Nice Home Work #2

Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah.
Bahwa hidup harus dimengerti, pengertian yang benar.
Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus
~Tere Liye, Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Mereka dipertemukan dalam indahnya dunia tulisan dan kemiripan. Saat mereka dipersatukan, mereka berkata serasa berjumpa karib lama yang pulang dari perjalanan. Dan saling meninggalkan tulisan adalah salah satu keriangan yang selalu menjadi pilihan.

Mereka saling jatuh hati semakin hari. Pasang surut perjalanan mereka maknai dengan kalapangan hati. Bahwa perjalanan ini bukan sekadar suka hati, namun juga soal penerimaan diri. Itulah mengapa, kejutan surat cinta menjadi sebuah bumbu wajib tersendiri. Karena ia selalu membesarkan hati, menguatkan diri, dan mendekatkan emosi.

Beratus kali kejutan itu diberi, beratus kali pula mata menjadi berseri. Sesekali sanjungan sepenuh hati tertimpal sipuan ah sudahlah jangan merayu begini. Tapi mereka sungguh selalu menikmati momentum semacam ini. Berkali-kali, ia yang menyemarakkan hari. Semoga mereka selalu diberkahi.

***

Bunda, setelah semalam kita belajar tentang “membangun peradaban dari dalam rumah” maka pekan ini kita akan belajar mempraktekkannya satu persatu.

a. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki “alasan kuat” bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda.

Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami

b.Lihatlah anak-anak anda, tuliskan kekuatan potensi dari mereka, siasati kelemahan masing2.

c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, memgapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.

d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? kearifan lokal apa yg anda lihat? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

e. Setelah menjawab pertanyaan a-d, sekarang belajarlah memahami apa sebenarnya “peran spesifik keluarga” anda di muka bumi ini.

Pertanyaan pertama mengingatkan saya pada sebuah nasehat : apakah suami mengijinkan responnya disampaikan ke khalayak?

Pertanyaan:
Sudah umum pada sebagian wanita, menyebarkan cerita-cerita rumah tangga dan kehidupan mereka dengan para suami mereka, kepada para kerabat dan teman-teman mereka. Sebagian dari cerita tersebut merupakan rahasia rumah tangga yang suami tidak ingin ada seorang pun mengetahuinya. Bagaimanakah hukum untuk para wantia yang menyebarkan rahasia-rahasia tersebut dan mengeluarkan rahasia dari rumahnya, atau hanya memberitahukannya kepada beberapa individiu di rumah tersebut?

Jawaban:
Sesungguhnya yang dilakukan beberapa wanita dengan memberitahukan cerita-cerita rumah tangga dan kehidupan suami-istri kepada para kerabat atau sahabat, adalah sesuatu yang haram. Tidak halal bagi seorang perempuan untuk menyebarkan rahasia rumah tangganya atau kondisinya bersama suaminya kepada seorang pun. Allah Subhanahu wa Ta’alabefirman,

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللهُ

Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (An-Nisa: 34)

Seburuk-buruk kedudukan manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mengumpuli istrinya dan istrinya pun mengumpulinya, kemudian dia menyebarkan rahasia istrinya.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

Dijawab oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Usaimin, Fatawa Islamiyyah.

Sumber: Setiap Problem Suami-Istri Ada Solusinya, Solusi atas 500 Problem Istri dan 300 Problem Suami oleh Sekelompok Ulama: Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, Syaikh bin Baz, Syaikh Muhammad bin Ibrahim, Syaikh Abdullah bin Utsaimin, Syaikh Abdullah bin Jibrin dll, Mitra Pustaka, 2008.

Sumber copas: di sini

Pertanyaan pertama. Done. Saya sudah melihat respon suami.

Pertanyaan kedua.
Hanif (5,5, tahun) sepengamatan saya diberi amanah kelebihan:
1. Word smart: mudah berkata-kata dan mengolah kata
2. Hafalan cepat
3. Suka buku dan membaca
4. Memiliki kemandirian dasar yang baik

Hal-hal yang menjadi amanah orang tuanya untuk mensiasati adalah:
1. Kecerdasan finansial
– Kami mensiasatinya dengan memberikan batas maksimal pengeluarannya per hari. Hal ini untuk meredam keinginannya untuk ikut tren membeli snack berhadiah tertentu yang membuat anak-anak hobi menyambangi warung di dekat rumah.
– Kami juga membuat tabungan khusus untuk permintaan yang secara nominal termasuk besar.
– Kami melibatkan Hanif dalam mengetahui dana keluarga yang kami letakkan di dompet.

2. Kemampuan bekerja sama
– Terkadang, kemampuannya bekerja sama sangat moody. Kesabaran kami sepertinya masih harus digembleng agar ia makin matang dalam hal ini.

Hisyam (22 bulan) sepengamatan kami diberi amanah kelebihan:
1. Teliti dan runtut
2. Berkemauan keras

Hal-hal yang menjadi amanah orang tuanya untuk mensiasati adalah:
1. Kadar rasa aman dan nyaman Hisyam
– Mengenalkan dengan sebanyak mungkin orang, mengajaknya dalam sebanyak mungkin suasana, dan menguatkan komunikasinya.
2. Keragaman asupan makanan sehari-hari untuk meningkatkan berat badannya
– riset, riset, dan riset.

Pertanyaan ketiga. Saya sangat paham potensi saya alhamdulillah. Dan saya sangat paham kenapa takaran yang saya terima adalah sekian insya allah. Saya menggunakan metode Abah Rama untuk mengenali lebih dalam tentang diri saya. ALhamdulillah sedikit banyak memang membantu. Bisa dilihat ulasannya di sini.

Pertanyaan keempat. yap, saya sangat paham alhamdulillah.

Pertanyaan kelima. Baik, saya sedang belajar memahami dan menerima peran spesifik kami di kehidupan kali ini. Bismillah.

**
Jika dicermati, Nice Homework #2 ini hanya meminta peserta menuliskan:
1. Surat cinta untuk suami
2. Kekuatan potensi anak-anak kita

Adapun tugas nomor 3,4, dan 5 peserta diminta untuk merenung, berpikir, dan belajar memahami. Demikianlah, saya mengumpulkannya dengan gembira 😀

 

 

 

 

 

Ibu Insinyur

Customer dapur bu niken yg satu ini memang spesial. Di usianya yg hampir 19 bulan, kami masih berjuang mencari sesuatu yg bisa mengenyangkan perutnya setiap hari.

Bubur saring? Bweeeh…

Bubur instan? Brrrrr…

Finger food? Cip.. cip.. cip.. bweeeh…

Ohlalaaa…

###

Di usianya yang setahun lewat, sempat berkenalan dengan biskuit mpasi depkes. Si ibu malah baru tahu ada makanan begituan. Dibagikan di posyandu, katanya.

Tante Sindu Atmalia pertama kali mengenalkan gara2 jatahnya tak termakan. Alhamdulillah suka.. mulailah berburu biskuit itu. Mbak Nisa Bunda Kaana berbaik hati berbagi biskuit yg sama.

Stok tak berusia lama. Mencoba memberanikan diri ke puskesmas dan minta, demi kelanjutan makan si bungsu yg dicinta.

“Wah, nama anak ibu tidak terdaftar. Mengajukan dulu ya ke posyandunya”

Ohlalaa.. baiklah, baiklah.. aturan tetap aturan. Front liner hanya menjalankan mandat.

Datanglah ke posyandu.

“Yang diajukan adl yang dari keluarga kurang mampu, bu”

Ohlalaaaaaa…

***

Sepulang dari liburan akhir semester lalu, alhamdulillah semangat “makan”nya mulai tumbuh. Namun, masih blm nendang utk anak seusianya.. gali lagi. Nge-lab lagi..

Nemu resep eyang prof di buku imunisasi si sulung. Bismillah..

Melihat si bungsu ini mangap mangap minta lagi dan lagi ituuu… rasanya lebih luar biasa dibanding pemberitahuan dapat gaji ke-13 T.T

***

“Kalau di perusahaanku dulu, ada namanya supply dasar yg harus terpenuhi. Ini.. yang tak arsir. Biasanya kami pakai pembangkit yang beroperasi non stop. Yg paling murah ya PLTA.

1

“Setelah supply dasar aman, baru kami gunakan sumber energi yg fluktuatif krn kita ga bisa menyamaratakan pemakaian tiap rumah tangga. Sejauh ini yg digunakan adl bahan bakar fosil.

“Nah, kaitannya sama si bungsumu itu.. amankanlah supply dasarnya. Kl sdh ketemu, ya pagi siang sore gunakan terus. Di sela2nya, kenalkan jenis makanan lain. Jd tumbuh kembang dasarnya sudah aman.”

Hmm.. masuk akal. Obrolan meja makan selalu seru dan lamaaaa, jauh lebih lama dari makannya itu sendiri.

“Eh tapi ada satu hal yg ga bisa disamakan dong, gpa..

“Faktor bosan di supply dasar itu ga muncul di pembangkit. Mau dikasih air terus ya dia teruuus muter bikin listrik.

“Lha kalau bayi dikasih makan ituuuuu terus kan suatu saat sampai di titik enegnya.

Gpa tertawa. “Ya tugas ibunya bikin supply dasar yang ga cuma itu2 aja.”

Skak mat.

#ODOPfor99days
#day13

Clodi dan Noda Pup

Pengalaman saya di awal-awal menggunakan clodi dulu menunjukkan bahwa tantang ber-clodi lebih banyak di bagian cuci-mencuci. Bagian ini sangat menguji konsistensi saya untuk terus berclodi dan mengusung semangat ijo-ijo (baca: go green 😀 ). Dari obrolan dengan para pengguna awal clodi lain, rupanya saya tidak sendirian. Banyak yang patah arang soal cuci-mencuci ini, apalagi soal bekas pup, dan dengan terpaksa (semoga memang benar terpaksa ya, bukan justifikasi saja) kembali ke pospak alias popok sekali pakai.

Apakah soal mencuci clodi yang terkena pup memang seribet itu?

Sebenarnya tidak, ternyata. Tipsnya adalah langsung membilas pup begitu mengenai clodi. Setelah itu, sedapat  mungkin clodi langsung dicuci sebersih mungkin dan dijemur di terik matahari langsung. Sinar matahari in sya allah akan menyamarkan noda pup yang mungkin masih membekas meski sudah dicuci.

Ataaau, sekarang ternyata sudah ada inovasi yang sangat efektif bernama liner. Liner ini adalah secarik kain yang berbahan lembut (biasanya fleece) dan digunakan sebagai alas pup. Jadi, liner diletakkan di inner clodi sehingga ketika bayi pup, pup-nya ditampung oleh liner ini. Kita tinggal mengangkat linernya dan inner maupun insert clodi tetap bersih — kecuali pupnya luber ketika luar biasa buanyak. Mencuci liner jauh lebih mudah dibanding mencuci clodi. Dan kabar baiknya, liner ini tentu saja cepat kering karena hanya berupa selembar kain kecil seukuran insert.

liner

Yuk, terus semangat berclodi! Jika kita mau, pasti ada jalan menaklukkan tantangan berclodi. In sya Allah ^_^

Family Play Day: Cara Baru Bersantai

Alhamdulillah tanggal 14 September 2014 jadi juga ikut Family Play Day yang dibidani Fieldtrip Krucil Salatiga-nya Institut Ibu Profesional Salatiga. Family Play Day (FPD) ini merupakan acara main sepuasnya (dan makan sepuasnya juga lho! 😀 ) antara anak dengan orang tuanya atau sesama anak peserta atau sesama orang tua peserta. Pokoknya mainnnn!

Permainan yang diusung dalam FPD kali ini mengangkat tema permainan tradisional (dan makanan tradisional). Ada permainan gobak sodor, dakon, bola bekel, seprengan, setinan, pancing ikan, gasing, ular tangga, dan halma. Soal makanan, ada kacang rebus, singkong rebus, mendut, kue ku, grontol, manisan kolang-kaling, dan lotisan. Ada juga makanan “modern” juag sih seperti risoles, arumpis, dan kroket karena banyak yang nyumbang makanan. Saking tradisionalnya, panitia juga dikasih caping! Keren, keren, kereenn…! Tapi pada prinsipnya, FPD ini merupakan mesin waktu yang melempar para orang tua ke jaman mereka (dan saya) anak-anak dulu. Semua jadi anak-anak 😀

Baca lebih lanjut

Sukses Menyapih dengan Cinta: Bukan Menyapih Biasa (Bag. Akhir)

Tak habis-habisnya rasa syukur terpanjat saat hari ini datang pada akhirnya. Hari dimana Hanif (31 bulan) dan ibunya akhirnya berhasil menaklukkan tantangan terbesar delapan bulan terakhir. Menyapih Hanif. Hari ini, 13 Juli 2013 bertepatan dengan 4 Ramadhan 1434 H.

Penyapihan Hanif adalah sebuah proses panjang, bahkan sejak Hanif berusia 12 bulan. Terlebih, kami memilih metode yang masih belum umum di masyarakat, yaitu metode menyapih dengan cinta (weaning with love). Bahkan, blog ini sampai perlu menulis 2 episode saat menceritakan perjalanan penyapihan Hanif (baca: Menyapih dengan Cinta: Bukan Menyapih Biasa). Sekarang, ini adalah episode ketiga yang semoga menjadi episode penutupnya.

Baca lebih lanjut

Tips Toilet Training Bersama Papan Bintang: Seru!

Usia 30 bulan-nya Hanif saya catat sebagai usia lejitan untuk berbagai tonggak perkembangan Hanif, salah satunya kemandiriannya dalam bebas-popok.

Meskipun sejak usia 18 bulan ia sudah belajar pergi ke toilet untuk buang air kecil dan buang air besar, catatan saya menunjukkan kemampuannya yang masih labil. Jika mood-nya baik, maka ia akan tertib ke toilet saat kebelet. Tapi jika ia sedang ayik bermain atau saat tertidur lelap, Hanif seringkali memilih tetap dalam posisi nyamannya dan terjadilah “kecelakaan” yang menguji kesabaran ibunya.  Tak heran, sampai menjelang usia 30 bulan itu, Hanif masih sering mengenakan clodi-nya alias popok kainnya ke manapun ia pergi.

Baca lebih lanjut

Hanif’s Excavator

Hanif’s most favourite toy is his excavator. Since Hanif one years old until today (2,5 years), his beloved toys is excavator. Till now, Hanif has have at least 5 excavator on various size. Hohoho.

Hanif’s freak of excavator began when the main road of Solo-Semarang in front of our housing complex was repaired. There was some heavy equipment such as cylinder, buldozer, and of course excavator. Their big size was very impresing so many children, include Hanif at that time.

At first, Hanif just look around the excavator and feeling afraid when we took him closer. But we said, “Excavator is okay.” Slowly but sure, we took Hanif closer to the excavator till we reached its big wheel. Sometimes we took a picture with the excavator. And day by day, Hanif felt comfort with the excavator and also the others heavy equipments.

Oiya, we tried to eliminate Hanif’s afraid of excavator by playing the excavator video on Youtube.com. Its helpful. Alhamdulillah, the toy shop has many excavator miniature. This toys is very increase Hanif’s imagination of being an excavator operator, knowing various new vocabularies about excavator’s anatomy, and building his masculine spirit ^_^

How about your boys, momm? ^_^

Knowing Safety Walking, Safety Riding, and Safety Driving (and Then, DOING!)

Tantangan siang itu adalah mencari pemateri kuliah rutin Institut Ibu Profesional Salatiga yang menguasai materi “Saferi Walking, Safety Riding, and Safety Driving”. Sebenarnya tantangan ini berlaku untuk siapa saja yang bersemangat tinggi untuk mencari tambahan ilmu terus menerus agar dalam mendidik anak maupun keluarga dapat memberikan informasi yang tepat. Kebetulan, saya paling gatal kalau ada tantangan. Prinsip saya, ketika orang lain bisa menaklukkan tantangan, kenapa saya tidak?

Jadilah, sejak malam saya membuat peta agenda keesokan harinya. Bagaimana agar perjalanan menaklukkan tantangan ini juga jadi momen pembelajaran menyenangkan bagi Hanif (27 bulan). Rencana A saya adalah:

  1. Wawancara ke petugas polisi lalu lintas yang nge-pos di depan komplek dan bertanya prosedur jika ingin meminta penyuluhan tentang tema yang menjadi tantangan.
  2. Mengikuti hasil langkah pertama di atas.

Jika rencana A saya ternyata belum memberikan hasil yang tepat, saya akan pakai plan B, yaitu mengumpulkan materi sendiri. So, lets go!

Alhamdulillah rencana A berjalan dengan  mulus. Polisi lalu lintas yang saya wawancara menyambut baik dan memberikan petunjuk langkah selanjutnya. Berasa main detektif-detektif-an ya? Bahasanya: mencari petunjuk. Hehehe. Mungkin efek kebanyakan baca buku detektif macam Lima Sekawan, STOP, Trio Detektif, dan sebangsanya sewaktu kecil dulu. So, theres no problem, it just another challenge.

Sesuai petunjuk yang saya dapat, maka langkah selanjutnya adalah membuat surat permohonan resmi dan mendatangi pejabat yang berwenang, dalam hal ini Kasatlantas Polres Salatiga.

Oiya, kenapa saya membidik polisi lalu lintas sebagai rencana A? Menurut hemat saya, polisi lalu lintas adalah pemateri yang paling tepat dan kompeten tentang “Safety Walking, Safety Riding, and Safety Driving.” Jika boleh menggunakan istilah pengayom, merekalah yang paling memahami  peraturan-peraturan aman berkendara dan gencar melakukan sosialisasi tentang itu. Dan alhamdulillah pilihan tersebut tepat karena dalam kepolisian lalu lintas, terdapat divisi khusus yang bertugas melakukan sosialisasi peraturan-peraturan dan kebijakan-kebijakan terkait keamanan berkendara di jalan raya.

Kembali ke cerita tentang Kasatlantas. Jadilah siang itu, saya meng-homeschool-kan Hanif di kantor polisi. Mengajak Hanif beramah tamah dengan polisi di meja resepsionis, menyapa setiap polisi yang ia jumpai, mendekatkan Hanif dengan mobil highway patrol yang dihiasi sirine di atapnya, mengajak Hanif melihat bus dan truk yang ringsek karena kecelakaan, dan yang mengajarkan Hanif mengantar surat ke Kasatlantas. Ya, Haniflah yang menyerahkan surat permohonan resmi yang kami ajukan ke Kasatlantas Polres Salatiga langsung. Tentu bukan tanpa maksud. Membentuk anak yang supel bergaul dengan berbagai kalangan haruslah diasah semenjak dini. Belajar menyerahkan sesuatu (dalam hal ini surat) adalah salah satunya.

polisi 1

Alhamdulillah, Hanif sangat menikmati pengalamannya di kantor polisi. Kosa kata dan daya ceritanya semakin bertambah bi idznillah. Dan yang paling heboh adalah setiap kali Hanif melewati kantor Satlantas Polres Salatiga yang berarsitektur gedung Belanda itu. Ia akan sibuk berseru,”Ibu niken! Itu kantor polisi! Adik tadi (baca: kemarin. Hanif belum bisa membedakan tadi, kemarin, dan dulu. Hehe) ke sana!”  Jadilah, setiap kali itu pula penumpang angkot yang kami naiki tersenyum sendiri melihat deklarasi Hanif. Hohohoho.

***

Alhamdulillah, tanggal 29 Maret 2013, materi program Bunda Cekatan “Safety Walking, Safety Riding, and Safety Driving” berhasil diselenggarakan dengan heboh. Apa pasal? Ternyata ada yel-yel juga dalam kampanye keselamatan berlalu lintas. Dan yel-yel itu sama-sama menggunakan kata: Hu Ha!

Kami semua tertawa bersama saat yel-yel itu selesai diperagakan. Pemateri kelas Rabu pagi (jam 09.00) adalah langsung Kasatlantas Polres Salatiga, Ajun Komisaris Muryati yang berkenan meluangkan waktu berbagi ilmu di kuliah rutin Institut Ibu Profesional Salatiga. Pemateri kelas sore (jam 15.30) adalah Bapak Roni (mohon maaf saya lupa jabatannya. Huhuhu).

Prinsip dasar salam aman di jalan raya, terdiri dari 3 tahapan, yaitu saat sebelum berangkat, saat di jalan, dan sesampai di tujuan.  Ada istilah 4 sehat, 5 selamat dalam berlalu lintas: sehat jasmani-rohani, sehat kendaraan, sehat navigasi, sehat budaya, dan dilengkapi dengan berdoa agar menjadi 5 selamat.

Beberapa hal dasar yang perlu diketahui oleh pengguna jalan berdasarkan kuliah Institut Ibu Profesional Salatiga bersama Satlantas Polres Salatiga adalah:

Menggunakan helm itu wajib, dan memilih helm yang lulus SNI (Standart Nasional Indonesia)  itu lebih wajib.

Jika kita memperhatikan suara polwan-polwan di corong speaker lampu lalu lintas Salatiga (misal: di lampu merah pertigaan al Azhar Kauman dan di lampu merah perempatan Pasar Jetis), kita akan mendengar himbauan untuk menggunakan helm ber-SNI . Himbauan tersebut juga berlaku untuk anak-anak usia PAUD yang membonceng kendaraan roda dua.

Helm ber-SNI dicirikan dengan adanya logo SNI di belakang atau samping helm. Penggunaannyapun harus dikancingkan rapat sampai berbunyi “klik”. Penggunaan helm yang benar merupakan langkah nyata kepedulian terhadap keselamatan diri sendiri di jalan raya.

Menjaga jarak aman dan kecepatan aman itu penting.

Ngebut itu keren? Wah, nggak bangeet! Ternyata, untuk di dalam kota, kecepatan maksimal yang diijinkan adalah 40 km/ jam. Kecepatan itu harus dikurangi lagi menjadi 30 km/ jam saat kendaraan melaju di komplek perumahan. Jarak aman dengan kendaraan di depan kita saat di dalam kota saat kita menggunakan kecepatan 40 km/ jam tersebut, seharusnya adalah 22 meter. Wah, saat lalu lintas macet, sepertinya tak banyak yang menggubris aturan ini. Hohoho.

***

riding

Banyak pertanyaan dan diskusi yang kemudian mengalir dalam kuliah keren ini. Hal menarik yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat adalah aturan dasar parkir. Ternyata sama dengan prinsip dasar meletakkan alas kaki saat akan memasuki rumah, memposisikan kendraan untuk diparkir juga seharusnya dalam kondisi ready to use saat kita akan keluar. Jadi, muka kendaraan seharusnya menghadap ke jalan, bukan ke trotoar seperti yang selama ini kita lakukan.

Pertanyaan yang sempat menjadi diskusi panjang adalah tentang tilang dan berita tentang slip biru atau merah.

Banyak informasi yang beredar di dunia maya tentang anjuran memilih surat tilang berwarna biru agar bisa langsung membayar biaya tilang melalui ATM daripada memilih warna merah yang lantas mengharuskan pengendara menghadiri sidang. Benarkah informasi tersebut?

Berdasar klarifikasi yang diberikan pemateri, informasi tersebut mendekati benar. Hanya saja, saat kita memilih surat tilang warna BIRU, kita hanya bisa membayar denda lewat TELLER bank yang ditunjuk, dalam hal ini BRI. Jadi, bukan lewat ATM sebagaimana info yang beredar di dumay alias dunia maya. Kami semua manggut-manggut saat mendengarnya.

Besarnya angka denda tilang itu sendiri pun disampaikan pada kuliah tersebut berdasarkan peraturan resmi yang berlaku saat ini. Saat kita memilih surat tilang warna biru, maka nominal denda adalah flat sesuai peraturan maksimal denda. Saat kita memilih surat tilang warna merah, maka ada kemungkinan kebijakan hakim yang menyebabkan nominal denda mendapat potongan atau justru sebaliknya.  Jadi, penting sekali untuk mengetahui pengetahuan tentang peraturan nominal denda dimana keputusan tentang pilihan surat tilang kembali kepada pengendara kendaraan bermotor yang terkena tilang tersebut. Peraturan tentang nominal denda dapat dilihat di sini.

Mengutip pendapat Thomas, narasumber kelas bahasa Inggris dari Jerman yang mendampingi kuliah rutin setiap Rabu, pada prinsipnya aturan-aturan berlalu lintas di Indonesia tak jauh berbeda dengan yang ada di Jerman. Saat ditanya apakah ada perbedaan, dengan tandas ia menjawab, “ Satu-satunya perbedaan adalah peraturan di Jerman benar-benar diterapkan, sementara di Indonesia tidak.”

Jleb!! XD

Fishing Games: Its Not only Fishing

Fishing. Hanif likes fishing. We intruduced fishing to him when he was 25 months old. We followed the Child Qur’an Learning Centre’s  (known as TPQ) field trip at that time.  One of their  activites on the field trip was fishing competition. Of course, Hanif couldn’t fishing well at that time. But, the fishing activities seemed very interesting for him. So, until now, he likes fishing.

In order to stimulate his consentration skill, we gave him fishing games on te next month. This game rule is catch as many as possible the moving fish using magnetic fishing stick.  The players will also learn about kind of color and basic counting.

There is 24 colorful fishes. There is also three fishing stick and three fish pool so that this game can be used together with friends. So far, this game very useful to make interaction between one child to another child although they never know each other before.  Oiya, this  toy’s price is also cheap for us. Only IDR 29.000 at that time.

ikan

One tips about this toy is: we have to keep the 24 fishes into special box  so that the fish will not go away everywhere when we are not playing it. Oiya, this toy use 2 pieces AA battery as the power supply. So, if we turn on the toy, the pool will be moving around. The fish’s mouth will open and close regularly. The background song will starting on. I still trying to turn off the music without stopping the fishing move. Any idea?

Afterall, how to catch the fishes is the challenge. Exciting toy!

Berbagi Hari bersama Ayah Irwan Rinaldi (Bag. Akhir)

Jika kita mau merenung sejenak dan jujur pada diri sendiri, maka siapapun kita akan menyadari bahwa berapapun usia sesorang, kebutuhan yang melekat pada dirinya selalu terdiri dari dua hal. Kebutuhan jasmani dan rohani, kebutuhan fisik dan psikis, kebutuhan raga dan jiwa. Berapapun usia seseorang, kebutuhannya tak pernah terlepas dari dua hal tersebut.

Jika kita yang sudah menjadi orang tua ataupun menjadi manusia dewasa saja terus membutuhkan kedua aspek tersebut, bagaimana dengan anak-anak? Tentu, tuntutan akan kebutuhan hal tersebut jika diperhatikan justru semakin besar dan tidak bisa tidak harus dipenuhi.  Anak-anak sesungguhnya ibarat benih yang mulai bertunas tumbuh sedikit demi sedikit yang membutuhkan siraman air, pupuk , kehangatan matahari, curahan sayang, dan berbagai bekal  yang akan mengokohkan perjalannya menjadi pohon yang kokoh lagi rindang kelak.

Sayangnya, berdalih dengan banyaknya kesibukan profesi orang tua dan bertameng dengan banyaknya materi yang dihasilkan dari kesibukan tersebut, terkadang orang tua memilih melimpahi anak dengan fasilitas dan membeli ini itu untuk anak. Padahal, ada satu hal yang sangat dibutuhkan anak namun tidak pernah bisa terbeli dengan berapapun besarnya uang yang dimiliki orang tua. Ia adalah waktu.

Jurus untuk Ayah Sibuk dipilih sebagai tema sharing Kuliah Umum Ibu Profesional Salatiga pada 12 Mei 2013 lalu dengan hal-hal di atas sebagai salah satu pertimbangan. Bahwa sesibuk apapun kita, tetaplah kita adalah orang tua yang pasti ingin menjadi orangtua keren di mata anak-anak kita. Orangtua yang ingin menjadi orang pertama yang anak-anak tuju saat mereka ingin berdiskusi.  Namun terkadang, kesibukan profesi orang tua – apapun dalihnya – membuat anak “harus terima” menghabiskan waktu bersama pengasuh yang bukan orang tuanya. Dan dari merekalah anak merekam hal-hal yang seharusnya diajarkan oleh orang tuanya.

Lantas, mengapa ayah? Bukankah selama ini pengasuhan identik dengan kaum ibu?

Ternyata, studi-studi yang diselami oleh Sahabat Ayah maupun para pemerhati parenting menunjukkan bahwa karakter unggul yang ditanamkan oleh ayah, memiliki daya lekat yang luar biasa dahsyat dibandingkan dengan ibu. Kebersamaan anak-ayah yang unik dan khas, rupanya merupakan kelebihan para ayah yang masih jarang disadari. Karena itu, pembekalan ayah terkait dengan ilmu-ilmu menjadi ayah keren – professional – menjadi penting untuk dipelajari bagi siapapun yang akan atau sudah mendapat predikat “ayah”.

Ayah Irwan Rinaldi yang menjadi narasumber utama kulih umum kali ini membagikan jurus-jurus untuk tetap dekat dengan ayah, meskipun ayah memiliki aktivitas super padat di luar rumah atau bahkan harus terpisah beberapa waktu dengan keluarganya. Berikut ini di antaranya:

Ayah yang sibuk sepanjang hari seharusnya meluangkan waktu paling tidak di pagi hari untuk menjalin kedekatan dan menanamkan karakter kepada anak.

Usahakan sudah memiliki kesepakatan dengan anak tentang metode bangun pagi keesokan harinya. Anak usia 0-8 tahun, suka sekali dengan acara “dibangunkan”. Berbeda dengan anak usia 9 tahun ke atas yang lebih suka dengan acara “membangunkan”. Acara sarapan bersama juga merupakan sarana menjalin kedekatan anak dengan ayah, sehingga saying sekali jika dilewatkan. Kehadiran ayah secara fisik dan psikis yang memberikan waktu sepenuhnya  akan merupakan suntikan energi tersendiri bagi anak untuk mengawali hari-harinya.

Ayah harus hadir secara fisik dan psikologis.

Tak jarang yang terjadi adalah kehadiran ayah hanya sekadar fisiknya saja karena pikiran entah ke mana dan aktivitas yang menyertai pendampingan anak tidaklah nyambung. Ambillah contoh, berapa banyak dari kita yang secara lisan menanyakan “Ayah sayang deh sama kakak,” tapi mata dan tangan erat menekuri gadget ataupun surat kabar.

Jika kita sayang, maka datangi anak, peluk anak dengan erat, dan katakan, “Ayah sayang deh sama kakak.” Itu baru sayang yang sebenarnya. Anak akan menangkap pesan yang ayah sampaikan.

Ayah yang harus berjauhan dengan keluarganya karena tuntutan tugas harus memaksimalkan kehadirannya secara psikologis.

Siapkan foto ayah dan gunakan  untuk mendampingi aktivitas membangunkan anak. Sampaikan dengan ekspresif bahwa ayah telah ikut hadir membangunkan anak. Bisa juga menggunakan memo kecil (mocil) yang dibuat ayah sejumlah hari perginya dan dibacakan satu mocil per bangun tidur. Teknologi internet juga bisa  menjadi sarana menumbuhkan kedekatan ayah dengan anak melalui fasilitas video chat, email, dan lainnya.

Ayah dan ibu haruslah memiliki kesepakatan paradigma pengasuhan.

Ini anakku, ini anakmu, ini anak kita. 0-5 tahun usia pernikahan merupakan masa-masa penguatan ikatan, dimana prinsip “aku adalah pakaianmu dan engkau adalah pakaianku” harus dipegang teguh agar kesamaan paradigm itu bisa dicapai. Mengasuh anak memerlukan ayah dan ibu yang seiring sejalan dalam visi dan misi sehingga anak mendapatkan gambaran yang utuh tentang karakter-karakter unggul yang dicontohkan langsung oleh orang tuanya.

***

Peran ayah dan orang tua pada pembentukan karakter anak usia 0-10 tahun adalah mengkonkretkan, visualkan pengarahan-pengarahan yang kita berikan. Dan penelitian menunjukkan bahwa bahasa tubuh memiliki kemampuan menyampaikan pesan lebih dahsyat daripada bahasa lisan. Dengan kehalusan perasaannya, anak dapat menangkap makna bahasa tubuh orang tuanya lho, meskipun ia masih bayi atau belum mampu berkata-kata.

Setelah memvisualkan pengarahan, maka kita haruslah menumbuhkan kebiasaan pada anak dengan memberikan pujian atas perilakunya yang sesuai dengan perilaku positif yang ia tunjukkan. Jadi, alih-alih bertanya, “Berapa nilai matematikamu hari ini?” atau “Rangking berapa kamu di kelas?” orang tua yang paham benar penanaman karakter pada anak seharusnya bertanya, “Sudahkah engkau membantu temanmu hari ini?” atau “Bagaimana sholatmu hari ini, Nak?”

Langkah-langkah di atas tentu saja tidak boleh semata berhenti pada tataran pertanyaan rutin. Orang tua haruslah memberikan keteladanan yang selaras dengan pertanyaan-pertanyaan harapan itu. Bagaimana bisa anak akan senang membantu jika orang tuanya sama sekali tidak pernah memberikan contoh  bagaimana membantu itu seharusnya.

Di situlah pentingnya kemampuan mendongeng dan bercerita kepada anak. Karakter-karakter mulia akan menancap dengan kuat ketika disampaikan dengan cara yang menarik dan ekspresif. Sekali lagi, aktivitas di pagi hari dan menjelang tidur memiliki peran penting dalam sesi dongeng-mendongen ini. Salah satu momen yang dicontohkan Ayah Irwan adalah saat sarapan pagi.

Bapak (B)     : Nak, nak.. stop.. stop!!

Anak (A)      : Ada apa, bapak?

B     : Stop, hentikan dulu makanmu, Nak!

A     : Kenapa, bapak?

B     : Bapak baru ingat, di dekat kantor Bapak, ada kakek-kakek yang suka mencari sampah.

A     : Kenapa mencari sampah, pak?

B     : Untuk dijual lagi dan uangnya untuk beli makanan, nak.

A     :  (terdiam)

B     : Nah, bagaimana kalau separuh makanan kakak dan bapak dibungkus untuk diberikan ke kakek itu?

Terlihat, si bapak telah mencontohkan bagaimana berbagi dilakukan. Penyampaian yang penuh ekspresi dan didukung dengan intonasi yang menarik akan membuat anak memusatkan perhatian pada apa yang disampaikan.

Ayah Irwan Rinaldi pada Kuliah Umum Institut Ibu Profesional Salatiga ini juga berbaik hati membagikan buku saku  secara Cuma-Cuma kepada para ayah yang hadir. Buku saku yang berjudul “Yang Harus Ayah Sibuk Lakukan di Pagi, Siang, dan Malam Hari” dan “10 Kiat Ayah Siapkan Anak Prasekolah Berpuasa” langsung ludes  dalam sekejap.

Alhamdulillah, terima kasih banyak, Ayah Irwan! Terima kasih untuk dek Za yang berbaik hati mengirim foto bukunya. Jazakumullah khoiron!