Tak Sekadar Menjumput Saat Operasi Semut

 

We are not dealing with garbage,we are dealing with lifestyle

~Makalah Prof Enri Damanhuri (Institut Teknologi Bandung)
dalam Focus Group Discussion (FGD)  Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian,
 Jakarta 22 Juni 2009

 

Agustus 2015. Geram rasanya melihat sampah bertebaran di Salatiga Expo September 2015 lalu. Kunjungan edukasi bersama anak-anak yang terimaji menyenangkan, terusik dengan kenyataan akan tebaran sampah, terutama di dengan stand makanan. Padahal, tempat sampah di Lapangan Pancasila juga tak sedikit. Tapi entah kenapa, sampah yang ada di luar tempat sampah, lebih tak sedikit.

 

Mirisnya, sampah-sampah itu adalah hasil karya banyak orang yang tak pandang bulu usia, seragam, maupun asalnya. Berapa kali saja kami mendapati pengunjung yang enteeeng sekali membuang sampah kemasan (makanan, terutama) tak jauh dari ia berdiri, tak jauh dari ia duduk. Ada juga sih yang pelan-pelan, sembunyi-sembunyi, sungkan-sungkan. Tapi intinya sama, membuang sampah bukan di tempat sampah.

 

September 2015. Lebih baik menyalakan lilin, daripada merutuki kegelapan. Prinsip itu adalah salah satu yang saya pegang teguh. Begitupun soal sampah bertebaran yang bagi saya begitu mengganggu pandangan mata. Yang jadi kabar baik, saya tak sendirian merasakannya. Maka, tercetuslah ide tentang Operasi Semut.

 

Apa itu Operasi Semut?

 

Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang selalu muncul saat kami menyebut istilah itu. Dan memang tidak berlebihan karena sulit membayangkan hubungan kata operasi dan semut bukan? Haha.

 

Bukan, kami bukan mengoperasi semut. Kami justru seolah menjadi semut yang beroperasi. Ya, operasi semut berfilosofi pada gotong royong bangsa semut dalam menyelesaikan tantangan kehidupan mereka. Kami ingin terjun langsung menunjukkan bahwa sampah harusnya terletak di tempat sampah. Bukan di jalanan, di selokan, bukan pula di sela-sela taman. Setidaknya, kami ingin menunjukkan kepada anak-anak kami sendiri tentang salah satu kebaikan paling sederhana yang sangat mungkin ia lakukan sejak usia dini.
1

Sejak usia berapa bisa mengajak anak untuk Operasi Semut? Jawabannya adalah sejak anak bisa diajak keluar dari rumahnya.

 

Anak-anak adalah konsentrasi kami. Anak-anak yang diamanahkan kepada kami untuk kami didik dengan sepenuh hati. Dan kami percaya, tak ada pendidikan yang paling mengena selain teladan dari kami sendiri. Itulah mengapa, dalam Operasi Semut tiap Jum’at pagi pasti ada saja anak-anak yang menyertai kami. Dan itulah mengapa, Operasi Semut tak sekadar gerakan memungut sampah. Ada jiwa-jiwa pembelajar berupa anak-anak kami yang mengamati setiap gerak gerik kami — orang tuanya — dan menyalinnya tanpa cela dalam keseharian kanak-kanak mereka.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Bola salju mulai meluncur bi idznillah. Setiap pekan kami mencoba konsisten melakukan Operasi Semut di alun-alun kota Salatiga. Kami menyebut diri dengan istilah Pasukan Semut. Kami berkeliling lapangan yang menjadi jantung kota Salatiga ini sambil membawa kantong kresek besar, mulai memunguti sampah yang bertebaran, diikuti anak-anak kami yang dengan ria mengikuti gerakan kami sambil berlarian.Lupakan dulu soal mengurangi produksi sampah dengan meminimalkan penggunaan plastik. Membuang sampah pada tempatnyalah yang masih menjadi prioritas gerakan Operasi Semut sampai saat ini.

 

Sesi “menyemut” sekitar satu jam ini diawali dengan yel-yel khas Pasukan Semut dan diakhiri dengan menimbang perolehan sampah hari itu, diskusi ringan seputar persampahan dan lingkungan sambil menikmati bekal penganan yang kami bawa sendiri, dan tentu saja yel-yel Pasukan Semut. Meskipun kadang kami yang tua-tua ini menebalkan muka untuk percaya diri mengumandangkan yel-yel Operasi Semut, bisa dipastikan anak-anaklah yang paling bersemangat dalam sesi yel-yel ini. Haha.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Apakah relawan Operasi Semut banyak?

 

Alhamdulillah, tidak. Haha. Tak jarang hanya seorang diri ralawan kami beroperasi semut sambil menggendong si bungsu. Bisa jadi karena di tahun pertama Operasi Semut ini kami memilih hari Jumat untuk beroperasi.Namun, baik sendirian maupun berbanyak teman, kami mencoba terus bergerak karena ada anak-anak kami yang tak membutuhkan orang lain untuk dijadikan teladan, selain diri kami sendiri.

 

Soal hari Jumat ini, pertimbangan edukasi ke anak-anak sekolah maupun staf berbagai instansi yang menggunakan Lapangan Pancasila sebagai arena olah raga di Jumat pagi menjadi alasannya. Sedikit-sedikit, kami ingin mengkampanyekan buang sampah di tempat sampah dengan kami melakukannya langsung bersama anak-anak di depan para pengguna Lapangan Pancasila. Rasa heran mereka — yang pasti muncul saat melihat ibu-ibu tanpa tampilan pemulung bersama anak kecil yang berlarian memunguti segala macam sampah anorganik — adalah pintu masuk kami untuk memberikan sedikit edukasi.

 

Dengan sangat hormat, kami memang bukan pemulung. Satu dua pemulung yang berpapasan saat kami Operasi Semut juga memandang penuh ekspresi, “Wah, saingan baru nih.. tapi kok tampilannya beda sama gue?” Kurang lebih begitulah arti mimik muka mereka yang coba kami terjemahkan. Belakangan, mereka justru menganggap kami rekan kerja karena kami tidak mengancam eksistensi mereka. Satu hal yang pasti, Operasi Semut justru mengajarkan kami semakin mengapresiasi profesi pemulung yang ternyata jauh lebih mulia karena ia rela dipandang hina dengan mengambil sampah daripada profesi lain yang terlihat mulia tapi membuang sampah sembarangan. Itu yang kami tekankan pula kepada anak-anak kami saat menyemut bersama.
16

Selalu ada hal baru yang menarik kami jumpai saat Operasi Semut

 

Akhir Agustus 2016. Pengalaman tahun pertama menjalani Operasi Semut menjadi pijakan kami di tahun kedua untuk melibatkan lebih banyak relawan dengan digesernya Operasi Semut ke hari Sabtu pagi mulai September 2016. Kami memandang Operasi Semut sudah selayaknya menjadi alternatif kegiatan akhir pekan keluarga yang memiliki fungsi ganda, yaitu rekreasi dan edukasi.
17

Para relawan Operasi Semut dan skema ide terbentuknya Operasi Semut

 

Operasi Semut pada dasarnya adalah sebentuk lilin yang coba kami nyalakan di tengah gelapnya keacuhan masyarakat tentang menempatkan sampah di tempat sampah. Kami tidak menyebut Operasi Semut sebagai inovasi daerah Salatiga karena sebenarnya siapapun sangat bisa melakukannya. Sangat bisa. Siapapun sangat bisa menyalakan lilin ini dan menjaga apinya tetap berpendar dari hari ke hari. Ini terbukti dengan antusiasme netizen Salatiga yang mendukung Operasi Semut saat kami mencoba teratur bertutur tentang Operasi Semut di grup nongkrongnya warga Salatiga di Facebook. Tinggal soal komitmenlah yang akan menjadikan lilin yang dimiliki setiap orang ini akan menyala atau tidak. Pasukan Semut memilih untuk menyalakan dan menjaga pendarnya sampai saat ini.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Dukungan dari luar kota Salatiga juga turut membesarkan semangat kami untuk terus menyemut meski jumlah relawan pasang surut. Kabar kawan yang bercerita bahwa satu dua kota di luar Salatiga mulai bergerak menyemut pun membuat kami yakin bahwa masih buanyak sekali yang peduli bahwa gaya hidup membuang sampah pada tempatnya sangat bisa untuk dibudayakan sejak dini dengan kemasan yang lebih menyenangkan. Maka sungguh tepat kutipan yang dicatat benar oleh Prof. Enri. Kita tidak sedang berurusan dengan sampah (semata), kita berurusan dengan gaya hidup orang banyak. Setidaknya, semoga Operasi Semut bisa menjadi secercah lilin harapan untuk Indonesia yang lebih baik. Aamiin.

Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahkuhttps://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku

Gravida Syndrome #27

Ia mulai menggodaku.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba ia merasuki kesadaranku.

Membelai lembut, menjalari tiap senti isi kepalaku.

Aku mulai mendengus..

Susah payah melenyapkan pesonanya dari imajinasiku…

 

“Ibu Tiara…” penggilan dari pengeras suara itu membuatku otomatis bergerak ke meja perawat.

Aku langsung berdiri di penimbang badan digital di dekat pintu penyekat. 62 kilogram. Oke, bagus. Berat badanku sudah naik  lima kilogram dibanding pertama kali aku kemari. Aku lalu bergeser ke kursi di dekatnya. Alat pengukur tekanan darah sudah tersedia. Aku duduk dan menanti perawat mulai mengukur tekanan darahku.

Rumah sakit ini ramai benar hari ini. Ah, aku lupa. Ini hari Sabtu. Tentu banyak yang lebih memilih hari ini karena mungkin di hari yang lain mereka bekerja dari pagi sampai petang. Memilih ke sini sepulang dari kantor tentu terasa lebih melelahkan karena bisa dipastikan sampai di rumah lebih malam dari biasanya. Dan itu artinya rutinitas di rumah akan bergeser secara domino. Sama sepertiku.

Namaku Tiara. Tahun ini umurku 26 tahun. Hari ini adalah kunjunganku kemari yang kesekian. Sebentar, kubuka dulu buku catatanku. Ah ya.. ini adalah kunjunganku yang ke tujuh. Aku mulai hafal sudut-sudut rumah sakit ini. Aku mulai paham alur perjalanan pasien dari masuk sampai pulang. Dan aku mulai akrab dengan bau rumah sakit ini.

“Ibu, tensinya tinggi sekali…” suara perawat menegurku.

Eh? Aku memasang muka terkejut.

“Iya, Bu.. tensi ibu 140/90,” ia menegaskan.

Deg. Aku membeku seketika.

“Lalu bagaimana, sus?”  Entah mengapa aku otomatis meminta pendapat perawat yang kupanggil suster itu.

“Ibu periksa saja dulu dengan dokter ya. Nanti dicek lagi setelah periksa,” profesional sekali ia menjawab pertanyaanku. Baiklah. Aku menurut dan beringsut kembali ke kursi tunggu pasien. Hatiku kacau.

**

 Namaku Tiara. Tahun ini umurku 26 tahun. Kali ini adalah kehamilanku yang pertama. Biasanya, suamiku menemaniku mengikuti anti natal care – ANC – ke rumah sakit ini. Tapi kali ini, aku datang sendiri. Ia mendapat jadwal piket yang tak bisa ditinggalkan. Dan ternyata, sekacau ini hatiku bertemu kenyataan. Sindrom kehamilan nomor dua puluh lima: ANC tanpa ditemani suami. Gravida Syndrome #25.

Tekanan darahku setinggi itu. 140/90 mmHg.

Ini adalah kondisi yang berbahaya dalam kehamilan. Berbahaya untuk ibu hamil maupun kehamilan itu sendiri. Aku tahu benar itu. Buku panduan kehamilan pemberian suamiku gamblang memaparkan segala rupa tentangnya. Pertumbuhan janin terhambat, prematur, absupsio placenta alias plasenta lepas dari dinding rahim sebelum masanya, preeklampsia alias janin keracunan, dan sederet akibat tekanan darah tinggi saat hamil berputar-putar di kepalaku.

Dan sekarang aku mengalaminya, saat aku ANC sendiri saja. Sungguh, hatiku sangat kacau.

Aku masuk ruang praktek dengan hati sekacau itu. Syukurlah, dokter Fifi menyapaku seramah biasanya. Tentu air mata yang siap membuncah dan hidung yang memerah sudah menjelaskan banyak hal baginya. Pasiennya sedang kacau.

**

Ruang Staf Administrasi Akademik Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. 14.00 WIB.

Pekerjaan rutin sudah menipis. Angin siang berhembus sepoi-sepoi dari jendela loket yang berbatasan langsung dengan koridor Gedung Rektorat. Penyejuk udara tidak pernah berlaku untuk posisi di depan koridor yang mulai lengang ini. Angin Cendela menjadi satu-satunya penyejuk udara yang harus diterima dengan lapang dada.

Beranjak ke pekerjaan ekstra yang bakalan menguras konsentrasi. Si kecil dalam perut sesekali menggeliat lembut, ikut merasakan suasana siang yang terlalu tenang ini. Aku menekuri meja kerja dan setumpuk berkas yang menjadi bahanku menyusun buku panduan. Sesekali terdengar suara staf Tata Usaha bercakap-cakap menjeda siang. Tak ada yang istimewa sebenarnya. Semua bekerja dengan gaya masing-masing.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba ia merasuki kesadaranku.

Membelai lembut, menjalari tiap senti isi kepalaku.

Aku mulai mendengus..

Susah payah melenyapkan pesonanya dari imajinasiku…

Bau ini…

Si kecil dalam perutku rupanya merasakan pula hadirnya. Ia menendang beberapa kali, memberi tahuku. Aku mendengus beberapa kali. Mencoba mengusir godaannya dan memusatkan konsentrasi. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Semakin aku mendengus, semakin ia dalam merasuki kesadaranku.

Aku mendesah. Menyerah dan memilih menyandarkan punggung ke kursi putarku. Bau ini nikmat sekali. Sulit benar aku mengabaikannya. Pekat, hangat, dan ligat. Bau kopi yang diseduh. Sindrom kehamilan nomor dua puluh tujuh akhirnya datang juga. Gravida Syndrome #27: ngidam minum kopi.

Aku bukan penganut ngidam. Maksudku, ngidam yang sampai lebay bajay tidak masuk akal dan cenderung terkesan dibuat-buat. Pernah dengar ibu hamil ngidam buah mangga muda yang sama sekali tidak sedang musim? Atau ibu hamil yang ngidam sate Madura jam dua dini hari? Bukan, aku bukan ibu hamil seperti itu. Bahkan, sampai kehamilanku yang masuk trimester akhir ini, aku tidak mengalami kepingin yang aneh-aneh seperti itu. Aku patut bersyukur karena dengan posisi suamiku di luar kota, ngidam aneh-aneh justru membuatku mati kutu sendiri bukan?

Tapi sindrom nomor dua puluh tujuh ini berbeda. Pesonanya sulit untuk kutepis begitu saja. Gemulai aromanya menggelitik syaraf-syaraf pengecapku. Aku mau merasainya. Sungguh, aku sangat ingin merasainya…

Mataku menjelajah mencari tahu sumber bau itu. Dan rupanya tak jauh dari meja kerjaku. Mbak Fiel sedang menyeduh kopi kesukaannya. Kopi ABC Susu yang memang jadi favorit orang seruangan. Perpaduan kopi, gula, dan krimernya menurutku paling nendang di kelasnya. Serasa melayang, aku menyambanginya.

“Mbak Fiel, icip kopinya dong…” aku merayu.

“Eh Tiara kan lagi hamil.. nggak boleh yaa,” berjengit Mbak Fiel melihatku.

“Aih, bolehlah… sedikiiiit saja,” sempurna aku terbius keharuman kopi itu.

Mbak Fiel tertawa, “Tiara lupa ya sama tekanan darah?”

Aku mendengus. Kali ini bukan karena mengusir bau kopi, tapi mengusir kenangan ANC dengan tekanan darah 140/90 mmHg yang mengacaukan hatiku tempo hari. Memang sih, kopi bisa menyumbang peran menaikkan tekanan darah lewat kafeinnya. Tapi, bukannya aku Cuma merayu icip sedikit saja?

“Mbak Fiel, aku kan Cuma minta icip sesendok saja,” godaan kopi itu sungguh luar biasa merasukiku. Baunya yang khas telah sempurna lekat dalam memoriku. Pantang berkopi selama hamil telah melipatgandakan efek belaian bau kopi siang itu.

“Tiara, hamil lho…” tawa Mbak Fiel terdengar makin menggodaku untuk menaklukkan kopi itu.

“Gak apa, Mbak Fiel..

Mbak Fiel nggak tahu ya? Kopi bisa menjaga stamina ibu hamil macam aku. Menambah energi lho..”

Mbak Fiel mulai mengangkat alisnya.

“Belum lagi, kopi bisa meningkatkan konsentrasi juga,” aku buru-buru menambahkan. “Terus membantu menjaga mood biar tetap bagus. Bisa juga buat menormalkan gula darah ibu hamil. Bahkan justru menormalkan tekanan darah juga, Mbak.”

“Walah… Tiara ini bisa aja,” Mbak Fiel makin tertawa mendengar cerocosku.

“Eh beneran, Mbak Fiel..” aku menandaskan. Demi sesendok kopi itu, aku tak peduli kalau perjuanganku terlihat lebay. “Ini hasil penelitian lho, Mbak..Fakta.. Fakta ilmiah!”

“Hahaha.. penelitian dari mana?” Mbak Fiel masih teguh menolak rayuan sendokku. Satu dua kepala di ruangan mulai melongok ingin tahu keributan kecil perkara kopi ini.

“Sini, sini.. aku kasih lihat sumbernya!” Aku menyeret Mbak Fiel ke komputernya. Kubuka mesin pencari dan kuketikkan kata kunci: penelitian ibu hamil dan kopi. Ha, Mbak Fiel pasti tak berkutik. Aku menyeringai puas.

Dalam hitungan sepersekian detik, mesin pencari membeberkan judul-judul terkait penelitian kopi dan ibu hamil. Tak hanya puluhan.. RATUSAN! Kusorongkan monitor ke Mbak Fiel. Sendok kecilku menari-nari di cangkir kopinya. Hidungku mengendus-endus.

Cepat Mbak Fiel membaca salah satu judul teratas dan dia tertawa makin keras. “Tiaraaa… ini kan nggak ilmiah. Semuanya Cuma bilang penelitian, penelitian, penelitian. Penelitian siapa? Kapan? Di mana? Nggak ada tuh kepastian info ini valid,” belum menyerah rupanya ia.

“Nih, coba Tiara yang baca sekarang deh,” ganti Mbak Fiel menyorongkan monitor padaku. “Ini baru ilmiah, “ tegasnya.

Rupanya ia memakai jurus yang sama untuk menggagalkan invasi sendokku ke cangkirnya. Jurus mesin pencari.

Saat hamil, banyak ibu yang selektif dalam makanan dan minuman yang dikonsumsi. Namun, bagi ibu hamil pecinta kopi, tak perlu khawatir mengonsumsinya karena tak akan memengaruih IQ anak seperti diungkapkan dalam studi terbaru. Namun perlu diingat, jumlah yang diperkenankan maksimal dua cangkir per hari. 

Dalam studi yang dilakukan ilmuwan Ohio State University College of Medicine, tidak ditemukan kecerdasanan intelektual anak yang lahir dari ibu yang konsumsi kopi saat hamil turun seperti dikutip dari laman Live Science, Selasa (24/11/2015).

Tidak ada bukti bahwa konsumsi kafein selama kehamilan berdampak negatif pada kecerdasan intelektual maupun perilaku saat anak berusia 4-7 tahun seperti ditulis peneliti dalam studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Epidemiology.

“Secara keseluruhan, kami menemukan ibu hamil yang konsusmi kopi secara moderat yakni maksimal dua cangkir kopi setiap hari tidak berdampak pada kecerdasan intelektual anak,” terang asisten profesor pediatrik yang juga salah satu peneliti studi ini, Sarah Keim.

Ini bukan studi pertama yang menunjukkan konsumsi kopi secara moderat aman untuk dikonsumsi. Sebelumnya, di tahun 2012 menemukan konsumsi kafein saat hamil tidak memiliki hubungan dengan kebiasaan anak terbangun di malam hari.

Lalu, menurut American College of Obstetricians and Gynecologists, konsumsi kafein kurang dari 200mg per hari, atau sekitar satu atau dua cangkir kopi per hari aman selama kehamilan. Namun, efek konsumsi kafein dalam jumlah lebih besar belum ditemukan dengan jelas.[1]

Antara senang dan bingung, aku memandang Mbak Fiel yang tersenyum lebar.

“Jadi?” aku meminta keputusan.

“Sesendok?” ia balik bertanya.

Aku mengangguk-angguk bersemangat. Sendokku ikut mengangguk-angguk. Si kecil di perutku ikut menendang-nendang.

“Tentulah boleeeh,” puas sekali Mbak Fiel mengerjaiku.

**

Namaku Tiara. Tahun ini umurku 26 tahun. Kali ini adalah kehamilanku yang pertama. Kami ingin menikmati setiap detiknya. Maka terciptalah Gravida Syndrome. Sindrom kehamilan a la kami. Ini adalah kisahnya yang ke-27.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[1] http://health.liputan6.com/read/2372577/ibu-hamil-ternyata-boleh-minum-kopi

 

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

Sampah: Amunisi Harus Ditambah

Efek dari pengenalan sungai yang saya lakukan ke Hanif beberapa bulan lalu sungguh luar biasa. Salah satunya adalah kesadaran lingkungan Hanif yang makin tinggi, terutama soal sampah. Oiya, insya Allah cerita tentang sungai akan saya tulis kemudian.

Ya, soal sampah ini membuat saya harus menambah amunisi setiap kali bepergian. Amunisi bernama kantong plastik dan tisu basah. Hehe

h1

Gambar diolah dengan cropmom.com dan Photoshop (nikentfalimah.wordpress.com)

Hanif sangat peka terhadap sampah. Matanya yang awas akan melihat kilauan sampah di setiap sudut perjalanannya. Bungkus permen yang kecil sekalipun. Dan dialog baku a la Hanif pun mulai dimainkan.

“Bu Niken, ada sampah!”

“Mana?”

“Itu! Ayo kita ambil, Bu Niken!” Terkadang saya yang harus mengambil, tapi seringkali Hanif yang riang gembira memunguti sampah yang ia lihat. Seperti menemukan harta karun. Hehe

“Kok buang sampah di jalan ya, Bu Niken?”

“Iya.. Kok buang sampah di jalan ya, Nak?”

“Jalannya kan jadi kotor ya, Bu Niken?”

“Iya, Nak.. Sampah harusnya dibuang ke mana?”

“Tempat sampah!! Mana tempat sampah, Bu Niken?”

“Ayo kita cari!” Kami pun sibuk mengedarkan pandangan di sekitar TKP untuk mencari tempat sampah. Seringkali kami beruntung karena langsung mendapatkannya. Namun jika tidak….

“Bu Niken, tidak ada tempat sampah!”

“Iya, ya.. Kita belum beruntung” Hanif akan menatap saya dengan ekspresi sedih karena tidak berhasil menemukan tempat sampah.

“Bu Niken bawa plastik?” Ia seolah mendapat ide. Padahal kalimat itu adalah hasil pembelajaran sebelumnya saat kami tidak berhasil menemukan tempat sampah dan kebetulan saya sedang membawa plastik. Jadilah saya menawarkan plastik sebagai alternatif tempat sampah untuk temuan Hanif sampai dengan tempat sampah yang sesungguhnya ditemukan. Untunglah, saat kejadian itu Hanif setuju. Nah, di lain kesempatan, ia akan langsung bertanya kepada saya setiap kali kali tidak berhasil menemukan tempat sampah.

“Ah, yaa! Coba Ibu Niken lihat tas ya,” saya memerankan adegan itu dengan baik. Sudah hafal luar kepala soalnya. Hehe. Saya membuka tas dan mengambil kantong plastik yang wajib ada di dalamnya.

“Ini diaaa!!!”

“Waaa.. ayo dimasukkan ke plastik, Bu Niken!”

“Sini.. sini..!” Hanif memasukkan sampah hasil “investigasi”nya dan tersenyum lebar khas Hanif. Lalu ia akan mengacungkan tangannya untuk meminta tissue basah untuk membersihkan tangannya.

Masya Allah.. Baarokallahu fiik, Hanif!

***

Sedikit catatan, saya seringkali malu kepada Hanif kalau bicara soal sampah ini. Saat kami berjalan-jalan, tak jarang kami mendapati orang dewasa, remaja, dan anak-anak yang dengan entengnya membuang sampah di kolong jok angkot, jalan, sungai, atau ke manapun selain tempat sampah. Dan Hanif dengan polosnya akan bertanya, “Kok buang sampah di jalan (atau sungai,atau angkot, atau manapun itu selain tempat sampah), Bu Niken?”

Jika memungkinkan, saya akan melempar pertanyaan tersebut kepada si pelaku buang sampah. Biasanya kami justru mendapati pandangan heran dari mereka, seolah-olah buang sampah di tempat sampah atau menyimpan sejenak sampah sampai ditemukan tempat sampah terdekat adalah hal yang aneh. Hallooo… ke mana saja pelajaran yang didapat di sekolah yang sudah dibayar mahal itu, saudaraku?

Yang saya lakukan kemudian adalah memungut sendiri sampah tersebut dan menyimpannya di kantong plastik amunisi saya. Bukan karena saya berbaik hati kepada si pelaku, tapi lebih karena saya sedang dalam masa mendidik Hanif. Saya malu saat mendapati masyarakat sangat tidak dapat diandalkan sebagai contoh dan pendukung perilaku yang baik, sementara mereka (mungkin) tahu bahwa anak-anak selalu merekam apa yang ia lihat, ia dengar, dan ia rasakan. Termasuk soal sampah.

 

Cara Pintar Selamatkan Hutan

Efek pertama dari 7to7 Dress Up Contest yang diadakan Institut Ibu Profesional bulan April ini adalah rutinitas saya “dipaksa” kembali ke rutinitas jaman kantoran. Sebelum jam 7 pagi, semua berkas dan agenda hari ini harus sudah siap beserta pernak perniknya. Plus ditambah sebelum Hanif bangun. Hehehe.

Look at the bright side always. Salah satunya adalah saya sempat membaca berita-berita di internet lebih lama. Sampai saya singgah di salah satu situs kehutanan yang digawangi oleh Wimar Witoelar.  SEJUTA hektar hutan di Jambi lenyap dalam 10 tahun. Saya tidak mampu beralih dari berita ini.

Angka itu demikian fantastis. Setidaknya untuk saya. Ditambah foto udara hutan JAmbi yang memang sudah berubah laksana lapangan coklat yang maha luas.

hutan-jambi

Saya langsung terbayang buku ensiklopedi flora fauna hutan yang menjadi kesukaan HAnif saat mengunjungi perpustakaan Salatiga. Gambar-gambar di sana begitu indah. Imajinasi dan aneka nasehat turun-temurun tentang hutan begitu agung.

Saya juga langsung teringat tentang Eliana-nya Tere Liye. Tentang heroisme Eli dan teman-temannya menolak eksploitasi hutan kampungnya. Foto hutan Jambi itu makin menyadarkan saya bahwa novel itu benar-benar berlandaskan keprihatinan mendalam atas hutan Indonesia. Its true.

Hfff… what should we do?

Banyak.

Banyak sekali, bahkan.

Bahkan, kita bisa mulai dari sekarang. Dengan langkah nyata. Kongrit, bukan metafora semata.

Saya teringat dengan popok kain Hanif. Popok kain modern yang dikenal dengan istilah clodi — cloth diaper. Bagi saya, ini adalah langkah nyata yang sangaaaat nyata bagi siapapun yang menyatakan sangat peduli dengan hutan. Dan bumi.

Bayi menggunakan popok adalah hal yang jamak. Namun, jika dicermati, yang menjadi idola orang “jaman sekarang” adalah yang serba praktis dan instan. Termasuk soal popok ini. Jadilah, teknologi popok sekali pakai temuan Marion Donovan dan teman-teman ini menjadi jawaban pintar kebutuhan tersebut.

Tapi, benarkah itu jawaban pintar?

Gambar

Sumber: di sini

Silakan dikalikan dengan harga dan berapa tahun si kecil akan memakai popok sekali pakai. Kita akan mendapatkan angka tentang sepintar apa kita mengelola anggaran belanja bulanan rumah tangga.

Lantas apa hubungannya dengan hutan? Mungkin ada yang akan bertanya demikian. Inilah jawabannya:

GambarSumber: di sini

Fyi, cellulose tissue adalah jaringan selulosa yang notabene hanya ada di tanaman, dalam hal ini pohon. Dan pohon dalam jumlah besar tentu saja bertempat di hutan. Lantas, jika per tahun seorang bayi menggunakan lebih dari 3000 buah popok, bagaimana dengan jutaan bayi di dunia? Bagaimana dengan penggunaan popok sekali pakai sampai dengan para bayi itu lulus toilet training?

Dan, bagaimana dengan jumlah pohon yang harus dipasok untuk industri popok sekali pakai?

Itulah mengapa, kecintaan saya kepada hutan, sungai, gunung, dan geliat kehidupan alami seperti gambaran ensiklopedi flora fauna itu membuat saya berpikir bahwa koleksi popok kain modern Hanif alias clodi menjadi lebih pintar menjawab kebutuhan popok jaman sekarang.

Event Penulisan “Beautiful Story:Me, Books, and My Kids”

Notifikasi email masuk secara otomatis saya buka dan saya mendapati sebuah email hangat berisi undangan.

Assalamu’alaikum Bu  Niken…

Pa kabar? salam kenal ya..saya  Yanti,penyuka buku dan dunia perbukuan..Saya baca tulisan Ibu di buku :Hei,ini Aku Ibu Profesional”.Buku yang Inspiratif,.Like It 🙂

Kami mau mengundang Ibu untuk ikut berpartisipasi dalam event penulisan “Beautiful Story: Me,books and My Kid’s”. Temanya bebas di seputar buku dan dunia perbukuan,mkn moment indah berburu buku bersama anak,membacakan buku,mendongengkan,diskusi seputar isi buku,menjawab pertanyaan cerdas anak-anak,apa aja deh seputar buku,cerita yang kita dan anak terlibat dalam aktifitas itu.

Segera saa saya berburu informasi lebih lanjut tentang event tersebut untuk dapat saya bagikan lebih lanjut ke teman-teman. Berikut informasi resminya:

Selamat datang di AmanyBook..:)

Pa kabar Ayah dan Bunda?semoga selalu dalam kondisi prima menyiapkan generasi terbaik,semoga Allah berkahi setiap aktifitas kita..

Di Februari Ceria ini AmaNY Milad lho..Di Milad yang ke 3 ini kita berbagi kebahagiaan dengan mengangkatkan event Berbagi Cerita “ Beautiful Story: Me.books and My Kid’s”

Kisah Indah: Aku,buku dan anakku..

Ayo Ayah dan bunda berbagi cerita –cerita seputar buku,mungkin ada moment indah saat hunting buku,beli buku,membaca isi buku,mendongengkan isi buku,apa aja deh seputar dunia perbukuan..temanya bebas,mungkin kisah lucu,sedih asal seputar buku,okay?

Hadiahnya apa ya?

1.Pemenang Pertama: 1 set Kisah Para Sahabat nabi senilai Rp.3.500.000

2.Pemenang kedua: 1 set Ensiklopedia Anak Pintar senilai Rp 2.400.000

3.Pemenang ketiga ; 1 set Seri Asmaul Husna senilai Rp 1.000.000

Dan 5 set Seri mengenal Allah,sebagai hadiah tambahan untuk tulisan menarik lainnya.

Wow..Boleh sambil Koprol 😀

Ayo ayah dan bunda,jangan biarkan kisah indah hanya mengisi kenangan saja,berbagilah bersama kami dan dapatkan peluang memenangkan buku-buku Keren ini untuk putra putri tercinta.

Email ke amanybook@gmail.com ya..ditunggu sampai akhir Febr ini,Pemenang akan diumumkan di web ini dan di fanpage kami BukuAmaNY dan twitter kami @AmanyBook..buat peserta silahkan like fanpage dan follow twitternya ya..

Insya Allah,jika cerita/naskah yang dikirim layak terbit,kita akan bukukan dan terbitkan,seluruh Royaltinya akan disumbangkan untuk pendirian pustaka di Daerah-daerah terpencil.Ayo buruan nulis..Kapanlagi bisa berbagi cerita,dapat buku keren sekaligus beramal.di tunggu yaa..

Jika ada yang mau tanya-tanya silahkan kontak Bunda Yanti di 081322743725,di tunggu (kata Bunda Yanti sampai dengan 28 Februari 2013) ya:)

Yuk, kita menulis lagi! ^_^

Kunjungan untuk Selamanya

Gambar“Niken, kamu sudah sampai mana?” suara lincah dan renyah itu terdengar dari handphone jadul saya.

“Sebentar, Mbak.. Saya masih di angkot terakhir. Ditunggu yaa.. Sebentar lagi insya Allah sampai,” saya mencoba terdengar tenang. Padahal, sungguh, saya baru sekali ini naik turun bis dan angkot sendirian dari Bogor ke Bekasi dengan berbekal sms patokan-patokan yang ia berikan. Dagdigdug? Tentu saja!

***

Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 2005, hampir 8 tahun lalu. Ya, ternyata hampir delapan tahun berlalu sejak saya mengenalnya melalui email yang diteruskan Nonadita di milis teman-teman kuliah. Email itu bertutur tentang seorang Hesti Nurmawati yang kerap dipanggil dengan Titi – saya kemudian memanggilnya Mbak Hesti atau Mbak Titi. Jika saya tidak salah ingat, email itu bertajuk “Teman untuk Titi”.

Tak muluk-muluk isi email itu. Mengajak kami yang membacanya untuk sekadar berkirim sms kepada Mbak Titi yang sangat bersemangat dan bercita-cita besar dengan segala keterbatasan fisiknya. Mbak Titi merupakan penderita radang sendi selama bertahun-tahun. Kronis.

Bayangkanlah saat sendi kakimu begitu kaku dan sulit untuk sekadar digerakkan. Apalagi berjalan dan berlari. Bayangkanlah saat jemari tanganmu membeku seperti batu hingga untuk memegang sendokpun engkau harus menahan iri pada seorang balita. Bayangkanlah saat gigimu merapuh bagai kayu dimakan rayap yang begitu tersentuh sedikit saja akan tanggal atau patah. Seperti itulah kehidupan Mbak Hesti semenjak ia menjadi korban kecelakaan saat ia SMU. Ironis.

Saya memutuskan untuk berjumpa dengan Mbak Hesti. Tak lama setelah saya sendiri menuntaskan operasi dan terapi tumor. Saya tidak tahu apakah di masa mendatang saya masih diberi kesempatan untuk bertatap muka dengannya. Kesadaran itu serta merta muncul selepas saya merasakan sakit yang mungkin tak seberapa dibanding sakitnya Mbak Hesti. Saya hanya ingin melakukan sebanyak mungkin hal baik selagi saya diberi kesempatan untuk itu.

Menjelang hari perjumpaan itu, ada saja “pesan” yang sepertinya khusus diantar untuk saya. Tentang keutamaan menengok orang sakit,tentang keutamaan mengunjungi saudara, tentang keutamaan berbagi, dan tentang keutamaan  orang sakit. Sampai saat ini saya ingat benar tentang itu semua. Rasanya saya menjadi berdebar-debar dengan sosok Mbak Hesti. Saya merasa akan bertemu dengan orang yang luar biasa.

Benarlah, saya memang menjumpai orang yang luar biasa. Luar biasa luar dalam, bahkan.

Nafas saya nyaris tersentak saat melihatnya pertama kali. Sosok bertangan kaki kurus – karena hampir tidak memungkinkan untuk aktivitas fisik – mencoba duduk bersandarkan bantal di tempat tidur. Berkaca mata tebal, bergigi nyaris ompong.

Kaki saya mendadak gemetaran saat melangkahkan kaki mendekatinya. Menyentuh lembut  tangannya yang kaku terulur mengajak bersalaman. Mendekati wajah berkerudung yang tersenyum riang menyambutku hangat. Orang ini sungguh memiliki aura positif yang luar biasa kuat.

Pandangan mata saya tiba-tiba mengabur saat memandangi Mbak Hesti. Inilah Mbak Hesti, Kawan. Mbak Hesti yang sering berbagi dengan saya lewat sms atau telepon. Suara renyah dan riang itu miliknya. Pandangan-pandangan kehidupan yang selalu positif itu juga miliknya. Tawa lepas itu juga miliknya. Apa yang ada di hadapan mata saya membuat saya harus membenamkan kesadaran bahwa ia lebih dari apa yang terlihat oleh kedua  mata ini.

Tenyata, apa yang saya bayangkan meleset jauh. Ia lebih hebat dari pesan-pesan positif yang ia sampaikan lewat sms selama ini. Ia jauh lebih tegar dari suara renyah a la penyiar radio yang selalu ia perdengarkan sejauh ini. Dan ia jauh lebih sakit dari yang saya pahami selama ini.

Hari-hari Mbak Hesti nyaris seluruhnya ada di tempat tidur. Makan, minum, sholat, membaca buku, sms, telepon, menulis (sedapat-dapatnya), melihat televisi, dan mengasuh keponakan-keponakan yang dititipkan kepadanya. Untuk sekadar menulis smspun Mbak Hesti harus berjuang keras memijit tuts demi tuts keypad dengan tangannya yang senantiasa terkepal. Berpindah tempat ke kamar mandi pun ia harus dibantu oleh keponakannya, Icha. Maka nikmat manakah yang hendak engkau dustakan, wahai diriku?

***

Wajah Mbak Hesti terlihat bahagia sekali. Ceritanya tak putus-putus tentang masa kecilnya, cita-citanya, teman-temannya, dan semua yang ia rasakan. Ia bertutur tentang kenangannya saat menajdi penyiar radio di Tegal. Ia juga bertutur tentang berbagai wartawan berbagai media yang silih berganti memintanya berkisah tentang sakitnya – dan hikmah sakitnya. Ia juga bertutur tentang berbagai undangan talk show yang membicarakan sakitnya. Juga tentang pensiun dini yang harus diambilnya dengan penuh kesadaran di usia yang belum ada 25 tahun. Tentang keluarga besarnya yang menitipkan anak-anak justru kepadanya padahal ia sudah menyadarkan mereka akan keterbatasannya. Mimpinya menulis buku, mimpinya mengantar Icha menjadi “orang”, dan mimipinya tentang bahagia yang sesungguhnya.

Terselip rasa malu, apakah kunjungan saya  ini terlalu berlebihan hingga ia sebahagia itu? Oleh-oleh yang saya bawapun sangat seadanya. Buku pegangan saya saat sakit. Berjudul “Berbahagialah Wahai Orang Sakit” karya Dr. Muhammad ar Rukban dan Dr. Said bin Ali bin Wahf al Qathani. Terus terang saya sempat bingung dengan apa yang akan saya bawa, namun sekali lagi “pesan” itu datang dengan mengarahkan pandangan mata pada koleksi buku yang menemani hari-hari saya saat sakit.

Jika engkau mengira saya sedang menghibur Mbak Hesti dengan kunjungan saya itu, engkau salah besar, Kawan. Justru sayalah yang sejatinya sedang mereguk banyak kekuatan dari Mbak Hesti.  Berat sekali menyebut sosok tegar berusia 36 tahun yang menolak berbagai bantuan biaya berobat dengan dalih lebih banyak yang lebih berhak daripada dirinya itu sebagai sosok penyandang disabilitas.

Bangga sekali saat ia bertutur selayaknya saya ini sahabat karib yang telah ia kenal benar sejak bertahun-tahun silam. Padahal, sungguh, kami hanya saling rajin bertegur sapa lewat sms, berbagi energi positif, dan baru bertatap muka sekali itu di rumah petak mungilnya di Bekasi. Kunjungan itu seperti sebuah pintu masuk ke sebuah dimensi kekekalan sebuah jalinan persahabatan. Kunjungan untuk selamanya!

Ya, kunjungan itu benar-benar menorehkan kenangan seumur hidup bagi saya – dan mungkin Mbak Hesti juga. Sampai saat ini, kami masih sering bertukar kabar. Saat saya akan menikahpun, ia yang saya beri tahu pertama kalinya. Entah, saya merasakan kelekatan yang unik soal pertemanan dengan Mbak Hesti. Tidak, tidak, saya tidak akan menyebutnya penyandang disabilitas. Mbak Hesti adalah salah satu sahabat sekaligus guru bagi saya. Sebenar-benarnya sahabat, sebenar-benarnya guru.

Hingga hari ini, sudah dua puluh lima tahun Mbak Hesti berkarib dengan berbagai obat-obatan untuk meredakan nyeri sendinya, ngilu giginya, dentaman denyut jantungnya yang tiba-tiba nyaris tak terdeteksi, tekanan darahnya yang rendah, dan segala macam ini itu yang tak sanggup saya membayangkan bagaimana rasanya. Apalagi biayanya. DUA PULUH LIMA TAHUN, Kawan. Bukankah Mbak Hesti adalah sosok yang luar biasa tangguh?

Limpahilah ia dengan doa, Kawan. Agar ia dimudahkan mendapatkan samudera kesabaran dan keikhlasan. Agar setiap untaian doa kebaikan darinya melejit ke Arasy dengan mudah.

Limpahilah ia dengan doa, Kawan. Agar ia selalu menggenggam erat janji Allah. Dia tidak akan pernah membebani hambaNya melebihi kemampuan mereka. Doakan kebaikan untuknya selalu, Kawan.

Teruntuk seorang sahabat hebat: Hesti Nurmawati.

Salatiga, 26 Desember 2012

Perguruan Tinggi Idaman: Jangan Ketinggalan Jaman

Beberapa waktu lalu saya sempat menuliskan tentang pentingnya keterampilan dan teknologi dalam meciptakan performa perguruan tinggi idaman (singgahi: Improve Our Skill… dan Unjuk Gigi...). Saya mencoba mengambil sudut pekerja universitas dalam tulisan-tulisan tersebut. Setelah itu, iseng-iseng saya melakukan wawancara kecil tentang definisi perguruan tinggi idaman versi mahasiswa dan alumni perguruan tinggi saya. Korban wawancara tidak sulit didapat karena sejauh ini saya bekerja di lingkungan akademik yang bertebaran mahasiswa.

Apa sih perguruan tinggi idaman menurut kamu?

Pertanyaan dasar itulah yang saya lemparkan ke para korban saya.  Rupanya, tingginya skor akreditasi perguruan tinggi menjadi jawaban mayoritas. Namun, jika ditelisik lebih jauh, akreditasi itu menyempit menjadi standar kompetensi lulusan. Itupun mengarah pada daya serap alumni di dunia kerja yang sangat kompetitif. Lhoh.. lhoh.. padahal akreditasi itu sendiri definisinya sangat luas lho.. Silakan tengok di sini untuk definisi lengkapnya.

Ada apa dengan mahasiswa kita? Apakah pola pikir menjadi pekerja itu sudah demikian mengakar dalam pemahaman para pelajar kita? 

Selain akreditasi, tak sedikit yang menjadikan relatif murahnya biaya pendidikan (dan kelimpahan beasiswa dari dalam maupun luar perguruan tinggi) menjadi ciri perguruan tinggi idaman. Memang, siapalah yang tak mau bersekolah di perguruan tinggi yang murah dan berkualitas? Saya juga mau.. Namun, sepertinya, hal itu masih menjadi PR bagi perguruan tinggi mengingat “murah” itu relatif. Nampaknya, memaksimalkan penyelenggaraan dan pelayanan dapat menjadi kompensasi sepadan bagi biaya yang telah dikeluarkan mahasiswa. 

Alternatif menciptakan perguruan tinggi idaman yang lainnya adalah dengan mengoptimalkan pengembangan kerja sama dengan instutsi mitra sebagai upaya memperbanyak peluang beasiswa bagi mahasiswa. Alumni yang menempati posisi strategis dalam institusi masing-masing merupakan aset menuju kerjasama profesional peningkatan kualitas dunia pendidikan tinggi. Bukan tidak mungkin bahwa perguruan tinggi di Indonesia manapun dengan beasiswa yang melimpah dapat menjadi perguruan tinggi favorit Indonesia.

Menjadi perguruan tinggi terbaik tentu merupakan salah satu cita-cita bagi setiap perguruan tinggi. Situs peranking perguruan tinggi di seluruh dunia, webometrics, merupakan salah satu situs bergengsi yang rajin ditilik oleh pemerhati perguruan tinggi berkualitas. Website perguruan tinggi terbaik di Indonesia menjelaskan bahwa pemeringkatan Webometrics ini didasarkan atas keunggulan dalam publikasi elektronik (e-publication) yang terdapat dalam domain web masing-masing perguruan tinggi.

Pengukurannya menggunakan empat indikator, yakni size, visibility, rich files, danscholar.size (S), yakni jumlah halaman publikasi elektronik yang terdapat dalam domain web perguruan tinggi. Kedua, visibility (V) ialah jumlah halaman lain yang mencantumkan URL domain perguruan tinggi yang dinilai. Ketiga, rich files (RF), yaitu relevansi sumber elektronik dengan kegiatan akademik dan publikasi perguruan tinggi tersebut. Terakhir, scholar (Sc), yakni jumlah publikasi dan sitasi bermutu pada domain perguruan tinggi. Selanjutnya, data yang telah terkumpul diolah dan digunakan untuk memeringkat lebih kurang 4.000 perguruan tinggi dari seluruh dunia.

Nah, apa sih definisi perguruan tinggi idaman menurut teman-teman? Giliran teman-teman yang dimohon berkenan menjadi “korban”…

  Sari tulisan ini: Jadi, bahkan webometrics pun mengindikasikan pentingnya keterampilan dan teknologi dalam meciptakan performa perguruan tinggi idaman. Web merupakan bentuk teknologi dan aspek yang dinilai dan untuk menghasilkan web yang berkualitas, tentu perlu keterampilan yang penuh integritas. Jadi, webometrics-pun sepakat dengan pendapat saya *hahaha.. narsis *: perguruan tinggi idaman jangan ketinggalan jaman. Tulisan ini didedikasikan untuk Lomba Blog UII (Universitas Islam Indonesia).

APR 30, ’10 3:19 AM
UNTUK SEMUANYA

Unjuk Gigi dengan Teknologi

“Waaah.. internetnya lambat bangeet!” keluh beberapa teman kantor beberapa waktu lalu. Usut punya usut, rupanya penggunaan internet kampus dan sekitarnya sedang dimonopoli oleh para mahasiswa S1 yang sedang beramai-ramai mengisi Formulir Rencana Studi (FRS) Online. Entah bagaimana pengaturannya, yang jelas selain mahasiswa S1 dilarang protes dengan ke-lemot-an koneksi internet di kampus. 

Inovasi dalam hal pelayanan FRS Online memang membuat wajah almamater saya sedikit berbeda. Antrian mahasiswa yang menyetor bukti pembayaran SPP dan menukarnya dengan FRS sudah tinggal kenangan. Yang ada sekarang adalah serbuan ke warnet atau kerumunan di pusat-pusat hotspot kampus. Mungkin, ingin mengikut jejak saudara tuanya — Universitas Indonesia — yang sudah lebih dulu berinovasi dalam hal FRS. Sebuah upaya menuju perguruan tinggi terbaik. 

Sistem informasi mahasiswa yang mudah diakses oleh mahasiswa memang turut membantu kontrol universitas terhadap prestasi dan perkembangan akademik mahasiswa. Sistem informasi tersebut antara lain mencakup biodata, data pembayaran SPP, data prestasi, maupun korespondensi dengan dosen pembimbing. Sifatnya yang online memungkinkan mahasiswa ataupun dosen melakukan updatedata setiap saat. Hal ini jauh lebih menghemat kertas (untuk membuat pengumuman “nilai terbaru”, pengumuman ini itu, de-el-el) maupun energi (karena bisa diakses di manapun, asalkan ada koneksi internet).

Sungguh kita harus banyak bersyukur karena diijinkan hidup di jaman internet. Di mana dunia nyaris menciut selebar layar monitor dan kendali seolah bermutasi dalam deretan huruf keyboard. Dan sudah selayaknya fungsi internet pun dioptimalkan dalam konteks positif. Salah satunya ya untuk memberikan yang terbaik bagi customer, termasuk mahasiswa.

Website resmi universitas — syukur-syukur sampai tingkat website resmi jurusan/ mayor/ program studi — pun sangat membantu sosialisasi informasi yang dapat diakses dari manapun dan kapanpun. Hal ini penting karena universitas saya sepertinya masih bertengger di jajaran perguruan tinggi favorit Indonesia, terutama karena porsi mahasiswa yang masuk tanpa tes-nya lebih besar daripada jalur tes. Artinya, kemungkinan besar peminatnya adalah para calon mahasiswa di seluruh Indonesia, yang tidak dapat setiap saat mengunjungi kampus kami di Bogor. Fluktuasi loket pelayanan pun dapat diturunkan sampai sekitar tiga puluh persen jika formulir-formulir dapat diperoleh secara online, syukur-syukur (lagi) dapat diisi dengan online pula.

Namun, tentu saja, pemeliharaan website memegang peranan tak kalah penting dalam keterunggulan sebuah teknologi. Baik segi pemeliharaan program maupun pemeliharaan isi. Sayang sekali jika website memiliki tampilan bagus, tapi isinya sudah basi semua. 

Omong-omong soal basi, rasanya menulis identitas setiap kali melakukan kunjungan ke perpustakaan menjadi agak-agak basi jika mengingat jumlah mahasiswa yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Berapa banyak buku atau kertas yang habis dalam sebulan — dan setelah itu hanya ditumpuk di gudang sebagai teman tikus — untuk memfasilitasi peraturan menulis identitas pagi setiap pengunjung? Belum lagi validitas informasi pengunjung juga tidak terjamin. Jadi, harus bagaimana?

Hmm.. mungkin teknologi barcode dapat ditawarkan sebagai solusi. Jika setiap mahasiswa memiliki kartu mahasiswa, maka barcode (nomor pokok mahasiswa, mungkin) dapat disisipkan dalam kartu tersebut. Membuat barcode-pun tidak sulit. Sudah ada software yang khusus untuk membuat barcode. Pengoperasiannya pun tidak sulit, dapat dipelajari.

Sari tulisan ini: Pemanfaatan teknologi yang bijak dan tepat guna turut berkontribusi dalam membangun perguruan tinggi idaman bagi semua pihak. Sosialisasi penggunaan teknologi yang intensif dan berkelanjutan turut membangun kampus idaman dengan tingkat ke-gaptek-an minimum. Tulisan ini didedikasikan untuk Lomba Blog UII (Universitas Islam Indonesia).

MAR 9, ’10 9:16 PM
UNTUK SEMUANYA

Improve Our Skill: Sebuah Upaya Menuju Berhasil

Hanya mereka-mereka yang terus menerus memperlengkapi dirinyalah yang berpeluang untuk tetap dipekerjakan di tahun-tahun mendatang.
(Tom Peters, penulis buku manajemen bisnis praktis)

Keterampilan adalah modal bekerja. Semakin banyak keterampilan yang dimiliki seseorang, semakin adaptiflah ia ketika masuk lingkungan kerja. Gelar bukanlah jaminan dari kualitas kerja seseorang, mekipun tetap memiliki andil. Perpaduan ilmu dan keterampilan yang tepat cenderung menghasilkan kualitas kerja yang optimal.

Ah, serius sekali nampaknya.. 

Tidak, saya tidak bermaksud untuk terlalu serius di sini. Sekadar ingin membagi pengamatan atas tempat saya bekerja dan berharap semoga ada manfaat yang dapat dipetik bersama.

Kembali menyoal keterampilan dalam bekerja. Jika saya mengamati iklan-iklan lowongan kerja, banyak perusahaan mensyaratkan keterampilan menggunakan Microsoft Office bagi parajob seeker. Memang masih sulit disangkal bahwa Windows masih merajai sistem operasi komputer perusahaan, termasuk di universitas saya. Artinya, keterampilan menggunakan Microsoft Office sebagai program yang paling sering dipakai dalam urusan perkantoran nyaris mutlak dikuasai. Jika ternyata kita menguasai program-program lain selain Microsoft Office, itu merupakan nilai plus bagi keterampilan kita. Beruntunglah memilikinya! 

Pada kenyataannya, dari program Microsoft Office itu sendiri, tidak semuanya digunakan optimal dalam dunia perkantoran. Paling sering digunakan adalahMicrosoft Excel dan Microsoft Word. Jika ternyata kita menguasai aplikasi-aplikasi selain dua aplikasi tersebut, tentu saja itu merupakan nilai plus bagi keterampilan kita. (Sekali lagi) beruntunglah memilikinya! 

Nah, dalam hal tersebut, saya sangat tertarik mengamati keterampilan membuat fungsi look-up pada Microsoft Excel dan pemanfaatan fungsi mail merge pada aplikasi Microsoft Word. Adakah alasan tertentu?

Yup, tentu saja ada. Bekerja di universitas adalah salah satu jenis pekerjaan yang mengarah pada pelayanan publik, dalam hal ini mahasiswa. Tidak tanggung-tanggung, mahasiswa yang menjadi customer sebuah universitas sangat heterogen karena terdiri dari jenjang diploma, sarjana, dan bahkan pascasarjana. Sebagai gambaran,  sekolah pascasarjana kami memiliki sekitar 3787 orang yang tercatat masih aktif sebagai mahasiswa sampai dengan tulisan ini dibuat (data fresh dari bos saya! ). Padahal jumlah tersebut hanya sekitar sepertiga dari jumlah mahasiswa tingkat sarjana. Bisa dibayangkan banyaknya kepala yang berjubel di universitas ini, bukan?

Lantas?

Tentu saja, banyak kepala = banyak data. Nah, para pekerja universitas (termasuk saya) secara tidak langsung dituntut memiliki keterampilan manajemen data yang efektif agar profesionalitas pelayanan dapat tercipta. Tidak mungkin bukan, setiap ada permohonan surat, setiap kali pula kita membuat konsep baru? Atau, mengkopi file surat yang sudah ada dimana dari segi jangka panjang akan menyulitkan evaluasi data.

Salah satu yang saya buktikan sangat membantu dalam hal tersebut adalah dengan menguasai keterampilan membuat fungsi look-up pada Microsoft Excel. Fungsilook-up memungkinkan sheet-sheet pada Microsoft Excel dapat saling terhubung, sehingga sangat menyingkat waktu entry data.

Data yang telah tersimpan dalam Microsoft Excel pun dapat langsung dihubungkan dengan template surat yang ada pada Microsoft Word. Di sinilah fungsi mail mergedalam aplikasi Microsoft Word. Dengan demikian, membuat surat yang sama dengan data mahasiswa yang beraneka dapat dilakukan dalam waktu singkat.

Praktis bukan?

Memang, jika keterampilan mengoptimalkan fitur-fitur Microsoft Excel danMicrosoft Word menjadi salah satu keterampilan yang dikuasai oleh para pekerja universitas, maka para pekerja turut berkontribusi besar dalam menciptakan universitas perguruan tinggi idaman semua pihak. Pelayanan cepat, pekerjaan tak berasa berat, dan institusi dapat berkembang pesat menjadi perguruan tinggi favorit di Indonesia. Harapannya sih begitu.. 

Ah, cinta benar saya dengan almamater saya, salah satu perguruan tinggi terbaik di negeri ini.. 

Sari tulisan ini: Pegawai universitas yang terampil dan profesional merupakan salah satu kontributor terciptanya perguruan tinggi idaman. Akses partisipasi dalam pelatihan peningkatan keterampilan kerja sebaiknya diberikan secara merata kepada semua pegawai, tanpa membedakan status PNS atau tidak. Visinya adalah “Pelayanan Prima Kepada Mahasiswa”. Tulisan ini didedikasikan untuk Lomba Blog UII (Universitas Islam Indonesia).

MAR 5, ’10 2:51 AM
UNTUK SEMUANYA

Kejutan Akhir Pekan

Sekali lagi, keranjang pekerjaan saya sudah kosong siang ini. Dan saya iseng melihat koleksi bookmark di browsing history. Eh, ternyata ada lomba menulisreview dengan deadline tanggal 5 Januari 2010 yang (kalau tidak salah) sudah diumumkan tanggal 11 Januari 2010.

Hasilnya bagaimana ya? Jika saya belum beruntung, semoga alamat-alamat blog pemenang review tersebut tercantum. Jadi, paling tidak, saya bisa belajar dari para pemenang lomba itu. Hehe. Nothing to lose 

Mampirlah saya ke blog penggagas lomba tersebut dan mulai membaca.

Dan…

Eng.. ing.. eeeeng…


Alhamdulillah.. satu lagi buku menambah koleksi dengan cuma-cuma. 

Kalau ada teman-teman yang belum sempat membaca review tersebut dan ingin memberikan penilaian tersendiri, silakan mampir ke sini, ya. Monggo.. monggo.. Tolong dikoreksi jika ada yang perlu dikoreksi.

Terima kasih, Pak Hadi Hartono.. Segera saya baca bukunya begitu saya terima insya Allah. Dan (jika bagus) akan saya review di blog ini. Hehe 

JAN 22, ’10 3:16 AM
UNTUK SEMUANYA