Nice Home Work #8

Pasir waktu matrikulasi tinggal tersisa sedikit. Hari ini sudah masuk ke tugas ke -8. Entah jika di depan ada tugas 9.1 sampai 9.10. Hahaha

Kali ini temanya tentang.. agent of change. Jadi ingat jaman kuliah. Mahasiswa adalah agent of change. Dan ternyata saat jadi mahasiswa matrikulasi kali ini, muncul juga tema itu. Mahasiswa adalah agent of change. Hahaha *lagi

BUNDA sebagai AGEN PERUBAHAN

Bunda, kalau sudah menemukan passion (ketertarikan minat ) ada di ranah mana, mulailah lihat isu sosial di sekitar anda, maka belajar untuk membuat solusi terbaik di keluarga dan masyarakat.

Rumus yang kita pakai :
PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE

Social venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan.

Sehingga bunda bisa membuat perubahan di masyarakat diawali dari rasa emphaty, membuat sebuah usaha yang berkelanjutan diawali dengan menemukan passion dan menjadi orang yang merdeka menentukan nasib hidupnya sendiri.

Hal ini akan membuat kita bisa meneyelesaikan permasalahan sosial di sekitar kita dengan kemampuan enterpreneur yang kita miliki. Sehingga untuk melakukan perubahan tidak perlu menunggu dana dari luar, tapi cukup tekad kuat dari dalam.

Maaf ya banyak tertawa, sedang dapat bonus waktu karena bisa mengerjakan tugas di sela para bocil main air. Tapi mohon dimaafkan kalau ngetiknya juga wussss :p

Untuk menjawab NHW#8 ini saya akan mengangkat salah satu proyek sosial saya yang saya lakukan bersama teman-teman yang terhitung langka. Apakah itu? Mari menyimak aplikasi rumus tersebut dalam gambar berikut:

nhw 8.1

Mengapa operasi semut merupakan simpulan dari kolom-kolom di sebelah kirinya? Begini ceritanya…Mengutip dari informasi yang sudah saya sampaikan di facebook.

Berawal dari keprihatinan atas ringannya tangan2 terpelajar utk membuang sampah sembarangan saat Salatiga Expo 2015. Berlanjut dari keinginan mengajak si kecil untuk belajar peduli dengan sampah sejak dini. Bersambut dukungan dari kawan2 dari berbagai kalangan. Jadilah Operasi Semut.

Belajar pada semangat kerja sama bangsa semut, yang dengan bergotong royong menaklukkan tantangan besar kehidupan mereka. Berterima kasih atas inspirasi Kakek Hakimi Sarlan Rasyid.

Menulis masuk ke dalam isian tabel karena kekuatan tulisan untuk memperluas ide sosial ini saya rasakan memang menakjubkan bi idznillah. Setidaknya makin banyak yang tahu soal keberadaan operasi semut ini dengan perantara tulisan yang dibuat di sela-sela aktivitas membersamai ananda.

Ide ini juga bisa berdampak pada kehidupan rumah tangga dengan cara yang tidak biasa. Siapa yang tak terharu melihat ananda tertib membuang sampah di tempatnya tanpa diminta? Siapa yang tak meleleh melihat ide kreativitas bermunculan dari sesuatu yang awalnya tergolong sampah? Dan masih buanyaaaak lagi, maasya allah.. Maka, menurut pendek pendapat saya, ide ini berkorelasi dengan tugas-tugas NHW sebelumnya yang sudah saya paparkan.

Soal jumlah peserta, itu lain waktulah saya coba ceritakan. Insya allah.

 

Nice Home Work #4

Menulis kembali tentang nice home work. Kali ini sudah pekan kelima dan inilah tantangannya:

Maka ikutilah tahapan-tahapan sbb :
a. Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting
b. Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?
c. Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup.
d. Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time ( misal anda sudah menuliskan bahwa bersih-bersih rumah itu dari jam 05.00-06.00, maka patuhi waktu tersebut)
e. Jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda.
f. Setelah tahap di atas selesai anda tentukan. Buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan. (Contoh kalau saya membuat jadwal rutin saya masukkan di subuh-jam 07.00 – jadwal dinamis ( memperbanyak jam terbang dari jam 7 pagi- 7 malam, setelah jam 7 malam kembali ke aktivitas rutin yang belum selesai. sehingga muncul program 7 to 7)
g. Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik?
h. kalau tidak segera revisi, kalau baik, lanjutkan sampai dengan 3 bulan.
Dan inilah perkembangannya:
a. Aktivitas paling penting: membersamai suami, membersamai anak-anak, dan belajar berislam lebih kuat lagi.
aktivitas paling tidak penting: memperturutkan perasaan, mengurus lapak, dan menonton

b. Alhamdulillah lebih banyak ke kegiatan yang penting

f. Jadwal harian:
< 06.30 : waktu belajar dan mengerjakan tugas
06.30 – 07.30 : pekerjaan rutin
07.30 – 11.00 : jadwal dinamis

11.00 – 16.00 : pelerjaan rutin
16.00 – 21.00: jadwal dinamis
21.00 – 01.00: Istirahat

g. alhamdulillah terlaksana dengan baik.

Nice Home Work #3

Perjalanan menempa diri masih terus bergulir dan alhamdulillah memasuki pekan ketiga. Jalan mulai menunjukkan tanjakan, puncak masih kelihatan. Haha

Bunda, masih semangat belajar?
Kali ini kita akan masuk tahap #3 dari proses belajar kita. Setelah semalam bunda berdiskusi seru seputar mendidik anak dengan kekuatan fitrah berbasis hati nurani, maka sekarang kita akan mulai mempraktekkan ilmu tersebut satu persatu.
a. Belajar konsisten untuk mengisi checklist harian, yang sudah anda buat di Nice Homework #1. Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.
b.Baca dan renungkan kembali Nice Homework #2, kemudian tetapkan pada diri bunda, Misi Hidup apa yang kita emban di muka bumi ini, bidang apa yang ingin anda kuasai.
Contoh : Misi Hidup : memberikan inspirasi kepada banyak orang
Bidang : Pendidikan Ibu dan Anak
Peran : Inspirator
c. Setelah itu susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.
Contoh : Untuk bisa menjadi ahli di bidang Pendidikan Ibu dan Anak maka tahapan ilmu yang harus saya kuasai adalah sbb:
1. Bunda Sayang : Ilmu-ilmu seputar pengasuhan anak
2. Bunda Cekatan : Ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga
3. Bunda Produktif : Ilmu-ilmu seputar minat dan bakat, kemandirian finansial dll.
4. Bunda Shaleha : Ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang
d. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup
contoh : Saya dulu menetapkan KM 0 saya pada usia 21 th, kemudian berkomitmen tinggi akan mencapai 10.000 (sepuluh ribu ) jam terbang saya di satu bidang tersebut, agar lebih mantap menjalankan misi hidup. Sejak saat itu setiap hari saya dedikasikan 8 jam waktu saya untuk mencari ilmu, mempraktekkan, menuliskannya bersama dengan anak-anak. Sehingga dalam jangka waktu kurang lebih 4 tahun, sudah akan terlihat hasilnya.
Milestone yang saya buat saat itu :
KM 0 – KM 1 ( tahun 1 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Sayang
KM 1 – KM 2 (tahun 2 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Cekatan
KM 2 – KM 3 (tahun 3 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Produktif
KM 3 – KM 4 ( tahun 4) : Menguasai Ilmu seputar Bunda shaleha
e. Koreksi kembali checklist anda di NHW#1, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.
f. Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan

Baiklah, mari kita coba kerjakan.

a. belajar konsisten mengisi ceklist NHW#1. Ceklist saya masih terus berjalan meski masih banyak bolongnya. Mengerikan.Qadarullah anak-anak sepekan lalu demam keduanya jadi waktu untuk mengerjakan tulisan agak tercecer. Fokus ke kerjaan yang menyangkut hak orang lain dan tenggat singkat. Hoho.. Jadi harus mengencangkan sabuk lagi inih XD

b. Tidak akan saya panjang lebarkan yah.

Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”. (HR. Ahmad dari Abdurrahman bin ‘Aufradhiyallahu’anhu dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany).

c. Ilmu yang sedang saya kuatkan adalah ttg 4 hal di poin b di atas.

d. Milestone saya adalah setiap hari.

e. sudah alhamdulillah

f. Sedang , insya allah

Begitulah.. NHW#3 saya selesaikan. Alhamdulillah.

Nice Home Work #2

Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah.
Bahwa hidup harus dimengerti, pengertian yang benar.
Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus
~Tere Liye, Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Mereka dipertemukan dalam indahnya dunia tulisan dan kemiripan. Saat mereka dipersatukan, mereka berkata serasa berjumpa karib lama yang pulang dari perjalanan. Dan saling meninggalkan tulisan adalah salah satu keriangan yang selalu menjadi pilihan.

Mereka saling jatuh hati semakin hari. Pasang surut perjalanan mereka maknai dengan kalapangan hati. Bahwa perjalanan ini bukan sekadar suka hati, namun juga soal penerimaan diri. Itulah mengapa, kejutan surat cinta menjadi sebuah bumbu wajib tersendiri. Karena ia selalu membesarkan hati, menguatkan diri, dan mendekatkan emosi.

Beratus kali kejutan itu diberi, beratus kali pula mata menjadi berseri. Sesekali sanjungan sepenuh hati tertimpal sipuan ah sudahlah jangan merayu begini. Tapi mereka sungguh selalu menikmati momentum semacam ini. Berkali-kali, ia yang menyemarakkan hari. Semoga mereka selalu diberkahi.

***

Bunda, setelah semalam kita belajar tentang “membangun peradaban dari dalam rumah” maka pekan ini kita akan belajar mempraktekkannya satu persatu.

a. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki “alasan kuat” bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda.

Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami

b.Lihatlah anak-anak anda, tuliskan kekuatan potensi dari mereka, siasati kelemahan masing2.

c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, memgapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.

d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? kearifan lokal apa yg anda lihat? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

e. Setelah menjawab pertanyaan a-d, sekarang belajarlah memahami apa sebenarnya “peran spesifik keluarga” anda di muka bumi ini.

Pertanyaan pertama mengingatkan saya pada sebuah nasehat : apakah suami mengijinkan responnya disampaikan ke khalayak?

Pertanyaan:
Sudah umum pada sebagian wanita, menyebarkan cerita-cerita rumah tangga dan kehidupan mereka dengan para suami mereka, kepada para kerabat dan teman-teman mereka. Sebagian dari cerita tersebut merupakan rahasia rumah tangga yang suami tidak ingin ada seorang pun mengetahuinya. Bagaimanakah hukum untuk para wantia yang menyebarkan rahasia-rahasia tersebut dan mengeluarkan rahasia dari rumahnya, atau hanya memberitahukannya kepada beberapa individiu di rumah tersebut?

Jawaban:
Sesungguhnya yang dilakukan beberapa wanita dengan memberitahukan cerita-cerita rumah tangga dan kehidupan suami-istri kepada para kerabat atau sahabat, adalah sesuatu yang haram. Tidak halal bagi seorang perempuan untuk menyebarkan rahasia rumah tangganya atau kondisinya bersama suaminya kepada seorang pun. Allah Subhanahu wa Ta’alabefirman,

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللهُ

Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (An-Nisa: 34)

Seburuk-buruk kedudukan manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mengumpuli istrinya dan istrinya pun mengumpulinya, kemudian dia menyebarkan rahasia istrinya.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

Dijawab oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Usaimin, Fatawa Islamiyyah.

Sumber: Setiap Problem Suami-Istri Ada Solusinya, Solusi atas 500 Problem Istri dan 300 Problem Suami oleh Sekelompok Ulama: Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, Syaikh bin Baz, Syaikh Muhammad bin Ibrahim, Syaikh Abdullah bin Utsaimin, Syaikh Abdullah bin Jibrin dll, Mitra Pustaka, 2008.

Sumber copas: di sini

Pertanyaan pertama. Done. Saya sudah melihat respon suami.

Pertanyaan kedua.
Hanif (5,5, tahun) sepengamatan saya diberi amanah kelebihan:
1. Word smart: mudah berkata-kata dan mengolah kata
2. Hafalan cepat
3. Suka buku dan membaca
4. Memiliki kemandirian dasar yang baik

Hal-hal yang menjadi amanah orang tuanya untuk mensiasati adalah:
1. Kecerdasan finansial
– Kami mensiasatinya dengan memberikan batas maksimal pengeluarannya per hari. Hal ini untuk meredam keinginannya untuk ikut tren membeli snack berhadiah tertentu yang membuat anak-anak hobi menyambangi warung di dekat rumah.
– Kami juga membuat tabungan khusus untuk permintaan yang secara nominal termasuk besar.
– Kami melibatkan Hanif dalam mengetahui dana keluarga yang kami letakkan di dompet.

2. Kemampuan bekerja sama
– Terkadang, kemampuannya bekerja sama sangat moody. Kesabaran kami sepertinya masih harus digembleng agar ia makin matang dalam hal ini.

Hisyam (22 bulan) sepengamatan kami diberi amanah kelebihan:
1. Teliti dan runtut
2. Berkemauan keras

Hal-hal yang menjadi amanah orang tuanya untuk mensiasati adalah:
1. Kadar rasa aman dan nyaman Hisyam
– Mengenalkan dengan sebanyak mungkin orang, mengajaknya dalam sebanyak mungkin suasana, dan menguatkan komunikasinya.
2. Keragaman asupan makanan sehari-hari untuk meningkatkan berat badannya
– riset, riset, dan riset.

Pertanyaan ketiga. Saya sangat paham potensi saya alhamdulillah. Dan saya sangat paham kenapa takaran yang saya terima adalah sekian insya allah. Saya menggunakan metode Abah Rama untuk mengenali lebih dalam tentang diri saya. ALhamdulillah sedikit banyak memang membantu. Bisa dilihat ulasannya di sini.

Pertanyaan keempat. yap, saya sangat paham alhamdulillah.

Pertanyaan kelima. Baik, saya sedang belajar memahami dan menerima peran spesifik kami di kehidupan kali ini. Bismillah.

**
Jika dicermati, Nice Homework #2 ini hanya meminta peserta menuliskan:
1. Surat cinta untuk suami
2. Kekuatan potensi anak-anak kita

Adapun tugas nomor 3,4, dan 5 peserta diminta untuk merenung, berpikir, dan belajar memahami. Demikianlah, saya mengumpulkannya dengan gembira 😀

 

 

 

 

 

Nice Home Work #1

Mendapat tantangan untuk membuat membuat indikator keprofesionalitasan saya sebagai ibu dengan penilai adalah diri sendiri, anak-anak, dan suami. Hmm.. ada banyak hal yang lantas terpikir sebagai analisanya. Entah mengapa, itu sudah menjadi keotomatisan yang sulit dipisahkan. Ha.

Kita belajar membuat “Indikator” untuk diri sendiri. Indikator harus:
– SPESIFIK (unik/detil),
– TERUKUR (contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
– Bisa diraih
– Berhubungan dengan kondisi permasalahan sehari-hari dan ada BATAS WAKTUnya.

Bismillah.. Baiklah..  Mari kita coba jawab tantangan ini dengan satu gigitan kecil. Semua indikator ini saya coba untuk mengambil starting point yang sama, yaitu 12 mei 2016. Hari ini.

Sebagai istri

  • membuat catatan keuangan keluarga rinci setiap hari selama 10 pekan, dimulai tanggal 12 mei 2016

Sebagai ibu

  • membuat dekorasi dan festival penyambutan ramadhan di rumah, selambatnya 1 juni 2016

Sebagai individu

  • memperbarui tulisan di blog ini setiap hari selama 10 pekan, dimulai 12 mei 2016

Sebagai bentuk kendali atas indikator yang saya tetapkan sendiri, saya membuat file Excel berikut dan mewajibkan diri menuliskan progressnya setiap hari.

excel

File excel tersebut terdiri atas beberapa sheet, dengan sheet pertama sebagai halaman kontrol.Sheet kedua saya isi dengan catatan kas, dan sheet ketiga saya isi dengan breakdown timetable festival.

So, let we see then 🙂

#NHW1

Knowing Safety Walking, Safety Riding, and Safety Driving (and Then, DOING!)

Tantangan siang itu adalah mencari pemateri kuliah rutin Institut Ibu Profesional Salatiga yang menguasai materi “Saferi Walking, Safety Riding, and Safety Driving”. Sebenarnya tantangan ini berlaku untuk siapa saja yang bersemangat tinggi untuk mencari tambahan ilmu terus menerus agar dalam mendidik anak maupun keluarga dapat memberikan informasi yang tepat. Kebetulan, saya paling gatal kalau ada tantangan. Prinsip saya, ketika orang lain bisa menaklukkan tantangan, kenapa saya tidak?

Jadilah, sejak malam saya membuat peta agenda keesokan harinya. Bagaimana agar perjalanan menaklukkan tantangan ini juga jadi momen pembelajaran menyenangkan bagi Hanif (27 bulan). Rencana A saya adalah:

  1. Wawancara ke petugas polisi lalu lintas yang nge-pos di depan komplek dan bertanya prosedur jika ingin meminta penyuluhan tentang tema yang menjadi tantangan.
  2. Mengikuti hasil langkah pertama di atas.

Jika rencana A saya ternyata belum memberikan hasil yang tepat, saya akan pakai plan B, yaitu mengumpulkan materi sendiri. So, lets go!

Alhamdulillah rencana A berjalan dengan  mulus. Polisi lalu lintas yang saya wawancara menyambut baik dan memberikan petunjuk langkah selanjutnya. Berasa main detektif-detektif-an ya? Bahasanya: mencari petunjuk. Hehehe. Mungkin efek kebanyakan baca buku detektif macam Lima Sekawan, STOP, Trio Detektif, dan sebangsanya sewaktu kecil dulu. So, theres no problem, it just another challenge.

Sesuai petunjuk yang saya dapat, maka langkah selanjutnya adalah membuat surat permohonan resmi dan mendatangi pejabat yang berwenang, dalam hal ini Kasatlantas Polres Salatiga.

Oiya, kenapa saya membidik polisi lalu lintas sebagai rencana A? Menurut hemat saya, polisi lalu lintas adalah pemateri yang paling tepat dan kompeten tentang “Safety Walking, Safety Riding, and Safety Driving.” Jika boleh menggunakan istilah pengayom, merekalah yang paling memahami  peraturan-peraturan aman berkendara dan gencar melakukan sosialisasi tentang itu. Dan alhamdulillah pilihan tersebut tepat karena dalam kepolisian lalu lintas, terdapat divisi khusus yang bertugas melakukan sosialisasi peraturan-peraturan dan kebijakan-kebijakan terkait keamanan berkendara di jalan raya.

Kembali ke cerita tentang Kasatlantas. Jadilah siang itu, saya meng-homeschool-kan Hanif di kantor polisi. Mengajak Hanif beramah tamah dengan polisi di meja resepsionis, menyapa setiap polisi yang ia jumpai, mendekatkan Hanif dengan mobil highway patrol yang dihiasi sirine di atapnya, mengajak Hanif melihat bus dan truk yang ringsek karena kecelakaan, dan yang mengajarkan Hanif mengantar surat ke Kasatlantas. Ya, Haniflah yang menyerahkan surat permohonan resmi yang kami ajukan ke Kasatlantas Polres Salatiga langsung. Tentu bukan tanpa maksud. Membentuk anak yang supel bergaul dengan berbagai kalangan haruslah diasah semenjak dini. Belajar menyerahkan sesuatu (dalam hal ini surat) adalah salah satunya.

polisi 1

Alhamdulillah, Hanif sangat menikmati pengalamannya di kantor polisi. Kosa kata dan daya ceritanya semakin bertambah bi idznillah. Dan yang paling heboh adalah setiap kali Hanif melewati kantor Satlantas Polres Salatiga yang berarsitektur gedung Belanda itu. Ia akan sibuk berseru,”Ibu niken! Itu kantor polisi! Adik tadi (baca: kemarin. Hanif belum bisa membedakan tadi, kemarin, dan dulu. Hehe) ke sana!”  Jadilah, setiap kali itu pula penumpang angkot yang kami naiki tersenyum sendiri melihat deklarasi Hanif. Hohohoho.

***

Alhamdulillah, tanggal 29 Maret 2013, materi program Bunda Cekatan “Safety Walking, Safety Riding, and Safety Driving” berhasil diselenggarakan dengan heboh. Apa pasal? Ternyata ada yel-yel juga dalam kampanye keselamatan berlalu lintas. Dan yel-yel itu sama-sama menggunakan kata: Hu Ha!

Kami semua tertawa bersama saat yel-yel itu selesai diperagakan. Pemateri kelas Rabu pagi (jam 09.00) adalah langsung Kasatlantas Polres Salatiga, Ajun Komisaris Muryati yang berkenan meluangkan waktu berbagi ilmu di kuliah rutin Institut Ibu Profesional Salatiga. Pemateri kelas sore (jam 15.30) adalah Bapak Roni (mohon maaf saya lupa jabatannya. Huhuhu).

Prinsip dasar salam aman di jalan raya, terdiri dari 3 tahapan, yaitu saat sebelum berangkat, saat di jalan, dan sesampai di tujuan.  Ada istilah 4 sehat, 5 selamat dalam berlalu lintas: sehat jasmani-rohani, sehat kendaraan, sehat navigasi, sehat budaya, dan dilengkapi dengan berdoa agar menjadi 5 selamat.

Beberapa hal dasar yang perlu diketahui oleh pengguna jalan berdasarkan kuliah Institut Ibu Profesional Salatiga bersama Satlantas Polres Salatiga adalah:

Menggunakan helm itu wajib, dan memilih helm yang lulus SNI (Standart Nasional Indonesia)  itu lebih wajib.

Jika kita memperhatikan suara polwan-polwan di corong speaker lampu lalu lintas Salatiga (misal: di lampu merah pertigaan al Azhar Kauman dan di lampu merah perempatan Pasar Jetis), kita akan mendengar himbauan untuk menggunakan helm ber-SNI . Himbauan tersebut juga berlaku untuk anak-anak usia PAUD yang membonceng kendaraan roda dua.

Helm ber-SNI dicirikan dengan adanya logo SNI di belakang atau samping helm. Penggunaannyapun harus dikancingkan rapat sampai berbunyi “klik”. Penggunaan helm yang benar merupakan langkah nyata kepedulian terhadap keselamatan diri sendiri di jalan raya.

Menjaga jarak aman dan kecepatan aman itu penting.

Ngebut itu keren? Wah, nggak bangeet! Ternyata, untuk di dalam kota, kecepatan maksimal yang diijinkan adalah 40 km/ jam. Kecepatan itu harus dikurangi lagi menjadi 30 km/ jam saat kendaraan melaju di komplek perumahan. Jarak aman dengan kendaraan di depan kita saat di dalam kota saat kita menggunakan kecepatan 40 km/ jam tersebut, seharusnya adalah 22 meter. Wah, saat lalu lintas macet, sepertinya tak banyak yang menggubris aturan ini. Hohoho.

***

riding

Banyak pertanyaan dan diskusi yang kemudian mengalir dalam kuliah keren ini. Hal menarik yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat adalah aturan dasar parkir. Ternyata sama dengan prinsip dasar meletakkan alas kaki saat akan memasuki rumah, memposisikan kendraan untuk diparkir juga seharusnya dalam kondisi ready to use saat kita akan keluar. Jadi, muka kendaraan seharusnya menghadap ke jalan, bukan ke trotoar seperti yang selama ini kita lakukan.

Pertanyaan yang sempat menjadi diskusi panjang adalah tentang tilang dan berita tentang slip biru atau merah.

Banyak informasi yang beredar di dunia maya tentang anjuran memilih surat tilang berwarna biru agar bisa langsung membayar biaya tilang melalui ATM daripada memilih warna merah yang lantas mengharuskan pengendara menghadiri sidang. Benarkah informasi tersebut?

Berdasar klarifikasi yang diberikan pemateri, informasi tersebut mendekati benar. Hanya saja, saat kita memilih surat tilang warna BIRU, kita hanya bisa membayar denda lewat TELLER bank yang ditunjuk, dalam hal ini BRI. Jadi, bukan lewat ATM sebagaimana info yang beredar di dumay alias dunia maya. Kami semua manggut-manggut saat mendengarnya.

Besarnya angka denda tilang itu sendiri pun disampaikan pada kuliah tersebut berdasarkan peraturan resmi yang berlaku saat ini. Saat kita memilih surat tilang warna biru, maka nominal denda adalah flat sesuai peraturan maksimal denda. Saat kita memilih surat tilang warna merah, maka ada kemungkinan kebijakan hakim yang menyebabkan nominal denda mendapat potongan atau justru sebaliknya.  Jadi, penting sekali untuk mengetahui pengetahuan tentang peraturan nominal denda dimana keputusan tentang pilihan surat tilang kembali kepada pengendara kendaraan bermotor yang terkena tilang tersebut. Peraturan tentang nominal denda dapat dilihat di sini.

Mengutip pendapat Thomas, narasumber kelas bahasa Inggris dari Jerman yang mendampingi kuliah rutin setiap Rabu, pada prinsipnya aturan-aturan berlalu lintas di Indonesia tak jauh berbeda dengan yang ada di Jerman. Saat ditanya apakah ada perbedaan, dengan tandas ia menjawab, “ Satu-satunya perbedaan adalah peraturan di Jerman benar-benar diterapkan, sementara di Indonesia tidak.”

Jleb!! XD

Talents Mapping bersama Abah Rama: Resume Webinar

Bertemu langsung dan menimba ilmu dari pakar di bidangnya sungguh merupakan kesempatan emas yang semakin membuat saya mencintai kehidupan saya saat ini. Merekalah yang membuat saya ingin meloncat dan bermimpi lagi lebih tinggi.

Kali ini Institut Ibu Profesional diajak bertemu dengan Pak Rama Royani atau yang lebih beken dipanggil Abah Rama. Mantan direktur utama lima perusahaan yang mengaku selalu sariawan sepanjang tiga puluhan tahun karirnya ini dengan murah hati membagikan ilmunya tentang Talents Mapping. Pemetaan Bakat.

Memetakan bakat bagi banyak orang mungkin merupakan pekerjaan awang-awang. Menemukan bakat saja sudah sulit, apalagi memetakan, bukan? Ternyata, itu tidak hanya terjadi di Indonesia. Menemukan bakat adalah masalah universal manusia. Belum lagi bicara passion. Hmmm…for your info, data dari Abah Rama menunjukkan 93% orang ternyata bekerja tanpa berdasarkan bakat. Tak heran jika status atau celetukan Thanks God Its Friday sering sekali mampir di wall Facebook atau update BBM. Hihihihi

Tapi begitulah, Abah Rama mengutip hasil penelitian Tal Ben Shahar bahwa terdapat tiga kelompok gaya bekerja orang berdasarkan motivasinya.
Gambar

Semua orang tentu ingin berada di kelompok Panggilan dan memetakan bakat merupakan salah satu langkah penting untuk menuju posisi tersebut.

Pertemuan saya dalam Kuliah Umum Talents Mapping bersama Abah Rama pada 29 Maret 2013 lalu mempertemukan saya dengan penemu Strength Typology (ST-30) yang memang terbukti sangat cepat — tidak sampai 10 menit — membantu kami mengenali diri kami lebih jauh.

Gambar

Abah Rama menjelaskan bahwa sebenarnya ada dua sumber bakat yang dimiliki setiap manusia, yaitu panca indera dan sifat. Sifat di sini tentu saja sifat yang positif, sehingga istilah “berbakat malas” dan sejenisnya tentu saja menjadi tidak relevan. Nah, bakat berupa sifat inilah yang terkadang terabai dan kecenderungan yang terjadi selama ini adalah mendefinisikan bakat sebagai kelebihan panca indera yang dimiliki seseorang. Misalkan: memasak, olah raga, berkebun, dsb. Ternyata sifat senang memimpin, mengajar, meneliti, dsb juga merupakan potensi kekuatan lho!

Bakat berupa sifat positif (teratur, senang meneliti, pekerja keras, penyayang, dsb) dengan penanganan yang benar akan berubah menjadi potensi kekuatan untuk dioptimalkan. Dalam istilah Abah Rama, kekuatan akan muncul jika  memenuhi apa yang beliau sebut sebagai 4E, yaitu Enjoy, Easy, Excellent, dan Earn. Keempat E tersebut harus terpenuhi jika ingin memunculkan kekuatan dalam diri seseorang.

Nah, jika kita sudah mampu memetakan bakat kita, kita akan diarahkan untuk mengkategorikan diri kita sesuai panduan yang diperolah dari hasil penelitian Abah Rama secara intensif. Strenght Typhology juga membantu mengarahkan kepada jenis-jenis profesi atau kegiatan apa yang cocok berdasarkan temuan bakat seseorang. Oiya, semua orang bisa kok menggunakan tools yang Abah rama ciptakan tersebut dengan mengakses http://www.temubakat.com dan mengisi dengan cepat plus apa adanya form yang ada di web tersebut.

Webinar kali ini adalah versi online kuliah umum tema yang sama bersama Abah Rama dimana versi kopi daratnya sudah terlaksana tanggal 29 Maret 2013 pagi hari di School of Life Lebah Putih. Salut banget buat Abah Rama yang tetap bersemangat tinggi di usia sepuhnya. Tanya jawab di webinar pun luar biasa hidup karena peserta tak hanya datang dari Salatiga. Depok, Tangerang, Jakarta, Malang, dan banyak lagi (saya sampai nggak sempat menyapa satu per satu hadirin webinar. Hehehe).

Hal menarik yang beberapa kali Abah Rama sampaikan adalah tentang mimpi beliau mengaktifkan gerakan Pramuka di tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama dengan 45 aktivitas berdasarkan talents mapping yang beliau rumuskan. Mengapa? Karena semakin banyak seseorang distimulasi dengan beragam aktivitas semenjak dini, maka bakat panca indera maupun sifatnya akan lebih cepat melejit dan diarahkan ke arah yang sesuai. Sehingga, istilah salah jurusan, salah pekerjaan, dan salah pasangan (eh?) akan sangat jauuuh berkurang. Kejadian “sariawan” berpuluh tahun yang dialami Abah Rama (dan mungkin kita juga) tidak menjadi fenomena publik.

Pramuka dipandang sebagai sarana pendidikan yang tepat karena seluruh ativitas Pramuka dikemas dalam bentuk permainan ataupun aktivitas menyenangkan lainnya oleh founding fathernya. Saya ingat sekali bagaimana kami dulu belajar tentang sandi, benda-benda di sekitar kami, berteman, team work, menalukkan rasa takut, dan buanyak hal lainnya lewat ajang seru bernama Pramuka.

Sayangnya, Pramuka jaman sekarang sudah jauh sekali berbeda dengan jaman saya dulu.  Permainan seru ini itu sudah jauh berkurang dan terasa hanya sekadar formalitas kurikulum yang wajib diisi. Ini adalah PR besar bagi kita semua bukan?

30 Minutes English Session: Wednesday Passion

Berawal dari kehadiran doctor lulusan Monash University (Australia)–  yang kemudian kami kenal dengan nama Ibu Rasita Purba – menggantikan bu Septi yang berhalangan hadir di salah satu kuliah Institut Ibu Profesional Salatiga beberapa waktu lalu, terbetik ide spontan untuk membuat sesi English Class di setiap pertemuan Kuliah Rutin. Gayung bersambut, beliau pun dengan senang hati berbagi waktu memandu kami yang bahasa Inggrisnya grothal-grathul ini bercakap-cakap ringan dalam bahasa Inggris.

Sepakatlah, dibuka sesi English Class 30 menit sebelum kuliah rutin bersama Ibu Septi atau pemateri Bunda Sayang/ Bunda Cekatan. Alhamdulillah, teman-teman kelas pagi maupun sore sama-sama antusias menindaklanjuti kesepakatan tersebut dengan setia mengikuti sesi dari awal hingga selesai.

Bercakap-cakap kembali dalam bahasa Inggris merupakan tantangan tersendiri bagi para ibu yang mungkin terakhir kali melakukannya adalah ketika jaman kuliah dulu. Bahkan, jaman SMA mungkin. Jangankan ngecuwis dalam bahasa Inggris, tak sedikit dari kami yang mendadak bisu saat diminta memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris. Maklumlah, vocabulary bahasa Inggris kami terlipat dalam vocabulary bumbu dapur dan pernak-pernik tugas kenegaraan kami sebagai ibu rumah tangga.

Gambar

Tapiiiii… sekali lagi, NO PROBLEM! That’s an another CHALLENGE!

Syukurlah, Ibu Rasita dan putrinya – Mbak Kiki – sabar sekali mengelaborasi kemampuan berbahasa kami dengan memberikan umpan-umpan pertanyaan yang relative mudah kami pahami. Juga, kami beruntung memiliki Mbak Dewi sebagai peserta kuliah yang masih fasih ber-cas-cis-cus dalam bahasa Inggris sehingga sedikit banyak membantu kami mencari kosa kata yang lenyap dari memori. Mbak Dewi juga berbaik hati menyiapkan rangkuman rumus tenses yang dibagikan gratis kepada kami. Thanks a lot, Mbak Dewi!

Bahkan, sejak 27 Februari lalu, kelas pagi mendapat guru tambahan dalam English Class. Dia adalah Thomas Kursgents, pemuda 20 tahun asal Jerman yang singgah di Salatiga dalam masa pertukaran pelajar 4 bulan di Indonesia.  IWC, organisai internasional yang mengirim Thomas rupanya telah bekerja sama dengan STAIN Salatiga dimana STAIN juga telah bekerja sama dengan Panti Asuhan Muhammadiyah “Abu Hurairah” sehingga di sanalah Thomas tinggal selama di Salatiga.

Kesediaan Thomas mendampingi pembelajaran para ibu merupakan keberuntungan tersendiri. Meskipun masih terbatas pada kelas pagi – karena setiap sore Thomas mengajar bahasa Inggris dan Jerman untuk anak-anak Panti Asuhan – kehadiran Thomas turut membuka pemahaman para Ibu. Seperti yang kita ketahui, bahasa ibu warga Negara Jerman bukanlah bahasa Inggris. Jerman memiliki bahasa tersendiri yaitu bahasa Jerman, yang jelas berbeda dengan bahasa Inggris. Dari abjad yang dimiliki pun sudah terlihat berbeda bukan? Bagaimana Thomas belajar bahasa Inggris hingga sebagus sekarang merupakan motivasi tersendiri bagi kami.

“Saya belajar bahasa Inggris karena keadaan yang memaksa saya. Dan memang kita harus membenturkan diri kepada keterpaksaan jika ingin segera dapat menguasai sesuatu,” begitu Thomas berbagi tips suksesnya belajar bahasa Inggris  — dan juga bahasa Indonesia.

Thomas belajar bahasa-bahasa di luar bahasa Jerman secara otodidak.Membaca, mendengarkan kaset, download di internet, dan membenturkan diri kepada keterpaksaan dengan mempraktekkannya langsung. Jadi, jika Thomas saja bisa, mengapa kita tidak?

Gambar

PS: Mohon doanya agar foreigner untuk kelas sore Institut Ibu Profesional bisa segera hadir. Judulnya, masih dalam tahap konfirmasi. Semangaaat!

2013 di Atas Kertas

Menuliskan cita-cita dan membiarkannya terbaca oleh  banyak orang membuat saya lebih bersemangat untuk bekerja keras mendapatkan apa yang saya cita-citakan. Saya pikir, pandangan ini merupakan lompatan tersendiri untuk saya karena dulu saya baru membagikannya di buku harian. Apakah saya dulu tidak percaya diri untuk berkata, “Inilah cita-citaku!”? Mungkin ada benarnya. Insiden pembajakan blog itu sungguh-sungguh melindas eksistensi diri saya di hadapan public.

Tapi, itu sudah berlalu. Saat ini saya malah bersyukur bertemu peristiwa itu karena saya bisa sampai pada pemaknaan seperti saat ini. Betapa banyak hal yang memang harus dipelajari dengan baik dalam setiap kepingan kehidupan dan menjadikan kualitas diri menjadi lebih baik. Semoga.

Sebagaimana cita-cita saya.

Gambar

  1. Keluarga kecil kami akhirnya berkumpul di bulan Juli 2013.

Beberapa tahun menikah dan belum sekalipun serumah sungguh merupakan ujian tersendiri untuk kami. Meski kami mencoba mengalihkan energy dengan berkarya sebanyak mungkin – dan alhmadulillah, kami memang jadi banyak menelurkan ini dan itu —  tetap saja ada yang kurang dalam jiwa kami.  Tahun ini kami bertekad HARUS serumah.  Meski itu harus di Swedia tempat suami saya mendaftar beasiswa. Semoga dimudahkan.

  1. Sebulan sekali saya membuat postingan di blog dalam bahasa Inggris.

Terinspirasi oleh tantangan yang dihadapi suami saya tentang menulis dalam bahasa Inggris untuk menembus beasiswa ke Eropa, saya berpikir tentang tidak ada salahnya saya pun belajar menempa diri. Terlebih setelah mengikuti kuliah umum Ibu Profesional bersama Mr. Hani Sutrisno, founder Desa Bahasa Borobudur, saya merasakan sebuah keharusan untuk lebih melenturkan otak saya terhadap keterampilan bahasa Inggris. Saya adalah warga DUNIA, bukan Indonesia semata.

  1. Sebulan sekali saya membuat postingan di blog dalam bahasa Jawa

Bagaimanapun, saya adalah orang Jawa. Saya tumbuh dan besar di Jawa. Bahkan kata orang tua saya, jika saya mau, saya masih  berhak menyandang gelar Raden Nganten, salah satu gelar bangsawan Jawa (tapi kami – saya dan kakak adik – memilih tidak mau. Hehe). Melihat gaya bahasa Jawa tulis di buku-buku sekolah sekarang, beberapa kali saya meraasa miris. Betapa nampaknya si penulis buku sendiri tidak fasih berbahasa Jawa. Bagaimana ia menulis kata-kata yang seharusnya dengan huruf “i” tapi malah  ia tulis dengan huruf “e”. Gatal sekali saya. Menulis di blog dalam bahasa Jawa semoga bisa menjadi tantangan tersendiri untuk saya mewarnai dunia literasi bahasa Jawa.

  1. Menyelesaikan naskah buku solo di bulan Januari untuk diterbitkan oleh penerbit mayor.

Saya membidik penerbit Gramedia Group dan Republika. Salah satu penerbit besar itu sudah membuka kesediaan menerima naskah saya, meskipun keputusan terbit tidaknya menjadi perkara yang berbeda. Tidak mengapa, saya hanya wajib membuat karya sebagus mungkin dalam berbagai aspek dan menyerahkannya kepada Sang Penguasa hati, bukan?

Bicara sola penerbit, berdasar saran salah satu pimpinan redaksi penerbitan yang saya jumpai di Kuliah Umum Ibu Profesional 13 Januari kemarin, memasukkan naskah ke berbagai penerbit – termasuk penerbit miliknya. Hehe – adalah sah-sah saja. Terlebih saat saya paparkan gambaran umum buku saya, ia makin semangat memberi masukan. Amboiii, begini rasanyadiincar oleh banyak penerbit. Makin bersemangatlah saya.

  1. Menerbitkan minimal DUA buku solo di tahun 2013.

Satu tidak pernah cukup, teman. Ada banyak ide berseliweran di kepala saya setiap saat. Saya ingin laptop yang kami perjuangkan kebaradaannya ini pada akhirnya membayar dirinya sendiri. Saya PASTI bisa.

  1. Menjelajah luar Jawa atau luar negeri untuk pertama  kalinya.

KAmi selalu suka menjelajah. Backpacking. Dan Hanif mulai cukup besar untuk diajak bekerja sama menjelajah. Ia selalu suka. Kami ingin melakukannya bersama-sama dan menciptakan kepingan hidup yang berikutnya.

  1. Membantu sebanyak mungkin orang mewujudkan mimpi mereka, terutama dalam membukukan tulisan.

Alhamdulillah saya sudah mengawalinya dengan proyek membukukan tulisan anak-anak yatim piatu di panti asuhan yang berlomba-lomba menulis liburan kemarin. Bahkan ada anak kelas 1 SD yang semangat menulisnya akan membuat siapapun yang membaca tulisannya akan terharu. Proyek berikutnya tentang membukukan tulisan hasil kompetisi lomba menulis tentang disabilitas juga baru saja saya terima. Saya jadi teringat tentang ucapan saya kepada suami tentang kebahagiaan tersendiri yang saya dapat dengan membuat buku. Melihat kebahagiaan orang lain, kebanggaan orang lain, dan membukukan karya orang lain. Sungguh sebuah kebahagiaan tersendiri untuk saya.

Ah, sekali lagi, berhenti di angka tujuh. Tujuh tujuan. Semoga dimudahkan.

Sukses 2012

Kuliah offline rutin Ibu Profesional pagi ini diawali dengan sharing kisah sukses setiap peserta di tahun 2012. Ada banyak hal yang ingin saya ceritakan, namun yang terlontar adalah soal icip-icip menjadi event organizer di awal tahun dan cover designer di akhir tahun. Sesaat setelah jatah sharing saya bergeser ke mbak Neneng, yang duduk di sebelah saya, saya langsung menyesal.

Sesungguhnya, kesuksesan terbesar saya di tahun 2012 adalah bertemu dengan orang-orang hebat yang selalu memandang setiap hal baru sebagai tantangan dalam kehidupan mereka. Puncaknya adalah saat saya akhirnya berkesempatan mengikuti kuliah rutin Ibu Profesional dimana saya merasakan lejitan energy positif dalam diri saya. Semakin banyak orang hebat yang memaksa saya memandang sesuatu dengan kacamata – memang saya berkacamata – ego dewasa dan bukannya ego orang tua, apalagi kanak-kanak. Bagaimana tidak? Setiap peserta kuliah sejatinya adalah guru yang mengajarkan saya tentang banyak hal, mungkin tanpa mereka sadari.

Kesadaran itu makin mengerucut saat saya berkesempatan membantu proyek buku pertama Ibu Profesional menjelang akhir 2012 dimana saya benar-benar belajar banyak hal baru. Terlepas soal teknis dunia penerbitan buku yang menjadi pengalaman tersendiri bagi saya, saya banyak belajar tentang kekuatan apresiasi.

Saya benar-benar terharu saat mendapati fakta bahwa buku berjudul “Hei, Ini Aku: Ibu Profesional!” ini berdampak sedemikian luas. BErawal dari luapan kebahagiaan yang ditunjukkan beberapa pemenang saat mendapati namanya ada di deretan penulis yang naskahnya masuk buku. Ada Mbak Wido yang berdebar-debar menanti hingga tengah malam. Ada Mbak Neneng yang surprised banget saat kami mengangkat judul naskahnya sebagai judul besar buku. Ada Mbak Dian Farida yang tersipu-sipu saat saya mengabarkan bahwa naskahnya lolos menjadi opening story buku. Belum lagi cerita teman-teman pemenang dari luar Salatiga yang saya dengar dari Bu Septi.

Saya yakin banyak di antara mereka yang memang baru sekali itu memiliki buku dengan nama mereka terpampang sebagai penulisnya. Saya jadi teringat euphoria yang sama saat naskah saya pertama kali dibukukan dalam buku I Care #1. Bagi saya sendiri, buku ini memiliki cerita khusus yang bisa dibaca di sini.

Dampak luar biasanya tak berhenti sampai di situ, Teman. PAda acara perkenalan resmi buku tersebut ke publik pada 22 Desember lalu di Kuliah Umum Spesial Ibu Profesional, lagi-lagi saya terhenyak saat mendapati kebahagiaan yang begitu besar lantaran berhasil masuk ke dalam deretan penulis buku. Bagaimana tidak? Saya ingat benar saat saya menyambut Mbak Imelda Rosa yang masuk ke pintu masuk lobi @america dan menjabat tangan saya erat sambil tersenyum lebar. Dengan bangga beliau juga memperkenalkan keluarga besarnya – mamanya, papanya, ponakan-ponakannya, dan juga adiknya — yang turut hadir dalam acara tersebut untuk menyaksikan perhelatan akbar ibu professional. Mau tak mau, saya sungguh merasa bahagia mendapatinya. Sisi seru perkenalan buku ini bisa dibaca di sini.

Mengantarkan kebahagiaan kepada orang lain sungguh merupakan sukses terbesar untuk saya tahun 2012 ini. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat orang-orang bahagia karena telah menapaki tahapan baru dalam kehidupan mereka. Tahapan yang serasa hanya mimpi, namun akhirnya menjadi kenyataan. Untuk itu, saya berterima kasih secara khusus kepada Mbak Widi yang menyeret saya ke dalam tim buku dan membuat saya belajar banyak di dalamnya. Saya juga berterima kasih secara khusus kepada Mbak Zainab yang merayu saya membuat seminar di awal tahun 2012 lalu dan membuat saya tercengang-cengang dengan sisi lain ummahat yang ternyata sungguh luarrrr biasa!

Selepas kuliah pagi inipun, saya mendapati sms masuk dari salah satu customer saya yang menyatakan apresiasinya atas tulisan-tulisan di buku tersebut. Rupanya, beliau mendapat hadiah buku tersebut baru-baru ini dan langsung melahap habis isinya. Alhamdulillah.

Dan malam ini,  saya mendapati resolusi terkini dari salah satu penulis buku antologi tersebut via status Facebooknya. Bahwa ia akan menulis minimal sepekan dua tulisan di blog pribadinya setelah beberapa lama aktivitas tersebut berhenti lantaran pembajakan blog oleh hacker. Lagi-lagi saya terhenyak sambil menahan nafas membaca status penuh tekad yang dituliskannya. Dalam blog tersebut ia menuliskan bahwa salah satu motivasi terbesarnya adalah apresiasi yang kami berikan kepada seluruh penulis yang naskahnya berhasil masuk ke dalam buku berupa piagam penghargaan. Saya merinding sendiri menyadari kenyataan betapa besarnya pengaruh apresiasi dan berbagi energy positif, tanpa bisa kita kendalikan. Semua orang menjadi bergerak, bergerak, dan bergerak. Welcome back to blogsphere, Pak Seno! Keep on writing and youll find a paradise! ^^