Genre, Sebuah Pencarian

Novel ternyata bukan genre yang saya enjoy menuliskannya. Meskipun berangkat dari suatu peristiwa yang berkesan, tuturan novel rupanya masih membuat kening berkerut. Analisa saya, rasanya lebih karena penyelaman yang kurang hening kepada para karakter yang tercipta. Hasilnya… kaku.

Mengikuti tantangan menulis rutin setiap hari di grup ODOP for 99 days membuat saya belajar mengenali diri lebih jauh. Sama-sama menulis, namun diferensiasinya memang banyak. Dari soal genre, tema, sampai teknis. Tapi sekali lagi, rumus dasarnya rupanya masih sama. Semakin banyak mencoba hal baru, maka pemaknaan yang timbul akan semakin dalam. Soal genre tadi, salah satunya.

Karenanya, maafkanlah saya yang akan menamatkan episode penduduk ketinggian bab 1, bab 2,dan pengantar bagian 1 yang saya publish di blog ini. Sudah tamat sajalah. Bukan genre saya. Setidaknya untuk saat ini. Entah nanti jika ternyata pertapaan saya mengantar jiwa menulis yang lebih novelis. Haha

**
Tenang, saya tidak berhenti dari tantangan menulis itu kok. Hanya ganti persneling saja. Tunggu saja ceritanya ūüėÄ

#ODOP for 99 days
#Day4

Jie

Banyak orang menjalani hidup tanpa arti. Mereka seperti setengah tidur, bahkan saat mereka sibuk melakukan hal-hal yang mereka pikir penting — sangat penting. Ini terjadi karena mereka menggenggam hal yang keliru.

Jalan untuk mendapatkan pemaknaan hidup adalah mencurahkan diri untuk mencintai sesama, mengabdikan diri kepada komunitas di sekitarmu, dan mencurahkan diri untuk menciptakan sesuatu yang membuatmu memiliki tujuan dan makna diri.

-Mitch Alborn, Selasa bersama Morrie

‪#‎ODOPfor99days‬
#day3

Merbabu

…kebakaran yang terjadi di atas Desa Ngagrong, Kecamatan Ampel, dengan posisi titik api di ketinggian 2000 sampai 2.500 meter dari permukaan laut tersebut diperkirakan meluas dari 20 menjadi sekira 60 hektar pada Selasa, (29/9/2015) siang…

… Bukannya padam, api saat itu justru membesar hingga mencapai 12 titik api dengan panjang wilayah yang terbakar sekitar 20 kilometer…

Perlahan tapi pasti, berita-berita serupa mulai muncul di beranda Facebook dan diskusi di grup yang Jie ikuti. Menyelip di antara berita kebakaran hutan di pulau seberang yang sukses mengekspor asap ke negeri tetangga.

Jie melayangkan pandangannya jauh ke cakrawala. Gunung itu masih segagah dulu. Tinggi menjulang membentengi kota kecilnya. Dan ternyata benar, kepulan asap putih laksana awan membumbung di sisinya. Berita-berita itu ternyata benar.

Gunung itu memanggil Jie.

Tolong aku..

Merbabu terbakar.

***

Grup Whatsapp komunitas parenting kota Jie hari ini lebih ramai. Ada open recruitment relawan peduli Merbabu.

Tolong aku…

Suara itu kembali mengiang, membuat debaran adrenalin. Mendorong jemari Jie mengirimkan sebuah pesan singkat ke Roo, suaminya. Sepersekian detik pesan itu melesat ke jaringan mekanisme rumit skala satelit melintasi ruang bahkan sebelum mata selesai mengejap. Sent.

Lima menit kemudian, jawaban Roo masuk.

Boleh.

Dan sekali lagi,adrenalin itu melipatkan energi Jie untuk segera bergerak. Merapatkan pasukan, menyusun strategi, dan mulai berkolaborasi.

Tunggu kami ya..

peka fix

—-
#OneDayOnePostfor99Days
‚Ä™#‚ÄéODOPfor99days
#Day2

 

 

Paper Toys: Really Fun, Guys!

Bertemu dan praktek langsung dengan pakar di sebuah bidang memang sebuah keberuntungan tersendiri. Meskipun si pakar geleng-geleng kepala saat disebut pakar, setidaknya beliau jauh lebih berpengalaman dalam hal tersebut dibanding saya. Buat saya, itu sudah cukup untuk menyebutnya pakar.

Itulah yang saya dapati akhir pekan kemarin di Kuliah Umum Institut Ibu Profesional Kota Salatiga.  Ya, kami memang rutin mengadakan kuliah umum yang bertempat di School of Life Lebah Putih sebagai upaya mengakomodir semangat belajar para ibu dan (akhirnya merembet ke) para ayah yang luar biasa. Kali ini, saya belajar langsung dari Mas Hafez Achda, praktisi Paper Toys dari Jogja.

mas hafezpop upkompakmejeng

Hafez Acha, lahir di Temanggung tahun 1985.  Dari kecil menyukai permainan yang prosesnya dengan merakit dan sudah gemar berkreasi dengan kertas. Dengan latar belakang belajar seni rupa di Jogjakarta membuatnya semakin mencintai kertas sebagai bahan dasar karyanya, mulai dari melukis dengan media kertas, desainer pop up dan juga menjadi desainer paper craft.

Masih mempercayai bahwa kertas adalah media yang paling fleksibel karena kertas bisa menjadi apa saja, bisa dilipat, digunting, digambar, dibuat padat dan berbagai bentuk lain.  Rumusnya adalah 3M : Murah, Mudah (dibentuk), dan Mengasyikkan.


Bersama beberapa temannya mendirikan impian studio di jogja, sebuah studio kreatif yang bergerak mendayagunakan kertas sebagi media ekspresinya. buku yang sudah diterbitkannya adalah paper toys jilid 1-3. untuk berkomunikasi dengannya silakan kirim email ke impianstudio@gmail.com

Kami memang benar-benar diberi kesempatan membuat paper toys sendiri! Bahkan.. di akhir acara, kami diberi kesempatan membuat buku pop-up sederhana untuk menjawab rasa ingin tahu kami. Jurus itu benar-benar membuat seluruh peserta — para ibu, para ayah, para remaja, dan tentunya anak-anak — serius menekuri proyek masing-masing sampai tanpa terasa mendekati pukul 12. Terbukti benar, bahwa paper toys ini merupakan pilihan ativitas keluarga yang murah, mudah, dan mengasyikkan.

potluckmas tepeinteraktifoleh-oleh

Meskipun utak-atik paper toys terlihat penuh ketenangan, ternyata energi benar-benar terkuras untuk konsentrasi lho. Jamuan potluck yang disediakan panitia pun  dengan gembira diserbu peserta. Terima kasih banyak untuk seluruh peserta yang telah berbagi potluck pada Kuliah Umum kali ini. Tak hanya makanan kecil, buah hasil kebun senidri seperti rambutan dan kelengkengpun melengkapi hidangan potluck yang berderet-deret. Hidangan yang disajikan dengan apik dalam piring-piring bambu beralaskan daun pisang menambah segar meja potluck dan menyatu dengan suasana asri Lebah Putih.

Afterall, pagi yang diramalkan banyak orang akan diguyur hujan itu berakhir cerah, alhamdulillah. Setiap peserta membawa oleh-oleh paper toys hasil karyanya sendiri plus ada juga yang penasaran dengan pola-pola lain di buku Mas Hafez. Menjaga stand dadakan a la Mas Tepe, Sang Pimpinan Redaksi Indonesia Tera, pun mau tak mau dilakoni setelah di dalam aula Mas Tepe juga ikut maju ke depan. Seruuuu!

Kuliah Umum Februari 2013 ‚ÄúMenjalin Ikatan Keluarga dengan Paper Toys‚ÄĚ ini didukung oleh Mbak Imah dari Habib Collection dan Mbak Dwi Yunia Arti dari Marketing McDonald Jawa Tengah sebagai sponsor bingkisan untuk Mas Hafez, para peserta yang antusias dari awal hingga akhir plus membawa hidangan potluck yang melimpah, maupun Mr. Ow dan Kak Rini sebagai peserta bazaar. Special thanks to Mas Tepe dengan buku-buku kejutan doorprize-nya, semoga Penerbit Indonesia Tera makin jaya! ūüėÄ

Dukungan para donatur inventaris IIP Kota Salatiga (Bu Amin, Mbak Dian, Mbak Dewi, Mbak Neneng, Mbak Imah, dan Mbak Titin) benar-benar sangat membantu kelancaran peralatan kuliah umum kali ini. Terima kasih banyak juga untuk teman-teman di School of Life Lebah Putih yang luar biasa (Thanks Kak Rini, Kak Jo, Kak Titi, Kak Tyas, Pak Hadi, dan Pak Gi).

Apresiasi yang paling dahsyat tentu saya haturkan kepada tim panitia: Bu Ais (Penerima Tamu), Mbak Ula (Chief Bazaar), Mbak Umi (MC), Mbak Aini (Chief Potluck), dan Mbak Ria (Chief Clean Up). Semoga semangat teman-teman dalam belajar banyak hal baru dalam kepanitiaan dapat menjadi penambah semangat untuk terus belajar dan berani  menaklukkan tantangan apapun. Never ending learning!

doorprizetingkah bocahtanya jawabrame

 

 

 

 

Sukses 2012

Kuliah offline rutin Ibu Profesional pagi ini diawali dengan sharing kisah sukses setiap peserta di tahun 2012. Ada banyak hal yang ingin saya ceritakan, namun yang terlontar adalah soal icip-icip menjadi event organizer di awal tahun dan cover designer di akhir tahun. Sesaat setelah jatah sharing saya bergeser ke mbak Neneng, yang duduk di sebelah saya, saya langsung menyesal.

Sesungguhnya, kesuksesan terbesar saya di tahun 2012 adalah bertemu dengan orang-orang hebat yang selalu memandang setiap hal baru sebagai tantangan dalam kehidupan mereka. Puncaknya adalah saat saya akhirnya berkesempatan mengikuti kuliah rutin Ibu Profesional dimana saya merasakan lejitan energy positif dalam diri saya. Semakin banyak orang hebat yang memaksa saya memandang sesuatu dengan kacamata ‚Äď memang saya berkacamata ‚Äď ego dewasa dan bukannya ego orang tua, apalagi kanak-kanak. Bagaimana tidak? Setiap peserta kuliah sejatinya adalah guru yang mengajarkan saya tentang banyak hal, mungkin tanpa mereka sadari.

Kesadaran itu makin mengerucut saat saya berkesempatan membantu proyek buku pertama Ibu Profesional menjelang akhir 2012 dimana saya benar-benar belajar banyak hal baru. Terlepas soal teknis dunia penerbitan buku yang menjadi pengalaman tersendiri bagi saya, saya banyak belajar tentang kekuatan apresiasi.

Saya benar-benar terharu saat mendapati fakta bahwa buku berjudul ‚ÄúHei, Ini Aku: Ibu Profesional!‚ÄĚ ini berdampak sedemikian luas. BErawal dari luapan kebahagiaan yang ditunjukkan beberapa pemenang saat mendapati namanya ada di deretan penulis yang naskahnya masuk buku. Ada Mbak Wido yang berdebar-debar menanti hingga tengah malam. Ada Mbak Neneng yang surprised banget saat kami mengangkat judul naskahnya sebagai judul besar buku. Ada Mbak Dian Farida yang tersipu-sipu saat saya mengabarkan bahwa naskahnya lolos menjadi opening story buku. Belum lagi cerita teman-teman pemenang dari luar Salatiga yang saya dengar dari Bu Septi.

Saya yakin banyak di antara mereka yang memang baru sekali itu memiliki buku dengan nama mereka terpampang sebagai penulisnya. Saya jadi teringat euphoria yang sama saat naskah saya pertama kali dibukukan dalam buku I Care #1. Bagi saya sendiri, buku ini memiliki cerita khusus yang bisa dibaca di sini.

Dampak luar biasanya tak berhenti sampai di situ, Teman. PAda acara perkenalan resmi buku tersebut ke publik pada 22 Desember lalu di Kuliah Umum Spesial Ibu Profesional, lagi-lagi saya terhenyak saat mendapati kebahagiaan yang begitu besar lantaran berhasil masuk ke dalam deretan penulis buku. Bagaimana tidak? Saya ingat benar saat saya menyambut Mbak Imelda Rosa yang masuk ke pintu masuk lobi @america dan menjabat tangan saya erat sambil tersenyum lebar. Dengan bangga beliau juga memperkenalkan keluarga besarnya ‚Äď mamanya, papanya, ponakan-ponakannya, dan juga adiknya — yang turut hadir dalam acara tersebut untuk menyaksikan perhelatan akbar ibu professional. Mau tak mau, saya sungguh merasa bahagia mendapatinya. Sisi seru perkenalan buku ini bisa dibaca di sini.

Mengantarkan kebahagiaan kepada orang lain sungguh merupakan sukses terbesar untuk saya tahun 2012 ini. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat orang-orang bahagia karena telah menapaki tahapan baru dalam kehidupan mereka. Tahapan yang serasa hanya mimpi, namun akhirnya menjadi kenyataan. Untuk itu, saya berterima kasih secara khusus kepada Mbak Widi yang menyeret saya ke dalam tim buku dan membuat saya belajar banyak di dalamnya. Saya juga berterima kasih secara khusus kepada Mbak Zainab yang merayu saya membuat seminar di awal tahun 2012 lalu dan membuat saya tercengang-cengang dengan sisi lain ummahat yang ternyata sungguh luarrrr biasa!

Selepas kuliah pagi inipun, saya mendapati sms masuk dari salah satu customer saya yang menyatakan apresiasinya atas tulisan-tulisan di buku tersebut. Rupanya, beliau mendapat hadiah buku tersebut baru-baru ini dan langsung melahap habis isinya. Alhamdulillah.

Dan malam ini,  saya mendapati resolusi terkini dari salah satu penulis buku antologi tersebut via status Facebooknya. Bahwa ia akan menulis minimal sepekan dua tulisan di blog pribadinya setelah beberapa lama aktivitas tersebut berhenti lantaran pembajakan blog oleh hacker. Lagi-lagi saya terhenyak sambil menahan nafas membaca status penuh tekad yang dituliskannya. Dalam blog tersebut ia menuliskan bahwa salah satu motivasi terbesarnya adalah apresiasi yang kami berikan kepada seluruh penulis yang naskahnya berhasil masuk ke dalam buku berupa piagam penghargaan. Saya merinding sendiri menyadari kenyataan betapa besarnya pengaruh apresiasi dan berbagi energy positif, tanpa bisa kita kendalikan. Semua orang menjadi bergerak, bergerak, dan bergerak. Welcome back to blogsphere, Pak Seno! Keep on writing and youll find a paradise! ^^

Earth Hour: Kisah di Balik Layar

Menulis, ah..
 
Beberapa waktu lalu kita telah bersama-sama mendukung dan berpartisipasi dalam Earth Hour 2011. Seperti yang saya tuturkan dalam tulisan saya sebelumnya, saya mencoba mengetuk pintu BUMN per-listrik-an Indonesia melalui e-mail ajakan berpartisipasi dalam Earth Hour 2011. Selain karena saya ingin BUMN ini berdiri di garda terdepan Earth Hour karena jelas-jelas memiliki benefit dengan adanya kampanye ini, saya juga ingin berpartisipasi dalam kontes blog yang diadakan WWF terkait dengan momentum Earth Hour 2011. Sayangnya, saya telat upload tulisan dan (sepertinya) tulisan saya tidak masuk dalam deretan peserta resmi kontes blog Earth Hour 2011. Next time better deh 
 
E-mail yang saya kirimkan sampai sekarang tak satupun yang berbalas. Bahkan dari puluhan e-mail yang terkirim, sekitar 20 e-mail mental kembali ke inbox saya dengan berbagai penjelasan berbahasa Inggris dari gmail yang saya malasa membacanya. Hehe. Soal e-mail tak berbalaspun, saya tidak terlalu heran karena memang di akhir e-mail saya menuliskan tidak perlunya e-mail saya untuk dibalas. Lebih perlu untuk didukung dan ditunjukkan partisipasinya dalam Earth Hour, bukan? 
 
Ada peristiwa lucu yang mampir ke ponsel saya menjelang pelaksanaan Earth Hour 2011. Tepatnya, ada sms hasil forward yang masuk ke ponsel saya dan menyatakan bahwa pada hari itu (26 Maret 2011) akan ada pemadaman listrik pada pukul 8 hingga pukul 9. Antara heran — kok tumben ada sms pemberitahuan pemadaman listrik — dan curiga — jangan-jangan ada yang salah paham tentang Earth Hour sebagai pemberitahuan pemadaman listrik — saya menyimpan sms tersebut.
 
Rupanya kecurigaan saya yang benar. Itu saya ketahui dari cerita ayah saya yang melakukan konfirmasi langsung ke BUMN terkait. Mau tak mau saya tertawa mendengarnya sekaligus miris. Betapa masyarakat kita terkadang masih belum peka dengan isu lingkungan ataupun kampanye yang santer disosialisasikan oleh media massa. 
 
Di sisi lain, ternyata ayah saya dan kolega-koleganya mendapat sms himbauan untuk mendukung Earth Hour 2011 dimana dalam sms tersebut disebutkan frase “atas adanya himbauan dari aktivis WWF”. Syukurlah, meskipun tidak ditampilkan secara resmi di situsnya atau terlihat gregertnya di kantor-kantor BUMN per-listrik-an, paling tidak dengan adanya sms berantai dari rekan-rekan BUMN per-listrik-an tersebut saya sudah puas. Artinya, ada inisiasi dari¬†rekan-rekan BUMN per-listrik-an tersebut untuk berpartisipasi dalam Earth Hour, meskipun sifatnya masih personal.
 
Jadilah, tanggal 26 Maret 2011 pukul 20.30 Р21.30 saya mematikan semua lampu rumah dan menyalakan senter hanya untuk kamar tidur Hanif. Sekadar berjaga-jaga jika Hanif terbangun dan ingin minum ASI. Dan berdasarkan pantauan pandangan mata saya, cuma rumah kami yang gelap gulita saat itu. Hiks.. sedihnya.. 
APR 10, ’11 9:27 AM
UNTUK SEMUANYA

Macet Tanpa Cerewet: Sambil Mencari Solusi

Pasar Parung, pukul 07.05. Saya sukses menaiki angkot yang langsung tancap gas. Alhamdulillah tidak harus ngetem dan semoga bisa sampai pool bis kampus tepat waktu.

Serombongan murid-murid SMU ikut naik dan menghiasi suasana angkot dengan keceriaan yang segar. Maksud saya, keceriaan yang khas murid-murid SMU yang sederhana dan apa adanya. Penampilan mereka sederhana dengan seragam sekolah mereka, blus dimasukkan ke rok, rambut tersisir rapi plus bagi yang berkerudung, kerudung mereka pun terjulur menutup dada dan dijepit rapi. Atribut anak gaul SMU — make up yang belum waktunya, pernak-pernik asesori perhiasan yang (buat saya) memberi kesan norak, atau sekadar hp keluaran terbaru untuk gaya-gayaan — nyaris tidak terlihat.

Percakapan mereka pun termasuk bermutu. Tidak muluk-muluk, namun berisi. Membahas kemajuan belajar menuju Ujian Nasional, bertukar hafalan rumus untuk pelajaran jam pertama, atau diskusi tentang tips menggunakan program komputer. Ada juga yang dengan polos bercerita tentang ia belum sarapan pagi ini karena bapak ibunya sedang pergi dan ia sungkan mengganggu keluarga¬†engkong-nya sekadar meminta sarapan. Yah, hal-hal sederhana semacam itulah. Bukan soal facebook, tempat nongkrong, model baju terbaru, atau hal-hal yang dianggap anak sekarang sebagai “gaul”.

Belum lama angkot kami berjalan, deretan kendaraan yang diam di tempat telah terlihat mengular. Ya, jalan rusak di pertigaan Arco-Parung telah sedemikian parah menimbulkan kubangan air coklat dengan diameter sekitar enam meter. Kebetulan, di tepi jalan tersebut ada kedai martabak mesir Kubang, sehingga secara berseloroh, salah seorang anak menyeletuk, “Pas bener ya, di depan Martabak Kubang ada kubangan.” Teman-temannya tertawa dan saya ikut tersenyum.

Kemacetan di pertigaan Arco-Parung memang menggila. Bisa sampai 2 kilometer dari dan menuju Pasar Parung. Terlebih pada jam-jam berangkat dan pulang kerja. Entah berapa liter bahan bakar kendaraan yang terbuang percuma karena kemacetan ini. Entah berapa banyak orang yang, meskipun sudah mengantisipasi dengan berangkat lebih pagi, harus terlambat tiba di tempat tujuan. Dan entah, berapa banyak energi positif yang terlepas tanpa sadar karena sebal terjebak macet.

Saya beruntung karena satu angkot dengan murid-murid SMU yang sederhana tadi. Salah satu dari mereka dengan ceria mengusulkan sopir angkot untuk berbalik dan menyusuri jalan alternatif. Syukurlah, daripada diam di tempat tidak ada kemajuan, pilihan mencari jalan tembus memang lebih menyenangkan. Jadilah kami melintasi jalan perkampungan yang masih berbatu-batu. Salah seorang dari mereka berkomentar, ” Kita kayak Bolang ya?” Dan ternyata kawannya yang lain ada yang menimpali, “Iya, tapi Bocah Ilang, bukan Bocah Petualang!” Sontak semuanya tertawa.

Rupanya tak sedikit kendaraan yang berinisiatif melintasi jalan alternatif ini. Beberapa kali kami harus berjalan ekstra hati-hati jika berpapasan dengan kendaraan lain di jalan sempit, juga jika di pinggir jalan berupa cekungan yang dalam. Jalan tembus ini berakhir di samping Boarding School SMA Dwiwarna Parung (sopir angkot dengan percaya diri menyebutnya SMA Budiwarna). 

Beberapa percakapan menarik dalam tiga puluh menit menjadi Bolang — Bocah Ilang — bersama murid-murid SMU ini adalah kekhawatiran mereka menghadapi guru jam pertama yang tidak akan peduli alasan keterlambatan mereka. Tanpa membahas siapa yang layak dipersalahkan, murid-murid SMU itu berupaya mencari solusi mengatasi keterlambatan akibat kemacetan Arco-Parung. Mau tahu solusinya?

“Besok kita berangkat lebih pagi yuk! Tadi kan kita udah berangkat jam 6.15, besok kita berangkat jam¬†setengah enam¬†yuk! Paling telat jam enam kurang.” Subhanallah.. begitu besar semangat juang mereka untuk tidak terlambat ke sekolah. Mereka sama sekali tidak berusaha menyalahkan kondisi, namun dengan senang hati berusaha menerima konsekuensi kondisi tersebut. Berangkat lebih pagi, meskipun tidak akan sempat sarapan.

“Bagaimana jika macetnya sampai waktu UN (Ujian Nasional) nanti? Duh..¬†ngeri deh¬†kalau telat pas UN..,” ujar salah seorang. Dan ide-ide mengantisipasi keterlambatan pun berloncatan. Ada yang mengusulkan menginap di rumah teman, berangkat pagi-pagi benar, bahkan menginap di sekolah. Saya tersenyum mendengarnya.

Sesungguhnya kemacetan panjang Arco-Parung bukannya tidak dapat diatasi. Berawal dari jalan berlubang kecil yang terabai, hingga melebar makin parah. Berawal dari saluran air yang tertutup sampah dan tanah, hingga air hujan mencari jalannya sendiri. Ibarat pepatah, sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Sedikit masalah tak kunjung diselesaikan, lama-lama masalah bertambah dan menjadi mengerikan. 

Namun, berawal dari komitmen pihak-pihak yang terkait untuk menutup jalan, memperbaiki kerusakan, membangun saluran air yang memadai, menyusun rute alternatif bagi para pengguna jalan selama proses perbaikan, dan membangun kesadaran di dalam diri bahwa efek pembuangan sampah secara sembarangan sungguh sangat luas dan seringkali tidak langsung, jalan Arco-Parung yang bebas kemacetan menyebalkan insya Allah dapat diselesaikan.

Dan saya bersyukur bertemu dengan murid-murid SMU Yadika 7 pada macet kali ini.

Sari tulisan ini: Tidak  mudah menyelesaikan kemacetan Arco-Parung, mungkin. Tapi bukan tidak mungkin. Kita bisa kok berkontribusi dalam solusi tersebut. Mari kita biasakan membuang sampah pada tempatnya. Syukur-syukur kontribusi kita bisa lebih dari itu 

MAR 17, ’10 3:42 AM
UNTUK SEMUANYA

Pecahan Lama: 25

Kapan terakhir Anda memegang uang logam 25 rupiah? Dan berapa keping uang logam 25 rupiah yang Anda pegang? 

Saat ini, uang logam pecahan 25 rupiah memang sangat jarang dijumpai. Padahal jika kita cermat, masih bertebaran barang yang dijual dengan menggunakan angka 25 rupiah atau kelipatan ganjilnya (75, 125, dst). Dan yang menggunakan harga tersebut juga bukan sekadar toko biasa. Tengoklah supermarket atau paling tidak minimarket yang menjamur di kota-kota besar Indonesia. Banyak bukan yang menggunakan harga yang aneh? Dari yang diakhirii dengan angka 25 sampai angka yang tidak ada nominal mata uangnya. Aneh.. 

***
Saya tinggal di daerah kampus yang hiruk pikuk dengan toko, toserba, minimarket, dan (jika berjalan agak jauh sedikit) supermarket. Saya mengamati, ada beberapa tipe tempat perbelanjaan dalam menyikapi harga jual yang aneh itu. Bolehkah saya menyebut nama toko di sini? Nanti termasuk mencemarkan nama baik nggak ya? 

Ah, saya pilih memakai inisial sajalah. Silakan menebak-nebak sendirilah siapa yang saya maksud 

Swalayan A.
Swalayan ini merupakan satu-satunya swalayan yang mengklaim tidak menjual rokok dalam etalasenya. Memang, mencari rokok di swalayan ini sama saja membuang energi karena tidak akan ketemu. Nah, swalayan ini memasang pengumuman di kasir terkait pecahan 25. Intinya, para pembeli diharapkan mengikhlaskan kembalian yang tidak tersedia uang pecahannya untuk disumbangkan ke Dompet Dhuafa. 

Swalayan C
Pelayanan swalayan ini nggak seceria namanya. Beberapa kali kejadian, uang kembalian yang mengandung pecahan 25 tidak kembali kepada pembeli. “Maaf, tidak ada kembalian,” katanya.¬†

Swalayan X

“Ini kembalinya, Mbak”, kata kasir sambil menyorongkan kembalian. Dan kening saya berkerut memandang kembalian yang berasa aneh. “Mbak, saya nggak beli permen,” kata saya.

“Euh.. Maaf, tidak ada kembaliannya. Permen saja ya?” jawab kasir setengah salah tingkah. “Enggak, saya nggak beli permen. Buat mbak aja permennya,” kata saya setengah keki.¬†

Swalayan Hehe

Saya salut dengan swalayan yang satu ini. Swalayan ini menyediakan kepingan receh 25 rupiah dan menggunakannya sebagai uang kembalian. Saya sampai terheran-heran melihat kepingan 25 rupiah di sela-sela uang kembalian yang saya terima. Bahkan ada juga uang receh 50 rupiah kadang-kadang. 

***

Saya bukan orang yang mendalami atau bergerak dalam bidang pemasaran. Namun, memang harga yang tidak bulat merupakan strategi penjual untuk menyentuh sensitivitas konsumen dalam hal harga. Ketika persaingan harga antarpenjual berjalan ketat, selisih 1 rupiah dipandang sangat berarti untuk memperebutkan hati konsumen. Paling gampang dilihat adalah pada perilaku belanja ibu rumah tangga yang sangat irit mendekati pelit 

Namun perang harga bukan merupakan justifikasi untuk mengurangi hak konsumen dalam memperoleh uang kembalian, sekecil apapun nilainya. Terang-terangan tidak memberikan kembalian yang tidak memiliki bentuk uangnya adalah korupsi terstruktur. Tak usahlah kita heboh dengan korupsi besar2an karena nyatanya dalam keseharian, (mungkin) kita turut mempraktekkan.

Menggantikan uang kembalian dengan permen adalah bentuk pelecehan mata uang. Sejak kapan mata uang Indonesia berubah jadi permen? 

Mengharapkan keikhlasan pembeli untuk menyumbangkan uang kembalian yang menjadi haknya juga bukan merupakan solusi. Pembeli tidak memiliki pilihan lain dalam hal ini. Apa iya, jika pembeli menolak menyumbangkan kembaliannya, si kasir akan menyerahkan kembalian yang seharusnya? Memang jarang sekali pembeli menolak untuk menyumbang, namun mungkin bukan karena memang ingin menyumbang, lebih karena tidak mau ambil pusing dengan hal tersebut.

***

Alangkah baiknya, jika penjual tidak (berniat) memiliki recehan 25 atau 50 rupiah atau memang mata uang Indonesia tidak menyediakan pecahan 1 rupiah, harga didesain dengan angka yang pas. Artinya, tidak mengandung angka 25, 50, atau 1 (dan kelipatannya) rupiah. Lebih realistis.

Jika memang masih berniat mempertahankan harga yang aneh-aneh itu, sebaiknya sarana pendukung — dalam hal ini mata uang — juga tersedia di kasir. Toh uang 25 atau 50 rupiah belum ditarik dari peredaran, masih sah berlaku sebagai mata uang Indonesia.

Hmm.. bisa jadi swalayan-swalayan yang berlaku begitu hanya yang saya jumpai. Namun bisa juadi juga berlaku untuk seluruh gerai swalayan tersebut. Wallahu a’lam.

Ada pepatah bijak, sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Dalam hal korupsi pepatah itu berlaku, demikian juga dalam hal pemberantasannya. Jadi, “sedikit” mana yang kita pilih sebagai bentuk kontribusi?¬†

FEB 18, ’10 2:58 AM
UNTUK SEMUANYA

Tipikal Orang Salah

Pekerjaan saya memberikan kesempatan untuk mengamati berbagai karakter orang, dalam hal ini mahasiswa. Bukan mahasiswa biasa, namun maha-mahasiswa karena mereka mengambil program magister dan doktor. Tidak semua orang berkesempatan menjadi mahasiswa, terlebih maha-mahasiswa.

Meskipun demikian, ada kalanya maha-mahasiswa tidak selalu lebih baik daripada mahasiswa atau bahkan siswa sekalipun. Kedisiplinan, semangat juang, dan penghargaan atas hal-hal remeh adalah beberapa aspek yang seringkali membuat saya prihatin dengan kualitas maha-mahasiswa di tempat saya bekerja.

Satu hal menarik yang dapat saya simpulkan dari pengamatan sehari-hari adalah sikap dan perilaku maha-mahasiswa yang masuk kategori “bermasalah”. Meskipun memiliki latar belakang usia, jenis kelamin, asal daerah, jenjang pendidikan, suku, maupun agama yang beragam, secara kualitiatif memiliki sikap dan perilaku yang cenderung mirip. Saya menyebutnya sebagai “Tipikal Orang Salah”

Nah, apa saja “Tipikal Orang Salah” itu? Tidak banyak yang saya catat. Itupun sudah sering membuat kami jengkel menghadapinya. Bagaimana jika banyak dan berderet-deret?¬†
1. Memaksakan kehendak
2. Banyak bicara, sedikit mendengar
3. Terburu-buru
4. Obral gertak sambal
5. Hobi menghadap pimpinan institusi

Butuh kesabaran tersendiri menghadapi “Tipikal Orang Salah”. Kuncinya adalah mengembalikan argumentasinya dengan aturan sah yang kita pegang. Jika perlu, kita tunjukkan aturan tertulisnya. Biasanya mereka langsung bungkam.

Prinsipnya adalah, jangan sampai kita terjebak dalam debat kusir yang menguras energi dan emosi. Rugi…¬†

FEB 16, ’10 11:24 PM
UNTUK SEMUANYA

Mas Apes di Pom Bensin

Kembali soal Pom Bensin. Bukan, bukan soal saya mengikuti kontes Pertamina — yang bertema Kerja Keras adalah Energi Kita — namun soal keprihatinan saya melihat keegoisan sebagian kalangan.

Nah, begini ceritanya..

Saya adalah pengguna setia angkutan kota. Saya sudah sering menceritakannya. Dan dalam perjalanan menggunakan angkutan kota itu, saya senang sekali mengamati pernak pernik pemandangan. Ah, nampaknya saya juga sudah sering menceritakannya. Mohon maaf, mohon maaf.. 

Tiga orang pemuda, dengan tas ransel besar seperti yang sering dipakai para pendaki gunung dan backpackers, ikut menaiki angkot jurusan parung bingung-pondok labu bersama saya. Penampilan mereka jauh dari rapi. Rambut gondrong, tangan bergelang-gelang, kuping bertindik, wajah dan pakaian lusuh.

Sejauh ini, tidak terlalu masalah untuk saya. Toh mereka tidak mengganggu privasi saya sebagai sesama pengguna angkutan umum. Paling tidak, sampai salah satu dari mereka menyalakan rokok. Dan salah seorang temannya menyusul.

Otomatis, saya langsung membuka jendela. Saya masih ingin menikmati privasi saya atas udara bersih di fasilitas umum ini. Saya tidak mau cepat mati karena status perokok pasif hasil karya dua orang “pecinta alam” itu. Dan saya masih diam.

Angkot pun menggelinding landai menuju Cinere. Satu per satu penumpang turun. Hingga tinggallah saya, seorang ibu, dan tiga orang pemuda itu. Dan pak sopir, tentu saja. Pak sopir yang tidak merokok, hebatnya.

Pak sopir membelokkan angkot ke pom bensin meruyung. Salah seorang perokok spontan mematikan rokoknya tepat ketika angkot masuk gerbang pom bensin. Perokok yang satu tetap asyik menikmati rokoknya.

Lekat mata saya memandang rokok di tangannya. Memandang tajam si empunya rokok dan menunggu. Dia tetap tak bergeming. Dan angkot makin mendekati selang pengisian BBM.

Saya gerah.

“Mas, boleh rokoknya minta dimatikan?” tegur saya enteng. Dan menatap tajam matanya.

Sesaat kaget terlihat di wajahnya. Hanya sesaat. Langsung berganti dengan pandangan menantang. Emoh mematikan rokoknya. Sayangnya, pandangan tidak mempan buat saya. Saya tetap menatap tajam matanya.

Dia menengok ke kanan, menatap kawannya yang (setahunya) tadi juga merokok. Kawannya hany atersenyum kecut, seolah berkata, “Rokok gue udah gue matiin tadi.”

Dia menengok ke kiri, menatap ibu penumpang yang pasti mendengar teguran saya. Mencari dukungan, untuk terus merokok. Si ibu memandang wajah polos dan tanpa ekspresi, seolah berkata, “Ibu mah nggak ikut-ikutan, kang.”

Dan dia kembali menatap saya, yang sayangnya juga masih tajam menatapnya. Akhirnya, ia menginjak rokoknya dan padamlah bara itu. Saya tersenyum simpul, berterima kasih. Dalam hati, saya bersyukur, si mas masih diberikan kelembutan hati untuk mau menerima nasihat.

Sungguh, merokok dalam pom bensin sangat berbahaya. Betapapun si perokok sudah 150% yakin bahwa rokoknya aman terkendali. Siapa yang tahu? Janganlah bermain api, kita tidak tahu kapan si api akan beranjak liar dan membakar kita. Dan mungkin tak hanya kita, orang-orang di sekeliling kita pun bisa jadi turut menuai getah dari mengepulnya asap rokok. Rokok adalah sumber api, dalam arti sebenarnya dan kiasan. Jauhi, jauhi, jauhi..

Himbauan sudah disampaikan oleh Pertamina. Himbauan yang terpampang megah dan besar. Dengan huruf kapital. DILARANG MEROKOK. Namun, slogan Kerja Keras adalah Energi Kita nampaknya teruji di sini. Sejauh mana para kru Pertamina juga konsisten menerapkan larangan merokok untuk para pengunjungnya, dan yang terpenting, untuk dirinya sendiri.

Selama ini, aturan tersebut masih longgar, terutama untuk pengunjung pom bensin yang masuk dalam kategori kendaraan umum. Saya beberapa kali mendapati, penumpang atau sopir hanya menyembunyikan rokoknya ketika kendaraan masuk pom bensin. Entah di asbak mobil, laci dashboard, atau ditutupi alas kaki. Sama sekali tidak dipadamkan. Dan petugas pom bensin, entah karena kesibukannya melayani atau memang kura-kura dalam perahu eh pura-pura tidak tahu, tidak menegur.

Apes sekali perokok di angkot yang tidak mematikan rokoknya ketika angkot masuk pom bensin plus dia seangkot dengan saya. Mas itu salah satu korban saya 

Menegur langsung di muka umum bukanlah kebiasaan saya. Saya sungguh tidak suka melakukannya. Hanya membuat si pelaku mengambil sikap menantang untuk mempertahankan harga dirinya (contoh: mas-mas itu) atau langsung patuh dan menstempel saya sebagai orang nyinyir dan wajib dihindari ketika ketemu di pangkalan angkot. Sama-sama tidak menguntungkan. 

Ayolah, kita bersama-sama membuka mata dan logika. Menelaah besarnya bahaya merokok dari berbagai sisi. Agar pajangan megah bertuliskan DILARANG MEROKOK pun tak sekadar pajangan di pom bensin. Agar kebakaran pom bensin tak lagi terulang. Agar angka kematian karena kanker paru tak terus bertambah. Agar kerja keras dan energi kita tidak terbuang sia-sia. Kerja Keras adalah Energi Kita. Jangan disia-siakan.

JAN 5, ’10 1:31 AM
UNTUK SEMUANYA