Tak Sekadar Menjumput Saat Operasi Semut

 

We are not dealing with garbage,we are dealing with lifestyle

~Makalah Prof Enri Damanhuri (Institut Teknologi Bandung)
dalam Focus Group Discussion (FGD)  Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian,
 Jakarta 22 Juni 2009

 

Agustus 2015. Geram rasanya melihat sampah bertebaran di Salatiga Expo September 2015 lalu. Kunjungan edukasi bersama anak-anak yang terimaji menyenangkan, terusik dengan kenyataan akan tebaran sampah, terutama di dengan stand makanan. Padahal, tempat sampah di Lapangan Pancasila juga tak sedikit. Tapi entah kenapa, sampah yang ada di luar tempat sampah, lebih tak sedikit.

 

Mirisnya, sampah-sampah itu adalah hasil karya banyak orang yang tak pandang bulu usia, seragam, maupun asalnya. Berapa kali saja kami mendapati pengunjung yang enteeeng sekali membuang sampah kemasan (makanan, terutama) tak jauh dari ia berdiri, tak jauh dari ia duduk. Ada juga sih yang pelan-pelan, sembunyi-sembunyi, sungkan-sungkan. Tapi intinya sama, membuang sampah bukan di tempat sampah.

 

September 2015. Lebih baik menyalakan lilin, daripada merutuki kegelapan. Prinsip itu adalah salah satu yang saya pegang teguh. Begitupun soal sampah bertebaran yang bagi saya begitu mengganggu pandangan mata. Yang jadi kabar baik, saya tak sendirian merasakannya. Maka, tercetuslah ide tentang Operasi Semut.

 

Apa itu Operasi Semut?

 

Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang selalu muncul saat kami menyebut istilah itu. Dan memang tidak berlebihan karena sulit membayangkan hubungan kata operasi dan semut bukan? Haha.

 

Bukan, kami bukan mengoperasi semut. Kami justru seolah menjadi semut yang beroperasi. Ya, operasi semut berfilosofi pada gotong royong bangsa semut dalam menyelesaikan tantangan kehidupan mereka. Kami ingin terjun langsung menunjukkan bahwa sampah harusnya terletak di tempat sampah. Bukan di jalanan, di selokan, bukan pula di sela-sela taman. Setidaknya, kami ingin menunjukkan kepada anak-anak kami sendiri tentang salah satu kebaikan paling sederhana yang sangat mungkin ia lakukan sejak usia dini.
1

Sejak usia berapa bisa mengajak anak untuk Operasi Semut? Jawabannya adalah sejak anak bisa diajak keluar dari rumahnya.

 

Anak-anak adalah konsentrasi kami. Anak-anak yang diamanahkan kepada kami untuk kami didik dengan sepenuh hati. Dan kami percaya, tak ada pendidikan yang paling mengena selain teladan dari kami sendiri. Itulah mengapa, dalam Operasi Semut tiap Jum’at pagi pasti ada saja anak-anak yang menyertai kami. Dan itulah mengapa, Operasi Semut tak sekadar gerakan memungut sampah. Ada jiwa-jiwa pembelajar berupa anak-anak kami yang mengamati setiap gerak gerik kami — orang tuanya — dan menyalinnya tanpa cela dalam keseharian kanak-kanak mereka.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Bola salju mulai meluncur bi idznillah. Setiap pekan kami mencoba konsisten melakukan Operasi Semut di alun-alun kota Salatiga. Kami menyebut diri dengan istilah Pasukan Semut. Kami berkeliling lapangan yang menjadi jantung kota Salatiga ini sambil membawa kantong kresek besar, mulai memunguti sampah yang bertebaran, diikuti anak-anak kami yang dengan ria mengikuti gerakan kami sambil berlarian.Lupakan dulu soal mengurangi produksi sampah dengan meminimalkan penggunaan plastik. Membuang sampah pada tempatnyalah yang masih menjadi prioritas gerakan Operasi Semut sampai saat ini.

 

Sesi “menyemut” sekitar satu jam ini diawali dengan yel-yel khas Pasukan Semut dan diakhiri dengan menimbang perolehan sampah hari itu, diskusi ringan seputar persampahan dan lingkungan sambil menikmati bekal penganan yang kami bawa sendiri, dan tentu saja yel-yel Pasukan Semut. Meskipun kadang kami yang tua-tua ini menebalkan muka untuk percaya diri mengumandangkan yel-yel Operasi Semut, bisa dipastikan anak-anaklah yang paling bersemangat dalam sesi yel-yel ini. Haha.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Apakah relawan Operasi Semut banyak?

 

Alhamdulillah, tidak. Haha. Tak jarang hanya seorang diri ralawan kami beroperasi semut sambil menggendong si bungsu. Bisa jadi karena di tahun pertama Operasi Semut ini kami memilih hari Jumat untuk beroperasi.Namun, baik sendirian maupun berbanyak teman, kami mencoba terus bergerak karena ada anak-anak kami yang tak membutuhkan orang lain untuk dijadikan teladan, selain diri kami sendiri.

 

Soal hari Jumat ini, pertimbangan edukasi ke anak-anak sekolah maupun staf berbagai instansi yang menggunakan Lapangan Pancasila sebagai arena olah raga di Jumat pagi menjadi alasannya. Sedikit-sedikit, kami ingin mengkampanyekan buang sampah di tempat sampah dengan kami melakukannya langsung bersama anak-anak di depan para pengguna Lapangan Pancasila. Rasa heran mereka — yang pasti muncul saat melihat ibu-ibu tanpa tampilan pemulung bersama anak kecil yang berlarian memunguti segala macam sampah anorganik — adalah pintu masuk kami untuk memberikan sedikit edukasi.

 

Dengan sangat hormat, kami memang bukan pemulung. Satu dua pemulung yang berpapasan saat kami Operasi Semut juga memandang penuh ekspresi, “Wah, saingan baru nih.. tapi kok tampilannya beda sama gue?” Kurang lebih begitulah arti mimik muka mereka yang coba kami terjemahkan. Belakangan, mereka justru menganggap kami rekan kerja karena kami tidak mengancam eksistensi mereka. Satu hal yang pasti, Operasi Semut justru mengajarkan kami semakin mengapresiasi profesi pemulung yang ternyata jauh lebih mulia karena ia rela dipandang hina dengan mengambil sampah daripada profesi lain yang terlihat mulia tapi membuang sampah sembarangan. Itu yang kami tekankan pula kepada anak-anak kami saat menyemut bersama.
16

Selalu ada hal baru yang menarik kami jumpai saat Operasi Semut

 

Akhir Agustus 2016. Pengalaman tahun pertama menjalani Operasi Semut menjadi pijakan kami di tahun kedua untuk melibatkan lebih banyak relawan dengan digesernya Operasi Semut ke hari Sabtu pagi mulai September 2016. Kami memandang Operasi Semut sudah selayaknya menjadi alternatif kegiatan akhir pekan keluarga yang memiliki fungsi ganda, yaitu rekreasi dan edukasi.
17

Para relawan Operasi Semut dan skema ide terbentuknya Operasi Semut

 

Operasi Semut pada dasarnya adalah sebentuk lilin yang coba kami nyalakan di tengah gelapnya keacuhan masyarakat tentang menempatkan sampah di tempat sampah. Kami tidak menyebut Operasi Semut sebagai inovasi daerah Salatiga karena sebenarnya siapapun sangat bisa melakukannya. Sangat bisa. Siapapun sangat bisa menyalakan lilin ini dan menjaga apinya tetap berpendar dari hari ke hari. Ini terbukti dengan antusiasme netizen Salatiga yang mendukung Operasi Semut saat kami mencoba teratur bertutur tentang Operasi Semut di grup nongkrongnya warga Salatiga di Facebook. Tinggal soal komitmenlah yang akan menjadikan lilin yang dimiliki setiap orang ini akan menyala atau tidak. Pasukan Semut memilih untuk menyalakan dan menjaga pendarnya sampai saat ini.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Dukungan dari luar kota Salatiga juga turut membesarkan semangat kami untuk terus menyemut meski jumlah relawan pasang surut. Kabar kawan yang bercerita bahwa satu dua kota di luar Salatiga mulai bergerak menyemut pun membuat kami yakin bahwa masih buanyak sekali yang peduli bahwa gaya hidup membuang sampah pada tempatnya sangat bisa untuk dibudayakan sejak dini dengan kemasan yang lebih menyenangkan. Maka sungguh tepat kutipan yang dicatat benar oleh Prof. Enri. Kita tidak sedang berurusan dengan sampah (semata), kita berurusan dengan gaya hidup orang banyak. Setidaknya, semoga Operasi Semut bisa menjadi secercah lilin harapan untuk Indonesia yang lebih baik. Aamiin.

Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahkuhttps://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku
Iklan

Dua Jam Berlari Bersama Teh Isti Khairani, Founder Bumi Inspirasi

Yap. Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi dan kami sepakat untuk komit dengan basic rule IIP: tepat waktu. Sebuah pagi yang cerah di SALAM Learning Center, 7 Mei 2016. Jadi, cek sound siap dikumandangkan.

Eits, ternyata seluruh peserta kemarin sama sekali belum ada yang pernah cek sound, termasuk mb Isti. Cek sound ini adalah yel-yel pemacu semangat a la IIP yang biasanya diperdengarkan di awal pertemuan IIP, baik itu kuliah offline, kuliah umum, ataupun acara2 offline IIP lain.

Cek Sound………………………Huha!
What Your Problem?……No problem!

What Your Problem?………No problem!

What……………………………….Challenge!
What……………………………….Challenge!
ProtectYourself ………………Cancel cancel go away !
Ibu Profesional ……………… Huu…yess!

Yel-yel ibu profesional sarat akan makna karena yel-yel tersebut selain membangkitkan semangat juga mengajarkan cara kita berkomunikasi dalam mendidik anak-anak, tiga hal yang perlu diperhatikan dalam berkomunikasi yaitu intonasi, bahasa tubuh dan verbal … ketiga hal ini masuk dalam yel-yel

*- Cek sound …. Huha*
Hal ini mengajarkan kita mengatur intonasi suara. Ketika dikatakan cek sound …maka teman-teman mengatakan huha dengan kencang, ada ruhnya (suara Huha dikeluarkan pakai suara perut, bukan menggunakan suara dari diafragma)
Jika ibu terbiasa menggunakan suara diaragma biasanya akan jarang didengar anak. Berbeda halnya jika menggunakan suara perut selain anak lebih cenderung perhatian terhadap apa yang kita ucapkan juga bisa membuat perut kita menjadi kemps.
*- What your problem….no problem*

*- What …Challenges*
Maka intonasi seorang harus tepat, dengan suara tegas. Tidak ada masalah di ibu professional yang ada adalah tantangan (agar kita berpikir positif terhadap satu situasi), baik ibu yang bekerja di ranah domestik dan ranah publik karena ketika kita mengatakan problem (masalah) maka raut wajahnya akan terlihat jelek, sebaiknya kita ganti masalah dengan tantangan (kedua ujung bibirnya tertarik semuanya dan tubuhnya jadi keren).
*- Cancel …cancel go away*
Adalah cara kita untuk meninggalkan gangguan dari luar, maka kita katakan pada diri kita sendiri, “lakukan sekarang, jangan ditunda-tunda” (dengan bahasa tubuh menolak untuk menunda suatu pekerjaan atau menumpuk tugas)…

*- Ibu professional….huuuu yes*
Ketika dikatakan ibu professional, maka kita menyambutnya dengan menggerakan tangan dari bawah ke atas sambil bersuara huuuuuuu yes dengan mantap.

***

Mbak Isti mengawali sharingnya dengan flash back bagaimana beliau merintis Bumi Inspirasi Learning Centre (BILC). Beliau pertama kali mengenal Ibu Profesional, saat sedang di rumah mertua, dan tanpa sengaja membaca buku “Hei Ini Aku: Ibu Profesional!” kepunyaan Ibu Mertua ketika Bunda Septi bersilaturahmi ke rumah keluarga besar suami di Salatiga. Setelah membaca buku tersebut dan membaca kisah-kisah Ibu Profesional, motivasi untuk berhenti kerja dan lebih fokus pada buah hati di rumah semakin besar. Ketika itu mb Isti sudah bekerja di bank BUMN selama lebih dari 9 tahun sempat ada kegalauan, selepas resign mau ngerjain apa?

BILC lahir dengan muatan makna Hijrah, hasil perenungan tentang  makna syukur, dan makna hidup. Bumi Inspirasi Learning Center lahir dengan  impian agar “Rumah”  kami (dalam bahasa sunda, Bumi artinya adalah Rumah) bisa menjadi tempat untuk berbagi inspirasi kepada seluruh masyarakat, yaitu untuk berbagi ilmu dalam 3 pilar utama, yaitu Financial Literacy, Green and Clean Literacy (melalui Bank Sampah), serta Al Quran  Literacy (melalui Taman Pendidikan Al Qur’an). Tujuan besar dari Bumi Inspirasi terkait Financial Literacy adalah untuk mewujudkan masyarakat  Indonesia yang kuat, jujur, dan amanah.

1.1

Berawal dari passion, yaitu Financial planning dan parenting, dan passion untuk mengajar, mb Isti ingin mempunyai bisnis yang bisa bermanfaat untuk keluarga, masyarakat, dan ibadah. Event pertama beliau adalah Perencanaan Keuangan Keluarga Muslim di Institut Ibu Profesional (Learning Center), Alhamdulillah dihadiri 35 orang, dan sangat didukung oleh sahabat-sahabat di Institut Ibu Professional, baik dalam tempat, sarana, pembuatan flyer, dan promosi.  Alhamdulillah, perwakilan Bank Syariah Mandiri Bandung Ahmad Yani juga hadir dalam Workshop Financial Plan Keluarga Muslim di Institut Ibu Profesional Learning Center. Dan karena kesamaan visi dengan Bank Syariah Mandiri, untuk membangun peradaban mulia, silaturahmi, dan saling membantu sesama, BSM mengundang mb Isti untuk menjadi pembicara terkait perencanaan keuangan untuk 100 Fasilitator Proyek Nasional Pemberdayaan Masyarakat Kota Bandung.

Mb Isti berbagi banyaaaak sekali inspirasi tentang pengembangan pilar kedua BILC lewat gerakan Bank Sampahnya. Berbagai event kreatif seperti Mobile Daycare, Gerakan BBM (Belanja Hemat, Berbagi, dan Menabung), Cafe Bank Sampah, integrasi TPA (Taman Pendidikan Al Quran) dengan BSBI (Bank Sampah Bumi Inspirasi), kegiatan lomba bermuatan edukasi lingkungan, dan jurus-jurus sosialisasi edukasi pada awal-awal rintisannya. Dari nasabah yang Cuma beberapa, saat ini BSBI sudah memiliki lebih dari 150 nasabah lho. Dari yang saldo Cuma beberapa puluh ribu, nasabah BSBI ada lho yang bisa qurban dengan menggunakan saldo tabungannya. Belum lagi prestasi BSBI sebagai Bank Sampah terbaik di Bandung. Maasya Allah!

Lalu, di pilar ketiga (al Quran Literacy), mb Isti bertutur tentang siswa TPA Bumi Inspirasi yang disarankan untuk menjadi Nasabah Cilik Bank Sampah, sehingga bisa memiliki tabungan dari sampah. Anak diharapkan dapat menjadi lokomotif untuk mengajak keluarganya untuk menjadi keluarga cerdas financial dan ramah lingkungan. Perlahan tapi pasti, kesadaran anak-anak TPA untuk menabung di Bank Sampah meluas dan kegiatan TPA menjadi lebih mengasyikkan.

***

Waktu berlari begitu cepat. Tiba-tiba saja sudah hampir jam 11 siang. Padahal masih buanyaaak yang ingin ditanyakan, didiskusikan, dan dijelaskan oleh mbak Isti dan seluruh peserta. Meski demikian, pertemuan singkat dengan Mbak Isti tempo hari benar-benar menjadi rejeki nomplok karena grojokan semangat dan ilmu dari beliau. Cerita pengalaman Mbak Isti bersama BILC bisa juga dibaca di buku antologi saya yang ke-sepuluh: Bunda Produktif, Catatan Ikhtiar Menjemput Rizqi.

Sekali lagi, terima kasih banyak atas seluruh pendukung acara kemarin, baik langsung maupun tidak langsung. Semoga yang sedikit ini bermanfaat dan barokah hingga dapat menjadi tambahan timbangan kebaikan bagi semuanya.

Salatiga, 9 Mei 2016

#ODOPfor99days
#day11

Insert Clodi yang Paling Bagus

Pertanyaan tersebut sering sekali ditanyakan oleh teman-teman yang baru berkenalan dengan clodi. Para pengunjung Toko Salatiga pun tak jarang yang menanyakan soal insert ini. Jadi, rasa-rasanya saya perlu menuliskan juga di sini agar bisa sedikit menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Penamaan insert mengacu kepada bahan pembuat insert tersebut. Ada juga yang menyebut insert sebagai soaker. Berdasarkan besarnya daya tampung bahan insert pada ketebalan yang sama, daya tampung paling tinggi adalah hemp. Di bawah hemp adalah bahan eucalyptus, bamboo, dan terakhir microfiber.

Dalam pembicaraan mengenai insert, ada konsep mendasar yang harus kita pahami bersama terlebih dahulu. Konsep tersebut adalah mengenai daya tampung dan daya serap.

Baca lebih lanjut

Clodi dan Noda Pup

Pengalaman saya di awal-awal menggunakan clodi dulu menunjukkan bahwa tantang ber-clodi lebih banyak di bagian cuci-mencuci. Bagian ini sangat menguji konsistensi saya untuk terus berclodi dan mengusung semangat ijo-ijo (baca: go green 😀 ). Dari obrolan dengan para pengguna awal clodi lain, rupanya saya tidak sendirian. Banyak yang patah arang soal cuci-mencuci ini, apalagi soal bekas pup, dan dengan terpaksa (semoga memang benar terpaksa ya, bukan justifikasi saja) kembali ke pospak alias popok sekali pakai.

Apakah soal mencuci clodi yang terkena pup memang seribet itu?

Sebenarnya tidak, ternyata. Tipsnya adalah langsung membilas pup begitu mengenai clodi. Setelah itu, sedapat  mungkin clodi langsung dicuci sebersih mungkin dan dijemur di terik matahari langsung. Sinar matahari in sya allah akan menyamarkan noda pup yang mungkin masih membekas meski sudah dicuci.

Ataaau, sekarang ternyata sudah ada inovasi yang sangat efektif bernama liner. Liner ini adalah secarik kain yang berbahan lembut (biasanya fleece) dan digunakan sebagai alas pup. Jadi, liner diletakkan di inner clodi sehingga ketika bayi pup, pup-nya ditampung oleh liner ini. Kita tinggal mengangkat linernya dan inner maupun insert clodi tetap bersih — kecuali pupnya luber ketika luar biasa buanyak. Mencuci liner jauh lebih mudah dibanding mencuci clodi. Dan kabar baiknya, liner ini tentu saja cepat kering karena hanya berupa selembar kain kecil seukuran insert.

liner

Yuk, terus semangat berclodi! Jika kita mau, pasti ada jalan menaklukkan tantangan berclodi. In sya Allah ^_^

Sampah: Amunisi Harus Ditambah

Efek dari pengenalan sungai yang saya lakukan ke Hanif beberapa bulan lalu sungguh luar biasa. Salah satunya adalah kesadaran lingkungan Hanif yang makin tinggi, terutama soal sampah. Oiya, insya Allah cerita tentang sungai akan saya tulis kemudian.

Ya, soal sampah ini membuat saya harus menambah amunisi setiap kali bepergian. Amunisi bernama kantong plastik dan tisu basah. Hehe

h1

Gambar diolah dengan cropmom.com dan Photoshop (nikentfalimah.wordpress.com)

Hanif sangat peka terhadap sampah. Matanya yang awas akan melihat kilauan sampah di setiap sudut perjalanannya. Bungkus permen yang kecil sekalipun. Dan dialog baku a la Hanif pun mulai dimainkan.

“Bu Niken, ada sampah!”

“Mana?”

“Itu! Ayo kita ambil, Bu Niken!” Terkadang saya yang harus mengambil, tapi seringkali Hanif yang riang gembira memunguti sampah yang ia lihat. Seperti menemukan harta karun. Hehe

“Kok buang sampah di jalan ya, Bu Niken?”

“Iya.. Kok buang sampah di jalan ya, Nak?”

“Jalannya kan jadi kotor ya, Bu Niken?”

“Iya, Nak.. Sampah harusnya dibuang ke mana?”

“Tempat sampah!! Mana tempat sampah, Bu Niken?”

“Ayo kita cari!” Kami pun sibuk mengedarkan pandangan di sekitar TKP untuk mencari tempat sampah. Seringkali kami beruntung karena langsung mendapatkannya. Namun jika tidak….

“Bu Niken, tidak ada tempat sampah!”

“Iya, ya.. Kita belum beruntung” Hanif akan menatap saya dengan ekspresi sedih karena tidak berhasil menemukan tempat sampah.

“Bu Niken bawa plastik?” Ia seolah mendapat ide. Padahal kalimat itu adalah hasil pembelajaran sebelumnya saat kami tidak berhasil menemukan tempat sampah dan kebetulan saya sedang membawa plastik. Jadilah saya menawarkan plastik sebagai alternatif tempat sampah untuk temuan Hanif sampai dengan tempat sampah yang sesungguhnya ditemukan. Untunglah, saat kejadian itu Hanif setuju. Nah, di lain kesempatan, ia akan langsung bertanya kepada saya setiap kali kali tidak berhasil menemukan tempat sampah.

“Ah, yaa! Coba Ibu Niken lihat tas ya,” saya memerankan adegan itu dengan baik. Sudah hafal luar kepala soalnya. Hehe. Saya membuka tas dan mengambil kantong plastik yang wajib ada di dalamnya.

“Ini diaaa!!!”

“Waaa.. ayo dimasukkan ke plastik, Bu Niken!”

“Sini.. sini..!” Hanif memasukkan sampah hasil “investigasi”nya dan tersenyum lebar khas Hanif. Lalu ia akan mengacungkan tangannya untuk meminta tissue basah untuk membersihkan tangannya.

Masya Allah.. Baarokallahu fiik, Hanif!

***

Sedikit catatan, saya seringkali malu kepada Hanif kalau bicara soal sampah ini. Saat kami berjalan-jalan, tak jarang kami mendapati orang dewasa, remaja, dan anak-anak yang dengan entengnya membuang sampah di kolong jok angkot, jalan, sungai, atau ke manapun selain tempat sampah. Dan Hanif dengan polosnya akan bertanya, “Kok buang sampah di jalan (atau sungai,atau angkot, atau manapun itu selain tempat sampah), Bu Niken?”

Jika memungkinkan, saya akan melempar pertanyaan tersebut kepada si pelaku buang sampah. Biasanya kami justru mendapati pandangan heran dari mereka, seolah-olah buang sampah di tempat sampah atau menyimpan sejenak sampah sampai ditemukan tempat sampah terdekat adalah hal yang aneh. Hallooo… ke mana saja pelajaran yang didapat di sekolah yang sudah dibayar mahal itu, saudaraku?

Yang saya lakukan kemudian adalah memungut sendiri sampah tersebut dan menyimpannya di kantong plastik amunisi saya. Bukan karena saya berbaik hati kepada si pelaku, tapi lebih karena saya sedang dalam masa mendidik Hanif. Saya malu saat mendapati masyarakat sangat tidak dapat diandalkan sebagai contoh dan pendukung perilaku yang baik, sementara mereka (mungkin) tahu bahwa anak-anak selalu merekam apa yang ia lihat, ia dengar, dan ia rasakan. Termasuk soal sampah.

 

Cara Pintar Selamatkan Hutan

Efek pertama dari 7to7 Dress Up Contest yang diadakan Institut Ibu Profesional bulan April ini adalah rutinitas saya “dipaksa” kembali ke rutinitas jaman kantoran. Sebelum jam 7 pagi, semua berkas dan agenda hari ini harus sudah siap beserta pernak perniknya. Plus ditambah sebelum Hanif bangun. Hehehe.

Look at the bright side always. Salah satunya adalah saya sempat membaca berita-berita di internet lebih lama. Sampai saya singgah di salah satu situs kehutanan yang digawangi oleh Wimar Witoelar.  SEJUTA hektar hutan di Jambi lenyap dalam 10 tahun. Saya tidak mampu beralih dari berita ini.

Angka itu demikian fantastis. Setidaknya untuk saya. Ditambah foto udara hutan JAmbi yang memang sudah berubah laksana lapangan coklat yang maha luas.

hutan-jambi

Saya langsung terbayang buku ensiklopedi flora fauna hutan yang menjadi kesukaan HAnif saat mengunjungi perpustakaan Salatiga. Gambar-gambar di sana begitu indah. Imajinasi dan aneka nasehat turun-temurun tentang hutan begitu agung.

Saya juga langsung teringat tentang Eliana-nya Tere Liye. Tentang heroisme Eli dan teman-temannya menolak eksploitasi hutan kampungnya. Foto hutan Jambi itu makin menyadarkan saya bahwa novel itu benar-benar berlandaskan keprihatinan mendalam atas hutan Indonesia. Its true.

Hfff… what should we do?

Banyak.

Banyak sekali, bahkan.

Bahkan, kita bisa mulai dari sekarang. Dengan langkah nyata. Kongrit, bukan metafora semata.

Saya teringat dengan popok kain Hanif. Popok kain modern yang dikenal dengan istilah clodi — cloth diaper. Bagi saya, ini adalah langkah nyata yang sangaaaat nyata bagi siapapun yang menyatakan sangat peduli dengan hutan. Dan bumi.

Bayi menggunakan popok adalah hal yang jamak. Namun, jika dicermati, yang menjadi idola orang “jaman sekarang” adalah yang serba praktis dan instan. Termasuk soal popok ini. Jadilah, teknologi popok sekali pakai temuan Marion Donovan dan teman-teman ini menjadi jawaban pintar kebutuhan tersebut.

Tapi, benarkah itu jawaban pintar?

Gambar

Sumber: di sini

Silakan dikalikan dengan harga dan berapa tahun si kecil akan memakai popok sekali pakai. Kita akan mendapatkan angka tentang sepintar apa kita mengelola anggaran belanja bulanan rumah tangga.

Lantas apa hubungannya dengan hutan? Mungkin ada yang akan bertanya demikian. Inilah jawabannya:

GambarSumber: di sini

Fyi, cellulose tissue adalah jaringan selulosa yang notabene hanya ada di tanaman, dalam hal ini pohon. Dan pohon dalam jumlah besar tentu saja bertempat di hutan. Lantas, jika per tahun seorang bayi menggunakan lebih dari 3000 buah popok, bagaimana dengan jutaan bayi di dunia? Bagaimana dengan penggunaan popok sekali pakai sampai dengan para bayi itu lulus toilet training?

Dan, bagaimana dengan jumlah pohon yang harus dipasok untuk industri popok sekali pakai?

Itulah mengapa, kecintaan saya kepada hutan, sungai, gunung, dan geliat kehidupan alami seperti gambaran ensiklopedi flora fauna itu membuat saya berpikir bahwa koleksi popok kain modern Hanif alias clodi menjadi lebih pintar menjawab kebutuhan popok jaman sekarang.

Oleh-oleh Kopi Darat

Sabtu pekan kemarin saya berkesempatan mengikuti Milist Gathering alias kopi darat dengan kawan-kawan dari dunia maya. Kali ini, acara difasilitasi oleh Reader’s Digest Indonesia (RDI) dan mengambil tempat di Kebun Karinda, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.Kopi darat bukanlah salah satu kegiatan favorit saya. Terlebih jika diadakan di akhir pekan dan suami saya ada di rumah. Tanpa berpikir dua kali, saya akan memilih menemani suami saya berakhir pekan, bukannya mencari acara sendiri. Namun, kali ini ternyata berbeda. Kebetulan suami saya sedang ke luar kota dan setelah meminta ijinnya, beliau mengijinkan saya mengikuti acara tersebut. Dari sisi saya sendiri, ketika tiket acara sudah diperoleh, acara ini membuat saya sangat bersemangat. Meski belum mengalahkan semangat kalau diijinkan mendatangi majelis ilmu syar’i sih.. 
Kenapa saya menanti acara kopi darat ini lebih dari kopi darat yang lain?
Jawabannya adalah karena sampah. Yup. Saya memang selalu tertarik dengan dunia persampahan. Maksud saya, dunia pengelolaan sampah. Terutama sampah rumah tangga yang telah menyumbang sekitar 60% volume sampah di Tempat Pengelolaan Akhir Sampah. Maka, ketika RDI mengadakan kopi darat dengan dibingkis pelatihan mengolah sampah, saya sangat menyesal ketinggalan informasi.

Namun, alhamdulillah, rizqi tak lari ke mana. Ada peserta yang membatalkan pada hari-hari terakhir dan berhasillah saya mendaftar untuk acara tersebut.

Sebagai oleh-oleh, saya ingin membagikan metode pengolahan sampah rumah tangga a la Kebun Karinda. Sederhana saja kok.

Pada prinsipnya, sampah rumah tangga diubah menjadi pupuk kompos padat. Sampah rumah tangga yang dibicarakan di sini adalah sampah organik segar. Plastik dan kertas tentu saja tidak termasuk di dalamnya karena plastik merupakan sampah anorganik dan kertas bukanlah sampah organik segar.

Pembuatan kompos padat sangat sederhana. Sampah organik segar dipotong kecil-kecil dan dipendam selama beberapa bulan dalam kompos yang sudah jadi. Kompos yang sudah jadi ini dapat diistilahkan sebagai bibit karena di dalamnya masih tersimpan mikroba pengurai sampah yang siap digunakan kembali. Secara berkala, kompos dan calon kompos tersebut diaduk agar penguraian sampah berlangsung sempurna.

Metode pengomposan a la Kebun Karinda agak berbeda dengan metode pengomposan yang pernah saya pelajari sebelumnya di salah satu tempat penelitian saya, Kampung Banjarsari. Pengomposan yang digalakkan di Kampung Banjarsari adalah pembuatan kompos cair dengan bahan, tentu saja, sampah rumah tangga organik segar.

Pembuatannya juga sama sederhana. Sampah organik segar dipotong kecil-kecil dan direndam selama beberapa bulan di dalam cairan molase, air cucian beras, dan ramuan effective microorganism (EM). Tempat perendaman ditutup rapat selama proses berlangsung.

Sedikit infomasi, Kampung Banjarsari merupakan kampung percontohan UNESCO Project pada akhir tahun 90-an dan awal 2000. Kampung ini memang relatif asri mengingat posisinya tepat di perempatan padat dan fly over Jl. Fatmawati, Jakarta Selatan.

Kembali ke kompos. Setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan. Kompos padat lebih sederhana bahan-bahannya, namun harus rajin mengaduk secara berkala. Kompos cair lebih sederhana pembuatannya, tanpa harus diaduk-aduk, namun bahan-bahannya (seperti molase dan EM perlu dipersiapkan terlebih dahulu.

***

Dalam acara tersebut, alhamdulillah saya mendapat hadiah buku dari Ibu Djamaludin Suryo atas jawaban saya (yang belepotan ) tentang pertanyaan beliau. Pertanyaannya adalah, “Bolehkah kompos (padat) yang sudah jadi dijemur? Bagaimana jika kompos (padat) tersebut banyak mengandung air?”

Tentu saja, jawabannya adalah tidak boleh. Jika kompos (padat) mengandung kelebihan air, maka solusinya adalah diberi tambahan sekam atau serbuk gergaji. Dan saya mendapatkan buku biografi beliau plus tanda tangannya. 

***
Sampah. Sedari dulu saya penasaran sekali tentang bagaimana meminimalisir sampah rumah tangga. Dalam tulisan saya terdahulu, solusi sementara di rumah saya telah tersedia. Namun, kunjungan ke Kebun Karinda memberi lecutan semangat saya untuk mulai melakukan sesuatu yang lebih pada sampah di rumah. Paling tidak, pengetatan aturan pemilahan sampah harus lebih ditegakkan. 

Bagaimana dengan rumah teman-teman? 

FEB 2, ’10 5:53 AM
UNTUK SEMUANYA

My Earth Hour, Hows Yours?

Pet! 
Lampu tiba-tiba padam. Ruangan sontak gulita. Demikian juga komplek rumah. Gelap.
 
Sunyi.
 
Cling!
Ide tiba-tiba hinggap. Pikiran sontak benderang. Demikian juga adrenalin. Menderu-deru. 
 
Ya, mati lampu beberapa hari lalu menyampaikan ide untuk Earth Hour 2011 yang ingin saya ikuti. Tidak lagi sekadar mematikan lampu serumah sebagaimana Earth Hour yang telah saya ikuti dua tahun terakhir ini. Saya ingin sesuatu yang lebih besar. Lebih luas.
 
Earth Hour pertama kali dilakukan di Sydney, Australia, pada tahun 2007, hasil kerja sama WWF dan The Sydney Morning Herald. Kampanye anti-perubahan iklim ini diikuti oleh 2 juta orang penduduk Sydney yang mematikan lampu mereka selama satu jam. Pada tahun 2008, lebih dari 50 juta orang di seluruh dunia mengambil bagian dalam kegiatan ini. Secara fantastis Earth Hour 2009 diikuti oleh 1 milyar orang di 4.088 kota di 88 negara di dunia. Angka tersebut terus membesar di tahun 2010 dan lebih dari 1 milyar orang dari 125 negara di seluruh dunia mengikuti Earth Hour 2010.
 
Pertama kali mendengar kampanye ini, saya tergelitik. Wow, betapa luar biasanya efek sebuah langkah yang terlihat kecil – mematikan lampu selama 1 jam – jika dilakukan secara kolektif apalagi sampai skala global. Angka-angka megawatt itu seperti sebuah people power dalam upaya penghematan energi listrik yang jungkir balik dikampanyekan PLN. Sekali lagi, betapa hal kecil bagi kita dapat memberi arti yang sangat besar bagi orang lain (baca: Walau Sebiji Atom). Karenanya, tanpa ragu saya kerajinan menjadi juru kampanye Earth Hour dadakan plus gratisan di rumah dan kantor dua tahun terakhir ini 
 
Kali ini, saya ingin melakukan sesuatu yang lebih besar dengan terinspirasi insiden mati lampu malam itu. Langkah pertama saya adalah membuka website resmi PLN dan mengetikkan ”Earth Hour” dalam kolom pencarian yang disediakan di halaman muka situs tersebut. Hasilnya: NIHIL. Bagus!
 
Langkah kedua adalah berburu alamat e-mail yang langsung berjibun saya dapat. Bingo! 
 
Langkah ketiga adalah mengolah data e-mail yang berjibun itu dalam format excel sehingga nantinya saya tidak perlu mengetikkan satu demi satu ke dalam kolom tujuan e-mail saya.
 
Ya, saya merencanakan mengirim e-mail ke sebanyak mungkin saudara-saudara PLN – bahkan kalau mungkin termasuk Dirut PLN, sayangnya saya hanya berhasil mendapat alamat e-mail saudara selevel direksi, setingkat di bawah Dirut – untuk mengajak berpartisipasi dalam Earth Hour 2011, baik sebagai individu maupun instansi. Dalam bayangan saya, alangkah indahnya jika momen Earth Hour ini PLN jadikan sebagai salah satu media sosialisasi terorganisir dalam rangka hemat listrik. Dan rencana itu saya jalankan.
 
Haha..terkesan agak nekat, mungkin. Siapalah saya, seorang outsider yang overdosis semangat menulis dan berbagi. Namun buat saya, intinya lebih kepada berlomba-lomba dalam kebaikan. Soal hasilnya bagaimana, nothing to lose, wallahu a’lam – hanya Allah yang tahu.
 
Semangat itupun yang membuat saya menelurkan tulisan ini, mengirim e-mail ajakan partisipasi Earth Hour 2011 di milis-milis ataupun forum diskusi yang saya ikuti, dan bahkan membuat status di akun Facebook saya. Sekali lagi, soal hasilnya bagaimana, nothing to lose buat saya. Saya hanya menyebar benih semangat yang tak seberapa, memeliharanya, dan saya serahkan keputusan dapat dituai atau tidaknya kepada Sang Pemilik Kehidupan.
 
Oiya, melakukan kampanye peduli lingkungan sebenarnya bisa dilakukan siapapun. Tidak usahlah berpikir heboh dengan rencana menggalang massa untuk gerakan sosial ini itu. Mulai sajalah dari hal-hal kecil di sekitar kita. Sekadar berbagi, berikut ini daftar perilaku ramah lingkungan yang saya coba untuk terus konsisten.
  • Membuang sampah pada tempatnya. Ingat, banjir langganan Jakarta salah satu penyebabnya adalah perilaku tidak terpelajar penginjak tanah Jakarta yang berupa membuang sampah sembarangan. Mau mobil keren, dandan cantik cakep, kalau punya permen terus bungkusnya dibuang dari jendela mobil membuat orang-orang seperti ini sangat jauh kualitasnya dibanding para pemulung sampah yang berjalan kaki memanggul karung goni. 
  • Menyimpan kardus bekas untuk dapat digunakan sewaktu-waktu. Paling tidak, kardus karton bekas dapat digunakan untuk alas tempat tidur dan kardus kue bekas dapat digunakan lagi mengemas kue hantaran atau oleh-oleh. 
  • Mematikan lampu jika tidak digunakan, 
  • Memakai kertas bolak-balik atau kalau bisa cukup edisi softcopy-nya saja. Keluarga kami bahkan sampai menyetop langganan surat kabar dan beralih ke e-paper demi mengurangi tumpukan koran bekas yang menggunung di akhir tahun.
  • Sebisa mungkin memanfaatkan barang bekas dalam berbagai keperluan. Misalnya saja, saya memilih memakai styrofoam bekas untuk membuat mainan Hanif, anak saya (baca: Utak Atik Mainan Bayi).
  • Menghemat pemakaian air – bahkan kalau bisa air bilasan cucian dipakai lagi untuk menyiram tanaman. 
  • Jika musim buah, kami menanam biji-bijian buah sehingga alih-alih menjadi sampah, biji itu dapat berubah menjadi pohon yang menebar banyak manfaat, meski sekadar sebagai tempat hinggap seekor burung gereja (baca: Musim Buah, Musim Bertanam)
Nah, bagaimana dengan teman-teman? 

 MAR 26, ’11 8:07 AM
UNTUK SEMUANYA

Woro-Woro: Bintaro

Akhirnya saya tahu namanya pagi ini! Setelah sekian kali melihat di taman rektorat IPB tanpa pernah menengok apalagi menghampiri. 

Ternyata namanya Cerbera manghas alias bintaro. Rupanya, kawasan Bintaro di Jakarta Selatan terinspirasi dari pohon ini. Sayangnya, pohon ini kalah jauh terkenal dibanding kawasan Bintaro. Padahal pohonnya bagus lho! Pohon rindang dengan daun serta bunga mirip pohon kamboja.

Bintaro memang cantik sebagai pohon perindang. Daunnya yang rimbun dan bunyanya yang cerah. Belum lagi buahnya yang bulat sebesar alpukat, sungguh menggoda untuk dipetik. Namun, faktanya, buah bintaro sangat beracun!

Buah bintaro berbentuk bulat dan berwarna hijau pucat dan ketika tua akan berwarna merah. Merupakan buah drupa (buah biji) yang terdiri dari tiga lapisan yaitu epikarp atau eksokarpmesokarp (lapisan tengah berupa serat seperti sabut kelapa), dan endokarp ( biji yang dilapisi kulit biji atau testa). Walapun berbentuk indah namun buah Bintaro mengandung zat yang bersifat racun terhadap manusia.(kulit bagian terluar buah),

Dinamakan Cerbera pada nama latinnya adalah karena bijinya dan semua bagian pohonnya mengandung racun yang disebut cerberin. Racun ini dapat menghambat saluran ion kalsium di dalam otot jantung manusia, sehingga mengganggu detak jantung dan dapat menyebabkan kematian. Bahkan asap dari pembakaran kayunya dapat menyebabkan keracunan.

Walaupun beracun, bijinya mengandung minyak yang cukup banyak (54,33%) dan berpotensi digunakan sebagai bahan baku biodiesel dengan melalui proses hidrolisis, ekstrasi dan destilasi. Penelitian lain yang dilakukan oleh seorang siswa SMU di Tangerang (Mei, 2009) menunjukkan bahwa kandungan minyak biji bintaro bisa mencapai 64%.

Mengutip abstrak hasil penelitian Adrian Wahyu Dewanto, sang peneliti muda tersebut, biji bintaro yang telah melalui proses pengeringan dan pengepresan akan diperoleh minyak mentah yang disebut crude cerbera oil (CCO). Ampas hasil proses pengepresan biji bintaro dapat dibuat briket bahan bakar dan dapat dibuat kompos untuk pupuk tanaman, sehingga dalam pengembangan sumber energi biji Bintaro tidak menghasilkan sampah (zero waste). 

Hmm.. menarik, ya? Satu lagi bukti bahwa pada setiap hal itu memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Hal itu justru menunjukkan kesempurnaan penciptaan itu sendiri, semuanya seimbang.

Senangnya bisa mengenal bintaro. Bintaro yang sesungguhnya. 

Sumber: sektorazalea, wargahijau

FEB 24, ’10 10:18 PM
UNTUK SEMUANYA

Musim Buah, Musim Bertanam

Senin siang, di kantor. Keranjang pekerjaan sudah bersih. Daftar pekerjaan tambahan sudah terselesaikan rapih. Hmm.. ngapain lagi ya? 

Mari berbagi cerita — dan ide, mungkin.

Akhir-akhir ini, hobi menanam saya kambuh di akhir pekan. Terutama menanam buah-buahan. Usut punya usut, seingat saya penyebab kambuhnya adalahbanyaknya buah mangga yang dikirim ibu mertua saya. Mangga manalagi yang besar dan manis, hasil panen di halaman rumah. Sungguh mangga ini besar sekali. Sebuah mangga bisa seberat 1 kilo! Hmm.. dan saya selalu suka mangga ini, karena dulu suami saya ternyata menggunakan buah ini untuk mendekati bapak ibu saya. Bahasa mangga, katanya..

Humm.. kembali ke soal hobi menanam. Mau tak mau, banyaknya mangga membuat biji mangga pun menjadi banyak. Mengingat ini mangga yang benar-benar enak — dalam arti sebenarnya maupun kiasan — saya merasa sayang jika bijinya dibuang begitu saja. Mulailah saya mengumpulkannya. Dan perlahan menanamnya di akhir pekan.

Tanpa saya sadari, mengumpulkan biji buah berkembang menjadi kebiasaan. Sayang rasanya jika biji buah yang enak hanya berakhir di tempat sampah dan membusuk bersama sampah. Hanya itu awalnya.

Sekarang, saya berpikir (agak) lebih panjang dari sekadar “dibuang sayang”. Saya membayangkan jika biji-bijian itu tumbuh dan besar, maka halaman rumah kami akan semakin hijau. Burung-burung maupun kupu-kupu akan semakin banyak yang singgah ke rumah kami. Dan tentu saja, kami akan lebih sering mendengar kicauan burung yang beraneka jenis. Sesuatu yang makin langka kami peroleh di belantara beton Jakarta. Tidakkah kita wajib bermimpi tentang Jabotabek yang hijau dan sejuk? Hehehe.. saya ingin itu dimulai dari rumah kami. Tidakkah teman-teman memimpikan hal yang sama?

Dan saya terus menanam dengan perlahan. Biji demi biji yang kami kumpulkan. Biji mangga manalagi, durian palembang, sirsak, dan sawo kecik. Tak ada polybag, plastik kresek bekas pun jadi. Tak ada pot, kaleng bekas biskuit pun oke. Nano-nano.. 

Barang-barang di sekeliling kita bisa dimanfaatkan kok. Asalkan ada kemauan, tentu. Adakah ide dari teman-teman untuk memanfaatkan biji-biji buah yang sekarang sedang musim? Atau tips-tips bertanam yang murah meriah? Bolehlah dibagikan di sini.. 

Begitulah cerita saya siang ini, tentang sebuah keasyikan tersendiri dalam menanam sesuatu. Tentang membangun sebuah mimpi, yang ingin saya bagikan ke teman-teman di sini. Dan juga ke teman-teman yang tak terhingga di luar dunia kecil saya.

Hijau itu warna penduduk surga*, maka bukankah luar biasa jika kita bersama-sama menanam pohon sehingga kita akan menciptakan suasana surga di dunia? Yuk.. yuk.. kita mulai menanam! 

*“Mereka itulah yang memperoleh surga ‘Adn, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah sebaik-baik pahala dan tempat istirahat yang indah.” <QS al Kahfi: 31>

NOV 30, ’09 4:29 AM
UNTUK SEMUANYA