Insert Clodi yang Paling Bagus

Pertanyaan tersebut sering sekali ditanyakan oleh teman-teman yang baru berkenalan dengan clodi. Para pengunjung Toko Salatiga pun tak jarang yang menanyakan soal insert ini. Jadi, rasa-rasanya saya perlu menuliskan juga di sini agar bisa sedikit menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Penamaan insert mengacu kepada bahan pembuat insert tersebut. Ada juga yang menyebut insert sebagai soaker. Berdasarkan besarnya daya tampung bahan insert pada ketebalan yang sama, daya tampung paling tinggi adalah hemp. Di bawah hemp adalah bahan eucalyptus, bamboo, dan terakhir microfiber.

Dalam pembicaraan mengenai insert, ada konsep mendasar yang harus kita pahami bersama terlebih dahulu. Konsep tersebut adalah mengenai daya tampung dan daya serap.

Baca lebih lanjut

Iklan

English Day Fun: di Perpus Tak Melulu Manyun

Siapa bilang di perpustakaan hanya melulu duduk dan membaca buku?

Siapa bilang di perpustakaan kita tidak bisa seru-seruan?

Pekan lalu, 26 Juni 2013, kami mencoba membuat sesuatu yang baru di Perpustakaan Kota Salatiga. Sesuatu itu kami namakan “English Day Fun”.

Peserta terdiri dari dua tim dimana satu tim terdiri dari 3 orang yang berusia antara kelas 4 SD sampai kelas 2 SLTP. Setiap tim diminta menaklukkan 5 tantangan dalam waktu yang ditentukan untuk mendapatkan sebanyak mungkin bintang. Tentu saja, karena ini adalah English Day, maka semua tantangan disampaikan dalam bahasa Inggris.

Nah, apa saja tantangannya?

Tantangan-tantangan tersebut adalah kombinasi gerakan, pengamatan, pendengaran, penglihatan, dan pengucapan yang harus dikerahkan peserta untuk menaklukkannya. Ada Library Mapping, Who am I Games, Memory Games, Yes/ No Games, Hidden Words, dan Celebration. Perpindahan dari satu games ke games lainnya pun tak lepas dari tantangan berbahasa Inggris, dimana setiap tim diminta memecahkan petunjuk yang diberikan untuk dapat mengetahui lokasi tantangan berikutnya.

Gambar

Seru bangeeeet!!!

Tanpa peserta sadari, mereka menjelajah perpustakaan untuk menggambar, mencari benda, menghubungkan kata dengan benda yang ada, dan belajar mengenal perpustakaan lebih jauh sambil berbahasa Inggris. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.

***

“English Day Fun” ini adalah jawaban  atas tantangan kuliah Bunda Produktif yang diselenggarakan oleh Institut Ibu Profesional (www.ibuprofesional.com). Alhamdulillah, waktu yang sempit untuk menaklukkan tugas bersambut gayung dengan kerja sama yang baik dengan Perpustakaan Kota Salatiga.

Perpustakaan Kota Salatiga memang tempat yang keren untuk rekreasi edukasi bersama anak-anak dan remaja. Fasilitas edukasinya melimpah, lokasi strategis di tengah kota, dan landscape ruangan yang unik.

Saya pribadi, sejak pertama berkunjung ke gedung baru Perpustakaan Kota Salatiga di Jalan Adi Sucipto Salatiga ini, langsung bermunculan banyak ide yang sangat mungkin direalisasikan. “Ber-Pramuka di Perpustakaan” berupa “English Day Fun” ini adalah salah satu ide yang sudah dapat terealisasi. Ide yang lain? Masih banyaaaak!! Mau bergabung?

The Apprentice Hadir di Salatiga (Bag. 1)

Adakah yang ingat kalau saya pernah menulis tentang serunya reality show The Apprentice di Metro TV sekitar tahun 2004 dulu? Bagi yang lupa atau belum pernah membaca, silakan meluncur ke sini ya.

Qadarullah, saya terbawa ke sebuah proyek yang mirip-mirip dengan the Apprentice saat saya tinggal di Salatiga sekarang ini. Berawal dari kenaikan kelas kami ke level Bunda Produktif di Institut Ibu Profesional setelah secara akselerasi yang tidak disengaja dari level Bunda Sayang dan Bunda Cekatan, tantangan ketiga yang diberikan kepada kami membuat saya merasa bergabung dalam The Apprentice mini. Bagaimana bisa?

Baiklah, saya akan flash back sedikit tentang bagaimana saya tiba di tantangan ketiga. Tantangan pertama dalam kuliah Bunda Produktif adalah menemukan bakat dan minat diri kita masing-masing. Bukankah tak sedikit dari kita yang sampai setua ini masih suka bingung saat ditanya tentang bakat dan minat kita yang sesungguhnya? Untuk menjadi produktif, pemetaan ini penting sekali agar konsep produktivitas yang kita jalankan nantinya benar-benar datang dari hati. Merujuk ke alat temu bakat yang ditemukan oleh Abah Rama, kami mulai “bertapa” dan menelusuri minat terbesar kami.

Untuk saya, menelusuri bakat ini adalah pertapaan besar karena kami dibatasi memilih paling banyak 6 aktivitas yang paling “gue banget” dan 6 aktivitas yang “bukan gue banget”. Gue banget di sini adalah lebih ke arah kesukaan kita benget, sampai-sampai kita sellau enjoy melakukannya tanpa pandang bulu, waktu, maupun doku #eh?

Nah, kenapa pertapaan besar? Karena tenyata membatasi ke 6 aktivitas saja sungguh sangat sulit. Sebagian besar adalah aktivitas yang saya sukai. Jadi, saya mendapati lebih dari 6 aktivitas.

Tidak boleh!

Jadilah saya bertapa lagi untuk memutuskan 6 aktivitas yang gue banget dan bukan gue banget itu. Omong punya omong, rupanya saya mengalami Sindrom Anak Rangking Satu. Hampir semuanya bisa, hampir semuanya suka, hingga kesulitan memutuskan apa yang paling disuka. Aw, aw, aw…

After all, tantangan pertama berhasil saya lalui. Alhamdulillah. Penasaran? Karena saya belum bisa melampirkan PDF ke posting blog, saya tulis saja ya. Potensi kekuatan saya adalah:

1. AMB – AMBASSADOR
2. CAR – CARETAKER
3. COM – COMMUNICATOR
4. EDU – EDUCATOR
5. JOU – JOURNALIST
6. SER – SERVER

Saya memang menyukai domestic activities terutama dalam hal pengasuhan dan pendidikan. Kombinasinya adalah menulis, dimana saya bisa menuliskan pengalaman-pengalaman saya dalam hal tersebut dan membagikannya ke orang lain. Lewat blog ini, misalnya.

Sedangkan potensi kelemahan saya adalah justru:

1. CMD – COMMANDER
2. OPE – OPERATOR
3. PRO – PRODUCER
4. SEL – SELLER
5. TRE – TREASURY

Bukannya saya tidak bisa melakukan 5 aktivitas di atas. Tapi saya “sariawan berat” kalau harus melakukannya dalam waktu lama. Sekali lagi, saya merasa keputusan untuk resign dari pekerjaan kantor yang sedang promosi dan naik daun adalah keputusan yang tepat. Alhamdulillah.

Apakah hasil itu sudah pasti? Tentu tidak, bisa jadi saya akan berubah. Itulah mengapa uji ini perlu dilakukan secara berkala untuk makin memahami diri kita, insya allah.

Tantangan kedua Bunda Produktif adalah mencari inspirasi sukses. Bagaimana ceritanya? Ikuti di tulisan selanjutnya, insya allah ^_^

#3: Entrepreneur Writing Story

Es Teler 77 sebagai hasil wirausaha dalam negeri rupanya ingin memberi apresiasi kepada para wirausaha muda dan buku inilah jawabannya. Merupakan kompetisi menulis yang tak sekadar menjaring tulisan, namun juga memberikan bantuan modal bagi para  pemenangnya. Tentu saja saya tak ingin ketinggalan. Hehehe

Kejutan kecil suatu siang membuat saya dagdigdugder. Jantung berdebar-debar. Pasalnya adalah saya mendapat telepon dari Nulisbuku.com yang isinya adalah mengundang saya hadir dalam peluncuran buku ini. Alhamdulillah, tulisan saya menjadi finalis kompetisi ini dan diminta untuk presentasi lebih lanjut pada malam penjurian.

Sayang sekali, say a belum dapat mengiyakan undangan dan tantangan tersebut. Akomodasi ke Jakarta bersama Hanif belum ditanggung oleh penyelenggara. Dari kantong sendiri? Humm.. saya masih harus mengencangkan ikat pinggang. Hehehe

es teler

Buku ini cocok bagi peminat wirausaha mula yang butuh inspirasi. Silakan memesan buku ini di sini.

Multiply Makin Membuai

Saya sedang jatuh cinta dengan fasilitas e-commerce dari Multiply. Salah satu supplier saya meminta saya melakukan pembayaran barang dengan fasilitas ini untuk setiap transaksi di atas 100 ribu rupiah. Konsep dasarnya adalah penggunaan rekening bersama.

Mungkin ada yang belum paham apa itu rekening bersama. Secara sederhana, rekening bersama adalah rekening pihak ketiga (di luar penjual dan pembeli) yang disepakati sebagai tujuan pembayaran. Jadi saya sebagai pembeli tidak membayar barang yang saya beli langsung ke penjual, namun membayar ke rekening bersama.

Memilih rekening bersama yang terpercaya merupakan tugas pertama yang harus dilakukan oleh pembeli karena jika salah memilih, salah-salah uang yang kita bayarkan tidak pernah sampai ke penjual barang dan pembeli pun tidak pernah menerima barang yang dibeli. Tak cuma rugi dua kali, tapi berkali-kali lipat karena harus mengklarifikasi ke penjual maupun pihak pemilik rekening bersama. Capeee…

Multiply saya rasakan mampu menjadi penyedia rekening bersama  yang terpercaya. Hasil kerja samanya dengan ekspedisi JNE juga menambah rasa manis e-commerce di Multiply. Bukan apa-apa, JNE memberikan subsidi ongkos kirim (ongkir) via JNE Regular sampai 25ribu per alamat jika transaksi dilakukan via e-commerce multiply.

Mantaaaap.. !!! Saya jadi bisa promosi FREE ongkir ke pelanggan dan calon pelanggan Toko Salatiga yang berdomisili di Pulau Jawa dan beberapa kota di luar Jawa. Subsidi tersebut juga berlaku untuk tujuan luar Jawa, sehingga ongkir yang ditanggung pembeli sangat jauh lebih murah dan kecepatan sampai standart JNE. Bayangkan saja, ke Sulawesi ongkirnya cuma 10ribu-an. Manis banget kan?

Eh, kok saya jadi promosi ya? Ah, biar sajalah, toh kami puas dengan pelayanan yang diberikan. Saya, supplier, dan tentu saja customer. Oiya, omong-omong soal kepuasan ini, Multiply juga memberikan angket yang bisa kita isi setelah transaksi selesai diproses. Isinya tentang skala kepuasan kita dan sejauh mana kita akan mempromosikan Multiply sebagai salah satu e-commerce. Tentu selalu saya isi dengan nilai mendekati sempurna. Hehehehe

Melalui e-commerce Multiply ini saya juga belajar tentang transaksi e-commerce via internet banking. Mau tak mau harus belajar, sebenarnya. Itu yang dikatakan supplier saya yang langsung masuk daftar guru saya yang ke-sekian.

Saya menggunakan dua internet banking untuk toko online, Mandiri dan BCA. Ternyata, kedua bank tersebut menggunakan metode yang berbeda untuk transaksi e-commerce. Untuk Mandiri, saya harus standby token dan kartu debit, sedangkan untuk BCA saya hanya perlu menyediakan token. Prosedur yang harus saya lakukan pun sederhana, sehingga transaksi bisa selesai kurang dari 5 menit, asal koneksi internet lancar jaya.

Awalnya, tentu saja saya berguru dulu ke Eyang Gugel. Mempraktekkannya langsung membuat semua petunjuk teknis tersebut jauh lebih mudah. Learning by doing make something new getting easier, but we have to learning first. Saya selalu menekankan prinsip tersebut dalam diri saya. Betapa saya harus memahami ilmunya dulu baru saya bergerak ^_^

Jadi, selamat datang di era Multiply! ^_^

100 Langkah Untuk Tidak Miskin

100 Langkah 100 Langkah Inibuku.com

 Apakah anda telah memiliki pekerjaan tetap? Apakah anda telah hidup cukup nyaman? Masihkah anda masih merasa harus menjaga gaya hidup? Jika ketiga pertanyaan tersebut anda jawab dengan “ya”, maka buku terbaru Ligwina Hananto ini sepertinya harus masuk dalam daftar bacaan anda. Mengapa? 

 

glowupmagazine.com – Testimoni Pimpinan Redaksi RCTI, Arief Suditomo, akan buku Untuk Indonesia Yang Kuat: 100 Langkah Untuk Tidak Miskin mungkin akan menjadi bocoran jawaban atas pertanyaan anda. ”Anda berpikir masa depan keuangan anda baik-baik saja? Apa yang akan terjadi 10 tahun, 20 tahun ke depan? Atau saat anda tidak lagi produktif? Sudahkah anda melakukan hal yang benar terhadap diri sendiri dan orang lain? Ligwina memberikan jawabannya dengan jernih, jujur, dan provokatif.”

 

Ligwina Hananto, seorang Independent Financial Planner yang juga CEO dari QM Financial (www.qmfinancial.com). Anda dapat mengenalnya lebih jauh melalui acara yang ia pandu di  87,6 Hard Rock FM pada program Financial Clinic atau program Financial Survival di 90,4 Cosmopolitan FM. Bagi Ligwina, buku ini merupakan sebuah langkah konkretnya dalam memajukan perekonomian Indonesia. Tentang bagaimana membuat Indonesia menjadi kuat, dan cara yang tepat menurut Ligwina adalah dengan memiliki golongan menengah yang kuat.

 

Siapa dan apakah golongan menengah tersebut? Tidak lain adalah mereka yang memiliki pekerjaan tetap, hidup cukup nyaman, tapi masih harus berusaha untuk menjaga gaya hidupnya. Is that you?

 

Buku ini terdiri dari enam bagian dengan selembar list berisi 100 langkah rencana aksi keuangan untuk menjadi tidak miskin. Rencana aksi tersebut menurut Ligwina tak harus dilakukan secara berurutan agar dapat digunakan sebagai acuan bahwa kita benar-benar bertindak dan bukannya NATO (No Action Talk Only).

 

Ligwina menulis buku setebal 238 halaman ini dengan gaya bertutur yang santai, tajam, mudah dimengerti dan menghibur. Selain dilengkapi dengan ilustrasi yang memperkaya isi, buku ini juga didesain secara khusus agar pembaca dapat benar-benar menikmati buku ini dari awal sampai akhir.

 

Belanja? Kenapa tidak? Fiuh, betapa leganya saya ketika membaca buku ini. Saya suka sekali cara Ligwina mengajak kita hidup nyaman, bebas utang, tanpa harus sengsara. Masuk akal, sederhana, dan – percaya atau tidak – menyenangkan. Buku ini wajib dibaca! — Fira Basuki, Penulis dan Pemimpin Redaksi Cosmopolitan Indonesia

 

Judul Untuk Indonesia Yang Kuat: 100 Langkah Untuk Tidak Miskin

PenulisLigwina Hananto

Penerbit Literati-Books

Terbit Februari 2011

Kategori Inspirasional

Tebal 238 halaman

Harga Rp 72.000 (toko), Rp 54.000 (bukabuku.com)

(inibuku.com)

Dimuat di glowupmagazine.com    Monday, 21 February 2011 19:17

Eden in the East

Eden in the East Eden in the East kafebuku.com

Bayangkanlah wilayah ASEAN hari ini. Ada Indonesia, semenanjung Malaysia, dan Laut China Selatan. Bagaimana jika Laut China Selatan kering tanpa air? Itulah Benua Sundaland.

 

Eden In The East adalah sebuah buku yang ditulis Stephen Oppenheimer, seorang peneliti dari Oxford, Inggris. Eden In The East sendiri berisi tentang keyakinan Oppenheimer bahwa di Indonesia dan sekitarnya pernah menjadi sebuah benua sebagai tempat peradabaan manusia di penghujung Zaman Es. Dalam bukunya Stephen menyebutnya sebagai Sundaland.

 

Eden In The East mendasarkan kesimpulannya kepada penelitian yang dilakukan selama puluhan tahun. Doktor ahli genetik dengan struktur DNA manusia tersebut melakukan riset struktur DNA manusia sejak manusia modern ada selama ribuan tahun yang lalu hingga saat ini. Guru Besar dari Oxford University ini menguasai filosofi pendekatan dasar yang digunakan disiplin keilmuan kedokteran, geologi, linguistik, antropologi, arkeologi, linguistik, dan folklore.

 

Temuan tersebut memperkuat buku lain yang telah muncul sebelumnya Atlantis, The Lost Contiennt Finally Found karya Profesor Arysio Santos dengan sejumlah argumentasi ilmiah yang juga melakukan pendekatan dari berbagai disiplin ilmu. Baik Arysio Santos maupun Stephen Oppenheimer, memperlihatkan dengan jelas bagaimana sebuah pendekatan multidisiplin sangat penting digunakan untuk merekontruksi sebuah missing link yang hilang dalam sejarah peradaban manusia modern.

 

Buku menakjubkan ini secara radikal mengubah pandangan kita sebelumnya tentang prasejarah. Tahukah anda bahwa orang-orang Polinesia tidak datang dari Cina, akan tetapi dari pulau-pulau Asia Tenggara? Tahukah anda, mula-mula penanaman beras yang sangat pokok bagi masyarakat tidak berada di Cina atau India, tapi di Semenanjung Malaya pada 9.000 tahun lalu? Dan, Anda pasti akan tercengang setelah mengetahui bahwa berbagai suku di Indonesia Timur adalah pemegang kunci siklus-siklus bagi agama-agama Barat yang tertua.

 

Judul Eden In The East , Benua yang Tenggelam di Asia Tenggara

Penulis Stephen Oppenheimer

Penerbit PT.UFUK PUBLISHING HOUSE

Bulan Terbit Oktober 2010

Kategori Sejarah Indonesia

Tebal 860 halaman

Harga Rp 224.900 (toko), Rp 179.920 (bukukita.com)

(palasarionline/warungbebas)

Dimuat di glowupmagazine.com     Friday, 18 February 2011 18:54

 

ELIANA (Serial Anak-Anak Mamak)

Maksud wawak, pernahkah kau memerhatikan, bukankah Mamak kau orang terakhir yang bergabung di meja makan? Bukankah mamak kau orang terakhir yang menyendok sisa gulai atau sayur? Bukankah mamak kau yang kehabisan makanan di piring? Bukankah mamak yang terakhir kali tidur? Baru tidur setelah memastikan kalian semua telah tidur? Bukankah mamak yang terakhir kali beranjak istirahat? Setelah kalian semua istirahat? Bukankah mamak kau selalu yang terakhir dalam setiap urusan.”

 

Dan mamak kau juga yang selalu pertama dalam urusan lainnya. Dia yang yang pertama bangun, dia yang pertama membereskan rumah, dia yang pertama kali mencuci, mengelap, mengepel, dia yang pertama kali ada saat kalian terluka, menangis, sakit. Dia yang pertama kali memastikan kalian baik-baik saja. Mamak kau yang selalu pertama dalam urusan itu, Eli. Tidak pernahkah kau memperhatikannya?”

 

Adalah Eliana, anak kelas 4 SD yang keras kepala dan pemberani. Anak sulung mamak ini sering bertanya-tanya pada dirinya, sayangkah mamak kepadanya? Eliana merasa selalu disuruh-suruh oleh mamak untuk masak, mencuci, mengepel, membangunkan Amelia, Burlian, Pukat, menjadi jam weker bagi mereka, bahkan menjadi mandor pengawas. Eliana merasa iri dengan adik-adiknya.

 

Di sisi lain, bersama tiga rekannya, Eliana membentuk geng ”empat buntal.” Berempat mereka kompak, bahu-membahu melewati hari-hari seru, kejadian suka-duka, pantang menyerah. Bahkan, melawan kerakusan di kampung kecil dengan sabuk sungai, dikelilingi hutan, dan dibentengi bukit-bukit hijau yang ia tinggali.

 

Dengan segala masalah pendidikan, lingkungan, dan pemerintahan yang dituang dalam buku Eliana ini, tidak lantas membuat plot cerita menjadi berat. Tere Liye berhasil menyampaikan kritikannya tanpa melupakan fokus dan tokoh utama dari cerita, yaitu tentang sosok Eliana. Konflik keluarga pun menjadi salah satu dilema dalam diri Eliana, ketika dia mulai mempertanyakan kasih sayang mamak dan statusnya sebagai anak sulung.

 

Eliana adalah buku ke-4 dari Serial Anak-anak Mamak, setelah Burlian (buku ke-2), Pukat (buku ke-3), dan Amelia (buku ke-1). Sekali lagi, Tere Liye berhasil menyajikan bacaan bermutu yang menggugah untuk memahami kasih-sayang keluarga, kesederhanaan, serta keteguhan tekad berbuat baik dengan bahasa yang sangat menyentuh.

 

Judul Eliana (Serial Anak-Anak Mamak)

Penulis Tere Liye

Penerbit Republika

Kategori Fiksi Remaja

Tebal 519 halaman

Harga Rp 60.000 (toko), Rp 51.000 (bukukita.com), Rp. 48.000 (palasarionline.com)

Dimuat di glowupmagazine.com     Wednesday, 16 February 2011 17:57

Habibie & Ainun

Habibie & Ainun Habibie & Ainun goodreads.com

glowupmagazine.com – Habibie masih ingat betul kapan ia pertama kali jatuh cinta kepada Ainun.  Saat itu, 7 Maret 1962, Habibie sedang silaturahim ke rumah keluarga Besari, ayah Ainun, yang terletak di jalan Rangga Malela, Bandung, pada malam takbir. Pandangan mata malam itulah yang akhirnya mengantarkan keduanya pada kisah-kisah romantisme hari berikutnya, sampai akhirnya menikah 3 bulan kemudian.

 

“Bagi saya pribadi, hikmah menulis buku ini telah menjadi terapi untuk
mengobati kerinduan, rasa tiba-tiba kehilangan oleh seorang yang selama 48 tahun 10 hari berada dalam kehidupan saya,” kata Presiden ke-3 RI itu dalam pengantar bukunya.

 

Namun demikian, buku yang diterbitkan The Habibie Center ini, tidak melulu berbicara soal romantisme percintaan. Habibie menulis, istrinya itu juga selalu mendampingi dan mendukung pekerjaannya sebegai menteri. Bahkan saat ia menghadapi masa-masa krisis pada reformasi Mei 1998 dan menjabat Presiden ke-3 RI selama 17 bulan.

 

Terdiri dari 37 bab yang kaya hikmah tentang kehidupan dari sudut pandang sang professor. Gaya ceritanya sederhana sehingga Glowers akan ingin terus dan terus menyaksikan keseharian Habibie dan Ainun di belakang layar pentas nasional. Layaknya sebuah novel, Habibie mampu menyajikan sebuah alur cerita unik dan menawan sehingga begitu lekat di mata para pembaca. Tengok saja kisah perjuangan Habibie muda saat mengungkapkan perasaan cintanya kepada Ainun, cerita di balik pendirian Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), di balik layar pemunculan dan terbang perdana pesawat buatan anak bangsa N250 Gatotkoco, suasana duka kepergian sang istri tercinta, serta beragam kisah lainnya yang rugi jika terlewatkan. 

 

”48 tahun 10 hari, Allah Engkau telah menitipi cinta abadi yang menjadikan kami  manunggal. Manunggal yang dipatri oleh cinta yang murni, suci, sempurna dan abadi” (Habibie & Ainun, halaman 296)

 

Judul Buku  Habibie & Ainun

Penulis        Bacharuddin Jusuf Habibie

Penerbit    PT The Habibie Center Mandiri

Genre  Biografi

Tebal xii + 323 Halaman

Resolusi  14 cm x21 cm

Harga   Rp. 80.000,- (toko),  Rp. 67.200 (bukukita.com)

Dimuat di glowupmagazine.com     Monday, 14 February 2011 20:42

Jajan Es Potong, Yuk!

Es Potong Es Potong therealmeinabowloflife.blogspot.com

 

Perjumpaan kembali itu terasa menggairahkan. Serta merta saya berhenti melaju dan menghampiri seorang bapak setengah baya yang sedang mendorong gerobak sederhana berinstrumen lonceng kecil bersuara nyaring. Tulisan di gerobak itulah yang seolah menyihir saya untuk seketika menepi. Es Potong.

 

Ya, Es Potong adalah salah satu jajanan jadoel yang memiliki sensasi rasa tak terlupakan. Rasa gurih santannya berpadu dengan manisnya gula pasir plus butir-butir beras ketan hitam beku, menyatu dalam selongsong panjang bungkus plastik bening. Ada juga pilihan rasa coklat, frambus, durian, atau melon.

 

Kenapa disebut Es Potong? Tak lain dan tak bukan adalah karena longsongan panjang itu harus dipotong-potong dulu dan ditusuk dengan lidi untuk dapat dinikmati. Slrrrupp … dinginnya seolah menyegarkan siang yang terik, gurihnya memanjakan lidah, dan wangi aroma buah melengkapi sensasi nikmat sepotong Es Potong. Humm.. yummy..

 

Sebungkus utuh Es Potong, kurang lebih sepanjang 50 cm dan berdiameter 2-3 cm, dijual Rp 5.000 saja. Nah, jika Glowers ingin yang versi potong, harga tiap potong yang panjangnya sekitar 10 cm berkisar antara Rp 1.000 sampai Rp 2.000. Harga tersebut menjadi terasa sangat murah jika mengingat mulai langkanya jajanan  pelepas dahaga ini di jaman sekarang.

 

Penasaran dengan Es Potong? Lets hunt, Glowers!

Dimuat di glowupmagazine.com     Monday, 14 February 2011 17:54