Tak Sekadar Menjumput Saat Operasi Semut

 

We are not dealing with garbage,we are dealing with lifestyle

~Makalah Prof Enri Damanhuri (Institut Teknologi Bandung)
dalam Focus Group Discussion (FGD)  Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian,
 Jakarta 22 Juni 2009

 

Agustus 2015. Geram rasanya melihat sampah bertebaran di Salatiga Expo September 2015 lalu. Kunjungan edukasi bersama anak-anak yang terimaji menyenangkan, terusik dengan kenyataan akan tebaran sampah, terutama di dengan stand makanan. Padahal, tempat sampah di Lapangan Pancasila juga tak sedikit. Tapi entah kenapa, sampah yang ada di luar tempat sampah, lebih tak sedikit.

 

Mirisnya, sampah-sampah itu adalah hasil karya banyak orang yang tak pandang bulu usia, seragam, maupun asalnya. Berapa kali saja kami mendapati pengunjung yang enteeeng sekali membuang sampah kemasan (makanan, terutama) tak jauh dari ia berdiri, tak jauh dari ia duduk. Ada juga sih yang pelan-pelan, sembunyi-sembunyi, sungkan-sungkan. Tapi intinya sama, membuang sampah bukan di tempat sampah.

 

September 2015. Lebih baik menyalakan lilin, daripada merutuki kegelapan. Prinsip itu adalah salah satu yang saya pegang teguh. Begitupun soal sampah bertebaran yang bagi saya begitu mengganggu pandangan mata. Yang jadi kabar baik, saya tak sendirian merasakannya. Maka, tercetuslah ide tentang Operasi Semut.

 

Apa itu Operasi Semut?

 

Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang selalu muncul saat kami menyebut istilah itu. Dan memang tidak berlebihan karena sulit membayangkan hubungan kata operasi dan semut bukan? Haha.

 

Bukan, kami bukan mengoperasi semut. Kami justru seolah menjadi semut yang beroperasi. Ya, operasi semut berfilosofi pada gotong royong bangsa semut dalam menyelesaikan tantangan kehidupan mereka. Kami ingin terjun langsung menunjukkan bahwa sampah harusnya terletak di tempat sampah. Bukan di jalanan, di selokan, bukan pula di sela-sela taman. Setidaknya, kami ingin menunjukkan kepada anak-anak kami sendiri tentang salah satu kebaikan paling sederhana yang sangat mungkin ia lakukan sejak usia dini.
1

Sejak usia berapa bisa mengajak anak untuk Operasi Semut? Jawabannya adalah sejak anak bisa diajak keluar dari rumahnya.

 

Anak-anak adalah konsentrasi kami. Anak-anak yang diamanahkan kepada kami untuk kami didik dengan sepenuh hati. Dan kami percaya, tak ada pendidikan yang paling mengena selain teladan dari kami sendiri. Itulah mengapa, dalam Operasi Semut tiap Jum’at pagi pasti ada saja anak-anak yang menyertai kami. Dan itulah mengapa, Operasi Semut tak sekadar gerakan memungut sampah. Ada jiwa-jiwa pembelajar berupa anak-anak kami yang mengamati setiap gerak gerik kami — orang tuanya — dan menyalinnya tanpa cela dalam keseharian kanak-kanak mereka.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Bola salju mulai meluncur bi idznillah. Setiap pekan kami mencoba konsisten melakukan Operasi Semut di alun-alun kota Salatiga. Kami menyebut diri dengan istilah Pasukan Semut. Kami berkeliling lapangan yang menjadi jantung kota Salatiga ini sambil membawa kantong kresek besar, mulai memunguti sampah yang bertebaran, diikuti anak-anak kami yang dengan ria mengikuti gerakan kami sambil berlarian.Lupakan dulu soal mengurangi produksi sampah dengan meminimalkan penggunaan plastik. Membuang sampah pada tempatnyalah yang masih menjadi prioritas gerakan Operasi Semut sampai saat ini.

 

Sesi “menyemut” sekitar satu jam ini diawali dengan yel-yel khas Pasukan Semut dan diakhiri dengan menimbang perolehan sampah hari itu, diskusi ringan seputar persampahan dan lingkungan sambil menikmati bekal penganan yang kami bawa sendiri, dan tentu saja yel-yel Pasukan Semut. Meskipun kadang kami yang tua-tua ini menebalkan muka untuk percaya diri mengumandangkan yel-yel Operasi Semut, bisa dipastikan anak-anaklah yang paling bersemangat dalam sesi yel-yel ini. Haha.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Apakah relawan Operasi Semut banyak?

 

Alhamdulillah, tidak. Haha. Tak jarang hanya seorang diri ralawan kami beroperasi semut sambil menggendong si bungsu. Bisa jadi karena di tahun pertama Operasi Semut ini kami memilih hari Jumat untuk beroperasi.Namun, baik sendirian maupun berbanyak teman, kami mencoba terus bergerak karena ada anak-anak kami yang tak membutuhkan orang lain untuk dijadikan teladan, selain diri kami sendiri.

 

Soal hari Jumat ini, pertimbangan edukasi ke anak-anak sekolah maupun staf berbagai instansi yang menggunakan Lapangan Pancasila sebagai arena olah raga di Jumat pagi menjadi alasannya. Sedikit-sedikit, kami ingin mengkampanyekan buang sampah di tempat sampah dengan kami melakukannya langsung bersama anak-anak di depan para pengguna Lapangan Pancasila. Rasa heran mereka — yang pasti muncul saat melihat ibu-ibu tanpa tampilan pemulung bersama anak kecil yang berlarian memunguti segala macam sampah anorganik — adalah pintu masuk kami untuk memberikan sedikit edukasi.

 

Dengan sangat hormat, kami memang bukan pemulung. Satu dua pemulung yang berpapasan saat kami Operasi Semut juga memandang penuh ekspresi, “Wah, saingan baru nih.. tapi kok tampilannya beda sama gue?” Kurang lebih begitulah arti mimik muka mereka yang coba kami terjemahkan. Belakangan, mereka justru menganggap kami rekan kerja karena kami tidak mengancam eksistensi mereka. Satu hal yang pasti, Operasi Semut justru mengajarkan kami semakin mengapresiasi profesi pemulung yang ternyata jauh lebih mulia karena ia rela dipandang hina dengan mengambil sampah daripada profesi lain yang terlihat mulia tapi membuang sampah sembarangan. Itu yang kami tekankan pula kepada anak-anak kami saat menyemut bersama.
16

Selalu ada hal baru yang menarik kami jumpai saat Operasi Semut

 

Akhir Agustus 2016. Pengalaman tahun pertama menjalani Operasi Semut menjadi pijakan kami di tahun kedua untuk melibatkan lebih banyak relawan dengan digesernya Operasi Semut ke hari Sabtu pagi mulai September 2016. Kami memandang Operasi Semut sudah selayaknya menjadi alternatif kegiatan akhir pekan keluarga yang memiliki fungsi ganda, yaitu rekreasi dan edukasi.
17

Para relawan Operasi Semut dan skema ide terbentuknya Operasi Semut

 

Operasi Semut pada dasarnya adalah sebentuk lilin yang coba kami nyalakan di tengah gelapnya keacuhan masyarakat tentang menempatkan sampah di tempat sampah. Kami tidak menyebut Operasi Semut sebagai inovasi daerah Salatiga karena sebenarnya siapapun sangat bisa melakukannya. Sangat bisa. Siapapun sangat bisa menyalakan lilin ini dan menjaga apinya tetap berpendar dari hari ke hari. Ini terbukti dengan antusiasme netizen Salatiga yang mendukung Operasi Semut saat kami mencoba teratur bertutur tentang Operasi Semut di grup nongkrongnya warga Salatiga di Facebook. Tinggal soal komitmenlah yang akan menjadikan lilin yang dimiliki setiap orang ini akan menyala atau tidak. Pasukan Semut memilih untuk menyalakan dan menjaga pendarnya sampai saat ini.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Dukungan dari luar kota Salatiga juga turut membesarkan semangat kami untuk terus menyemut meski jumlah relawan pasang surut. Kabar kawan yang bercerita bahwa satu dua kota di luar Salatiga mulai bergerak menyemut pun membuat kami yakin bahwa masih buanyak sekali yang peduli bahwa gaya hidup membuang sampah pada tempatnya sangat bisa untuk dibudayakan sejak dini dengan kemasan yang lebih menyenangkan. Maka sungguh tepat kutipan yang dicatat benar oleh Prof. Enri. Kita tidak sedang berurusan dengan sampah (semata), kita berurusan dengan gaya hidup orang banyak. Setidaknya, semoga Operasi Semut bisa menjadi secercah lilin harapan untuk Indonesia yang lebih baik. Aamiin.

Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahkuhttps://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku

Nice Home Work #8

Pasir waktu matrikulasi tinggal tersisa sedikit. Hari ini sudah masuk ke tugas ke -8. Entah jika di depan ada tugas 9.1 sampai 9.10. Hahaha

Kali ini temanya tentang.. agent of change. Jadi ingat jaman kuliah. Mahasiswa adalah agent of change. Dan ternyata saat jadi mahasiswa matrikulasi kali ini, muncul juga tema itu. Mahasiswa adalah agent of change. Hahaha *lagi

BUNDA sebagai AGEN PERUBAHAN

Bunda, kalau sudah menemukan passion (ketertarikan minat ) ada di ranah mana, mulailah lihat isu sosial di sekitar anda, maka belajar untuk membuat solusi terbaik di keluarga dan masyarakat.

Rumus yang kita pakai :
PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE

Social venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan.

Sehingga bunda bisa membuat perubahan di masyarakat diawali dari rasa emphaty, membuat sebuah usaha yang berkelanjutan diawali dengan menemukan passion dan menjadi orang yang merdeka menentukan nasib hidupnya sendiri.

Hal ini akan membuat kita bisa meneyelesaikan permasalahan sosial di sekitar kita dengan kemampuan enterpreneur yang kita miliki. Sehingga untuk melakukan perubahan tidak perlu menunggu dana dari luar, tapi cukup tekad kuat dari dalam.

Maaf ya banyak tertawa, sedang dapat bonus waktu karena bisa mengerjakan tugas di sela para bocil main air. Tapi mohon dimaafkan kalau ngetiknya juga wussss :p

Untuk menjawab NHW#8 ini saya akan mengangkat salah satu proyek sosial saya yang saya lakukan bersama teman-teman yang terhitung langka. Apakah itu? Mari menyimak aplikasi rumus tersebut dalam gambar berikut:

nhw 8.1

Mengapa operasi semut merupakan simpulan dari kolom-kolom di sebelah kirinya? Begini ceritanya…Mengutip dari informasi yang sudah saya sampaikan di facebook.

Berawal dari keprihatinan atas ringannya tangan2 terpelajar utk membuang sampah sembarangan saat Salatiga Expo 2015. Berlanjut dari keinginan mengajak si kecil untuk belajar peduli dengan sampah sejak dini. Bersambut dukungan dari kawan2 dari berbagai kalangan. Jadilah Operasi Semut.

Belajar pada semangat kerja sama bangsa semut, yang dengan bergotong royong menaklukkan tantangan besar kehidupan mereka. Berterima kasih atas inspirasi Kakek Hakimi Sarlan Rasyid.

Menulis masuk ke dalam isian tabel karena kekuatan tulisan untuk memperluas ide sosial ini saya rasakan memang menakjubkan bi idznillah. Setidaknya makin banyak yang tahu soal keberadaan operasi semut ini dengan perantara tulisan yang dibuat di sela-sela aktivitas membersamai ananda.

Ide ini juga bisa berdampak pada kehidupan rumah tangga dengan cara yang tidak biasa. Siapa yang tak terharu melihat ananda tertib membuang sampah di tempatnya tanpa diminta? Siapa yang tak meleleh melihat ide kreativitas bermunculan dari sesuatu yang awalnya tergolong sampah? Dan masih buanyaaaak lagi, maasya allah.. Maka, menurut pendek pendapat saya, ide ini berkorelasi dengan tugas-tugas NHW sebelumnya yang sudah saya paparkan.

Soal jumlah peserta, itu lain waktulah saya coba ceritakan. Insya allah.

 

Nice Home Work #3 Part 2

 

Hati-hati ya, teman.. 🙂

Jika engkau membuka posting ini dan berharap mendulang berbagai inspirasi, mungkin saya akan mengecewakanmu. Ada banyak hal yang terjadi sehingga membagikan detail puzzle kehidupan menjadi begitu bersifat pribadi. Dan banyak hal yang terjadi mengantar saya untuk mengambil prioritas keputusan. Namun, ada hal-hal yang tetap harus ditunaikan sampai garis akhir perjanjian.

Buatlah buku untuk masing-masing anak, ini adalah sejarah untuk mereka. Di dalam buku tersebut berisi pengamatan Bunda selama ini.
a. Apa saja keunikan yang dimiliki anak-anak?
b. Kegiatan-kegiatan apa saja yang membuat mata mereka berbinar-binar?
c. Prioritas ‘materi kehidupan apa saja” yang akan anda berikan ke masing-masing anak secara bertahap?
d. Fitrah-fitrah apa saja yang akan anda perkuat untuk anak-anak secara bertahap?
e. Dll (masing-masing keluarga bisa berbeda kebutuhannya)

Mencatat dan menganalisis anak-anak alhamdulillah sudah menjadi bagian dalam buku harian maupun laporan harian. Hubungan jarak jauh dengan si bapak menempa kami untuk harus selalu rutin melaporkan perkembangan anak-anak. Dalam bahasa yang terkadang nano-nano. Seperti gambar berikut ini misalnya.

jamu

Sekilas buku kami tentang anak-anak memang sederhana saja. Pada prinsipnya, kami membuat dua jenis buku. Buku digital dan buku manual. Kami belajar untuk menganalisis perkembangan anak-anak dengan metode ini. Buku digital yang paling efektif kami rasakan adalah melalui obrolan yang kami dokumentasikan dalam bentuk back up percakapan. Percakapan yang mengalir membahas tiap aspek perkembangan berdasar kasus yang sedang kami angkat.

Bentuk pengamatan lain kami tuangkan dalam buku manual. Biasanya saya membuatnya dalam bentuk peta pikiran maupun diagram-diagram sehingga dalam selembar kertas sudah mewakili semua aspek yang menjadi pengamatan kami.

hafalan

Demikianlah 🙂

Sains di Sekitarmu : Belajar Sains di Dapur

Jaman saya kecil dulu, kata sains memberi makna elit, rumit, dan keren luar biasa. Yang terbayang juga segara rupa alat percobaan di laboratorium. Tabung reaksi, mikroskop, palet-palet sampel, warna-warni cairan reagen, dan macam-macam begitulah.

Jaman anak saya kecil, saya bersyukur karena banyak buku anak-anak bermuatan sains yang sebenarnya sangat sederhana. Yang bahannya ada di sekitar kita. Yang alatnya juga ada di sekitar kita. Dan kita siap membuat macam-macam begitulah.

Lakukan kegiatan menyenangkan di dapur, seperti bereksperimen dengan buah lemon dan kismis, membuat penyaring air dan percobaan lainnya!

Menemukan buku dengan sinopsis semacam itu selalu menarik mata. Siapa sangka bahwa kecap bisa menyulap koin lama yang bulukan menjadi kinclong seperti digosok Bras*o (merk pengilap logam yang terkenal itu)? Bagaimana bisa?

Atau tahukah kita bahwa membuat Maringue adalah salah satu percobaan sains tentang SEL yang sangaaat luar biasa? Iya,maringue.. tahu kaan apa itu maringue? Atau ada juga yang menyembutnya Schumpie. Makin penasaran bukan?

Ada sepuluh percobaan yang hampir tak terpikirkan ada di buku ini. Dilengkapi dengan daftar istilah yang bisa jadi masih sulit dipahami anak-anak juga di bagian belakang buku ini.

Oiya, buku ini menyajikan berbagai percobaan dengan gaya inteaktif. Ada pertanyaan-pertanyaan kuis tebak cepat yang menguji ke-ilmuwan-an kita. Eh anak kita. Belum lagi ilustrasinya yang full berwarna di kertas art paper 150. Seru bangetlah buku ini.

sains

Omong-omong, menjadi ilmuwan itu mirip dengan menjadi penulis. Setidaknya, saat membaca pengantar buku ini di halaman awal.

Sediakan buku catatan kecil agar kami bisa mencatat atau menggambar hal-hal yang terjadi. Ini membuatmu seperti ilmuwan sungguhan. Kamu juga bisa memperbaiki percobaanmu.

 

Judul: Sains di Sekitarmu : Belajar Sains di Dapur
Penulis: Susan Martineau
Penerbit: CIF (2013)
Jumlah halaman: 24
Tema: Lingkunganku (Semester I)
Sentra: Sains

‪#‎ODOPfor99days‬
#day7

Kumpul Seru: Berkumpul Mendulang Ilmu

Beberapa kali inbox masuk ke saya berisi tentang pertanyaan tentang ide kegiatan untuk mengisi acara di komunitas. Kesempatan bergabung dengan komunitas kreatif di Salatiga membuat saya terbiasa dengan paparan kegiatan kreatif yang ternyata sadar tidak sadar menginspirasi saya. Jazakumullah khoiron.

Entah karena saya kerajinan cerita di medsos atau faktor yang lain, ujungnya adalah masuknya beberapa inbox yang bertanya tentang ide kegiatan maupun seluk beluk mengadakan kegiatan. Jadi, kali ini saya akan berbagi tentang  ide-ide kegiatan kelompok yang selama ini kami lakukan.

Seminar. Kegiatan ini lebih bersifat resmi dan in door, sehingga kadang membosankan untuk anak-anak. Skalanya juga biasanya besar dalam artian melibatkan banyak elemen untuk mengadakannya. Perlu modal networking yang serius sebagai modal utamanya. Alhamdulillah pernah mengadakan seminar parenting yang disambut antusias oleh para target peserta. Silakan mampir ke sini untuk ceritanya.

Saresehan. Merupakan versi santai dari seminar. Bisa lesehan sambil berbagi dan anak-anak klinteran di sekitar kita. Bisa dilakukan in door maupun out door. Komunitas ibu yang saya ikuti seringkali mengadakan acara model begini. ALhamdulillah beberapa sempat saya tuliskan di sini. Hehe

Kelas keterampilan alias workshop. Dilakukan dengan bersama-sama datang ke praktisi ilmu terapan tertentu (memasak, crafting, seni, dsb) dan praktek bareng di lokasi tersebut. Lebih ekonomis karena panitia biasanya hanya mengkoordinir transportasi, biaya bahan (jika ada) dan cindera mata untuk narasumber. Artinya, kerepotan menyiapkan alat-alat praktek bisa diminimalisir. Bisa diatur workshop untuk anak-anak atau untuk orang tua dengan memilih narasumber yang tepat. Contoh workshop yang pernah saya koordinir ada di sini dan di sini.

Play day. Main bareng. Panitia menyiapkan aneka alat permainan dan dilengkapi dengan petunjuk permainannya. Peserta tinggal datang dan main sepuasnya. Alhamdulillah kemarin sempat ikut Family Play Day seperti yang saya ceritakan di sini.

Mbolang bareng. Pergi bersama ke lokasi edutainment seperti museum, situs bersejarah,  dan lain-lainnya untuk belajar sepuasnya di lokasi.

Buanyak sekali ide yang bisa digali untuk membuat kegiatan bersama. Terlebih lagi, gugling atau bergabung ke komunitas kreatif akan membantu memberikan leih banyak ide untuk dapat menjadi inspirasi. Semoga bermanfaat yaa!

Family Play Day: Cara Baru Bersantai

Alhamdulillah tanggal 14 September 2014 jadi juga ikut Family Play Day yang dibidani Fieldtrip Krucil Salatiga-nya Institut Ibu Profesional Salatiga. Family Play Day (FPD) ini merupakan acara main sepuasnya (dan makan sepuasnya juga lho! 😀 ) antara anak dengan orang tuanya atau sesama anak peserta atau sesama orang tua peserta. Pokoknya mainnnn!

Permainan yang diusung dalam FPD kali ini mengangkat tema permainan tradisional (dan makanan tradisional). Ada permainan gobak sodor, dakon, bola bekel, seprengan, setinan, pancing ikan, gasing, ular tangga, dan halma. Soal makanan, ada kacang rebus, singkong rebus, mendut, kue ku, grontol, manisan kolang-kaling, dan lotisan. Ada juga makanan “modern” juag sih seperti risoles, arumpis, dan kroket karena banyak yang nyumbang makanan. Saking tradisionalnya, panitia juga dikasih caping! Keren, keren, kereenn…! Tapi pada prinsipnya, FPD ini merupakan mesin waktu yang melempar para orang tua ke jaman mereka (dan saya) anak-anak dulu. Semua jadi anak-anak 😀

Baca lebih lanjut

Berbagi Hari bersama Ayah Irwan Rinaldi (Bag. Akhir)

Jika kita mau merenung sejenak dan jujur pada diri sendiri, maka siapapun kita akan menyadari bahwa berapapun usia sesorang, kebutuhan yang melekat pada dirinya selalu terdiri dari dua hal. Kebutuhan jasmani dan rohani, kebutuhan fisik dan psikis, kebutuhan raga dan jiwa. Berapapun usia seseorang, kebutuhannya tak pernah terlepas dari dua hal tersebut.

Jika kita yang sudah menjadi orang tua ataupun menjadi manusia dewasa saja terus membutuhkan kedua aspek tersebut, bagaimana dengan anak-anak? Tentu, tuntutan akan kebutuhan hal tersebut jika diperhatikan justru semakin besar dan tidak bisa tidak harus dipenuhi.  Anak-anak sesungguhnya ibarat benih yang mulai bertunas tumbuh sedikit demi sedikit yang membutuhkan siraman air, pupuk , kehangatan matahari, curahan sayang, dan berbagai bekal  yang akan mengokohkan perjalannya menjadi pohon yang kokoh lagi rindang kelak.

Sayangnya, berdalih dengan banyaknya kesibukan profesi orang tua dan bertameng dengan banyaknya materi yang dihasilkan dari kesibukan tersebut, terkadang orang tua memilih melimpahi anak dengan fasilitas dan membeli ini itu untuk anak. Padahal, ada satu hal yang sangat dibutuhkan anak namun tidak pernah bisa terbeli dengan berapapun besarnya uang yang dimiliki orang tua. Ia adalah waktu.

Jurus untuk Ayah Sibuk dipilih sebagai tema sharing Kuliah Umum Ibu Profesional Salatiga pada 12 Mei 2013 lalu dengan hal-hal di atas sebagai salah satu pertimbangan. Bahwa sesibuk apapun kita, tetaplah kita adalah orang tua yang pasti ingin menjadi orangtua keren di mata anak-anak kita. Orangtua yang ingin menjadi orang pertama yang anak-anak tuju saat mereka ingin berdiskusi.  Namun terkadang, kesibukan profesi orang tua – apapun dalihnya – membuat anak “harus terima” menghabiskan waktu bersama pengasuh yang bukan orang tuanya. Dan dari merekalah anak merekam hal-hal yang seharusnya diajarkan oleh orang tuanya.

Lantas, mengapa ayah? Bukankah selama ini pengasuhan identik dengan kaum ibu?

Ternyata, studi-studi yang diselami oleh Sahabat Ayah maupun para pemerhati parenting menunjukkan bahwa karakter unggul yang ditanamkan oleh ayah, memiliki daya lekat yang luar biasa dahsyat dibandingkan dengan ibu. Kebersamaan anak-ayah yang unik dan khas, rupanya merupakan kelebihan para ayah yang masih jarang disadari. Karena itu, pembekalan ayah terkait dengan ilmu-ilmu menjadi ayah keren – professional – menjadi penting untuk dipelajari bagi siapapun yang akan atau sudah mendapat predikat “ayah”.

Ayah Irwan Rinaldi yang menjadi narasumber utama kulih umum kali ini membagikan jurus-jurus untuk tetap dekat dengan ayah, meskipun ayah memiliki aktivitas super padat di luar rumah atau bahkan harus terpisah beberapa waktu dengan keluarganya. Berikut ini di antaranya:

Ayah yang sibuk sepanjang hari seharusnya meluangkan waktu paling tidak di pagi hari untuk menjalin kedekatan dan menanamkan karakter kepada anak.

Usahakan sudah memiliki kesepakatan dengan anak tentang metode bangun pagi keesokan harinya. Anak usia 0-8 tahun, suka sekali dengan acara “dibangunkan”. Berbeda dengan anak usia 9 tahun ke atas yang lebih suka dengan acara “membangunkan”. Acara sarapan bersama juga merupakan sarana menjalin kedekatan anak dengan ayah, sehingga saying sekali jika dilewatkan. Kehadiran ayah secara fisik dan psikis yang memberikan waktu sepenuhnya  akan merupakan suntikan energi tersendiri bagi anak untuk mengawali hari-harinya.

Ayah harus hadir secara fisik dan psikologis.

Tak jarang yang terjadi adalah kehadiran ayah hanya sekadar fisiknya saja karena pikiran entah ke mana dan aktivitas yang menyertai pendampingan anak tidaklah nyambung. Ambillah contoh, berapa banyak dari kita yang secara lisan menanyakan “Ayah sayang deh sama kakak,” tapi mata dan tangan erat menekuri gadget ataupun surat kabar.

Jika kita sayang, maka datangi anak, peluk anak dengan erat, dan katakan, “Ayah sayang deh sama kakak.” Itu baru sayang yang sebenarnya. Anak akan menangkap pesan yang ayah sampaikan.

Ayah yang harus berjauhan dengan keluarganya karena tuntutan tugas harus memaksimalkan kehadirannya secara psikologis.

Siapkan foto ayah dan gunakan  untuk mendampingi aktivitas membangunkan anak. Sampaikan dengan ekspresif bahwa ayah telah ikut hadir membangunkan anak. Bisa juga menggunakan memo kecil (mocil) yang dibuat ayah sejumlah hari perginya dan dibacakan satu mocil per bangun tidur. Teknologi internet juga bisa  menjadi sarana menumbuhkan kedekatan ayah dengan anak melalui fasilitas video chat, email, dan lainnya.

Ayah dan ibu haruslah memiliki kesepakatan paradigma pengasuhan.

Ini anakku, ini anakmu, ini anak kita. 0-5 tahun usia pernikahan merupakan masa-masa penguatan ikatan, dimana prinsip “aku adalah pakaianmu dan engkau adalah pakaianku” harus dipegang teguh agar kesamaan paradigm itu bisa dicapai. Mengasuh anak memerlukan ayah dan ibu yang seiring sejalan dalam visi dan misi sehingga anak mendapatkan gambaran yang utuh tentang karakter-karakter unggul yang dicontohkan langsung oleh orang tuanya.

***

Peran ayah dan orang tua pada pembentukan karakter anak usia 0-10 tahun adalah mengkonkretkan, visualkan pengarahan-pengarahan yang kita berikan. Dan penelitian menunjukkan bahwa bahasa tubuh memiliki kemampuan menyampaikan pesan lebih dahsyat daripada bahasa lisan. Dengan kehalusan perasaannya, anak dapat menangkap makna bahasa tubuh orang tuanya lho, meskipun ia masih bayi atau belum mampu berkata-kata.

Setelah memvisualkan pengarahan, maka kita haruslah menumbuhkan kebiasaan pada anak dengan memberikan pujian atas perilakunya yang sesuai dengan perilaku positif yang ia tunjukkan. Jadi, alih-alih bertanya, “Berapa nilai matematikamu hari ini?” atau “Rangking berapa kamu di kelas?” orang tua yang paham benar penanaman karakter pada anak seharusnya bertanya, “Sudahkah engkau membantu temanmu hari ini?” atau “Bagaimana sholatmu hari ini, Nak?”

Langkah-langkah di atas tentu saja tidak boleh semata berhenti pada tataran pertanyaan rutin. Orang tua haruslah memberikan keteladanan yang selaras dengan pertanyaan-pertanyaan harapan itu. Bagaimana bisa anak akan senang membantu jika orang tuanya sama sekali tidak pernah memberikan contoh  bagaimana membantu itu seharusnya.

Di situlah pentingnya kemampuan mendongeng dan bercerita kepada anak. Karakter-karakter mulia akan menancap dengan kuat ketika disampaikan dengan cara yang menarik dan ekspresif. Sekali lagi, aktivitas di pagi hari dan menjelang tidur memiliki peran penting dalam sesi dongeng-mendongen ini. Salah satu momen yang dicontohkan Ayah Irwan adalah saat sarapan pagi.

Bapak (B)     : Nak, nak.. stop.. stop!!

Anak (A)      : Ada apa, bapak?

B     : Stop, hentikan dulu makanmu, Nak!

A     : Kenapa, bapak?

B     : Bapak baru ingat, di dekat kantor Bapak, ada kakek-kakek yang suka mencari sampah.

A     : Kenapa mencari sampah, pak?

B     : Untuk dijual lagi dan uangnya untuk beli makanan, nak.

A     :  (terdiam)

B     : Nah, bagaimana kalau separuh makanan kakak dan bapak dibungkus untuk diberikan ke kakek itu?

Terlihat, si bapak telah mencontohkan bagaimana berbagi dilakukan. Penyampaian yang penuh ekspresi dan didukung dengan intonasi yang menarik akan membuat anak memusatkan perhatian pada apa yang disampaikan.

Ayah Irwan Rinaldi pada Kuliah Umum Institut Ibu Profesional Salatiga ini juga berbaik hati membagikan buku saku  secara Cuma-Cuma kepada para ayah yang hadir. Buku saku yang berjudul “Yang Harus Ayah Sibuk Lakukan di Pagi, Siang, dan Malam Hari” dan “10 Kiat Ayah Siapkan Anak Prasekolah Berpuasa” langsung ludes  dalam sekejap.

Alhamdulillah, terima kasih banyak, Ayah Irwan! Terima kasih untuk dek Za yang berbaik hati mengirim foto bukunya. Jazakumullah khoiron!

Berbagi Hari bersama Ayah Irwan Rinaldi

Gambar

Ternyata, pada kebanyakan generasi muda Indonesia yang berusia 23 tahun, perkembangan psikologisnya tak lebih dari anak berusia 11 tahun. Lantas, ke mana selisih usia 10-12 tahun itu pergi?

Kalimat itu membuka materi parenting panjang pada Kuliah Umum Institut Ibu Profesional pagi tadi, 12 Mei 2013. Sebuah pertanyaan yang membuka kesadaran setiap orang tua untuk mengambil posisi waspada. Belum lagi saat narasumber menyebut penelitian yang menyebutkan bahwa 66% remaja usia SMP di kota-kota kabupaten di Indonesia – bukan kota besar ataupun metropolis – terbukti telah melakukan pergaulan bebas dengan teman sebayanya. Angka tersebut dikoreksi menjadi 70% saat sebuah surat kabar terkemuka di Indonesia mengkaji ulang hasil penelitian sebelumnya. Gumam “na’udzubillahi min dzalik” (kami berlindung dari hal tersebut) memenuhi aula School of Life Lebah Putih. Posisi para orang tua sudah bukan lagi waspada, namun berubah menjadi siaga. Siaga Satu, bahkan.

Mengapa?

Usut punya usut, saat para ahli melakukan penelitian lebih jauh tentang akar masalah semua itu, didapat dua masalah besar yang menganga dalam keseharian manusia. Bukanlah kondisi ekonomi, bukanlah kondisi politik, bukanlah kondisi pertahanan keamanan yang menjadikan semua itu bermunculan. Ternyata akar masalah yang sesungguhnya adalah pada pendidikan dan pengasuhan yang tidak terpenuhi dengan semestinya.

Gambar

Saat pendidikan hanya berpatokan pada fasilitas gedung dan sarana prasarana yang lengkap, saat pendidikan tidak diselimuti dengan pengasuhan dari para guru yang memang berdedikasi tinggi memberikan contoh dan paham benar di luar kepala tahapan perkembangan anak berdasar usianya, maka sejatinya seorang anak hanya akan tumbuh fisiknya dan bukan jiwanya. Lebih jauh lagi, sekolah dan guru pada dasarnya adalah perpanjangan tangan kedua orang tua seorang anak. Saat orang tua menyerahkan pendidikan dan pengasuhan semata-mata pada pihak sekolah, maka lubang yang dalam itu sejatinya sedang digali sendiri. Anak punya orang tua, tapi sesungguhnya ia “tidak punya” orang tua.

Saat berbicara orang tua, haruslah terdiri dari ayah dan ibu. Saat berbicara pendidikan dan pengasuhan anak, haruslah terdiri dari ayah dan ibu. Tapiiii, menjadi hal jamak di keseharian kita, pendidikan dan pengasuhan anak seolah hanya ditugaskan kepada ibu. Ayah hanya bertugas mencari nafkah sebanyak mungkin. Padahal, dalam banyak aspek pembentukan karakter anak, seorang anak banyak sekali menyerapnya dari seorang ayah. Secara alamiah, anak memiliki kecondongan yang besar mendekat kepada ayah untuk mempelajari tantangan-tantangan dalam kesehariannya. Sementara, kenyataan seringkali berkata lain.

Contoh paling sederhana, dari 700an ayah yang diteliti oleh Sahabat Ayah – komunitas yang dirintis oleh narasumber – hanya 10 orang yang bisa mendongeng dengan baik kepada anaknya. SEPULUH ayah dari 700 ayah. Padahal, dampak luar biasa aktivitas mendongeng bagi perkembangan karakter anak, terutama pada usia 0-15 tahun, sudah teruji positif dalam berbagai literature parenting. Belum lagi penelitian-penelitian tentang uji keterampilan seorang ayah dalam hal pendidikan dan pengasuhan anak yang lainnya. Kesimpulan besarnya adalah, cita-cita memiliki putra-putri yang berkualitas unggul ternyata belum diiringi dengan keterampilan berkualitas unggul sebagai orang tua. Sebagaimana banyak sekali ibu yang kebingungan menjadi “ibu”, ternyata buanyak sekali ayah yang sama kebingungannya menjadi “ayah”. Itulah yang kemudian menciptakan “anak-anak bingung” dan salah satunya ditandai dengan kesenjangan usia fisik dan usia psikologis. Na’udzubillahi min dzalik.

***Gambar

Rasanya sungguh sangat bersyukur bahwa sekali lagi ketetapan hati memperjuangkan cita-cita memberikan buah yang begitu manis terasa. Kehadiran narasumber Kuliah Umum bulan Mei 2013 Institut Ibu Profesional Salatiga, Ayah Irwan Rinaldi, telah memberikan banyak inspirasi bagi banyak orang yang berjumpa dengannya. Setidaknya, beliau telah berkenan menjadi mentor Komunitas Ayah Profesional yang mulai dirintis oleh Ibu Septi . Juga, tidak sedikit ayah yang hadir pada kuliah umum tersebut terlibat diskusi seru dengan beliau selepas acara dan ingin menindaklanjuti kuliah umum tersebut di komunitas masing-masing. Grow up, grow up, and grow up!

Secara khusus, saya berterima kasih kepada tim sukses acara ini yang sungguh luar biasa. Ibu Yully Purwanti dari Sahabat Ayah yang selalu sabar melayani korespondensi saya. Mbak Dewi dan Pak Darma yang berbaik hati menjemput Ayah Irwan dari bandara A. Yani dan mengantar ke tempat Ayah Irwan bermalam. Bu Septi dan keluarga yang bermurah hati menyediakan tempat bermalam Ayah Irwan dan menjadi moderator webinar 10 Kiat Mengenalkan Fungsi Uang pada Anak bersama Ayah Irwan (materi webinar bisa diunduh di sini: WEBMINAR SALATIGA). Pak Novianto yang berbaik hati mendampingi Ayah Irwan hingga penerbangan ke Jakarta terkejar dengan sukses di sela-sela macetnya jalan raya Solo Semarang. Pak Dadang dari Jarimatika Salatiga yang berbaik hati menjemput Ayah Irwan dari penginapan menuju School of Life Lebah Putih meskipun sedang akan berangkat ke Madiun.

Gambar

Tak lupa, terima kasih juga kepada kakak-kakak di School of Life Lebah Putih Salatiga yang telah menyediakan tempat dan fasilitas pendukung. Dan yang paling keren, tentu saja teman-teman panitia kuliah umum: Mbak Umi (PJ), Mbak Imah (Receptionist), Mbak Zul (MC), Bu Aisyah dan Mbak Ula (Potluck), Mbak Nunuk (Paparazzi), dan Mbak Luluk (Clean Up). Semangat kalian luarrrrr biasa!

Oiya, Kuliah umum kali ini dimeriahkan dengan bazaar juga lho. Ada Habib Edutoys dengan berbagai mainan edukatif dari kreasi flannel. Ada juga Yoghurt Memory 84 dengan yoghurt dan berbagai olahan yoghurt-nya. Sedaaaap!! Terima kasih banyak atas partisipasinya yaa.. Kuliah umum jadi tambah seruuu!!

Gambar

Wisata Bernama Perpustakaan Kota

Gedung baru perpustakaan kota Salatiga adalah salah satu tujuan wisata edukasi yang layak direkomendasikan. Berlokasi di Jalan Adi Sucipto, bersebelahan dengan kantor Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga, dan berada di jantung lokasi edukasi salatiga. Bagaimana tidak? SD, SMP, dan SMU banyak yang berada di sekitar lokasi itu. Belum lagi perkantoran dan pusat pemerintahan Salatiga. Strategis.

Gedung berlantai 3 itu dibangun dengan bentuk unik. Kayak masjid, kata Hanif. Ada halaman parkir luas dan air mancur — yang sesekali dinyalakan — sebagai tambahan daya tarik untuk anak-anak usia balita. Hanif adalah salah satu anak yang sangat terpikat dengan situs ini. Jadilah, dua hari sekali kami mengunjungi perpustakaan. Sambil pinjam buku, tentu.

Hanif belajar tentang aturan main berkunjung ke perpustakaan. Lebih memilih menaiki lantai dua lewat jalan miring untuk pengunjung berkebutuhan khusus, Hanif belajar mendaki di jalan curam tersebut. Agal terlalu curam sebenarnya. Apalagi jika diperuntukkan kepada pengunjung berkebutuhan khusus. Tapi Hanif tidak kenal istilah curam. Yang ada adalah senang. Hahaha

gedung

Masuk ke gedung utama, Hanif akan memilih loker berkunci yang masih kosong. Meski semua loker awalnya berkunci, beberapa loker sudah kehilangan kunci dan bahkan pegangannya copot. Haduh.

“Bu Niken, ini.. kosong!!”  jika tangan mungilnya sampai, maka ia akan membuka tas ransel Stawberry-nya  dan berbaik hati meletakkannya ke dalam loker. Topinya tak ketinggalan.

“Oke,” saya akan mengikuti jejaknya.

“Dikunci, Bu Niken!” Hanif mengingatkan. Alhamdulillah Hanif mulai paham bahwa adanya loker berkunci itu bukannya tanpa tujuan. Ia tak terpengaruh dengan banyaknya loker berisi barang yang dibiarkan penggunanya terbuka tanpa dikunci.

“Oke,” saya akan mengikuti instruksinya.

“Kuncinya masuk ke dompet, Bu Niken!” (sekali lagi) saya akan mengikuti petunjuknya. Hehe

Beres dari urusan loker, kami akan “check-in” di meja pengembalian buku. Jika pun tidak ada buku yang kami kembalikan, kami akan masuk ke bagian menarik berikutnya: pintu putar.

pintu (1)

Pintu putar perpustakaan yang disebut turnstile ini merupakan tahapan seru untuk Hanif. Ia akan asyik mendengar bunyi klik dan menikmati putarannya tiap kali ia melewatinya. Terkadang bahkan ia suka iseng keluar masuk pintu itu dan menikmati sensasinya. Hihihi

Tak berlama-lama dengan pintu putar, kami akan naik ke lantai dua yang di sepanjang tangganya dihiasi foto-foto Salatiga tempo doeloe. Yang jadi favoritnya Hanif adalah foto andong yang berderet-deret di depan bioskop lama Salatiga. Sebenarnya, ia fokus ke gambar andong alias kereta kudanya sih.. Tak peduli itu settingnya Salatiga jaman sekarang atau tempo doeloe. Hehehe. Tapi, saya tidak mau melewatkan kesempatan begitu saja. Momen Hanif mengagumi gambar kuda itu saya gunakan untuk menceritakan sejarah Salatiga berdasarkan keterangan foto yang ada. Sambil menyelam minum air. Hehe

Lantai dua penuh berisi buku. Saya akan membebaskan Hanif hinggap di rak manapun yang ia suka. Terkadang bahkan ia duduk manis di meja komputer tempat mencari koleksi secara cepat. What a me timeeee. Saya pun tersenyum lebar setiap kali di perpustakaan.

Gambar diolah dengan cropmom.com dan Photoshop (nikentfalimah.wordpress.com)

Setelah puas di lantai dua, Hanif pun belajar tata cara meminjam buku. Antri sudah pasti. Saat ada pengunjung yang menyerobot antrian, Hanif seringkali bilang dengan suara mungilnya,”Antli dulu!”. Memang perpustakaan ini belum dilengkapi jalur antrian yang pasti akan sangat berguna jika sedang ramai. Namun, tetap saja, karakter tertib mengantri memang harus dimiliki oleh setiap pengunjung dengan atau tanpa jalur antrian.

Adegan scanning barcode buku dan pengecapan tanggal kembali di kartu buku juga merupakan adegan menarik untuk Hanif. Biasanya, ia akan minta didudukkan di meja sebelah komputer peminjaman dan mengamati proses buku pinjamannya. Tinggi badannya belum cukup tinggi untuk berdiri mengamati. Hee.

Beres dengan aturan main peminjaman, kami akan kembali ke loker tas dan Hanif akan mencari angka yang sama dengan kunci yang ia pegang. Seru sekali melihat Hanif mengurutkan dan mencari bentuk yang sama dengan angka di kunci. Sejauh ini ia sering berhasil menemukan yang sama. Alhamdulillah.

Adegan turun lewat jalan miring dan melihat air mancur pun diputar kembali.

***

Beruntungnya kami tinggal di Salatiga. Kota kecil yang selalu memberi banyak cerita. Rupanya, perpustakaanpun sangat menyenangkan menjadi tujuan wisata. Dan semoga perlahan menumbuhkan bibit-bibit muda yang semangat bergelora mencintai membaca. Aamiin

Sampah: Amunisi Harus Ditambah

Efek dari pengenalan sungai yang saya lakukan ke Hanif beberapa bulan lalu sungguh luar biasa. Salah satunya adalah kesadaran lingkungan Hanif yang makin tinggi, terutama soal sampah. Oiya, insya Allah cerita tentang sungai akan saya tulis kemudian.

Ya, soal sampah ini membuat saya harus menambah amunisi setiap kali bepergian. Amunisi bernama kantong plastik dan tisu basah. Hehe

h1

Gambar diolah dengan cropmom.com dan Photoshop (nikentfalimah.wordpress.com)

Hanif sangat peka terhadap sampah. Matanya yang awas akan melihat kilauan sampah di setiap sudut perjalanannya. Bungkus permen yang kecil sekalipun. Dan dialog baku a la Hanif pun mulai dimainkan.

“Bu Niken, ada sampah!”

“Mana?”

“Itu! Ayo kita ambil, Bu Niken!” Terkadang saya yang harus mengambil, tapi seringkali Hanif yang riang gembira memunguti sampah yang ia lihat. Seperti menemukan harta karun. Hehe

“Kok buang sampah di jalan ya, Bu Niken?”

“Iya.. Kok buang sampah di jalan ya, Nak?”

“Jalannya kan jadi kotor ya, Bu Niken?”

“Iya, Nak.. Sampah harusnya dibuang ke mana?”

“Tempat sampah!! Mana tempat sampah, Bu Niken?”

“Ayo kita cari!” Kami pun sibuk mengedarkan pandangan di sekitar TKP untuk mencari tempat sampah. Seringkali kami beruntung karena langsung mendapatkannya. Namun jika tidak….

“Bu Niken, tidak ada tempat sampah!”

“Iya, ya.. Kita belum beruntung” Hanif akan menatap saya dengan ekspresi sedih karena tidak berhasil menemukan tempat sampah.

“Bu Niken bawa plastik?” Ia seolah mendapat ide. Padahal kalimat itu adalah hasil pembelajaran sebelumnya saat kami tidak berhasil menemukan tempat sampah dan kebetulan saya sedang membawa plastik. Jadilah saya menawarkan plastik sebagai alternatif tempat sampah untuk temuan Hanif sampai dengan tempat sampah yang sesungguhnya ditemukan. Untunglah, saat kejadian itu Hanif setuju. Nah, di lain kesempatan, ia akan langsung bertanya kepada saya setiap kali kali tidak berhasil menemukan tempat sampah.

“Ah, yaa! Coba Ibu Niken lihat tas ya,” saya memerankan adegan itu dengan baik. Sudah hafal luar kepala soalnya. Hehe. Saya membuka tas dan mengambil kantong plastik yang wajib ada di dalamnya.

“Ini diaaa!!!”

“Waaa.. ayo dimasukkan ke plastik, Bu Niken!”

“Sini.. sini..!” Hanif memasukkan sampah hasil “investigasi”nya dan tersenyum lebar khas Hanif. Lalu ia akan mengacungkan tangannya untuk meminta tissue basah untuk membersihkan tangannya.

Masya Allah.. Baarokallahu fiik, Hanif!

***

Sedikit catatan, saya seringkali malu kepada Hanif kalau bicara soal sampah ini. Saat kami berjalan-jalan, tak jarang kami mendapati orang dewasa, remaja, dan anak-anak yang dengan entengnya membuang sampah di kolong jok angkot, jalan, sungai, atau ke manapun selain tempat sampah. Dan Hanif dengan polosnya akan bertanya, “Kok buang sampah di jalan (atau sungai,atau angkot, atau manapun itu selain tempat sampah), Bu Niken?”

Jika memungkinkan, saya akan melempar pertanyaan tersebut kepada si pelaku buang sampah. Biasanya kami justru mendapati pandangan heran dari mereka, seolah-olah buang sampah di tempat sampah atau menyimpan sejenak sampah sampai ditemukan tempat sampah terdekat adalah hal yang aneh. Hallooo… ke mana saja pelajaran yang didapat di sekolah yang sudah dibayar mahal itu, saudaraku?

Yang saya lakukan kemudian adalah memungut sendiri sampah tersebut dan menyimpannya di kantong plastik amunisi saya. Bukan karena saya berbaik hati kepada si pelaku, tapi lebih karena saya sedang dalam masa mendidik Hanif. Saya malu saat mendapati masyarakat sangat tidak dapat diandalkan sebagai contoh dan pendukung perilaku yang baik, sementara mereka (mungkin) tahu bahwa anak-anak selalu merekam apa yang ia lihat, ia dengar, dan ia rasakan. Termasuk soal sampah.