darahku setinggi itu. 140/90 mmHg.

Ini adalah kondisi yang berbahaya dalam kehamilan. Berbahaya untuk ibu hamil maupun kehamilan itu sendiri. Aku tahu benar itu. Buku panduan kehamilan pemberian suamiku gamblang memaparkan segala rupa tentangnya. Pertumbuhan janin terhambat, prematur, absupsio placenta alias plasenta lepas dari dinding rahim sebelum masanya, preeklampsia alias janin keracunan, dan sederet akibat tekanan darah tinggi saat hamil berputar-putar di kepalaku.

Dan sekarang aku mengalaminya, saat aku ANC sendiri saja. Sungguh, hatiku sangat kacau.

Aku masuk ruang praktek dengan hati sekacau itu. Syukurlah, dokter Fifi menyapaku seramah biasanya. Tentu air mata yang siap membuncah dan hidung yang memerah sudah menjelaskan banyak hal baginya. Pasiennya sedang kacau.

**

Ruang Staf Administrasi Akademik Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. 14.00 WIB.

Pekerjaan rutin sudah menipis. Angin siang berhembus sepoi-sepoi dari jendela loket yang berbatasan langsung dengan koridor Gedung Rektorat. Penyejuk udara tidak pernah berlaku untuk posisi di depan koridor yang mulai lengang ini. Angin Cendela menjadi satu-satunya penyejuk udara yang harus diterima dengan lapang dada.

Beranjak ke pekerjaan ekstra yang bakalan menguras konsentrasi. Si kecil dalam perut sesekali menggeliat lembut, ikut merasakan suasana siang yang terlalu tenang ini. Aku menekuri meja kerja dan setumpuk berkas yang menjadi bahanku menyusun buku panduan. Sesekali terdengar suara staf Tata Usaha bercakap-cakap menjeda siang. Tak ada yang istimewa sebenarnya. Semua bekerja dengan gaya masing-masing.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba ia merasuki kesadaranku.

Membelai lembut, menjalari tiap senti isi kepalaku.

Aku mulai mendengus..

Susah payah melenyapkan pesonanya dari imajinasiku…

Bau ini…

Si kecil dalam perutku rupanya merasakan pula hadirnya. Ia menendang beberapa kali, memberi tahuku. Aku mendengus beberapa kali. Mencoba mengusir godaannya dan memusatkan konsentrasi. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Semakin aku mendengus, semakin ia dalam merasuki kesadaranku.

Aku mendesah. Menyerah dan memilih menyandarkan punggung ke kursi putarku. Bau ini nikmat sekali. Sulit benar aku mengabaikannya. Pekat, hangat, dan ligat. Bau kopi yang diseduh. Sindrom kehamilan nomor dua puluh tujuh akhirnya datang juga. Gravida Syndrome #27: ngidam minum kopi.

Aku bukan penganut ngidam. Maksudku, ngidam yang sampai lebay bajay tidak masuk akal dan cenderung terkesan dibuat-buat. Pernah dengar ibu hamil ngidam buah mangga muda yang sama sekali tidak sedang musim? Atau ibu hamil yang ngidam sate Madura jam dua dini hari? Bukan, aku bukan ibu hamil seperti itu. Bahkan, sampai kehamilanku yang masuk trimester akhir ini, aku tidak mengalami kepingin yang aneh-aneh seperti itu. Aku patut bersyukur karena dengan posisi suamiku di luar kota, ngidam aneh-aneh justru membuatku mati kutu sendiri bukan?

Tapi sindrom nomor dua puluh tujuh ini berbeda. Pesonanya sulit untuk kutepis begitu saja. Gemulai aromanya menggelitik syaraf-syaraf pengecapku. Aku mau merasainya. Sungguh, aku sangat ingin merasainya…

Mataku menjelajah mencari tahu sumber bau itu. Dan rupanya tak jauh dari meja kerjaku. Mbak Fiel sedang menyeduh kopi kesukaannya. Kopi ABC Susu yang memang jadi favorit orang seruangan. Perpaduan kopi, gula, dan krimernya menurutku paling nendang di kelasnya. Serasa melayang, aku menyambanginya.

“Mbak Fiel, icip kopinya dong…” aku merayu.

“Eh Tiara kan lagi hamil.. nggak boleh yaa,” berjengit Mbak Fiel melihatku.

“Aih, bolehlah… sedikiiiit saja,” sempurna aku terbius keharuman kopi itu.

Mbak Fiel tertawa, “Tiara lupa ya sama tekanan darah?”

Aku mendengus. Kali ini bukan karena mengusir bau kopi, tapi mengusir kenangan ANC dengan tekanan darah 140/90 mmHg yang mengacaukan hatiku tempo hari. Memang sih, kopi bisa menyumbang peran menaikkan tekanan darah lewat kafeinnya. Tapi, bukannya aku Cuma merayu icip sedikit saja?

“Mbak Fiel, aku kan Cuma minta icip sesendok saja,” godaan kopi itu sungguh luar biasa merasukiku. Baunya yang khas telah sempurna lekat dalam memoriku. Pantang berkopi selama hamil telah melipatgandakan efek belaian bau kopi siang itu.

“Tiara, hamil lho…” tawa Mbak Fiel terdengar makin menggodaku untuk menaklukkan kopi itu.

“Gak apa, Mbak Fiel..

Mbak Fiel nggak tahu ya? Kopi bisa menjaga stamina ibu hamil macam aku. Menambah energi lho..”

Mbak Fiel mulai mengangkat alisnya.

“Belum lagi, kopi bisa meningkatkan konsentrasi juga,” aku buru-buru menambahkan. “Terus membantu menjaga mood biar tetap bagus. Bisa juga buat menormalkan gula darah ibu hamil. Bahkan justru menormalkan tekanan darah juga, Mbak.”

“Walah… Tiara ini bisa aja,” Mbak Fiel makin tertawa mendengar cerocosku.

“Eh beneran, Mbak Fiel..” aku menandaskan. Demi sesendok kopi itu, aku tak peduli kalau perjuanganku terlihat lebay. “Ini hasil penelitian lho, Mbak..Fakta.. Fakta ilmiah!”

“Hahaha.. penelitian dari mana?” Mbak Fiel masih teguh menolak rayuan sendokku. Satu dua kepala di ruangan mulai melongok ingin tahu keributan kecil perkara kopi ini.

“Sini, sini.. aku kasih lihat sumbernya!” Aku menyeret Mbak Fiel ke komputernya. Kubuka mesin pencari dan kuketikkan kata kunci: penelitian ibu hamil dan kopi. Ha, Mbak Fiel pasti tak berkutik. Aku menyeringai puas.

Dalam hitungan sepersekian detik, mesin pencari membeberkan judul-judul terkait penelitian kopi dan ibu hamil. Tak hanya puluhan.. RATUSAN! Kusorongkan monitor ke Mbak Fiel. Sendok kecilku menari-nari di cangkir kopinya. Hidungku mengendus-endus.

Cepat Mbak Fiel membaca salah satu judul teratas dan dia tertawa makin keras. “Tiaraaa… ini kan nggak ilmiah. Semuanya Cuma bilang penelitian, penelitian, penelitian. Penelitian siapa? Kapan? Di mana? Nggak ada tuh kepastian info ini valid,” belum menyerah rupanya ia.

“Nih, coba Tiara yang baca sekarang deh,” ganti Mbak Fiel menyorongkan monitor padaku. “Ini baru ilmiah, “ tegasnya.

Rupanya ia memakai jurus yang sama untuk menggagalkan invasi sendokku ke cangkirnya. Jurus mesin pencari.

Saat hamil, banyak ibu yang selektif dalam makanan dan minuman yang dikonsumsi. Namun, bagi ibu hamil pecinta kopi, tak perlu khawatir mengonsumsinya karena tak akan memengaruih IQ anak seperti diungkapkan dalam studi terbaru. Namun perlu diingat, jumlah yang diperkenankan maksimal dua cangkir per hari. 

Dalam studi yang dilakukan ilmuwan Ohio State University College of Medicine, tidak ditemukan kecerdasanan intelektual anak yang lahir dari ibu yang konsumsi kopi saat hamil turun seperti dikutip dari laman Live Science, Selasa (24/11/2015).

Tidak ada bukti bahwa konsumsi kafein selama kehamilan berdampak negatif pada kecerdasan intelektual maupun perilaku saat anak berusia 4-7 tahun seperti ditulis peneliti dalam studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Epidemiology.

“Secara keseluruhan, kami menemukan ibu hamil yang konsusmi kopi secara moderat yakni maksimal dua cangkir kopi setiap hari tidak berdampak pada kecerdasan intelektual anak,” terang asisten profesor pediatrik yang juga salah satu peneliti studi ini, Sarah Keim.

Ini bukan studi pertama yang menunjukkan konsumsi kopi secara moderat aman untuk dikonsumsi. Sebelumnya, di tahun 2012 menemukan konsumsi kafein saat hamil tidak memiliki hubungan dengan kebiasaan anak terbangun di malam hari.

Lalu, menurut American College of Obstetricians and Gynecologists, konsumsi kafein kurang dari 200mg per hari, atau sekitar satu atau dua cangkir kopi per hari aman selama kehamilan. Namun, efek konsumsi kafein dalam jumlah lebih besar belum ditemukan dengan jelas.[1]

Antara senang dan bingung, aku memandang Mbak Fiel yang tersenyum lebar.

“Jadi?” aku meminta keputusan.

“Sesendok?” ia balik bertanya.

Aku mengangguk-angguk bersemangat. Sendokku ikut mengangguk-angguk. Si kecil di perutku ikut menendang-nendang.

“Tentulah boleeeh,” puas sekali Mbak Fiel mengerjaiku.

**

Namaku Tiara. Tahun ini umurku 26 tahun. Kali ini adalah kehamilanku yang pertama. Kami ingin menikmati setiap detiknya. Maka terciptalah Gravida Syndrome. Sindrom kehamilan a la kami. Ini adalah kisahnya yang ke-27.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[1] http://health.liputan6.com/read/2372577/ibu-hamil-ternyata-boleh-minum-kopi

 

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

#3: Entrepreneur Writing Story

Es Teler 77 sebagai hasil wirausaha dalam negeri rupanya ingin memberi apresiasi kepada para wirausaha muda dan buku inilah jawabannya. Merupakan kompetisi menulis yang tak sekadar menjaring tulisan, namun juga memberikan bantuan modal bagi para  pemenangnya. Tentu saja saya tak ingin ketinggalan. Hehehe

Kejutan kecil suatu siang membuat saya dagdigdugder. Jantung berdebar-debar. Pasalnya adalah saya mendapat telepon dari Nulisbuku.com yang isinya adalah mengundang saya hadir dalam peluncuran buku ini. Alhamdulillah, tulisan saya menjadi finalis kompetisi ini dan diminta untuk presentasi lebih lanjut pada malam penjurian.

Sayang sekali, say a belum dapat mengiyakan undangan dan tantangan tersebut. Akomodasi ke Jakarta bersama Hanif belum ditanggung oleh penyelenggara. Dari kantong sendiri? Humm.. saya masih harus mengencangkan ikat pinggang. Hehehe

es teler

Buku ini cocok bagi peminat wirausaha mula yang butuh inspirasi. Silakan memesan buku ini di sini.

#2: Desa Seribu Cerita

Tulisan kedua saya yang dibukukan masuk dalam buku antologi bertema Hometown berjudul Desa Seribu Cerita. Tulisan saya sendiri berjudul “Salatiga”

Gambar

Kota kecil saya ini memang luar biasa menginspirasi. Semakin hari saya tinggal di sini, semakin banyak inspirasi dan orang hebat yang saya jumpai. Terkadang, saya agak heran jika generasi muda di Salatiga lebih memilih pergi ke kota besar untuk mencari pekerjaan di sana. Sungguh, Salatiga memiliki banyak pesona untuk digarap bersama, Teman.

Buku ini adalah proyek antologi besutan Nulisbuku yang sukses menjaring banyak sekali naskah bertema Hometown sehingga dibukukan menjadi empat buku dengan judul yang berbeda. Mau membaca lebih lanjut buku-buku tersebut? Silakan klik di sini ya.

#8: Hei, Ini Aku! Ibu Profesional

Ada sensasi tersendiri saat menunggu buku dengan tulisan saya sendiri di dalamnya saya terima dengan tangan sendiri. Buku ke berapapun, sensasinya selalu ada. Begitupun saat menunggu buku terbaru saya ini, “Hei, Ini Aku: Ibu Profesional!”

Gambar

Keputusan besar telah aku ambil, aku pun tahu resikonya dan tidaklah mudah memang untuk menjalaninya. Dari seorang wanita karier dengan masa kerja yang sudah sepuluh tahun, tiba tiba menjadi seorang ibu rumah tangga yang benar-benar full di rumah mengurusi keluarga. Ternyata, saya stress dengan segala aktivitas rumah tangga yang monoton. Dulu sewaktu sekolah dan kuliah saya memiliki aktivitas yang seabreg. Saya merasa hopeless, tak berarti, tak berguna.

Inikah yang Anda rasakan? Jika iya, Anda sedang memilih buku yang tepat. Kisah pergumulan batin para wanita hebat yang akhirnya memilih menjadi karyawati Sang Pemilik Kehidupan. Sebuah profesi yang (ternyata) harus dilaksanakan dengan profesional layaknya profesi kantoran. Profesi dengan Surat Keputusan alis beslit datang langsung dari Sang Maha Pencipta dan gaji yang diterima juga begitu mahal: SURGA.

Buku wajib untuk Anda yang ingin menjadi ibu PROFESIONAL.

Anak-anak adalah titipan Illahi. Kalau kita jaga titipanNya dengan baik, tentunya masalah rejeki, kesempatan dan kebahagiaan sudah dipersiapkan untuk kita. Rejeki itu bisa datang dari anak lho, Bun. — Septi Peni Wulandani, (Ibu rumah tangga profesional, founder Jarimatika, School of Life Lebah Putih)

Buku ini memiliki cerita tersendiri untuk saya. Bukan lagi sekadar tulisan saya akhirnya masuk buku, namun lebih kepada akhirnya saya mengicip bagaimana rasanya seorang desainer yang menelurkan karyanya. Buku ini juga memberi saya kesempatan untuk benar-benar membuat buku dalam artian sebagai editor, penata layout, sekaligus desainer cover. Plus belajar memahami kinerja dunia penerbitan.

Tentu saja saya tidak sendiri. Saya banyak dibantu oleh mbak Widi dan Mbak Zainab untuk proses pemilahan naskah dari puluhan naskah yang masuk. Ada  juga mbak Dian yang sangat membantu dalam olah foto dokumentasi, lalu lintas email dengan penerbit, dan member kesempatan saya untuk membuat desain cover – padahal di antara kami berempat, beliau jagonya desain grafis. Benar-benar tim yang penuh energi.

Secara khusus, saya juga merasa harus berterima kasih kepada Penerbit LEutika Prio yang memiliki kecepatan kerja mengagumkan dan pelayanan pelanggan yang prima. Two thums up untuk Leutika Prio! Untuk order buku, silakan klik di sini.

I CARE #1

Kategori: Buku
Jenis Lainnya
Penulis: # I Care Writers
Have you care enough?

Pertanyaan singkat yang memiliki jawaban sangat luas. Setidaknya, itulah yang saya tangkap dalam 28 kisah di buku I Care #1. Buku pertama dari tujuh buku yang mengelaborasi pandangan para peserta I Care Competition, sebuah kompetisi menulis yang disponsori Apotek Kimia Farma, tentang sebuah kepedulian.

Ya, buku kolaborasi ini menyuguhkan berbagai kisah yang sangat sehari-hari. Keputusasaan keluarga korban tsunami pasca tsunami 2004 di Aceh, kegigihan seorang murid Sekolah Luar Biasa untuk bersekolah di tempat yang lebih baik, penggusuran yang sarat kepentingan, potret bangsal rumah sakit dari lensa dokter muda, semangat ibu rumah tangga untuk kota kecilnya, dan masih banyak kisah lain.

Membaca buku ini sedikit banyak membuat saya merenung. Bahwa terkadang kita terlalu pelit untuk berbagi kepedulian dengan sesama. Apalagi dengan lingkungan. Tidak, tidak selalu tentang uang atan menyumbang. Perhatian, semangat, tenaga, dan bahkan senyuman sekalipun dapat menjadi sesuatu yang luar biasa jika dilakukan dengan hati tulus dan peduli.

When you care about your universe,
Universe will care about you back.

Bagi saya pribadi, buku ini memiliki nilai luar biasa. Alhamdulillah, ada tulisan saya di sana. Sungguh luar biasa rasanya membaca tulisan sendiri yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku. Sungguh mengharukan ketika salah satu cita-cita masa kecil saya saat ini benar-benar terwujud di depan mata. Alhamdulillah.. rencana Allah memang menakjubkan!

Kebiasaan saya untuk menuliskan end-note di akhir naskah-naskah sepertinya menjadikan tim penerbit I Care menempatkan tulisan saya sebagai closing story I Care #1. Tepatnya di halaman 227, angka-angka yang sejak dulu menjadi favorit saya. Subhanallah, betapa peristiwa demi peristiwa telah diatur sedemikian rupa oleh Sang Pencipta.

Mudah-mudahan Allah memberi kemudahan untuk terus berbagi dalam bentuk tulisan. Mohon doanya ya, teman-teman. Just keep on writing and you’ll find a paradise!

UN 23, ’11 5:22 PM
UNTUK SEMUANYA