Family Play Day: Cara Baru Bersantai

Alhamdulillah tanggal 14 September 2014 jadi juga ikut Family Play Day yang dibidani Fieldtrip Krucil Salatiga-nya Institut Ibu Profesional Salatiga. Family Play Day (FPD) ini merupakan acara main sepuasnya (dan makan sepuasnya juga lho! ūüėÄ ) antara anak dengan orang tuanya atau sesama anak peserta atau sesama orang tua peserta. Pokoknya mainnnn!

Permainan yang diusung dalam FPD kali ini mengangkat tema permainan tradisional (dan makanan tradisional). Ada permainan gobak sodor, dakon, bola bekel, seprengan, setinan, pancing ikan, gasing, ular tangga, dan halma. Soal makanan, ada kacang rebus, singkong rebus, mendut, kue ku, grontol, manisan kolang-kaling, dan lotisan. Ada juga makanan “modern” juag sih seperti risoles, arumpis, dan kroket karena banyak yang nyumbang makanan. Saking tradisionalnya, panitia juga dikasih caping! Keren, keren, kereenn…! Tapi pada prinsipnya, FPD ini merupakan mesin waktu yang melempar para orang tua ke jaman mereka (dan saya) anak-anak dulu. Semua jadi anak-anak ūüėÄ

Baca lebih lanjut

Iklan

Jajan Es Potong, Yuk!

Es Potong Es Potong therealmeinabowloflife.blogspot.com

 

Perjumpaan kembali itu terasa menggairahkan. Serta merta saya berhenti melaju dan menghampiri seorang bapak setengah baya yang sedang mendorong gerobak sederhana berinstrumen lonceng kecil bersuara nyaring. Tulisan di gerobak itulah yang seolah menyihir saya untuk seketika menepi. Es Potong.

 

Ya, Es Potong adalah salah satu jajanan jadoel yang memiliki sensasi rasa tak terlupakan. Rasa gurih santannya berpadu dengan manisnya gula pasir plus butir-butir beras ketan hitam beku, menyatu dalam selongsong panjang bungkus plastik bening. Ada juga pilihan rasa coklat, frambus, durian, atau melon.

 

Kenapa disebut Es Potong? Tak lain dan tak bukan adalah karena longsongan panjang itu harus dipotong-potong dulu dan ditusuk dengan lidi untuk dapat dinikmati. Slrrrupp … dinginnya seolah menyegarkan siang yang terik, gurihnya memanjakan lidah, dan wangi aroma buah melengkapi sensasi nikmat sepotong Es Potong. Humm.. yummy..

 

Sebungkus utuh Es Potong, kurang lebih sepanjang 50 cm dan berdiameter 2-3 cm, dijual Rp 5.000 saja. Nah, jika Glowers ingin yang versi potong, harga tiap potong yang panjangnya sekitar 10 cm berkisar antara Rp 1.000 sampai Rp 2.000. Harga tersebut menjadi terasa sangat murah jika mengingat mulai langkanya jajanan  pelepas dahaga ini di jaman sekarang.

 

Penasaran dengan Es Potong? Lets hunt, Glowers!

Dimuat di glowupmagazine.com     Monday, 14 February 2011 17:54

Masih Ingat Lupus?

Lupus Lupus

glowupmagazine.com – Jambul ala personel Duran Duran, JohnTaylor, permen karet yang engga pernah absen, plus ulah yang tengilnya minta ampun pasti langsung membuat anda teringat akan tokoh kondang rekaan Hilman Hariwijaya. Siapa lagi kalau bukan Lupus?

 

Novel Lupus pertama diterbitkan pada tahun 1986 berjudul Lupus I: Tangkaplah Daku Kau Kujitak. Walaupun judulnya adalah plesetan dari film Kejarlah Daku Kau Kutangkap, ceritanya tak berhubungan. Buku ini pun laris manis pada era 80-an akhir sampai awal 90-an, malah sempat menjadi trend setter anak-anak dan remaja Indonesia kala itu. Jangan ngaku gaul kalau belum update cerita Lupus terbaru.

 

Teman-teman dan kenalan Lupus pun jadi ikut beken lewat serial buku, sinetron, dan bahkan film layar lebar yang mengusung cerita Lupus. Siapa yang tak kenal Gusur yang doyan makan? Atau  Boim si rambut keriting? Masih ingat Lulu, adik Lupus yang hobi ngatain rambut Lupus seperti sarang burung? Dan, apa yang anda ingat kalau disebut sejumlah nama seperti Pepno, Happy, Prudence, Iko-iko, Uwi, dan Mami?

Dimuat di glowupmagazine.com     Tuesday, 15 February 2011 14:50

Pager: Sang Gadget Jadul

Pager Pager bagi-bagi-info.co.cc

Tidiit.. Tidiit.. pagerku berbunyi! Tidiit.. Tidiit.. Begitu bunyinya!

 

Generasi ABG tahun 90-an tentu tidak asing dengan lagu rap Sweet Martabak itu. Begitu menterengnya sebuah pager, sampai-sampai duo rapper asal Pekanbaru itu jadi kondang karenanya. Memang kala itu pager merupakan gadget paling keren. Handphone masih merupakan teknologi yang sangat mahal, itu pun dengan ukuran handphone yang ‚Äúsegede gaban.‚ÄĚ Jadilah pager sebagai alat telekomunikasi praktis yang paling realistis.

 

Pager yang dimaksud adalah alat telekomunikasi pribadi untuk menyampaikan dan menerima pesan pendek. Pager merupakan radio panggil numerik satu arah dan hanya dapat menerima pesan yang terdiri dari beberapa digit saja. Terbatas, memang. Tapi tetap paling keren di zamannya.

 

Radio panggil ini pertama kali diciptakan oleh Multitone Electronic pada tahun 1956 di Rumah Sakit St.Thomas, London, oleh dokter-dokter yang sedang bertugas dalam kondisi darurat. Sejak itu, pager berkembang pesat. Jutaan pesan dikirimkan kepada orang-orang yang membutuhkan informasi yang cepat.

 

Bagaimana dengan sekarang? Kalau ada di antara anda yang masih menyimpan pager dan bisa digunakan, maka: ‚ÄĚSelamat! Sebuah benda purbakala bersejarah ada di tangan anda!‚ÄĚ

Dimuat di glowupmagazine.com Thursday, 24 February 2011 14:17

Tak Sekadar Bermain (Bag. 3)

Saat ini saya ingin berlari. Berlari kencang. Melepas semua gelegak yang bergemuruh di dada. Saya ingin berlari kencang. Dan tersengal-sengal.

Sama ketika saya bermain betengan. Permainan kanak-kanak yang selalu membuat saya tersengal-sengal. Berlari lepas. Mengincar pasukan lawan, untuk ditangkap dan ditawan. Dan kembali ke kelas dengan baju lusuh berbau peluh. Namun, tertawa lepas. Atau malah bersungut-sungut karena permainan yang dianggap curang 

Yup, betengan memang permainan kental dengan adegan berlari-lari. Dua kelompok pemain berlagak sebagai pasukan dua kerajaan yang saling memperebutkan benteng lawan. Benteng biasanya berupa dua tiang berhadapan yang terpisah sekitar 4 meter atau lebih. Kelompok yang terlebih dulu menyentuh benteng lawan, merekalah yang menang. Sangat sederhana.

Sejak permainan disepakati dimulai, setiap pemain berlomba-lomba menawan sebanyak mungkin pemain lawan. Tawanan akan dipajang berentet-rentet di sebelah benteng sang penawan. Kawan-kawannya akan mencuri-curi kesempatan untuk membebaskannya dengan menyentuh tangannya yang panjang terentang. Klaim kecurangan sering terjadi di sini. Tawanan mengaku telah dibebaskan kawannya, namun pandangan penjaga benteng tidak membuktikannya. Berdebatlah para pemain. Diajukanlah saksi dari kedua belah pihak. Musyawarah (baca: perdebatan) adat pun dimulai 

Pada akhirnya, permainan ini tak sekadar sebuah adu lari dan ketangkasan. Ada strategi di sini. Strategi menaklukkan benteng secepat mungkin. Ada kerja sama tim alamiah di sini. Pembagian tugas, siapa penjaga benteng, pengawas tawanan, penyerang benteng, dan pembebas tawanan. Kerja sama tim yang alami, karena semua pemain secara otomatis saling menggantikan, tanpa banyak kata. Dipersatukan oleh satu misi: mempertahankan benteng dan merebut benteng lawan.

Musyawarah (baca: perdebatan) adat pun tanpa disadari telah mengajarkan suatu dasar manajemen konflik pada anak-anak. Betapa masalah harus diselesaikan dengan mendiskusikannya bersama pihak-pihak yang terlibat, keharusan menjadi saksi yang jujur, dan kebesaran hati dari setiap pihak untuk menerima keputusan bersama.

Sungguh indah permainan ini.. 

FEB 4, ’10 11:58 PM
UNTUK SEMUANYA

Kabar Terbaru (?)

Rasanya basi banget kalau saya minta maaf lagi karena sudah lama sekali tidak eksis di jagat multiply. Tapi nyatanya, memang demikian adanya. Kepasifan saya waktu-waktu terakhir memang berdampak sepinya karib kerabat yang mampir ke rumah saya. Hehe.. saya maklum kok 

 
Jadi, teman-teman, saya sudah melahirkan alhamdulillah. Tepatnya Kamis, 18 November 2010 jam 07.45 WIB di Semarang. Bayi laki-laki dengan berat 3 kg dan panjang 47 cm itu kami beri nama Hanif Abdurrahman. Semoga menjadi hamba Sang Maha Pengasih yang lurus dan teguh. Amiin. Mohon doa barokah teman-teman yaa..
 
Saya sangat bersyukur diberi kemudahan dalam persalinan pertama saya tersebut. Pukul 02.00 WIB dinyatakan pembukaan 2, pukul 04.30 WIB dinyatakan pembukaan 4. Pukul 06.00 WIB dinyatakan pembukaan 8, dan pukul 07.00 dinyatakan pembukaan lengkap, yaitu 10. Dalam proses tersebut, saya sungguh banyak bersyukur telah berkesempatan mengikuti kelas senam hamil pada usia kehamilan 28 pekan sampai dengan 36 pekan. Biidznillah, pembekalan persalinan tersebut saya rasakan sangat membantu mengalihkan efek kontraksi menjelangp persalinan. Saya sangat menganjurkan para bumil untuk rajin berlatih senam hamil saat usia kehamilan masuk trimester ketiga.
 
Sekarang, hanif sudah berusia 40 hari alhamdulillah. Perkembangannya dari hari ke hari sungguh mempesona. Saya merasakan benar, Hanif ibarat kertas putih yang haus akan lukisan dan tulisan. Ia ibarat spons yang menyerap cepat setiap stimulus untuknya. Dalam status facebook, saya sempat menuliskan bahwa¬†dibanding waktu sekolah, kuliah, bahkan kerja yang lintas bidang sekalipun, ternyata baru ngerasain benar-benar serius belajar sampai keringat dingin justru ketika memilih jadi ibu rumah tangga. Memang benar, adanya Hanif membuat saya merasa harus lebih berhati-hati dalam bersikap di dekatnya. Bukankan anak itu belajar dari ucapan, sentuhan, pandangan, dan perilaku lingkungannya — terutama ibunya?¬†
DEC 18, ’10 10:01 PM
UNTUK SEMUANYA

Tak Sekadar Bermain (Bag. 4)

Do.. mikado mikado
Eska.. eskado eskado
Bea beo..
Hip.. hip..
One!
Two!
Three!
FOUR! 

***

Pernah menyanyikan lagu itu? Lagu yang mengiringi permainan yang (kami sebut) bernama Domikado. Pernah memainkannya?

Saya yakin ada yang pernah memainkannya. Namun, mungkin juga ada yang belum pernah mendengarnya. Jangan bertanya dari mana asal permainan ini, google-pun menggeleng perlahan. Sungguh! 

Kita sepakat sajalah, bahwa permainan ini diwariskan secara lisan turun temurun. Tanpa dokumen. Karena itu, mari kita mulai ukir sejarah. Halah! 

Domikado adalah jenis permainan kelompok. Artinya, semakin banyak pesertanya akan semakin seru. Para peserta harus membentuk lingkaran dan saling meletakkan tangan di tangan peserta lain di kanan kirinya. Tangan diletakkan terbuka untuk nanti ditepuk oleh tangan peserta sebelumnya.

Domikado dimulai dengan seluruh peserta menyanyikan lagu Domikado. Secara berantai, setiap peserta menepuk tangan peserta setelahnya. Satu suku kata berarti satu tepukan ke tangan tetangga.

Serunya, setiap peserta harus waspada dengan berakhirnya lagu. Peserta yangketiban¬†kata “FOUR!”, harus mengelak dari tepukan yang datang ke tangannya. Jika sampai berhasil kena tepuk, ia harus keluar dari lingkaran dan dinyatakan kalah.

Lagu terus dinyayikan sampai peserta tinggal dua orang. Nah, soal penentuan pemenangnya.. saya lupa! Ada yang bisa bantu? 

***
Waspada. Peserta secara sederhana belajar tentang waspada pada permainan ini. Konsentrasi yang menyenangkan pun turut dipelajari. Sadarkah kita ketika memainkannya? 

FEB 23, ’10 12:11 AM
UNTUK SEMUANYA

Dek Ikeng dan Ikan Akuarium

Dek Ikeng suka sekali memandang akuarium di teras depan. Akuarium dengan beberapa ikan berwarna oranye, gelembung-gelembung air di dalamnya, batu karang putih tempat ikan bersembunyi. Bagus sekali.

Ikannya ada berapa ya? Dek Ikeng belum bisa menghitung. Dek Ikeng cuma menunjuk-nunjuk ikan satu demi satu. Dan tertawa-tawa sendiri. Asyik sekali.

Akuarium di teras baru beberapa hari dipasang. Bapak meletakkan kotak kaca di atas meja kayu. Bapak juga mengisinya dengan batu-batuan warna-warni, kotak hitam dengan selang, air, dan beberapa tanam-tanaman yang berakar batu. Dek Ikeng tidak tahu kalau batu yang diikatkan Bapak ke tanaman itu berguna untuk memberati tanaman agar tidak mengapung. Buat Dek Ikeng, tanaman itu aneh karena berakar batu.

Dek Ikeng suka berlama-lama menempelkan wajahnya di kaca akuarium yang dingin. Terpesona dengan gemulai ikan di dalamnya. Tak dipedulikannya kaki kesemutan karena lama berjinjit menggapai kaca akuarium. Dek Ikeng menemukan tempat bermain baru. Si Meong pun kalah menarik dibanding ikan-ikan di akuarium. Si Meong jadi sering bermain sendiri dengan tetangganya, Si Hitam.

Suatu hari, Si Emak pulang dari pasar membawa banyak belanjaan. Si Emak tidak mengajak Dek Ikeng, karenanya Dek Ikeng penasaran sekali dengan oleh-oleh yang dibawa Si Emak. Si Emak inilah yang selalu menjaga Dek Ikeng selama Ibu pergi ke kantor. Si Emak juga yang memasak di rumah. Masakan Si Emak selalu enak.

Si Emak menggelar belanjaannya di dapur. Ada sayur mayur (Dek Ikeng belum tahu semua nama sayuran), ada juga tepung, telur, ikan kecil-kecil, minyak goreng, dan juga kue untuk Dek Ikeng. Wah.. Si Emak membawa oleh-oleh kue untuk Dek Ikeng! Kue bulat-bulat berwarna merah muda yang merekah. Baunya wangiii sekali. Masih hangat pula. Dek Ikeng juga belum tahu kalau nama kue itu adalah carabikang. Buat Dek Ikeng, kue ini pasti enaaaak sekali.

Mata Dek Ikeng menangkap ada ikan kecil-kecil di antara belanjaan Si Emak. Ikan kecil-kecil berwarna putih di dalam plastik. Banyak sekali ikannya. Matanya kecil sekali, seperti titik hitam di putih tubuhnya. Kok ikan ini tidak berenang di air? Dek Ikeng bingung.

***
Setiap habis maghrib, Bapak memberi makan ikan di akuarium. Makanan ikan bentuknya bulat-bulat kecil. Warnanya merah muda atau coklat. Dek Ikeng suka sekali melihat ikan-ikan berebutan makanan. Mulut-mulut ikan membuka tutup dengan lahap. Dek Ikeng suka menunjuk-nunjuk ikan yang belum mendapat makan, agar Bapak memberi tambahan makanan untuk ikan itu.

Sore itu, Bapak kaget. Ikan-ikannya tidak ada yang berenang-renang riang di akuarium. Semua ikan mengapung di akuarium. Sepertinya mati. Kenapa ini?

Bapak memeriksa lebih teliti. Dek Ikeng mengamati dengan tertarik. Ada apa ya ikan-ikannya? Tadi siang masih berenang-renang kok.

“Lho?” seru Bapak terkejut.

Ibu dan kakak-kakak Dek Ikeng mengerumuni Bapak penuh rasa ingin tahu.

“Kok banyak ikan teri di sini?” tanya Bapak heran. “Siapa yang memasukkan ke sini?”

Semuanya saling berpandangan heran. Semuanya saling menggeleng.

Tiba-tiba, Dek Ikeng berkata, “Bapak, tadi Si Emak beli ikan kecil-kecil dibungkus plastik. Ikannya kasihan, tidak bisa berenang. Dek Ikeng bantu ikan berenang di akuarium.”

Olala..!!

Bapak, Ibu, dan kakak-kakak tidak jadi marah dan tertawa terbahak-bahak. Malam itu, keluarga Dek Ikeng makan malam dengan lauk ikan akuarium goreng. 

***
Sejak itu, lamaaaaa sekali Bapak tidak memelihara ikan di akuarium. Sampai Dek Ikeng sudah besar dan punya adik yang juga sudah besar. 

FEB 11, ’10 8:29 PM
UNTUK SEMUANYA

Tak Sekadar Bermain (Bag. 2)

Sekali lagi  tentang permainan tradisional yang, buat saya, selalu melahirkan kerinduan dan rasa syukur. Rindu akan kemeriahan permainan kanak-kanak dan syukur akan kesempatan memainkannya dulu.

Sekarang saya ingin menulis tentang Engklek. Ada juga yang menyebutnya Sondah Mandah atau juga Ingkling. Engklek dalam bahasa Jawa berarti melompat dengan satu kaki. Sondah Mandah (ada juga yang menyebutnya Sunda Manda), menurut info yang saya dapat dari blog permainan anak tradisional, pernah disebut berasal dari bahasa Belanda, zondaq maandag. Meski baru hipotesis, apakah ada teman-teman yang tahu arti kata tersebut?   Istilah terakhir, ingkling, saya temukan di web apakabar, dan saya belum berhasil menemukan asal kata maupun artinya. Ada yang bisa membantu? 

Terlepas dari istilah dan nama beken permainan ini, mari kita sepakat menyebut salah satu nama saja untuk kelangsungan persamaan persepsi tentang permainan yang saya tulis ini. Engklek? Sondah Mandah? Ingkling? Saya pilih Engklek 

Engklek adalah permainan luar ruangan karena kita membutuhkan ruang untuk melukis pola bidang permainan. Bidang permainan biasanya berupa 8 petak  yang disusun dengan khas, plus 1 sawah berbentuk setengah lingkaran di ujung dua petak terakhir.

Jika engklek dilakukan di halaman tanah, maka pola dibuat dengan menekankan batu di tanah hingga tercipta bidang permainan. Bagaimana jika halaman sudah berpaving atau bersemen? Tidak masalah, tinggal mencari batu bata merah dan mulai melukis pola permainan. Sah.

Ketika tinggal di komplek, mungkin halaman rumah tak cukup luas untuk melukis pola engklek. Tetap tidak masalah. Kita masih punya jalan depan rumah untuk dilukis dengan batu bata merah. Atau dengan kapur. Dan ini sering saya jumpai di komplek perumahan saya. Jalan aspal berhias pola engklek. 

Engklek adalah permainan yang seru jika dimainkan lebih dari dua orang. Makin banyak, makin seru. Setiap pemain memiliki batu yang mewakili dirinya dan disebut gacuk atau cuk saja. Bolehlah dari pecahan batu bata, pecahan semen kering, pecahan genting, batu beneran, atau kayu. Suka-suka pemain lah.

Setelah hom-pim-pah-alaiyum-gambreng berkali-kali dan diakhiri dengan ping suit-nya dua pemain terakhir, setiap pemain meletakkan cuk masing-masing di kotak paling bawah (kalau berdasar gambar di atas, ya kotak paling kiri). Setiap pemain bergiliran melompat dengan satu kaki alias engklek tanpa menginjak kotak yang ada cuk miliknya.

Pemain wajib engklek sampai kotak paling ujung dan balik lagi ke titik start. Pada setiap dua kotak yang tersusun horizontal, pemain harus menginjakkan dua kaki bersamaan di kedua kotak tersebut. Tepat sebelum melompati kotak yang ada cukmiliknya untuk kedua kalinya, pemain harus mengambil cuk dengan berdiri di atas satu kaki.

Jadi, jika cuk ada di kotak pertama, kira-kira bunyi langkah kaki pemain yang sedang mendapat giliran beraksi adalah sebagai berikut:

dug… dug.. bruk.. dug.. bruk.. (balik kanan) bruk.. dug.. bruk.. dug.. dug.. (ambil¬†cuk) bruk

Kebayang nggak? 

Jika pada kotak pertama cuk berhasil dilewati dengan sukses sebanyak dua kali, maka pemain berhak melempar cuk ke kotak kedua dan seterusnya. Setelah semua kotak berhasil ditaklukkan, pemain berhak merempar cuk ke sawah. Sukses juga? Sawah itu menambah hartanya. Pemain dengan sawah terbanyak adalah pemenangnya.

Sederhana saja. Tidak ada uang keluar untuk permainan ini. Namun, tentu saja, justru ada banyak pelajaran di dalamnya.

Menggerakkan badan. Permainan yang sehat adalah permainan yang memberikan porsi seimbang pada otak dan fisik. Berlatih strategi, kecermatan, sekaligus membebaskan tubuh bergerak alami. Berlari, meloncat, dan juga tertawa. Sederhana bukan?

Permainan ini juga mengajarkan pemain untuk bersabar menunggu gilirannya beraksi. Banyaknya kesabaran berbanding lurus dengan banyaknya pemain. Makin banyak pemain, makin banyak membutuhkan kesabaran. Namun, anak-anak dengan riang menjalaninya. Diselingi canda tawa dan komentar-komentar jujur tentang permainan lawannya. Tanpa beban.

Memang, harusnya demikianlah adanya. Dalam dunia nyata, keharusan mengantri nyaris tak terelakkan. Bercermin pada engklek, harusnya kita ikhlas menjalaninya. Tertib dan bersabar. Tak malukah kita pada anak-anak yang bermain engklek?

JAN 28, ’10 6:23 AM
UNTUK SEMUANYA

Tak Sekadar Bermain

Tergelitik dengan note mbak maulia tentang congklak. Spontan ingatan saya melayang pada berbagai permainan tradisional yang, dengan penuh rasa syukur, pernah saya alami dan mainkan bersama saudara maupun kawan-kawan saya.

Congklak. Ada yang menyebutnya “dakon”. Sebuah¬†permainan satu lawan satu dengan media papan¬†panjang berlubang 16. Setiap pemain menguasai menguasai 7 lubang plus 1 gawang. Tiap lubang berisi biji-biji kecik dengan jumlah¬†yang sama. Kecik adalah nama biji sawo yang berwarna hitam mengkilat, namun pada prakteknya, kecik tidak melulu biji sawo. Bisa¬†saja biji sawo buatan alias plastik yang dibentuk seperti biji sawo.


Aturan mainnya sederhana saja. Mendistribu
sikan kecik secara meraya di setiap lubang, kecuali gawang lawan. Kedua pemain akan ping-suit untuk menentukan siapa yang berhak bergerak pertama kali. Yang paling banyak mengumpulkan kecik di gawang, dia menang.

Serunya permainan ini terletak pada dag-dig-dug kita saat mengamati gerakan lawan mendistribusikan keciknya. Soalnya, jika kecik lawan jatuh di lubang kosong  miliknya dan di atas lubang itu ada kumpulan kecik  kita, maka lawan berhak mengambil  seluruh kecik kita di lubang itu.  

Pemain sadari atau tidak, sesungguhnya permainan ini mengajarkan latihan strategi kemenangan, ketelitian menghitung, cara menghadapi orang lain, dan tentu saja sportivitas sekaligus. Sebuah sarana belajar yang menyenangkan.

(bersambung, insya Allah)

Duh Robbana.. kasihanilah kedua orang¬† tua kami sebagaimana mereka mengasihani kami di waktu kami kecil…¬†

AN 27, ’10 7:41 AM
UNTUK SEMUANYA